Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Ngaji Mazhab Khusyuk atau Mazhab Santuy, Pilih Mana?

Aly Reza oleh Aly Reza
7 Agustus 2020
A A
Antara Ngaji Mazhab Khusyuk dan Mazhab Santuy, Pilih yang Mana MOJOK.CO

Antara Ngaji Mazhab Khusyuk dan Mazhab Santuy, Pilih yang Mana MOJOK.CO

Share on FacebookShare on Twitter

Seperti biasa, sehabis ngaji rutinan malam Jumat, Kang Salim dan Misbah selalu jadi dua sejoli yang pulang paling akhir. Karena setelah orang-orang bubar dari masjid, keduanya masih asik rebahan di halaman depan masjid sambil telanjang dada. Menikmati lantai keramik yang maknyes dan angin semilir yang sejuk.

Namun malam ini ketambahan satu personil lagi; Kang Amin, yang memutuskan untuk nimbrung alih-alih segera pulang demi nonton sinetron favoritnya.

ADVERTISEMENT

“Saya kalau ngaji sama Kiai Asmuni itu hawanya kok merinding gitu, ya,” seloroh Misbah memecah keheningan. “Tiba-tiba jadi takut. Takut kalau inget dosa, cemas kalau inget mati.”

“Apa karena ngajarnya sambil nangis haru dan suara yang gemetaran tiap mengutip Al-Quran dan kisah-kisah Kanjeng Nabi ta, Mis?” tanya Kang Salim

“Nah, itu dia, Kang. Rasa-rasanya saya ini udah nggak pantes disebut hamba Allah dan umatnya Kanjeng Nabi kalau beliau udah ngendikan,” respons Misbah setelah bangun dari posisi rebahan. “Kita ini kayak dilucuti habis. Seluruh amal kita ini kayak nggak ada cukup-cukupnya buat ngadep Gusti Allah. Apalagi kalau udah doa terus disambung baca syiir Abu Nawas. Wuuuhhh, auto merinding, Kang.”

“Loh, ya malah bagus tho, Mis,” respons Kang Amin selaku keponakan dari Kiai Asmuni. “Bukannya malah bagus tho, kalau model ceramah beliau itu bikin kita semua inget dan sadar kalau amal kita ini masih kurang. Alhasil kita bakal senantiasa terus berupaya mendekatkan diri kepada Gusti Allah. Syukur-syukur mau taubat nasuha.”

“Tapi masalahnya nggak semua orang nyaman dengan ngaji model gitu, Kang Amin, “ sanggah Misbah. “Saya contohnya. Jujur, karena ngajinya Kiai Asmuni terlalu khusyuk dan melankolis, saya malah jadi pesimistis. Hidup saya akhirnya cuma berisi ketakutan-ketakutan. Nggak tenang. Kalau mau ibadah takut nggak diterima. Katakanlah pas lagi takbiratul ihram gitu, sya mesti harus ngulang berkali-kali buat sampai ke definisi khusyuk, fokus hanya ke Gusti Allah, seperti apa yang sering didawuhkan Kiai Asmuni.”

“Kan emang begitu aturannya, Mis.”

Baca Juga:

Saya Muslim, tapi Saya Enggan Tinggal Dekat Masjid dan Musala

Guru Ngaji Cabul Bikin Hidup Sesama Guru Ngaji Menderita, Orang-orang Jadi Curiga dan Mem-bully dengan Panggilan “Walid”

Belum juga Kang Amin melanjutkan kalimatnya, Misbah langsung memotong, “Sampeyan apa nggak pernah denger, Kang, kisah seorang sahabat yang ditegur oleh Kanjeng Nabi. Ini sahabat saking takutnya amalnya kurang, alhasil sehari-hari kerjaannya cuma wiridan di masjid. Sampai-sampai istrinya ditelantarkan.”

