Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Kalau Terburu-buru, Kenapa Nggak Berangkat Kemarin Saja?

Dini N. Rizeki oleh Dini N. Rizeki
22 Oktober 2019
A A
terburu-buru

terburu-buru

Share on FacebookShare on Twitter

Seberapa sering kita lihat orang yang sedang terburu-buru? Pasti amat sangat sering. Misalnya di pagi hari saat jam berangkat kerja, pasti hampir semua orang berebut naik Commuter Line, atau angkutan kota. Belum lagi yang pada ngebut di jalan raya karena takut keburu terjebak macet dan telat masuk. Semua dengan keperluannya masing-masing.

Kalian pasti pernah terburu-buru juga kan? Bagaimana rasanya? Pasti saat itu yang ada di otak kalian hanya kepentingan urusan kalian saja. Pernah kalian memikirkan kepentingan orang lain? Saya yakin tidak.
Yang penting segera sampai, urusan selesai.
Begitu kan?
Padahal kadang dalam hal ‘terburu-buru’ ini kita sedikit banyak merugikan orang lain, lho. Bikin kesel orang lain, bikin uring-uringan.

ADVERTISEMENT

Bulan lalu saat datang ke Jakarta, kereta saya sampai di Stasiun Jatinegara pukul setengah 2 dini hari. Saya harus menunggu Commuter Line paling pagi untuk bisa meneruskan perjalanan ke Serpong, tujuan saya. Sekitar pukul 4 pagi, loket pembelian tiket dibuka, yang antre banyak sekali. Saya yang memang baru kali itu akan naik kereta paling pagi cukup takjub juga. Kebanyakan dari mereka ya penumpang dari luar kota seperti saya, bisa dilihat dari ukuran ransel dan banyaknya barang yang dibawa.

Ada sebuah keluarga kecil yang baru saja masuk stasiun, suaminya membawa sebuah tas besar, istrinya menggendong seorang anak balita yang tertidur. Mereka antre ada di barisan saya, berjarak beberapa orang dari saya. Saat loket baru melayani 2-3 orang, ibu ini maju ke barisan paling depan, berbicara dengan seorang perempuan yang juga sedang antre. Beberapa menit kemudia dia kembali lagi ke belakang mengatakan pada suaminya kalau dia sudah dapat tiketnya dan mereka masuk ke peron. Tentu saja hal ini menuai banyak protes dari orang-orang yang sedang antre. Seorang laki-laki yang terlihat membawa banyak sekali barang dagangan berkata: ‘Antre dong, Bu!’, ibu itu hanya menjawab sambil berlalu bahwa mereka sedang sangat teeburu-buru.

Contoh lagi: karena takut telat masuk kerja, kita seringnya mengendarai kendaraan dengan kecepatan maksimal. Banyak alibi yang kita ungkapkan. Keburu siang lah, takut kena macet, takut telat, nanti dimarahi bos, dan masih banyak lagi. Padahal saat kita ngebut itu, orang-orang yang berada di jalan yang sama dengan kita bisa saja jadinya kurang nyaman, lho. Anak-anak yang berangkat sekolah naik sepeda jadi takut karena motor kita ngebut dan berjalan ngawur mepet-mepet ke lajur kiri. Yang mau menyeberang jalan di zebra cross juga jadi ngeri karena kalau begitu biasanya kita tidak mau mengalah bahkan hanya untuk berhenti beberapa detik membiarkan yang menyeberang untuk lewat.

Hari ini juga, saya sedang berada di dalam kereta jurusan Jakarta. Di salah satu stasiun, banyak penumpang naik. Ada beberapa orang porter yang membantu penumpang membawakan barang-barangnya. Di dalam gerbong, dekat tempat duduk saya, ada seorang porter yang sedang membantu penumpang menyusun barangnya di bagasi gerbong. Dari arah berlawanan ada seorang laki-laki yang bisa dibilang masih muda akan lewat. Dia membentak porter tersebut dengan nada tidak sabar, berkata bahwa dia sedang sangat terburu-buru. Padahal porter tersebut jauh lebih tua daripada dia.

