Hidup Jadi Orang Cantik Nggak Enak, itu Kata Anime dan Drakor ini

Jadi orang cantik nggak enak: banyak yang PDKT-in tapi bikin risih, banyak temen yang deketin tapi palsu, selalu jadi pusat perhatian tapi bikin insecure.

Artikel

Siti Halwah

Adakah di antara kalian yang pernah nonton anime Ao Haru Ride? Memang sudah agak lama sih, sejak season yang pertama tayang, sedangkan untuk season yang kedua malah nggak ada kabarnya. Bikin kesel, deh. Meskipun anime romance ini kisahnya cenderung klise dan nggak ribet, tapi menurut saya permasalahan yang diangkat cukup menarik dan relate sama kehidupan beberapa orang—khususnya bagi mereka yang terlahir dengan anugerah wajah cantik nan rupawan.

Menurut teori yang dianut oleh sebagian besar manusia di muka bumi ini, jika kamu terlahir dengan wajah cakep, maka setengah permasalahan hidupmu sudah selesai. Benarkah? Kira-kira memang seperti itulah yang terlihat di dunia nyata dan saya mengamininya. Namun, saya menarik kembali kesimpulan tersebut setelah menonton anime Ao Haru Ride.

Namanya Yoshioka Futaba, salah satu tokoh utama dalam cerita ini yang punya masalah sederhana tapi cukup ribet buat dirinya sendiri. Dia adalah cewek yang kebetulan terlahir cantik dan rupawan, yang sayangnya karena kecantikannya segala sesuatu dalam hidupnya nggak pernah mudah.

Banyak cowok yang suka sama dia dan mencoba untuk pedekate. Padahal, Futaba seringkali merasa risih ketika didekati sama cowok-cowok itu. Ia bahkan pernah menolak cowok secara terang-terangan. Namun, cowok-cowok seolah nggak pernah berhenti buat deketin dia. Makin ditolak, kok ya rasanya makin banyak aja. Gitu kali ya, isi pikirannya Futaba.

Futaba punya banyak teman cewek—yang sayangnya semua adalah palsu. Cewek-cewek ngedeketin Futaba cuma karena dia populer dan disukai banyak cowok. Mereka sih, berharapnya bakal kecipratan populer juga kalo temenan sama Futaba. Kasian banget deh, Futaba benar-benar nggak punya teman yang real temannya dia. Hampir semuanya adalah palsu dan punya niat tersembunyi.

Hingga suatu hari, gebetan temen ceweknya nembak Futaba. Si temen ceweknya Futaba ini nangis dong. Dia ngerasa bahwa Futaba itu temen yang nggak peduli. Masak gebetan temennya sendiri malah diambil juga? Apa nggak cukup ia jadi cewek populer di sekolah dan disukai banyak cowok? Alhasil, cewek-cewek ini bikin semacam gerakan untuk jauhi Futaba. Pokoknya jangan diajak ngomong dan main. Futaba akhirnya dikucilkan dan melalui masa-masa SMP-nya tanpa seorang teman. Kesepian dan terasing.

Baca Juga:  Bahwa Orang Putus Asa Suka Memanggil Asu

Berbekal pengalaman pahit di masa SMP-nya itulah, dia berniat untuk me-restart kehidupan di masa SMA-nya. Dia nggak mau lagi jadi cewek yang disukai oleh banyak cowok. Dia berubah, dari cewek yang sebelumnya berambut panjang, menjadi cewek berambut pendek. Dari feminin menjadi tomboi, urakan, blangsak, jorok, suka ngomong dengan suara keras dan makan banyak-banyak—hal yang seharusnya nggak dilakukan oleh cewek.

Ketika banyak teman-teman SMA-nya ingin merasakan kehidupan putih-abu-merah-jambu dan romansa kisah cinta SMA, Futaba justru malah fokus buat nyari teman. Ia nggak mau lagi menghabiskan masa sekolahnya sendirian dan dijauhi cuma karena ia cantik dan disukai banyak cowok. Baginya, ini jelas nggak adil. Lagian, Futaba juga nggak minta untuk dilahirkan jadi cantik, kan?

