Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Featured

Beda Pandangan Kiai Maimoen dan Gus Baha’ Soal Menerima Tamu

FN Nuzula oleh FN Nuzula
23 November 2019
A A
Beda Pandangan Kiai Maimoen dan Gus Baha' Soal Menerima Tamu
Share on FacebookShare on Twitter

KH Musthofa Bisri dalam mauidohnya di peringatan 100 hari wafatnya Kiai Maimoen, mengagumi cara Kiai Maimoen menerima dan memuliakan tamu. Sekaligus menyindir susahnya murid kesayangan beliau, Gus Baha’, ketika hendak disowani. “Ijeh nom ae galake ngene.” (masih muda saja galaknya begini) komentar Mbah Mus. Disambut tawa yang kencang dari Gus Baha’ dan hadirin.

Kiai Maimoen memang luar biasa dalam menerima dan memuliakan tamu. Semua orang diterima beliau, tak peduli itu dari latar belakang apa saja. Kalau bahasa Mbah Mus, “Kiai Maimoen itu partainya PPP, tapi tamunya bukan P tiga saja. Ada PKB, PDIP, macem-macem.” Bahkan dulu sempat viral, video tamu beliau yang berbicara dengan keras dan menggebu-gebu soal curangnya pilpres di hadapan beliau. Tapi beliau menampakkan kesabaran dan tak terpancing provokasi. Yang marah tentu saja kami para santrinya ini.

ADVERTISEMENT

Tamu yang diterima pun diperlakukan sama. Semuanya dimuliakan sebegitu rupa. Selalu dicegah bila hendak pamit. Sehingga semua tamu merasa dekat dengan Kiai Maimoen. Dengan kesibukan beliau sebagai pengasuh pesantren, tokoh NU dan PPP dalam kancah nasional, beliau selalu tampil prima dalam menyambut tamu-tamu. Apalagi mengingat usia beliau yang tidak muda lagi.

Mbah Mus mengomentari kekaguman itu dengan mengkritik para tamu beliau, “Mbok ya para tamu-tamu itu punya rasa kasihan sedikit sama Kiai Maimoen.” Mengingat usia dan kesibukan beliau, Mbah Mus mengingatkan para tamu itu sadar diri, untuk tidak bertamu hampir sepanjang hari tak putus-putus. Tapi menjadi tak masalah, karena saking menyamuderanya cinta Kiai Maimoen pada umat.

Fenomena ini salah satu yang ingin dilawan murid kesayangan beliau, Gus Baha’. Jadi perbedaan guru dan murid tidak hanya kita saksikan saat zamanya Imam Malik dan Imam Syafii saja. Zaman sekarang juga bisa kita saksikan antara Kiai Maimoen dan Gus Baha’ soal tamu. Tentu perbedaan orang alim berdasar argumen keilmuan yang sama-sama kuat, bukan berdasar sentimen kayak kita-kita ini saat debat di media sosial.

Sebagaimana yang disebutkan di atas, Gus Baha’ memang sangat susah disowani. Bahkan ketika berceramah di mana-mana ngendikan dengan nada guyon, “Cukup aku yang menghampiri kalian (majlis ta’lim beliau di berbagai tempat: Yogyakarta, Bojonegoro, Kajen Pati). Nggak usah ke rumah! Ganggu waktuku dengan keluarga dan santriku saja! Haha….”

Tapi Gus Baha’ punya argumen sendiri soal itu dan punya gagasan tersendiri. Supaya nantinya tidak ada kiai yang sudah punya kesibukan dengan keluarga dan santrinya di pesantren tidak terganggu dengan para tamu yang mau tidak mau memang harus dilayani, karena memuliakan tamu itu sunah Nabi. Hadrotussyaikh Hasyim Asy’ari juga mewanti-wanti hal ini dalam kitabnya adabul ‘alim wal muta’alim, dalam pembahasan ke-tujuh mengenai adab seorang murid pada gurunya. Yakni, untuk tidak menemuinya di selain majlis umum, selain mendapatkan izinnya. Seorang murid terlebih dahulu harus memastikan, sowan pribadinya itu tidak mengganggu kegiatan zikir, ibadah, mutolaah, dan istirahat beliau.