Ini yang saya bilang kalau sedang terburu-buru kita tidak pernah memikirkan urusan orang lain dan jadi sangat egois. Kalau dapat komplain dari orang malah kita yang ngegas, merasa paling benar karena menganggap alasan ‘sedang terburu-buru’ adalah mantra paling manjur di muka bumi. Kita merasa orang lain harus memaklumi, hukumnya fardhu’ain. Wajib.

Hadeuh, sekarang coba kalau posisinya dibalik. Kalian ada di pihak yang juga sedang ada urusan, terus ada beberapa orang yang seenak jidat berperilaku seperti contoh di atas, bagaimana sikap kalian? Akankah terus-terusan memaklumi?

Baca Juga:

Iklan Indomilk Gemas 2022: Iklan Cerdas yang Tampar Masyarakat Indonesia

5 Hal dalam Hidup yang Sebaiknya Dilakukan dengan Terburu-buru

Kalau kalian sedang dalam posisi capek setelah perjalanan panjang, ingin segera sampai tujuan lalu rebahan. Eh, malah ada yang menyerobot antrean tiket kereta. Kalau kalian adalah seorang porter, yang cari duit mengandalkan tenaga, sedang berusaha membantu penumpang untuk menyusun barangnya, eh ada yang ngebentak-bentak. Sedikit banyak pasti merasa kesal kan?

Makanya, buru-buru boleh, nggak akan dilarang. Itu hak kalian. Tapi perhatikan juga hak orang lain, dong. Semua orang punya hak yang sama. Semua orang juga punya kepentingan. Lagian, kalau memang sangat buru-buru karena takut telat, kenapa nggak berangkat dari kemarin aja? (*)

BACA JUGA Jangan Asal Nikah Kalau Belum Siap Jadi Orangtua atau tulisan Dini N. Rizeki lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 21 Oktober 2019 oleh

Tags: buru-buruKritik Sosialtelat masukterburu-buru
Dini N. Rizeki

Dini N. Rizeki

Penulis, editor, copywriter, sekaligus seorang ibu. Sering menulis tentang bisnis, keuangan, wirausaha, hingga kuliner. Saat ini sedang asyik menulis ulasan film.

ArtikelTerkait

entah apa

Lagu Entah Apa yang Merasuki “Demokrasi” Kita dan Efek Suara Gagak

24 September 2019
palang kereta

Palang Kereta dan Hal-Hal Menyebalkan Darinya

22 Juni 2019
pedestrian

Sayang, Indonesia Tidak Ramah Pedestrian

5 Juli 2019
rasisme

Tidak Ada Tempat Bagi Rasisme di Dunia Ini, Sekalipun Dalam Sepak Bola

5 September 2019
otw

Menghargai Waktu dan Menyikapi Kata OTW Saat Membuat Janji

8 Juni 2019
pakar modal kuota internet

Kiat Menjadi Pakar dengan Modal Kuota Internet

12 Juni 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Menikmati hari Minggu di Sewon Alternatif wisata underrated Jogja (Unsplash)

Menikmati hari Minggu di Sewon: Alternatif wisata underrated Jogja

12 Juli 2026
Tasikmalaya, Kota dengan UMK Imut yang Penuh Coffee Shop Baru

Tasikmalaya, Kota dengan UMK Imut yang Penuh Coffee Shop Baru

9 Juli 2026
Orang Madura syok saat mengetahui rupa dan rasa gado-gado dari daerah lain Mojok.co

Orang Madura syok saat mengetahui rupa dan rasa gado-gado dari daerah lain

9 Juli 2026
Ketika arah mata angin jadi masalah buat orang Jogja di Jakarta (Unsplash)

Sulitnya menjelaskan arah mata angin di Jakarta dari perspektif orang Jogja

11 Juli 2026
5 kuliner Jogja enak dan murah, bukti kota ini nggak mahal Brigitta Adelia/Mojok.co)

5 rekomendasi kuliner Jogja enak dan murah bukti kalau kota ini nggak mahal kalau soal makan

8 Juli 2026
Trotoar Jalan Veteran Malang yang tak suantai sayang: trotoar tidak rata, penuh pkl, macetnya minta ampun!

Trotoar Jalan Veteran Malang yang tak suantai sayang: trotoar tidak rata, penuh pkl, macetnya minta ampun!

11 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.