Dosa Jogja kepada Tukang Becak Tradisional: Becaknya Dianggap Warisan Budaya, tapi Pengemudinya Dibiarkan Menua, Lalu Mati dalam Kemiskinan

Jogja Aneh, Membiarkan Tukang Becak Mati dalam Kemiskinan (Unsplash)

Jogja Aneh, Membiarkan Tukang Becak Mati dalam Kemiskinan (Unsplash)

Becak, sudah mendapat pengakuan secara resmi sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTb). Ia bukan sekadar alat transportasi, tapi sudah menjadi identitas sejarah. Termasuk di dalamnya becak tradisional di Jogja dan becak Siantar di Sumatera Utara. Catat baik-baik kalimat di atas.

Nah, Jogja sendiri, mungkin satu-satunya kota di Indonesia, yang bisa membuat orang rela capek demi suasana. Kami rela untuk macet, kepanasan, dompet jadi tipis. Semua itu kami lakukan demi bisa bilang: “Jogja tuh selalu ngangenin.”

Jogja, bagi sebagian orang, mungkin memang gampang bikin sentimentil. Sedikit gerimis di Malioboro, lampu jalan kuning, suara pengamen menyanyikan lagu Dewa 19, terus ada becak lewat pelan sambil bunyi bel kecil itu. 

Semua itu bikin orang merasa sentimentil. Mendadak, semua orang merasa hidupnya seperti film indie murah tapi emosional.

Padahal, kita akui saja, Jogja membangun romantisme itu di atas derita orang-orang yang hidupnya jauh dari romantis. Termasuk tukang becak tradisional.

Hidup tukang becak tradisional di Jogja yang menyedihkan

Banyak orang Jogja itu lucu. Mereka memuji becak sebagai identitas budaya. Simbol keistimewaan. Ikon wisata. Bahkan sekarang konsepnya makin keren: heritage mobility, cultural tourism, dan istilah-istilah lain yang terdengar seperti seminar pariwisata dengan snack risol dingin.

Pokoknya becak itu penting. Tapi, hidup pengemudinya sendiri ya terbilang mengenaskan.

Padahal, yang membuat Jogja terasa “Jogja” bukan cuma Tugu atau Malioboro. Bapak-bapak tua yang masih mengayuh becak pelan di tengah kota yang makin sibuk pura-pura modern itu juga turut membangun identitas kota ini. Dan mereka makin tua beneran.

Banyak pengemudi becak tradisional Jogja usianya di atas 50 tahun. Sudah puluhan tahun mereka mengayuh. Lutut mungkin sudah bunyi tiap bangun tidur, pinggang sudah protes, tapi tetap jalan, karena hidup nggak bisa cuti.

Namun, hidup mereka tak pernah sejahtera. Miskin. Tapi tetap, bagian dari sebuah kata estetik palsu yang mewarnai kota ini.

Masalahnya, Jogja masih sangat bergantung pada citra tradisional itu. Menurut data pariwisata DIY Tahun 2025, ada 4,6 juta wisatawan domestik berkunjung ke Malioboro. Belum wisatawan mancanegara yang masuk ke Keraton, Tamansari, sampai Kotagede. 

Orang datang ke Jogja mau cari apa?

Ya suasana itu.

Becak.

Andong.

Angkringan.

Orang-orang yang hidupnya terjepit kemiskinan dan “dipaksa pelan” karena karena orang kota sekarang capek hidup terlalu cepat. 

Tidak mendapat tempat utama

Makanya lucu, ketika wisatawan datang mencari “kehangatan budaya”, tapi transportasi pilihan mereka adalah ojek online. Kita suka romantisme becak. Tapi tetap cari promo GoRide. Dan itu termasuk saya.

Saya pernah naik becak malam hari habis nongkrong dekat Malioboro. Awalnya cuma karena pengin merasakan “Jogja banget”. Kalimat andalan anak kota buat membenarkan keputusan impulsif.