“Lah misalnya, karena saya kemakan model ngajinya Kiai Asmuini yang ‘kekhusyuken’ itu terus kalap beribadah kayak sahabat tadi, wah kelak Kiai Asmuni bisa ditegur juga tuh sama Kanjeng Nabi. Kata Kanjeng Nabi, ibadah itu wajib, tapi juga ‘wa la tansa nasibaka mi al-dunya’. Jangan lupa sama urusan duniamu.”

“Kok kamu malah terkesan nyalahin model ngajinya Kiai Asmuni, Mis,” protes Kang Amin setengah tak terima. “Model ngaji beliau itu ada sanadnya, loh. Yaitu merujuk pada modelnya Syekh Abdullah al-Haddad. Bahkan beliau Syekh al-Haddad pernah berkata, ‘Jika gurumu mengajar tanpa pernah menangis (tanda khusyuk dan takut Allah), maka jauhilah.’ Sebab, emang tujuan ngaji kan emang biar kita diingatkan dengan kekurangan amaliah kita, terus takut sama Allah, dan selanjutnya menempuh jalan taubat.”

“Itu ngaji yang elitis, Kang. Untuk kelas orang awam kayak saya ini ya yang bisa bikin ketawa-ketawa, ayem, dan nggak terlalu resah sama kurangnya amal.” Ucap Misbah dengan gaya tengil.

“Ngaji kok cuma buat lucu-lucuan,” cibir Kang Amin. “Orang diingetin amalnya kurang bukannya evaluasi diri, eh kok malah nggak nyaman. Iki piye, tho?”

“Asal materinya soal mengingatkan kita kepada Gusti Allah nggak luput kan ya no problem, Kang.”

“Udah selesai apa belum, nih? Kalau belum monggo dilanjut,” celetuk Kang Salim yang sedari tadi hanya diam menyimak sambil gulang-guling di lantai masjid.

“Sampeyan ini bukannya nengahin malah ngadu domba,” sambar Misbah sembari menimpuk Kang Salim pakai peci.

“Hla gimana, wong apa yang kalian debatkan tadi sebetulnya sama-sama benernya. Sama-sama ada landasannya.”

“Nah, tuh kan, model ngaji ala Kiai Asmuni yang mengadopsi Syekh Abdullah al-Haddad itu juga baik. Sekarang, emang model ngaji yang lucu-lucuan gitu, apa coba dasarnya, Kang?”

“Syekh Abu Hasan al-Syadzili, Kang Amin. Beliau pernah bilang kebalikan dari Syekh al-Haddad. Katanya, ‘Kalau gurumu nggak pernah ketawa pas ngajar, mending jangan ngaji di situ.’ Biar nggak terlalu sumpek seperti yang dikhawatirkan Misbah.”

“Argumen sampeyan sepenuhnya benar, begitu juga argumen Misbah. Kita cuma perlu melakukan pemetaan saja, sih. Ini kalau menurut saya loh, ya.”

“Yang kayak gimana tuh, Kang?” tanya Kang Amin

“Begini, nggak salah tadi Misbah nyebut ngaji model Kiai Asmuni itu model ngaji elitis. Pasnya emang digunakan buat sesama orang alim. Misal, pengajian dengan ustaz-ustaz madrasah. Itu masuk. Tapi kalau buat standar orang awam, kayaknya lebih pas kalau pakai konsepnya al-Saydzili.”

“Iya, Kang, soalnya apa ya, kita orang-orang awam itu udah mumet mikir utang. Tujuan ngaji itu ya biar dibikin tenang. Bukan ketambahan mumet mikir amal ibadah yang serba kurang. Mikir siksa neraka dan hal-hal mengenai akhirat yang mengerikan itu.”

“Yap, khusus buat kelas orang awam itu syiarnya dibikin gampang dan menyenangkan saja. Mangkanya ada tho, kiai yang kalau ceramah ibarat kata lucunya sampai bikin terkencing-kencing. Tujuannya ya itu tadi. Terus bedanya lagi, kalau orang elitis, katakanlah orang-orang alim atau yang berpendidikan, itu punya waktu cukup banyak buat ibadah sama Allah, punya ilmunya juga. Jadi, emang selayaknya buat khusyuk dan nangis-nangis di hadapan Allah.”

