Beda Pandangan Kiai Maimoen dan Gus Baha' Soal Menerima Tamu – Terminal Mojok

Beda Pandangan Kiai Maimoen dan Gus Baha’ Soal Menerima Tamu

Featured

FN Nuzula

KH Musthofa Bisri dalam mauidohnya di peringatan 100 hari wafatnya Kiai Maimoen, mengagumi cara Kiai Maimoen menerima dan memuliakan tamu. Sekaligus menyindir susahnya murid kesayangan beliau, Gus Baha’, ketika hendak disowani. “Ijeh nom ae galake ngene.” (masih muda saja galaknya begini) komentar Mbah Mus. Disambut tawa yang kencang dari Gus Baha’ dan hadirin.

Kiai Maimoen memang luar biasa dalam menerima dan memuliakan tamu. Semua orang diterima beliau, tak peduli itu dari latar belakang apa saja. Kalau bahasa Mbah Mus, “Kiai Maimoen itu partainya PPP, tapi tamunya bukan P tiga saja. Ada PKB, PDIP, macem-macem.” Bahkan dulu sempat viral, video tamu beliau yang berbicara dengan keras dan menggebu-gebu soal curangnya pilpres di hadapan beliau. Tapi beliau menampakkan kesabaran dan tak terpancing provokasi. Yang marah tentu saja kami para santrinya ini.

Tamu yang diterima pun diperlakukan sama. Semuanya dimuliakan sebegitu rupa. Selalu dicegah bila hendak pamit. Sehingga semua tamu merasa dekat dengan Kiai Maimoen. Dengan kesibukan beliau sebagai pengasuh pesantren, tokoh NU dan PPP dalam kancah nasional, beliau selalu tampil prima dalam menyambut tamu-tamu. Apalagi mengingat usia beliau yang tidak muda lagi.

Mbah Mus mengomentari kekaguman itu dengan mengkritik para tamu beliau, “Mbok ya para tamu-tamu itu punya rasa kasihan sedikit sama Kiai Maimoen.” Mengingat usia dan kesibukan beliau, Mbah Mus mengingatkan para tamu itu sadar diri, untuk tidak bertamu hampir sepanjang hari tak putus-putus. Tapi menjadi tak masalah, karena saking menyamuderanya cinta Kiai Maimoen pada umat.

Fenomena ini salah satu yang ingin dilawan murid kesayangan beliau, Gus Baha’. Jadi perbedaan guru dan murid tidak hanya kita saksikan saat zamanya Imam Malik dan Imam Syafii saja. Zaman sekarang juga bisa kita saksikan antara Kiai Maimoen dan Gus Baha’ soal tamu. Tentu perbedaan orang alim berdasar argumen keilmuan yang sama-sama kuat, bukan berdasar sentimen kayak kita-kita ini saat debat di media sosial.

Baca Juga:  4 Model Pendidikan ala Ivan Illich yang Harus Dimiliki Sekolah

Sebagaimana yang disebutkan di atas, Gus Baha’ memang sangat susah disowani. Bahkan ketika berceramah di mana-mana ngendikan dengan nada guyon, “Cukup aku yang menghampiri kalian (majlis ta’lim beliau di berbagai tempat: Yogyakarta, Bojonegoro, Kajen Pati). Nggak usah ke rumah! Ganggu waktuku dengan keluarga dan santriku saja! Haha….”

Tapi Gus Baha’ punya argumen sendiri soal itu dan punya gagasan tersendiri. Supaya nantinya tidak ada kiai yang sudah punya kesibukan dengan keluarga dan santrinya di pesantren tidak terganggu dengan para tamu yang mau tidak mau memang harus dilayani, karena memuliakan tamu itu sunah Nabi. Hadrotussyaikh Hasyim Asy’ari juga mewanti-wanti hal ini dalam kitabnya adabul ‘alim wal muta’alim, dalam pembahasan ke-tujuh mengenai adab seorang murid pada gurunya. Yakni, untuk tidak menemuinya di selain majlis umum, selain mendapatkan izinnya. Seorang murid terlebih dahulu harus memastikan, sowan pribadinya itu tidak mengganggu kegiatan zikir, ibadah, mutolaah, dan istirahat beliau.

Selain alasan mengganggu tadi, Gus Baha’ juga berargumen, penerimaan tamu itu berpotensi membudidayakan kebiasaan rasan-rasan (menggunjing) dan mengurangi tradisi keilmuan. Ini karena para tamu biasanya datang dengan bercerita berbagai latar belakang masalah baik itu pribadi, keumatan, maupun keilmuan yang ingin dimintakan solusi. Tetapi ini juga membuka peluang terjadinya rasan-rasan dan guyonan yang lebih menonjol daripada keilmuan. Padahal kata Gus Baha’, umat datang ke kiainya atas dasar keilmuan dan kealiman kiai, ya tentu sowan itu ya harusnya dalam rangka itu, meminta penjelasan keilmuan yang belum diterangkan Kiai dalam ngajinya. Tapi faktanya kan tidak.

Saya sendiri melihat fenomena sowan itu sebagai simbol bahwa kiai itu bukan hanya orang yang alim kitab kuning, tapi juga orang bijaksana dalam masyarakat yang diposisikan sebagai orang tua. Inilah kekhasan kiai nusantara yang mencontoh tauladan Rasulullah untuk mengayomi umat dengan mendengarkan dan mendoakan berbagai masalah umatnya, mulai hal sepele sampai yang serius. Ditambah kita para umat ini memang sering memaksa diri untuk berlomba-lomba lebih dekat dengan kiai kita. Meskipun, seharusnya sebagai umat dan “anak”, seyogyanya kita ya memang harus mempertimbangkan kesibukan dan waktu istirahat para kiai kita.

Baca Juga:  Setelah Sempat Hijrah, Sekarang Saya Unhijrah dan Memutuskan Kembali Jadi Ahli Bid'ah

Mungkin untuk mengurangi waktu sowan, sehingga menambah waktu istirahat kiai, saya punya usulan sedikit. Sebaiknya di ngaji-ngaji bandongan/majelis ta’lim umum yang diasuh kiai, dibuka sesi tanya jawab di akhir ngajinya. Yang membuka peluang jamaah untuk menanyakan berbagai permasalahan, entah itu sesuai tema yang dibahas atau tidak. Sebagaimana yang sering dilakukan Gus Baha’ di berbagai ceramah ilmiahnya. Saya bahkan pernah menyaksikan di sesi ini, Gus Baha’ mendapat pertanyaan permasalahan fiqih padahal tema yang dibahas orasi budaya. Itung-itung juga memantau sejauh mana pemahaman jamaah pada penjelasan kiai dan menumbuhkan tradisi kritis di majelis ta’lim keislaman. Karena kritis adalah kunci luasnya ilmu pengetahuan.

Sehingga waktu untuk sowan dan potensi terganggunya kiai dengan kegiatan pribadi dan mengajar santrinya juga berkurang. Fungsi kiai sebagai pengayom dan intelektual umat juga tidak berkurang.

BACA JUGA Gus Baha’ dan Anak Kecil atau tulisan FN Nuzula lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

---
11


Komentar

Comments are closed.