Selain alasan mengganggu tadi, Gus Baha’ juga berargumen, penerimaan tamu itu berpotensi membudidayakan kebiasaan rasan-rasan (menggunjing) dan mengurangi tradisi keilmuan. Ini karena para tamu biasanya datang dengan bercerita berbagai latar belakang masalah baik itu pribadi, keumatan, maupun keilmuan yang ingin dimintakan solusi. Tetapi ini juga membuka peluang terjadinya rasan-rasan dan guyonan yang lebih menonjol daripada keilmuan. Padahal kata Gus Baha’, umat datang ke kiainya atas dasar keilmuan dan kealiman kiai, ya tentu sowan itu ya harusnya dalam rangka itu, meminta penjelasan keilmuan yang belum diterangkan Kiai dalam ngajinya. Tapi faktanya kan tidak.

Baca Juga:

Tahlilan Bukan Hanya untuk Tamu. Pihak Keluarga Harusnya Berpartisipasi, Bukan Malah Sibuk Sendiri!

Sirop Belum Benar-benar Mampus meski Terus Dihajar Minuman Kemasan Seribuan

Saya sendiri melihat fenomena sowan itu sebagai simbol bahwa kiai itu bukan hanya orang yang alim kitab kuning, tapi juga orang bijaksana dalam masyarakat yang diposisikan sebagai orang tua. Inilah kekhasan kiai nusantara yang mencontoh tauladan Rasulullah untuk mengayomi umat dengan mendengarkan dan mendoakan berbagai masalah umatnya, mulai hal sepele sampai yang serius. Ditambah kita para umat ini memang sering memaksa diri untuk berlomba-lomba lebih dekat dengan kiai kita. Meskipun, seharusnya sebagai umat dan “anak”, seyogyanya kita ya memang harus mempertimbangkan kesibukan dan waktu istirahat para kiai kita.

Mungkin untuk mengurangi waktu sowan, sehingga menambah waktu istirahat kiai, saya punya usulan sedikit. Sebaiknya di ngaji-ngaji bandongan/majelis ta’lim umum yang diasuh kiai, dibuka sesi tanya jawab di akhir ngajinya. Yang membuka peluang jamaah untuk menanyakan berbagai permasalahan, entah itu sesuai tema yang dibahas atau tidak. Sebagaimana yang sering dilakukan Gus Baha’ di berbagai ceramah ilmiahnya. Saya bahkan pernah menyaksikan di sesi ini, Gus Baha’ mendapat pertanyaan permasalahan fiqih padahal tema yang dibahas orasi budaya. Itung-itung juga memantau sejauh mana pemahaman jamaah pada penjelasan kiai dan menumbuhkan tradisi kritis di majelis ta’lim keislaman. Karena kritis adalah kunci luasnya ilmu pengetahuan.

Sehingga waktu untuk sowan dan potensi terganggunya kiai dengan kegiatan pribadi dan mengajar santrinya juga berkurang. Fungsi kiai sebagai pengayom dan intelektual umat juga tidak berkurang.

BACA JUGA Gus Baha’ dan Anak Kecil atau tulisan FN Nuzula lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 23 November 2019 oleh

Tags: Gus Baha'Gus MusKiai MaimoenTamu
FN Nuzula

FN Nuzula

Dari Pati, Jawa Tengah. Kuliah di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Mushonep Fathul Ketip.

ArtikelTerkait

reservasi hotel untung rugi cara-cara pasangan ilegal, Jangan Jadi Manusia Norak Saat Menginap di Hotel!

