Kalau Zona Nyaman Sudah Bikin Nyaman, Kenapa Harus Keluar?

Artikel

Muhamad Iqbal Haqiqi

Ketika berselancar di YouTube, ada sebuah video lama yang sudah pernah saya tonton muncul kembali di beranda YouTube saya, bedanya, jika dulu channel yang menguploadnya adalah pihak Samsung, kali ini channel yang menguploadnya adalah channel  Dian Dan. Kalau dari namanya kemungkinan channel tersebut adalah channel YouTube milik Dian Sastro. Video tersebut adalah Sebuah short movie setahun lalu yang secara tersirat adalah sarana promosi produk Samsung S10 namun dikemas dengan adegan dialog antara Dian Sastro dan Oka Antara di sebuah Restaurant bonafide.

Meskipun iklan dan sudah pernah saya tonton sebelumnya, menurut saya, short movie ini tetap menarik, terutama dari segi dialog dari kedua pemeran dalam movie tersebut. Short movie ini berkisah tentang si eksekutif muda (Oka Antara) yang curhat kepada sahabatnya si pengusaha (Dian Sastro) mengenai keputusannya yang ingin resign dari tempatnya bekerja. Alasannya, dia ingin mencari tantangan baru, dia bosan menjalani rutinitas yang sama, dia iri terhadap temannya (Dian Sastro) yang sukses menjadi pengusaha, maka dari itu, dia bertekad ingin menjadi pengusaha sama seperti temannya.

Singkat cerita, si pengusaha mempertanyakan dan menentang keputusan si eksekutif muda yang ingin resign. Si pengusaha memberikan pencerahan bahwa tidak semua orang punya kesempatan karir semulus si eksekutif muda, dan alasan kejenuhan dan kebosanan yang dialami oleh si eksekutif muda tidak bisa dijamin hilang meski si eksekutif muda memilih untuk resign dan menjadi pengusaha. “Menjadi pengusaha bukanlah pencapaian, melainkan hanya pilihan dalam bekerja, Being right man, right place”. Si pengusaha menutup nasihatnya.

Sering gak sih kita menjumpai kisah seperti itu, orang-orang yang jenuh dengan pekerjaannya, dan mulai mengeksplorasi pekerjaan baru, orang-orang yang meninggalkan karirnya hanya karena ingin meraih tantangan yang lebih besar “katanya”. Orang-orang yang berperilaku seperti kutu loncat, lompat sana, lompat sini hanya karena ingin memanfaatkan kesempatan yang datang, meskipun pada akhirnya kesempatan itu pun berubah menjadi kesempitan. Orang-orang yang melakukan hal-hal tersebut kebanyakan bermuara pada satu visi yang sama, yaitu keluar dari zona nyaman.

Zona nyaman? Comfort zone? Pasti kalian sering mendengar frasa itu keluar dari mulut orang-orang zaman sekarang. “Jangan lama-lama betah di zona nyamanmu, nanti gak berkembang loh”, “jadi orang tuh harus bisa keluar dari zona nyaman, biar dapat banyak tantangan”, “ hidup kok gitu-gitu aja, sesekali keluar dong dari zona nyamanmu itu, biar dapat banyak  variasi hidup!”, kurang lebih ucapannya seperti itulah.

Apalagi saat booming-boomingnya fourtwenty dengan lagunya “zona nyaman”. Membuat kebanyakan orang, bahkan saya pun tanpa sadar menyematkan stereotip negative tentang zona nyaman.  Selain itu, setiap kali menuliskan kata kunci “zona nyaman” di kanal pencarian di internet, maka yang keluar adalah artikel-artikel yang menjelaskan bagaimana cara seseorang supaya mampu keluar dari zona nyamannya. Intinya, zona nyaman itu kurang bagus kalau ditelateni.

Baca Juga:  Tidak Semua Celaan Perlu Dibalas dengan Karya, Kawan

Stereotip negative yang melekat pada kondisi zona nyaman tidak lepas dari sebuah penafsiran banyak orang tentang makna zona nyaman yang disampaikan oleh Alasdair A. K. White dalam bukunya ‘From Comfort Zone to Performance Management’. Zona Nyaman menurutnya adalah sebuah keadaan seseorang yang merasa terbiasa dan nyaman karena mampu mengontrol lingkungannya. Menurutnya pada keadaan zona nyaman, seseorang jarang merasa gelisah dan jarang mengalami tekanan yang mengakibatkan stress.

Pemaknaan itu kemudian diinterpretasikan negative oleh banyak orang, termasuk oleh banyak motivator, sehingga zona nyaman pun dilabeli sebagai sebuah kondisi atau fase yang mengarahkan seseorang pada penurunann produktifitas.

Tapi apa benar, zona nyaman seburuk itu? Apa benar zona nyaman sebegitu kejamnya mengekang seseorang sehingga tidak mampu berkembang, baik secara karir, maupun dalam konteks lainnya yang lebih luas?

