MOJOK.CO – Di saat wali kota lain bikin program atasi macet, Wali Kota Depok, Mohammad Idris, malah bikin lagu agar warga Depok bisa betah sama macet. Ajaib!

Celakalah orang-orang yang berpendapat bahwa Indonesia krisis pemimpin hebat. Saya rasa hanya kaum buta data atau bermental inferior sajalah yang punya pandangan pesimis akut semacam itu.

Begini. Perlu kalian ketahui, Indonesia bukan hanya lumbung rempah dan adat istiadat yang sangat kaya. Tapi juga lumbung pemimpin-pemimpin bertaraf internasional. Terutama dari kalangan sekelas wali kota.

Sekadar info, pada kurun 2013-2018 saja sudah ada setidaknya tiga wali kota dari Indonesia yang meraih penghargaan kelas dunia. Jokowi pernah menjadi wali kota terbaik ketiga dunia pada 2013. Kota Solo diperkuat citranya sebagai kota seni budaya.

Selain itu, beliau juga aktif kampanyekan anti-korupsi. Perkara pada masa pemerintahan Jokowi sebagai Presiden Indonesia korupsi masih merajalela, ya tentu itu hal lain. Kan, yang penting, bukan Pakde yang korupsi, iya to?

Lalu, pada 2015, Tri Rismaharini atau yang akrab disapa Bu Risma dinobatkan menjadi wali kota terbaik ketiga dari World Mayor Prize (MRP). Bu Risma dinilai telah menelurkan ragam kebijakan sosial ekonomi dan lingkungan yang baik bagi Surabaya.

Sementara 2018, giliran Ridwan Kamil—yang saat itu masih berstatus Wali Kota Bandung—masuk daftar 50 pemimpin terbaik versi majalah Fortune. Tentunya, beliau memperoleh penghargaan itu karena ide cemerlangnya bikin Taman Dilan yang nggak jelas faedahnya itu sejumlah inovasinya. Di antaranya pembangunan kantor pusat kendali Bandung Command Center (BCC).

Sampai akhirnya, kita tiba di tahun 2019. Duh, duh, mana lagi ini wali kota yang moncer di Indonesia?

Nah, jika kamu warga Indonesia dan rajin menyimak berita sepanjang tahun ini, niscaya tak akan ragu-ragu lagi untuk menyebut nama Mohammad Idris Abdul Shomad, Wali Kota Depok periode 2016-2021.

Yaktul, blio ini merupakan jawaban atas pertanyaan “Siapakah yang layak menyandang gelar Wali Kota Terbaik 2019?”

Saya punya sejumlah alasan mengapa Mohammad Idris pantas menjadi wali kota terbaik. Saya akan sebutkan beberapa saja biar wali kota-wali kota yang lain nggak merasa minder. Lalu merasa kalah sebelum bertanding.

Pertama, kebijakan Wali Kota Depok yang punya nilai ukhrawi.

Baca juga:  Dear Viva.co.id, Lain Kali Kalau Melakukan Pembodohan Publik...

Pembangunan infrastruktur kota yang memadai, keadilan sosial-ekonomi, kebijakan ramah lingkungan, kampanye anti korupsi, tata kelola lalu lintas yang baik, dan hal-hal semacam itu biasanya jadi tolok ukur untuk menentukan seorang wali kota itu berkualitas atau tidak.

Halah, tapi kan itu kriteria-kriteria yang terlampau biasa.

Untuk menjadi wali kota terbaik, tentu saja kriterianya perlu melampaui batas-batas kewajaran. Dan, puji Tuhan, tepat pada titik inilah Mohammad Idris berdiri.

Ketika kemacetan begitu parah, banyak infrastruktur kota perlu diperbaiki, pengelolaan sampah begitu buruk, dan segudang masalah lainnya ada di kota Depok, Pemerintahan Kota Depok—yang tentunya berada di bawah pengawasan Mohammad Idris—justru mengeluarkan kebijakan mahaurgen bernama parkir syariah.

Apakah itu kebijakan keliru? Oh, tentu tidak.

Wali Kota Depok Mohammad Idris hanya sedang melakukan lompatan kebijakan yang sangat visioner dan futuristik. Bahkan saking visionernya, hal ini sampai tidak bisa ditakar oleh nalar manusia fana seperti kita ini.

