Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Sudah Saatnya Berhenti Menggunakan Istilah Pelakor dan Pebinor

Atik Soraya oleh Atik Soraya
20 Juli 2019
A A
pelakor

pelakor

Share on FacebookShare on Twitter

Ada berapa banyak dari kita yang dengan mudah memberikan komentar di sosial media soal kabar selebriti yang hubungannya putus atau berantakan diduga karena ada orang lain? Siapa saja dari kita yang dengan mudah memberikan justifikasi kepada “orang ketiga” ketika hubungan yang kita bina selama ini rusak? Pelakor yang merupakan akronim dari perebut laki orang dan pebinor atau perebut bini orang. Keduanya adalah istilah yang paling mudah digunakan dan sepertinya sangat terpatri dalam ingatan untuk melabeli orang-orang yang tiba-tiba muncul dalam sebuah hubungan.

Entah siapa yang menciptakan istilah pelakor dan pebinor ini. Tapi, yang saya sadari kalau ternyata istilah pelakor muncul saat jagat maya gempar oleh video pelabrakan yang dilakukan salah satu anak pengusaha yang waktu itu dituding mempunyai hubungan spesial sama aktris yang waktu itu lagi antre beli yoghurt di mall. Lalu tidak lama setelahnya muncullah istilah pebinor yang sampai sekarang masih digunakan juga.

Label-label tadi dengan mudah disematkan tidak hanya ketika sebuah hubungan dalam ikatan pernikahan jadi runyam. Tapi saya lihat di beberapa unggahan teman-teman yang masih dalam status pacaran—alias bisa putus kapan aja—di media sosial yang ribut-ribut hanya menghakimi satu pihak tanpa pernah melihat kalau pasangannya juga punya peran. Kelihatan remeh sekali ya, bahkan nampaknya banyak orang sudah menganggap ungkapan itu sebagai sesuatu yang permisif. Akhirnya apa? Kita bisa lihat dengan sangat mudah orang yang mempersekusi satu pihak saja.

Contohnya kasus Jennifer Dunn yang ramai-ramai mendapat hujatan di media sosial dari orang yang bahkan tidak dikenalnya. Atau kasus Bu Dendy yang membuat video dirinya membuang uang ke seorang perempuan yang disangkakan mejadi benalu dan dianggap hanya menggerogoti uang suaminya saja?

Dua kasus tadi hanya contoh, kasusnya sudah terjadi beberapa tahun lalu tapi tidak memungkinkan kasus serupa atau label pelakor dan pebinor tadi masih terus digunakan dan dianggap sebagai istilah yang wajar setidaknya sampai tulisan ini terbit.

Jadi, pokoknya ketika hubungan rusak karena doi lebih milih orang lain itu berarti pasti salah si pelakor atau pebinor! Nggak mau tahu pokoknya mereka salah! Di era ini, kita nggak pernah coba kepo dan coba lihat kalau pasangan punya peran yang nggak kalah besar dari si orang ketiga ini.

Kasusnya perselingkuhan loh, penggunaan kata selingkuh sebetulnya bisa banget dipakai dalam kasus-kasus tersebut. Penggunaan kata selingkuh juga bisa lebih netral. Tapi, sudah menggunakan kata selingkuh saja tidak menampik kalau masih bisa terjadi misrepresentasi ketika subjek dan objek dalam sebuah kalimat itu digambarkan dengan tidak tepat.

Lagian ya, masa iya hanya si orang ketiga doang yang kerja keras untuk merebut tanpa ada perlawanan atau penolakan dari pasanganmu. My lov, kalau pasangan kita kuat iman, serius, dan sadar ada seseorang yang sudah ada dalam perjanjian hidupnya maka dia tetap akan memilih kamu lalu melakukan penolakan atas semua godaan-godaan dari pihak manapun.

Baca Juga:

Magelang, Kota Paling Ideal untuk Orang yang Sedang Jatuh Cinta

3 Ide Pacaran Unik yang Hanya Ada di Bantul, Dijamin Nggak akan Terlupa

Tidak hanya lingkungan sosial kita yang dengan mudah menghakimi satu pihak di dalam sebuah kasus yang sebenarnya melibatkan dua pelaku. Ada pula media mainstream yang ikut-ikutan memberi legitimasi dengan menggunakan istilah perebut laki orang atau perebut bini orang ini.

Walau sudah menggunakan asas praduga tak bersalah dengan misalnya mencantumkan kata “diduga” atau “dituding” tapi kenapa juga masih tetap menggunakan istilah yang hanya menunjuk satu pihak di atas sebuah kasus yang sebenarnya melibatkan kedua pihak dalam keadaan sadar.