Saya teringat sekitar setahun yang lalu, ada salah seorang senior saya yang mempertanyakan perilaku orang-orang yang ingin keluar dari zona nyaman. Dia dengan santai berkata “saya merasa aneh dengan istilah keluar dari zona nyaman, bukankah orang yang sudah diberikan kenyamanan hidup oleh sang maha kuasa, tapi malah pingin keluar itu sebuah sikap tidak menghargai dan tidak mensyukuri pemberian yang maha kuasa? Lagian kok lucu, kalau sudah nyaman ngapain keluar?

Awalnya, setelah mendengar ucapan dari senior saya itu, sekilas saya merasa dialah yang aneh. Karena, menurut saya waktu itu, keluar dari zona nyaman adalah realitas sosial yang secara psikologis dilakukan banyak orang karena ingin meningkatkan kapasitas diri, maka dari itu saya merasa keluar dari zona nyaman bukanlah hal yang aneh.

Namun setelah menonton ulang short movie yang diperankan oleh Oka Antara dan Dian Sastro, saya mulai mempertimbangkan perkataan senior saya dulu, dan mulai menyangsikan anggapan bahwa keluar dari zona nyaman adalah cara terbaik untuk meningkatkan potensi diri.

Coba disadari dan dipahami baik-baik, apakah benar, orang-orang yang mengklaim bahwa mereka sedang ingin keluar dari zona nyaman itu, benar-benar sudah berada dalam zona nyaman? Atau sebenarnya mereka hanya sebatas pada zona aman dan malas?

“Karena, menjalani sesuatu baik itu bekerja, ataupun berkarya kalau sudah nyaman, kenapa harus keluar? Kalau saat berada di zona nyaman, tapi malah membuatmu insecure, khawatir, dan tidak bisa menggali potensi diri, maka kesimpulannya itu bukan zona nyamanmu kan?”

Sering kita terperangkap, menganggap bahwa kehidupan dalam pekerjaan kita yang stagnan, tanpa tantangan, adalah definisi real tentang kondisi zona nyaman, padahal secara gamblang, itu hanya sebatas zona aman. Bahkan yang lebih parah, kaum rebahan, yang bisanya cuma makan, tidur, nonton, dan jalan-jalan pun kita definisikan sebagai zona nyaman, meski sebenarnya, istilah yang relevan untuk itu adalah zona malas.

Baca Juga:  4 Tipe Pendaki Toksik yang Ulahnya Bikin Geregetan

Zona nyaman adalah tentang keseimbangan idealisme dan passion kita terhadap realistas yang ada. Zona nyaman menghadirkan sebuah fase yang membuat kita tentram dalam berkerja maupun berkarya, karena pada dasarnya zona nyaman tercipta bukan karena kemalasan dan berdiam diri saja, melainkan tercipta dari rasa suka dan bahagia atas apa yang sedang dikerjakan.

Zona nyaman hadir bukan tanpa rintangan dan tantangan, bayangkan seorang Thomas Alva Edison mampu betah berjuang hingga ribuan kali mengutak-atik logam dan platinum sampai akhirnya dia menemukan bola lampu. Apa yang membuatnya bertahan kalau bukan kenyamanan atas rasa penasaran dan kaingintahuannya yang tinggi.

Orang yang bertahan dalam zona nyaman bukan berarti dia pengecut untuk memulai yang baru, tapi hanya ingin berkomitmen pada apa yang sudah dia jalani. Kalian tahu Sir Alex Fergusion, atau Arsene Wanger? Dua pelatih yang berkomitmen pada satu klub sampai akhir kepelatihan mereka. Mereka adalah contoh kenyamanan pada komitmen serta berpendirian, mampu membuat mereka dihormati oleh pemilik dan pemain klub. Bahkan siapa yang bisa menjamin seorang lionel messi bisa meraih penghargaan Ballon d’Or, bila dia tidak punya komitmen atas kenyamaannya berada dalam satu klub yang sama sampai sekarang.

Zona nyaman pun mengantarkan seseorang pada terciptanya karya-karya besar, Karena seorang seperi Imam Syafi’I tidak mungkin bisa menjadi imam fiqih yang masyur dengan karya-karya kitab fiqihnya jika dia tidak menemukan kenyamanan dan ketentraman saat mencari guru untuk menambah ilmunya.

Zona nyaman adalah fase yang membuat seseorang terus bergerak, terus menghasilkan sebuah karya, terus bekerja dengan hati yang gembira meskipun sedang dihadapkan pada tantangan dan rintangan.

Seperti ungkapan yang dikatakan oleh Megan Dhaum dalam bukunya The Unspeakable: And Other Subjects of Discussion bahwa kepuasaan hidup bisa diraih Ketika seseorang mampu memaksimalkan zona nyaman yang sudah diciptakan. Jadilah orang terbaik dalam zona nyamanmu.

Kalau sudah begitu, masikah kita mengkhawatirkan zona nyaman? Atau sebaliknya, kita perlu bersyukur ketika sudah dianugerahi zona nyaman? Karena sebenarnya yang perlu dikhawatirkan bahkan dihindari adalah zona aman dan zona malas, bukan zona nyaman.

BACA JUGA Suka Duka Pakai Honda Revo: Sering Dikira Debt Collector dan tulisan Muhamad Iqbal Haqiqi lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
14


Komentar

Comments are closed.