“Beda sama orang awam, misalnya sopir angkot. Mereka ini waktunya terkuras buat kejar setoran. Alhasil waktu ibadahnya juga alakadarnya. Jadi ya diadem-ademin kalau kerja dengan niat ikhlas juga terhitung sebagai ibadah. Akhirnya mereka nggak ngerasa jauh dari Gusti Allah. Nggak ngerasa amalnya kurang. Toh kalau amalnya kurang, ya diadem-ademin bahwa Gusti Allah pasti ngasih kawelasan, kok. Akhirnya, mereka nggak putus asa dengan rahmat Gusti Allah. Itu juga sama pentingnya dengan tujuan ngaji biar orang selalu takut sama Gusti Allah. Disesuaikan proporsinya aja, lah. Kalau saya sih, emang cenderung di mazhab yang kedua; mazhab santuy.”

Misbah dan Kang Amin mengangguk-angguk mendengarkan pemaparan Kang Salim. “Pokonya jangan ngaji atau ceramah sambil marah-marah dan menebar kebencian aja, lah. Apalagi kalau sampai nyebarin hoaks segala.” Imbuh Kang Salim.

Suasana hening sejenak, kemudian tiba-tiba Kang Salim neyeletuk, “Termasuk urusan dakwah. Lebih baik mana, dakwah kepada jamaah pengajian, atau dakwah di hadapan PSK?”

“Mending jamaah pengajian lah, Kang. Lebih gampang masuknya tur menjaga marwah juga.” Jawab Kang Amin.

“Loh, ya lebih baik di hadapan PSK tho, yo. Ya masak mau nyapu di tempat yang udah bersih. Yang belum bersih dong, yang seharusnya disapu.” Sanggah Misbah. “Kalau kata Nabi Isa, ‘Ana tobibun udawi al-mardlo.’ Aku ini dokter, dan tugasku menyembuhkan orang sakit. Masak orang sehat mau disembuhin, apanya yang disembuhin coba?”

Dan perdebatan antara Kang Amin dan Misbah pun kembali berlanjut. Sementara Kang Salim memilih menutup mukanya dengan kemeja, meneruskan tidur sambil menunggu keduanya capek sendiri.

*Diolah dari penjelasan Gus Baha

BACA JUGA Lagu Dangdut: Satu Lagu Sejuta Penyanyi dan tulisan Aly Reza lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 7 Agustus 2020 oleh

Tags: aliranGus Baha'Masjidmazhabngaji
Aly Reza

Aly Reza

Muchamad Aly Reza, kelahiran Rembang, Jawa Tengah. Penulis lepas. Bisa disapa di IG: aly_reza16 atau Email: [email protected]

ArtikelTerkait

Anak Kos Nggak Usah Khawatir, Ini 5 Masjid di Malang yang Nyediain Makanan Gratis terminal mojok

