Kita sering lupa kalau karyawan Indomaret juga manusia
Lucunya, karena terlalu sering melihat karyawan Indomaret, kita justru lupa bahwa mereka adalah manusia biasa. Mungkin inilah nasib pekerjaan yang benar-benar underrated.
Bukan karena tidak penting, tetapi karena terlalu dekat dengan kehidupan sehari-hari. Makanya, keberadaannya kita pandang biasa saja. Saya jadi teringat bagaimana banyak orang bisa dengan mudah menyebut pekerjaan impian mereka.
Ada yang ingin menjadi pilot, dokter, arsitek, atau pengusaha. Namun saya hampir tidak pernah mendengar anak kecil bercita-cita menjadi karyawan Indomaret. Padahal, kalau melihat kompleksitas pekerjaannya, profesi ini jauh lebih berat daripada yang sering kamu bayangkan.
Yang lebih menarik lagi, karyawan Indomaret harus menghadapi berbagai macam karakter manusia setiap hari. Di Jogja, terutama kawasan yang dekat kampus, satu toko bisa didatangi mahasiswa rantau, warga kampung, pekerja kantoran, wisatawan, pengemudi ojek online, pesepeda, hingga rombongan pelancong yang kebingungan mencari arah.
Masing-masing datang dengan kebutuhan dan suasana hati yang berbeda. Dan semuanya mengharapkan pelayanan terbaik dari karyawan Indomaret.
Saya membayangkan betapa melelahkannya menghadapi puluhan, bahkan ratusan orang setiap hari, sambil tetap menjaga sikap profesional. Belum lagi ada ekspektasi yang sering tidak masuk akal dari pelanggan.
Barang habis, salah pegawai. Sistem error, pegawai kena marah. Harga berubah, karyawan Indomaret lagi yang kena. Mesin pembayaran bermasalah, yang kena semprot pegawai. Padahal mereka tidak memiliki kendali atas semua itu.
Sebuah ironi
Ada satu hal yang menurut saya cukup ironis. Semakin modern Indonesia, semakin banyak pekerjaan yang ditumpuk ke satu orang. Dulu, urusan masyarakat tersebar di banyak tempat. Sekarang semuanya terpusat dalam satu minimarket yang buka hampir sepanjang hari.
Sebagai pelanggan, kita menikmati efisiensinya. Namun jarang terpikir bahwa efisiensi itu tidak muncul begitu saja. Ada karyawan Indomaret yang harus berpindah dari kasir ke gudang, dari gudang ke rak, dari rak ke pelanggan, lalu kembali lagi ke kasir dalam waktu yang sama.
Mungkin karena itulah saya mulai memandang minimarket dengan cara yang berbeda. Sekarang, ketika masuk Indomaret, perhatian saya tidak lagi hanya tertuju pada rak makanan atau kulkas minuman dingin.
Saya justru sering memperhatikan para pegawainya bekerja. Dan jujur saja, saya tidak yakin bisa melakukan hal yang sama setiap hari.
Mungkin saya berlebihan ketika menyebut karyawan Indomaret sebagai pekerja paling underrated di Indonesia. Saya tahu masih banyak profesi lain yang juga bekerja keras dan kurang mendapat apresiasi.
Namun setidaknya, saya yakin pada satu hal. Mereka adalah salah satu kelompok pekerja yang paling sering kita jumpai, tetapi paling jarang kita sadari perannya. Kita mengenal logo Indomaret. Fafal tata letak tokonya. Kita tahu promo-promonya. Tetapi sering lupa mengingat bahwa ada orang-orang yang membuat seluruh sistem itu berjalan.
Penulis: Janu Wisnanto
Editor: Yamadipati Seno
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













