Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Hati-hati Keberulangan adalah Ujian Bagi Manusia

H.R. Nawawi oleh H.R. Nawawi
8 Mei 2019
A A
keberulangan waktu

keberulangan waktu

Share on FacebookShare on Twitter

Baca Juga:

Hal-hal yang Akan Saya Lakukan kalau Saya Tahu Kapan Saya Mati

Teori-teori yang Menjawab Misteri Hari Minggu Berlalu Lebih Cepat

Keberulangan adalah ujian bagi manusia. Jika setiap tahun matahari tetap sama, artinya dari Januari menuju Desember; timur ke barat; habis terang terbitlah terang; pukul 00:00 kembali ke 23:59, maka bukankah itu pertanda bahwa kehidupan ini akan terus berulang hingga kematian menuntaskannya. Lalu bagaimana menghadapi keberulangan hidup ini?
Pagi menjelang, semua terbangun dari tidur masing-masing, dan kemudian menjalani hidup penuh keyakinan, walaupun ada juga yang bermalas-malasan, kita sebagai manusia siap atau tidak siap harus menjalani hidup dengan bergegas. Dari yang paling normal sekalipun hingga yang tidak normal kehidupan akan berjalan tanpa pernah disadari detik demi detik menelanjangi usia menuju kematian yang setia menunggu.
Kemudian agama memberi kita keyakinan bahwa ada kehidupan setalah kematian. Semua umat beragama menyiapkan segalanya untuk bekal nanti dengan tingkat keberulangan yang menguji. Apalagi agama Islam punya rutinitas sholat 5 waktu setiap hari, ritual yang jika hanya sekilas dibayangkan akan cukup membosankan. Ditambah lagi, saat solat hanya boleh merapalkan yang hanya itu-itu aja, dan tidak boleh memodifikasi urutan gerak ritual.
Lalu dalam setahun tibalah puasa bulan Ramadan yang ujian kita makin bertambah untuk mencampakkan yang duniawi. Alangkah berat saat semua orang boleh meneguk es kelapa siang hari, memesan segala promo paket lunch yang disediakan para penjual online, melihat segala yang nikmat di mata (laki-laki maupun perempuan) untuk memenuhi hasrat, membicarakan segala yang manis (konon jika kita sedang menghasut itu para setan sedang mengoleskan madu di bibir kita) secara langsung atau menggunakan media virtual harus ditanggalkan.
Namun jika kita semua yakin keberulangan itu ada, maka kerapkali ternyata kita sombong bahwa hari masih panjang untuk sekedar berubah baik dikit demi sedikit. Padahal rasa sombong lebih membuat manusia melayang-layang daripada sebatang marijuana serta berkaleng-kaleng bir atau minuman rusia macam Vodka. Bagaimana kita menghindari keberulangan yang membuat manusia mengidap rasa sombong?
“Satu bulan dalam setahun ini relakan diri ini untuknya.” ujar Gus Mus pada para santri, “sebelas bulan yang lain sudah kita lewat kehidupan ini untuk diri kita masing-masing. Waktunya mengaso, menemui pencipta lebih sering dari biasanya”
Semua santri mengangguk-ngangguk tanpa perlu disuruh, seakan semua yang terucap itu dapat ditangkap dengan mudah. Dan memang begitu telinga semua orang, mudah mendengar namun mudah juga lupa untuk dirinya sendiri. Namun mereka seperti sudah hapal sekian huruf-huruf yang di dengar jika untuk orang lain. Yang sejati memang keberulangan , dan tidak ada yang lain yang kita miliki kecuali itu. Nikmati keberulangan dengan lebih jeli, detail, dan mampu untuk kebaikan hari kita yang terus berjalan dengan lebih baik.
Memang perlu waktu untuk mengunyah setiap pengetahuan yang diperoleh, dan waktu setiap manusia memang relatif. Artinya pukul 09:00 saat sebagian orang baru bangun itu cukup siang bagi yang lain. Dan 07:00 saat orang mulai bekerja bagi yang lain itu terlalu pagi. Semua harus saling mengalah untuk kedamaian, seperti sifat baik lainnya agar mudah direalisasikan. Tapi bagaimana fastabiqul khairat itu bisa terwujud jika kita semua mengalah. Harus ada yang kompetitif, namun teks itu tidak selama seperti lomba yang pada umumnya orang lakukan. Karena saat kita tidak membangunkan orang atau mengingatkan orang untuk berbuat baik dan kita diam, poin kita tidak bertambah secara signifikan.
“Jangan jatuh di lubang yang sama,” tutur salah seorang bijak bestari jamam dulu
Padahal jika dilihat kembali jalan kita sudah berlubang semua dan kita tidak tahu apakah itu lubang yang sama atau bukan. Makanya mau mengulang kebaikan itu baik, dan apapun yang tidak buruk itu baik. Sampai kapan bergumul dengan yang profan jika dalam 1 bulan diantara 12 bulan lainnya kita keluar menemuinya. Artinya meskipun ia dalam diri kita tapi bukankah kita sering pergi dari kita sendiri untum memenuhi hasrat secara berlebihan hingga lupa pulang lagi ke tubuh masing-masing.
Ujian kita sebagai manusia, sebagai umat islam, semakin beragam dan kita harus rela untuk mengakui keimanan kita dibawah para pendahulu kita. Dan jangan lupa bahwa keberulangan membuat kita tergelincir, berlumpur, dan lupa bagaimana membersihkannya. Paling tidak kita saling mengingatkan untuk meyakini lubang yang kita masuki tidak sama dengan lubang sebelumnya. Karena di lubang yang sama kita jatuh, disaat itu kita disematkan bagai keledai.