5 Masjid di Malang yang Nyediain Makanan Gratis, Anak Kos Nggak Usah Khawatir!

5 November 2021
Lulus Magister Jalur Tirakat, Kepercayaan Bapak yang Tidak Bisa Diganggu Gugat

Lulus Magister Jalur Tirakat, Kepercayaan Bapak yang Tidak Bisa Diganggu Gugat

3 September 2022
Kalau di Kota Ada Kirim Parsel, di Desa Ada Ater-ater Tipe-tipe Orang saat Menunggu Lebaran Datang Terima kasih kepada Tim Pencari Hilal! Ramadan Sudah Datang, eh Malah Menanti Bulan Syawal Ramadan Sudah Datang, eh Malah Menanti Lebaran Buku Turutan Legendaris dan Variasi Buku Belajar Huruf Hijaiyah dari Masa ke Masa Serba-serbi Belajar dan Mengamalkan Surah Alfatihah Pandemi dan Ikhtiar Zakat Menuju Manusia Saleh Sosial Inovasi Produk Mushaf Alquran, Mana yang Jadi Pilihanmu? Tahun 2020 dan Renungan ‘Amul Huzni Ngaji Alhikam dan Kegalauan Nasib Usaha Kita Nggak Takut Hantu, Cuma Pas Bulan Ramadan Doang? Saya Masih Penasaran dengan Sensasi Sahur On The Road Menuai Hikmah Nyanyian Pujian di Masjid Kampung Mengenang Asyiknya Main Petasan Setelah Tarawih Horornya Antrean Panjang di Pesantren Tiap Ramadan Menjadi Bucin Syar'i dengan Syair Kasidah Burdah Drama Bukber: Sungkan Balik Duluan tapi Takut Ketinggalan Tarawih Berjamaah Opsi Nama Anak yang Lahir di Bulan Ramadan, Selain Ramadan Panduan buat Ngabuburit di Rumah Aja Sebagai Santri, Berbuka Bersama Kiai Adalah Pengalaman yang Spesial Panduan buat Ngabuburit di Rumah Aja Pandemi Corona Datang, Ngaji Daring Jadi Andalan Tips Buka Bersama Anti Kejang karena Kantong Kering Mengenang Asyiknya Main Petasan Setelah Tarawih Rebutan Nonton Acara Sahur yang Seru-seruan vs Tausiyah Opsi Nama Anak yang Lahir di Bulan Ramadan, Selain Ramadan Drama Bukber: Sungkan Balik Duluan tapi Takut Ketinggalan Tarawih Berjamaah Sebagai Santri, Berbuka Bersama Kiai Adalah Pengalaman yang Spesial Aduh, Lemah Amat Terlalu Ngeribetin Warung Makan yang Tetap Buka Saat Ramadan Tong Tek: Tradisi Bangunin Sahur yang Dirindukan Kolak: Santapan Legendaris Saat Ramadan

Ngaji Alhikam dan Kegalauan Nasib Usaha Kita

13 Mei 2020
debat maulid nabi tanpa titik temu mojok

3 Hal yang Sering Jadi Perdebatan tentang Maulid Nabi

28 Oktober 2020
Pareidolia dan Dugaan Gambar Salib di Logo HUT RI MOJOK.CO

Salib di Logo HUT RI dan Siluet Masjid di Jersey FC Koln: Orang Rewel Ada di Semua Agama

16 Agustus 2020
Menyoal Larangan Tidur di Atas Karpet Masjid, tarawih

Menyoal Larangan Tidur di Atas Karpet Masjid

7 Januari 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Warung Tacibay adalah jawaban ketika mahasiswa Malang memasuki tanggal tua Mojok.co

Warung Tacibay adalah jawaban ketika mahasiswa Malang memasuki tanggal tua

7 Agustus 2026
Nakes vs pasien BPJS sama-sama korban sistem kesehatan (Unsplash)

Nakes vs pasien BPJS terjadi karena sistem kesehatan yang busuk

9 Agustus 2026
Larang thrifting boleh saja, asal baju lokal harganya nggak bikin puasa seminggu

Larang thrifting boleh saja, asal baju lokal harganya nggak bikin puasa seminggu

10 Agustus 2026
Seni bertahan hidup di desa, wajib ikut mengantar jenazah ke kuburan dan takziah kalau nggak mau jadi musuh bersama Mojok.co

Seni bertahan hidup di desa, wajib ikut mengantar jenazah ke kuburan dan takziah kalau nggak mau jadi musuh bersama

6 Agustus 2026
Jangan Lakukan 4 Hal Ini Saat Kuliah S2, Sudah Bukan Waktunya Lagi S1

Bukan karena jenius, tapi kuliah S2 memang jauh lebih gampang ketimbang S1

8 Agustus 2026
Ketika Buku Menebang Pohon

Ketika buku menebang pohon

4 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.