Saat pemimpin-pemimpin lain masih sibuk membuat kebijakan yang kental dengan aroma duniawi, blio justru menerapkan kebijakan ukhrawi. Sebagai doktor lulusan Fakultas Syariah Universitas Islam Imam Muhammad bin Saud dan politikus dari partai Islam, tentu beliau hanya ingin mengeluarkan kebijakan yang akan mengantarakan warganya lebih dekat menuju surga.

Iya, iya, saya tahu. Warbiyasa sekali memang blio ini. Plis, tepuk tangannya ditahan dulu.

Masalah sosial, ekonomi, lalu lintas, dan lingkungan yang masih bobrok, tentu nomor ke sekian. Apa gunanya sebuah kota tanpa kemacetan dan berlingkungan baik, jika warganya tidak masuk surga? Sia-sia saja kan?

Kedua, kebijakan Wali Kota Depok yang menghibur.

Wali kota yang baik adalah wali kota yang selalu mampu membikin warganya tertawa dan bahagia—bahkan kalau perlu warga di kota lain juga ikut merasakan dampaknya. Dan untuk soal ini, Mohammad Idris telah melakukannya dengan baik.

Selain Jakarta—yang juga sedang dipimpin oleh salah satu pemimpin terbaik di eranya—Depok adalah kota yang terkenal dengan tingkat kemacetan yang luar biasa parah. Nah sekarang, apa kamu tahu solusi yang dicetuskan Mohammad Idris untuk membereskan masalah kemacetan ini?

Putar lagu di lampu merah!

Sungguh ide yang amat brilian. “Iya, itu (putar lagu di lampu merah) termasuk bagian dari mengatasi kemacetan, biar menghibur,” kata Mohammad Idris.

Baca juga:  Di Depok, Makan dengan Tangan Kanan Lebih Penting daripada Pengadaan Selokan

Beliau tahu bahwa yang paling dibutuhkan warga Depok adalah hiburan. Bukan terbebas dari kemacetan, polusi, pencemaran lingkungan, dan semacamnya. Bahkan nama program dengerin musik di lampu merah ini asyik punya: Joyful Traffic Management atau disingkat JoTRAM. Duh, duh, benar-benar joyfull, Pak.

Pemerintahan Kota Depok juga sudah merilis lagu yang bakal diputar di lampu merah untuk mengatasi kemacetan itu. Ajaibnya, lagu yang akan diputar Dishub Depok itu dinyanyikan sendiri oleh Mohammad Idrus.

Hm, benar-benar jenius. Di saat wali kota lain bikin program mengatasi macet, ini malah bikin lagu agar orang merasa betah sama macet. Hebat. Hebat. Saya sampai tak bisa berkata apa-apa saking takjubnya.

Nah, biar kamu juga ikut terhibur seperti halnya warga kota Depok beberapa waktu ke depan, berikut ini saya kasih lirik lagu yang menjadi solusi paling mengagumkan sepanjang sejarah peradaban manusia dalam upaya mengatasi kemacetan.

Hati-hati di jalanan, jangan ugal-ugalan

Bila naik kendaraan, jangan kebut-kebutan

           

Jangan sampai orang bilang engkau pengganggu jalan

Seperti orang bingung tak tahu peraturan

           

Reff:

Lampu merah kita berhenti

Lampu kuning hati-hati

Lampu hijau jalan lagi

           

Ambil jalur sebelah kiri

Kalau nyeberang hati-hati

Tengok kanan, tengok kiri

           

Rambu-rambu ditaati, agar tidak salah lagi

Lampu merah kita berhenti, lampu kuning hati-hati, lampu hijau jalan lagi

           

Ambil jalur sebelah kiri, kalau nyeberang hati-hati, tengok kanan tengok kiri. Rambu-rambu ditaati. Agar tidak salah lagi.

Bagaimana? Ampuh sekali bukan liriknya?

Sebenarnya sih bisa-bisa aja diperdengarkan lagu dangdut, tapi… “Ini lagi diaransemen. Kami dapatkan informasi seperti itu. Kalau dangdut, nanti pada joget lagi,” Agus Tamim, Kabid Bimkestib Dishub Kota Depok.

Hebatnya lagi, perasaan terhibur ini tidak hanya dialami oleh warga Depok, sodara-sodara, melainkan juga menular ke seluruh rakyat Indonesia. Dari Sabang sampai Merauke. Hiks, keren sekali, Pak, Anda itu makan apa sih kok kepikiran bikin ide ajaib begitu?

Btw, kalau mau daftar jadi member fans-nya Bapak lewat jalur apa ya? Lewat jalur parkiran UI masih bisa kan? Jalur biasa suka macet soalnya.



Loading...



No more articles