Kisah Futaba ini membuka sisi lain kehidupan cewek cantik yang selama ini nggak banyak diketahui oleh banyak orang. Bahwa terlahir cantik dan menjadi pusat perhatian ternyata juga nggak melulu enak. Nggak semudah yang dilihat dan diomongkan oleh semua orang.

Saya pernah sekelas dengan seorang cewek yang cantik banget. Entah hanya perasaan saya atau memang begitulah kenyataannya, dia nggak pernah benar-benar punya teman cewek. Saya lebih sering melihatnya sendirian—atau duduk sama cowok-cowok. Namanya seringkali jadi bahan gosip utama sama geng-geng cewek. Apa pun yang dia kerjakan, aksesori yang dipakainya hingga makanan yang dikonsumsinya, semuanya hampir selalu jadi bahan tubir sesama cewek. Persis seperti kisahnya Futaba.

Selain Yoshioka Futaba, kisah bahwa nggak enak menjadi cewek cantik juga saya temukan di drama korea My ID is Gangnam Beauty. Bukan tentang Kang Mi Rae si tokoh utama, melainkan kisah Hyun Soo A. Tokoh antagonis dalam drakor tersebut.

Soo A tumbuh sebagai cewek yang cantik, populer dan otomatis jadi pusat perhatian. Dia udah biasa jadi pusat perhatian para cowok-cowok dan nggak pernah mau kehilangan kepopulerannya. Maka, ia berusaha keras untuk tetap populer dengan melakukan hal-hal yang mungkin bagi sebagian orang dianggap aneh dan bodoh.

Baca Juga:  Terima Kasih Evan Spiegel, Sekarang Saya Tidak Jomblo Lagi

Soo A selalu tersenyum, bicara dengan lemah lembut, nggak pernah benar-benar mengeluarkan emosi dan isi pikirannya. Dia tahu bahwa cowok-cowok nggak terlalu suka sama cewek yang pintar, maka dari itu ia berusaha untuk nggak terlalu menonjol dibidang akademis. Bahkan, ia seringkali pura-pura bloon hanya untuk dapat perhatian para cowok.

Soo A bahkan berbohong bahwa berat badannya nggak pernah naik meski ia selalu menghabiskan makanannya. Padahal yang sebenarnya terjadi adalah ia memuntahkan kembali makanannya sebelum makanan tersebut dicerna oleh lambungnya. Semua dilakukannya untuk menjaga bentuk tubuhnya. Agar ia tetap populer dan menjadi pusat perhatian. Bahkan, ia sampai mengkonfrontasi Kang Mi Rae, cewek yang kebetulan berubah menjadi cantik setelah melakukan operasi plastik. Baginya, Kang Mi Rae adalah ancaman untuk kepopulerannya.

Terlepas dari betapa jahatnya tindakan Soo A, saya justru merasa kasihan padanya. Ia berusaha keras untuk menjadi tetap cantik, berteman dengan yang cantik-cantik saja hanya untuk tetap dapat populer dan menjadi pusat perhatian. Ia nggak pernah benar-benar tahu apa yang diinginkannya dan selalu hidup dalam dikte orang lain. Mungkin, beberapa orang cantik di dunia ini juga sama menderitanya seperti dia.

Jadi, selepas saya tahu kisah hidupnya Yoshioka Futaba dan Hyu Soo A, hal tersebut benar-benar membuka pandangan saya tentang kehidupan orang cantik. Meskipun keduanya hanya berupa fiksi di dalam film, namun nggak menutup kemungkinan bahwa ada orang-orang cantik yang bernasib sama dan harus hidup seperti mereka berdua.

Jadi, mulai sekarang berhentilah ngurusin hidupnya orang-orang cakep!

BACA JUGA “Reply 1988” Drama Korea Terbaik yang Nunjukin Tetangga Goals atau tulisan Siti Halwah lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
25


Komentar

Comments are closed.