Sebagai orang yang membagi separuh usia di Semarang dan sisanya di Jogja, saya sukses menjadi manusia dengan dua mode yang saling bertolak belakang. Bertahun-tahun menyelami kehidupan di dua kota ini membuat saya fasih bicara banter ala orang pesisiran, tapi juga tetap mampu berbasa-basi halus khas rakyat keraton.
Masalahnya, memindahkan kebiasaan dari satu kota ke kota lainnya ternyata nggak gampang. Ada ego dan rutinitas yang saling tabrak di tengah jalan.
Memang, secara geografis, jarak Semarang-Jogja itu cuma terpaut dua jam perjalanan. Tapi urusan kebiasaannya masyarakatnya, perbedaan tersebut bisa terasa sejauh bumi dan langit.
BACA JUGA: 3 Hal yang Membuat Mahasiswa Semarang Iri dengan Mahasiswa Jogja
#1 Bukan arah mata angin, orang Semarang suka memakai istilah atas dan bawah untuk navigasi
Bagi warga Jogja, petunjuk jalan ala orang Semarang bisa bikin pusing tujuh keliling. Persoalannya, orang Jogja itu beruntung karena punya Gunung Merapi di utara dan Pantai Parangtritis di selatan sebagai jangkar navigasi yang absolut. Sementara itu, masyarakat Semarang nggak punya anugerah alam yang sebegitu ikoniknya untuk menjadi patokan.
Solusinya, warga Kota Atlas punya inisiatif membagi kota jadi dua kawasan sederhana, Semarang Atas dan Bawah. Nyatanya, hidup terasa jauh lebih praktis kalau cukup arah tujuan jalannya menanjak atau menurun, nggak perlu pusing mencari di mana posisi matahari terbit.
Sialnya, waktu kebiasaan ini saya bawa ke Jogja, warga lokal malah mengira saya mau ekspedisi naik gunung. Atau malah mengira saya mau berenang ke pantai.
Baca halaman selanjutnya: kebiasaan yang bisa bikin bingung, bahkan salah paham.