Media massa dengan frekuensi pembaca dan penonton yang sangat besar ikut turut serta menyuburkan ketidakadilan. Menjadi sebuah mesin penyebar stigma yang sangat bias yang bisa dengan mudah dianggap sebagai suatu kebenaran oleh khalayak.

Sialnya, masyarakat dengan mudah juga dengan perasaan yang biasa saja menyebut dan memberi label orang ketiga ini sebagai perebut sesuatu yang seharusnya tidak menjadi miliknya.

Tulisan ini bukan berarti mendukung kasus perselingkuhan, bagaimanapun yang namanya selingkuh tetap sebuah kesalahan dan sesuatu yang tidak bisa dibenarkan. Cuman ayo deh kita pikir-pikir lagi, apa iya hanya mau menyalahkan, mencibir, memaki, membenci satu pihak saja tanpa melihat orang yang paling dekat sama kita (pasangan) juga punya peran ?

Terakhir diperbarui pada 19 Januari 2022 oleh

Tags: hubunganKritik SosialPacaranpebinorpelakorselingkuh
Atik Soraya

Atik Soraya

ArtikelTerkait

mencintai

Salahkah Mencintai Orang yang Tidak Mencintai Kita?

13 Mei 2019
Unlock Your Heart oleh Sabrina Maidah: Membuka Hati pada Hubungan Baru

Unlock Your Heart oleh Sabrina Maidah: Panduan Membuka Hati pada Hubungan Baru

9 September 2023
pesan dari mantan

Pesan (dari) Mantan

7 Juni 2019
dilarang kuliah

Di Kampung Saya, Anak Mudanya Terancam Dilarang Kuliah

26 Juli 2019
Sebagai Anak Tengah, Saya Muak pada Glorifikasi Sulung dan Bungsu terminal mojok.co

Kalau Jakarta Punya PSBB, Ayah Protektif Punya PABB: Pembatasan Asmara Berskala Besar

15 April 2020
mundur pas pdkt

6 Hal yang Bikin Cewek Mundur Pas Lagi PDKT

7 April 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

4 Hal Menjengkelkan yang Saya Alami Saat Kuliah di UPN Veteran Jakarta Kampus Pondok Labu

Kuliah di Jakarta: Sebuah Anomali di Tengah Pemujaan Berlebihan terhadap Jogja dan Malang

26 April 2026
4 Alasan Samarinda Ideal untuk Bekerja, tapi Tidak untuk Menua

Curahan Mahasiswa Baru Samarinda: Harus Mencicil Motor karena Tak Ada Kendaraan Umum di Samarinda, padahal Bukan Orang Berduit

22 April 2026
5 Kuliner Terbaik Demak yang Wajib Dicicipi Setidaknya Sekali Seumur Hidup Mojok.co

5 Kuliner Terbaik Demak yang Wajib Dicicipi Setidaknya Sekali Seumur Hidup

23 April 2026
Bantul Nggak Punya Bioskop, tapi Warlok Nggak Kekurangan Tontonan Menghibur karena Ada Jathilan hingga Lomba Voli Mojok.co

Hidup di Bantul Tanpa Bioskop akan Baik-baik Saja Selama Ada Jathilan hingga Tanding Voli

23 April 2026
4 Menu Janji Jiwa yang Perlu Dihindari biar Nggak Rugi, Saya Aja Kapok Pesan Lagi

Kopi Janji Jiwa Mungkin Sudah Bukan di Posisi Teratas Kopi Kekinian, tapi Menyebutnya Air Comberan Jelas Adalah Penghinaan

24 April 2026
Untuk Warga Surabaya, Stop Menormalisasi Bayar Parkir kepada Juru Parkir di Toko Atau Minimarket yang Bertuliskan 'Parkir Gratis'!

Jalan-jalan di Surabaya Itu Mudah dan Murah, tapi Jadi Mahal karena Kebanyakan Tukang Parkir Liar

21 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Merawat Nilai Luhur di Dalam Candi Plaosan agar Tak Memudar Seiring Zaman
  • Bagi Pelari Kalcer, Kesehatan Tak Penting: Gengsi dan Diterima Sirkel Elite Jadi Prioritas Mereka
  • 4 Jurusan Kuliah yang Kerap Disepelekan tapi Jangan Dihapus, Masih Relevan dan Dibutuhkan di Bisnis Rezim Manapun
  • UU PPRT Menyelamatkan Manusia dari Perbudakan Modern: Harus Kita Rayakan, Meski Jalan Kemenangan Masih Panjang
  • Anak Usia 30-an Tak Ingin FOMO Pakai FreshCare, Setia Pakai Minyak Angin Cap Lang meski Diejek “Bau Lansia”
  • Sweeping Daycare di Kota Yogyakarta, Langkah Emergency yang Harus Dilakukan agar Kasus Serupa Little Aresha Tak Terulang

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.