Hati-hati di jalan.

Terakhir diperbarui pada 12 Mei 2019 oleh

Tags: BijaksanaGus MusKeberulanganWaktu
H.R. Nawawi

H.R. Nawawi

Jika di dunia hanya ada dua pilihan antara riang dan menangis. Saya memilih menangis. Kehampaan.

ArtikelTerkait

waktu

Waktu Hanyalah Sebuah Persepsi

15 Mei 2019
minggu lebih cepat tiba-tiba senin mojok

Teori-teori yang Menjawab Misteri Hari Minggu Berlalu Lebih Cepat

20 Oktober 2020
hari jumat

Fun Fact Hari Jumat: Apakah Nge-tweet #JumatBerkah Hidup Jadi Lebih Berkah?

25 Oktober 2019
Beda Pandangan Kiai Maimoen dan Gus Baha' Soal Menerima Tamu

Beda Pandangan Kiai Maimoen dan Gus Baha’ Soal Menerima Tamu

23 November 2019
Hal-hal yang Akan Saya Lakukan kalau Saya Tahu Kapan Saya Mati

Hal-hal yang Akan Saya Lakukan kalau Saya Tahu Kapan Saya Mati

8 November 2022
trailer film

Baru Nonton Trailer Film-nya, Udah Ngegas Aja

19 September 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

3 Dosa Jalan Bantul yang Membuat Warga Lokal seperti Saya Sering Apes ketika Melewatinya Mojok.co

Bantul Itu Maju ya, Gaes, Bukan Desa Tertinggal dan Tak Tersentuh Peradaban seperti yang Ada di Pikiran Kalian!

17 April 2026
6 Dosa Penjual Cilok yang Bikin Pembeli Kapok Jajan Lagi Mojok.co

6 Dosa Penjual Cilok yang Bikin Pembeli Kapok Jajan Lagi 

21 April 2026
Saya Orang Asli Depok dan Tidak Bangga Tinggal di Daerah yang Aneh Ini Mojok.co pasar rebo

Derita Orang Pasar Rebo, Jauh dari Jakarta Bagian Mana pun, Malah Lebih Dekat ke Depok!

22 April 2026
Satria FU Sudah Tak Pantas Disebut Motor Jamet, Yamaha Aerox lah Motor Jamet yang Sebenarnya

Alasan Mengapa Satria FU Masih Digandrungi ABG di Madura, Membuat Pria Lebih Tampan dan Bikin Langgeng dalam Pacaran

23 April 2026
Rasanya Jadi Orang Bangkalan Madura Belakangan Ini: Pilihan Toko Makin Banyak, tapi Tukang Parkir Ikut Merajalela Mojok.co

Rasanya Jadi Orang Bangkalan Madura Belakangan Ini: Pilihan Toko Makin Banyak, tapi Tukang Parkir Ikut Merajalela

23 April 2026
5 Perguruan Tinggi Swasta Terbaik di Bandung dari Kacamata Orang Lokal, Nggak Kalah dari Kampus Negeri Mojok.co PTN

Tradisi Tahunan Datang, Sekolah Kembali Sibuk Merayakan Siswa Lolos PTN, sementara yang Lain Cuma Remah-remah

23 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Nongkrong Makin Membosankan dan Toksik Semenjak Teman Cuma Sibuk Main Game, Saya Dibilang Spaneng dan “Nggak Asyik” karena Tak Ikut Mabar
  • Ironi WNI Jadi Guru di Luar Negeri: Dapat Gaji 2 Digit demi Mengajari Anak PMI, Pulang ke Indonesia Tak Dihargai dan Sulit Sejahtera
  • Tongkrongan Gen Z Meresahkan, Mengganggu Kenyamanan dari Yang Bisik-bisik sampai Berisik
  • Mahasiswa Gen Z Bukan Tak Bisa Membaca, tapi “Brain Rot” karena Sering Disuapi dan Kecanduan AI
  • Kena Mental Punya Kebun di Desa: Hasil Berkebun Tak Bisa Dinikmati Sendiri, Sudah Dirampok dan Dirusuhi Masih Digalaki
  • “Solo Date” Menjelang Usia 25: Meski Tampak Menyedihkan, Nyatanya Lebih Bermanfaat daripada Nongkrong Bersama

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.