Di tengah jalan bapaknya ngobrol. Cerita kalau sekarang makin sepi. Wisatawan lebih memilih transportasi online karena lebih murah dan praktis.

Saya cuma manggut-manggut mendengarkan. Padahal, di kepala sendiri waktu itu malah kepikiran besok berangkat kerja beli bensin berapa biar tetap bisa makan siang.

Dan makin ke sini, becak memang seperti makhluk yang salah lahir di zaman yang semuanya harus cepat. Cepat, murah, praktis, ada aplikasi, ada promo, ada cashback. Kalau bisa sekalian dapat poin reward.

Mana mungkin tukang becak umur 60 tahun bisa menang lawan algoritma? Itu bukan persaingan, tapi gladiator lawan startup.

Makanya sekarang Jogja mulai mencari jalan tengah yang agak membingungkan: becak listrik. Nah ini menarik sekaligus membingungkan.

Karena Jogja sebenarnya sedang mengalami krisis identitas kecil-kecilan. Kota ini ingin modern, tapi takut kehilangan kesan tradisionalnya sendiri.

Akhirnya di Jogja, semua jadi nanggung

Becaknya listrik, tapi harus tetap terlihat tradisional. Digitalisasi jalan, tapi nuansa yang lahir harus tetap vintage. QRIS masuk, tapi estetikanya jangan hilang.

Modernitas cosplay budaya. Dan Jogja serta Indonesia memang jago soal beginian.

Kita ingin semuanya maju tanpa kehilangan nostalgia. Hasilnya sering seperti bapak-bapak baru kenal startup. Mereka semangat modernisasinya besar, tapi masih bingung cara kerja sistemnya.

Makanya, regulasi transportasi tradisional di Jogja sekarang juga kadang terasa absurd. Ada larangan untuk skuter listrik karena mengganggu kawasan wisata. Namun, kita malah mendorong becak listrik masuk sebagai bagian modernisasi transportasi budaya. Saya baca itu sambil ketawa kecil.

Negeri ini memang sering mengambil keputusan berdasarkan estetika. Kalau kelihatannya tradisional dan cocok jadi background foto wisatawan, langsung mendapat status “budaya”.

Hanya validasi, bukan kesejahteraan

Yang lebih lucu lagi, wisatawan sekarang juga maunya serba tanggung. Pengin becak yang nyaman, modern, tarif jelas, bisa digital, ada reservasi online, tapi tetap terasa lokal dan “autentik”.

Manusia modern memang unik. Kita ingin pengalaman autentik tanpa mengalami repotnya kenyataan autentik itu sendiri. Naik becak sekarang bukan lagi soal transportasi tapi pengalaman, konten, dan validasi sosial.

Kita tidak mencari perjalanan yang bikin sejahtera para “pelaku budaya” ini, tapi cuma suasana. Padahal, tukang becak sendiri mungkin lagi pusing mikirin besok makan apa.

Kadang saya merasa kota wisata memang kejam dengan cara yang halus. Ia menjual kehangatan, tapi banyak orang di dalamnya hidup sambil menggigil.

Tukang becak, kusir andong, penjual angkringan, hingga tukang parkir adalah orang-orang yang membuat Jogja tetap terasa punya jiwa. Khususnya di tengah gempuran coffee shop industrial dan turis yang hobinya bilang “hidden gem” ke tempat yang jelas-jelas sudah penuh.

Tapi justru mereka juga yang paling gampang kalah oleh perkembangan kota. Trotoar makin estetik. Spot foto makin banyak. Cafe makin artsy. 

Tapi, pengemudi becak di Jogja semakin menua dalam kemiskinan. Dan kita tetap merasa sudah cukup mencintai budaya hanya karena pernah mengunggahnya ke Instagram Story.

Penulis: Faiz Al Ghiffary

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Jogja (Nggak) Istimewa karena Ada Banyak Lansia yang Makan, Tidur, dan Mati di dalam Becaknya

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version