4 Tipe Tamu Hotel Saat Sarapan

24 September 2020
Kalau di Kota Ada Kirim Parsel, di Desa Ada Ater-ater Tipe-tipe Orang saat Menunggu Lebaran Datang Terima kasih kepada Tim Pencari Hilal! Ramadan Sudah Datang, eh Malah Menanti Bulan Syawal Ramadan Sudah Datang, eh Malah Menanti Lebaran Buku Turutan Legendaris dan Variasi Buku Belajar Huruf Hijaiyah dari Masa ke Masa Serba-serbi Belajar dan Mengamalkan Surah Alfatihah Pandemi dan Ikhtiar Zakat Menuju Manusia Saleh Sosial Inovasi Produk Mushaf Alquran, Mana yang Jadi Pilihanmu? Tahun 2020 dan Renungan ‘Amul Huzni Ngaji Alhikam dan Kegalauan Nasib Usaha Kita Nggak Takut Hantu, Cuma Pas Bulan Ramadan Doang? Saya Masih Penasaran dengan Sensasi Sahur On The Road Menuai Hikmah Nyanyian Pujian di Masjid Kampung Mengenang Asyiknya Main Petasan Setelah Tarawih Horornya Antrean Panjang di Pesantren Tiap Ramadan Menjadi Bucin Syar'i dengan Syair Kasidah Burdah Drama Bukber: Sungkan Balik Duluan tapi Takut Ketinggalan Tarawih Berjamaah Opsi Nama Anak yang Lahir di Bulan Ramadan, Selain Ramadan Panduan buat Ngabuburit di Rumah Aja Sebagai Santri, Berbuka Bersama Kiai Adalah Pengalaman yang Spesial Panduan buat Ngabuburit di Rumah Aja Pandemi Corona Datang, Ngaji Daring Jadi Andalan Tips Buka Bersama Anti Kejang karena Kantong Kering Mengenang Asyiknya Main Petasan Setelah Tarawih Rebutan Nonton Acara Sahur yang Seru-seruan vs Tausiyah Opsi Nama Anak yang Lahir di Bulan Ramadan, Selain Ramadan Drama Bukber: Sungkan Balik Duluan tapi Takut Ketinggalan Tarawih Berjamaah Sebagai Santri, Berbuka Bersama Kiai Adalah Pengalaman yang Spesial Aduh, Lemah Amat Terlalu Ngeribetin Warung Makan yang Tetap Buka Saat Ramadan Tong Tek: Tradisi Bangunin Sahur yang Dirindukan Kolak: Santapan Legendaris Saat Ramadan

Ngaji Alhikam dan Kegalauan Nasib Usaha Kita

13 Mei 2020
mati, surga, dan neraka MOJOK

Mati Rasa pada Surga dan Neraka

3 Juli 2020
Anak Bukan Tempat Pelampiasan Rasa Capek Orang Tua, orang tua kualat

Kata Gus Baha’ Orang Tua yang Bisa Kualat Pada Anak, Bukan Sebaliknya

22 November 2019
Antara Ngaji Mazhab Khusyuk dan Mazhab Santuy, Pilih yang Mana MOJOK.CO

Ngaji Mazhab Khusyuk atau Mazhab Santuy, Pilih Mana?

7 Agustus 2020
trailer film

Baru Nonton Trailer Film-nya, Udah Ngegas Aja

19 September 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Nostalgia masa kecil, majalah Bobo dan Bee Magazine adalah bacaan terbaik Mojok.co

Nostalgia masa kecil, majalah Bobo dan Bee Magazine adalah bacaan terbaik

28 Juli 2026
Motor Honda Vario 150, Sahabat Terbaik Toko Kelontong (Unsplash). daihatsu sigra

Honda Vario 150 LED Old, motor yang semakin tua justru semakin diburu, motor Honda terbaik!

27 Juli 2026
5 tempat wisata Berbah yang layak dikunjungi agar plesiran di Sleman nggak cuma di situ-situ aja mojok

5 tempat wisata Berbah yang layak dikunjungi agar plesiran di Sleman nggak di situ-situ aja

27 Juli 2026
Semua orang tahu Jalan Juanda Ciputat dan Jalan Raya Sawangan adalah jalan neraka kemacetan

Semua orang tahu Jalan Juanda Ciputat dan Jalan Raya Sawangan adalah jalan neraka kemacetan

27 Juli 2026
Mahasiswa UIN Nggak Wajib Nyantri, tapi kalau Nggak Nyantri ya Kebangetan lulusan UIN

Niat ikut organisasi mahasiswa di UIN cuma mau cari teman, malah jadi terpaksa ikut pengkaderan yang rumit

31 Juli 2026
Sisi Gelap Pangalengan Bandung yang Katanya Indah bak Surga Dunia

Label wisata elit Pangalengan itu bualan, selama transportasi umumnya masih jalan di tempat

28 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.