“Reply 1988” Drama Korea Terbaik yang Nunjukin Tetangga Goals

Artikel

Avatar

Reply 1988 adalah drama Korea yang bisa dikatakan sebagai salah satu drama terbaik. Drama yang meskipun telah tayang sejak 2015 masih sanggup memberikan sensasi yang sama ketika pertama kali menontonnya hingga saat ini, daebak! Dibandingkan nonton sinetron di tv ikan terbang yang ngajari harus tabah dalam kebaikan dan menunggu orang jahat diazab (padahal harusnya dilawan aja, cok) saya sarankan kalian nonton Reply 1988 aja.

Reply 1988 berlatar tentang kehidupan di tahun 1988—sesuai dengan judulnya, gambaran kehidupan masyarakat, keadaan politik dan hal-hal yang mampu mengembalikan ingatan pada masa itu.

Drama sebanyak 20 episode ini berkisah tentang persahabatan lima orang anak seumuran yang tumbuh dan berkembang bersama hingga tidak lagi memiliki rahasia maupun batas. Persahabatan mereka didukung oleh hubungan masing-masing keluarga yang saling mengasihi satu sama lain. Benar-benar hubungan yang sangat membuat iri di setiap episodenya.

Dibuka dengan adegan lima orang anak muda yang sedang menonton televisi lalu harus bubar karena dipanggil emak masing-masing untuk makan malam, drama ini menunjukan bagaimana masyarakat korea memiliki semacam “ritual” saling berbagi makanan antara para keluarga bertetangga tersebut. Keluarga yang hanya memiliki beberapa lauk-pauk jadi memiliki variasi makanan di meja makan. Adegan selanjutnya mengalir kelucuan-kelucuan yang cukup absurd namun terasa dekat dengan kehidupan kita.

Sepanjang menonton drama ini saya bertanya-tanya apakah kehidupan bertetangga seperti Reply 1988 benar-benar menjadi sebuah realita masyarakat korea pada masa itu? Kalau memang seperti itu, saya pikir mereka sudah mengamalkan nilai-nilai Pancasila yang sekarang ini menjadi jargon saja di Indonesia seperti gotong royong.

Bagaimana tidak, ada lima keluarga yang bertetangga yang diceritakan memiliki latar ekonomi dan kepribadian berbeda namun bisa menyatu tanpa sekat, tanpa perasaan lebih baik satu sama lain. Saling mendukung saling memberi tanpa ada perasaan pamrih yang sampai kepada saya sebagai penonton.

Baca Juga:  The World of the Married Episode 16: Sinopsis dan Komentar

Salah satu contoh adegan ketika emak Duk Seon yang tidak memiliki uang bulanan lebih dan kebingungan ingin memberikan anaknya Duk Seon uang saku untuk perjalanan karya wisata. Ingin pinjam kepada tetangganya emak Jung Hwan yang memiliki keuangan lebih tapi segan namun justru emak Jung Hwan datang membawakan ubi rebus yang ternyata menyelipkan beberapa lembar uang untuk sangu anaknya.*Tisu mana tisu*

Keluaraga Jung Hwan yang diceritakan menjadi kaya karena menang lotre pun tidak serta merta bersikap tinggi hati layaknya OKB (Orang Kaya Baru) kalo kata emak-emak di komplek saya. Malah keluarga ini sangat sering mengajak makan bersama ketika mencoba resep baru atau membagi makanan yang dimiliki.

Seperti layaknya emak-emak komplek yang suka berkumpul dan bergosip mereka pun sering berkumpul dan bercerita berkeluh kesah tentang apa saja persoalan kehidupan mereka. Tapi ya enggak ngomongin tetangga khas emak-emak Indonesia, ya kalo di depan baik kalo kitanya ngga ada ya diomongi, hih~.

Reply 1988 memberikan nilai-nilai kehidupan yang sangat tinggi, yang membuat saya kembali mengingat ceramah-ceramah tentang bagaimana memuliakan tetangga. Seperti dalam ajaran Islam yang mengatakan saudara terdekat kita adalah tetangga. Seorang pencuri dosanya akan berlipat ganda dari dosa mencuri itu sendiri ketika mencuri sepuluh rumah dari rumahnya.

Juga kebiasaan mereka saling berbagi makanan juga mengingatkan saya kepada salah satu  kalimat yang mengatakan “berdosalah kalian jika membiarkan tetangga kalian hanya mencium bau makanan yang kalian masak tanpa membaginya.”

Menonton Reply 1988 membuat saya secara pribadi melihat lagi kehidupan bertetangga saat ini, di pinggiran Ibukota yang cukup sibuk. Hanya sesekali bertemu tetangga dan berakhir melempar senyum, bahkan terkadang pura-pura tak saling melihat. Berjalan cepat ketika melewati emak-emak yang sedang berkumpul sambil dalam hati berdoa semoga tidak ada sapa basa-basi.

Baca Juga:  Malam Ramadan, Edukasi Seks di Pesantren dengan Ngaji Qurrotul Uyun

Kesenangan saya kehidupan bertetangga ada ketika Idul Fitri dan juga Natal. Di waktu Idul Fitri saya yang Muslim mengantarkan makanan khas lebaran seperti, ketupat, opor ayam, rendang, balado kentang dan hati yang kemudian tetangga saya yang Nasrani akan datang dengan membawa parcel. Dan begitu sebaliknya ketika Natal kami saling menukar parcel dengan kue-kue khas, saling tersenyum berbahagia satu sama lain.

Tapi hanya cukup sampai disitu saja, rasanya nyaman untuk waktu-waktu tertentu tidak untuk setiap saat. Serupa Reply 1988 yang indah pada masanya dalam tontonan, Pancasila, Ekasila yang kita harapkan sebagai landasan kehidupan juga hanya indah dalam sosialisasi.

Sudah menyapa tetangga hari ini?

BACA JUGA Drama Korea Terfavorit 2019 atau tulisan Indah Setiani lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

---
7


Komentar

Comments are closed.