Gaya Rambut Adalah Hak Setiap Kepala Manusia

Dan efek dari masalah tersebut, saya menjadi bahan ejekan di circle saya karena gaya rambut yang paling berbeda dan paling tertib di antara siswa yang lain.

Artikel

Avatar

Urusan gaya rambut memang sering bikin repot. Terutama bagi anak sekolah. Mau itu SD, SMP, ataupun SMA, aturan mengenai gaya rambut hampir selalu sama. Dengan formasi 3-2-1, yaitu 3 cm untuk bagian atas kepala, 2 cm untuk sisi samping atas dan 1 untuk sisi samping bagian bawah.

Rasanya, aturan itu sudah paten di banyak sekolah di Indonesia. Mau jadi anak paling multitalent sekalipun, kalau rambutmu gondrong bakal dicap sebagai anak nakal. Jangankan gondrong, cuma “kurang rapi” saja langsung diacungi gunting. Entah apa yang merasukimu, Wahai Bapak dan Ibu guru~

Saya pribadi sih sebenarnya setuju dengan aturan tersebut. Tapi pada pelaksanaannya itu lho, yang kadang bikin gemes. Selalu saja ada rambut yang terlewat dari sorotan mata gunting guru BP yang tajamnya setajam silet.

Teman saya waktu SMP, tidak pernah sekalipun mendapat teguran level diingatkan sambil dielus elus kepalanya. Dia selalu lolos dengan alasan rambutnya masih rapi, jadi bisa dipotong minggu depan. Sementara saya yang merupakan fans berat gaya rambut acak acakan ala Albert Einstein selalu kena teguran. Entah teguran biasa hingga teguran level dijambak. Malah karena saking seringnya, saya menjadikan teguran tersebut alarm untuk saya segera potong rambut. Pokoknya, kalau belum ditegur guru belum potong rambut. Ngapain dipotong, ukuran panjang rambut saya sudah selalu sesuai dengan aturan.

Hanya karena model rambut yang acak-acakan, saya harus potong rambut dengan model yang selalu sama. Banyak teman bisa potong rambut dengan gaya lain, entah apa nama modelnya. Tapi yang jelas rambut bagian atas kepala mereka selalu lebih panjang dibandingkan rambut saya. Di situ kadang saya merasa terzalimi.

Baca Juga:  Babak Akhir dari Rivalitas Indomaret dan Alfamart

Aturan gaya rambut yang tertulis dalam kitab tata tertib ternyata bisa diulur dengan “asalkan rapi” membuat saya harus menggibahkannya di sini. Aturan ini bisa ditarik ulur layaknya pasal karet yang mampu menjebak siapa pun yang model rambutnya tidak disukai guru. Pokokmen kudu manut.

Kepiye maneh, iki pancen nasibku, rambut saya memang tidak bisa rapi. Setiap bertumbuh panjang selalu diiringi dengan ciri khas rambut bapak saya yang susah disisir rapi. Ini masalah asalnya dari gen yang maha kuasa, Pak! Rambut saya sudah susah disisir dan dirapiin sejak saya dalam bentuk sperma pak.

Sampai akhirnya, mau nggak mau saya harus potong rambut persis seperti yang tertulis di kitab tata tertib sekolah. Celakanya, hanya saya yang dianugerahi gen rambut susah disisir. Siswa yang lain memiliki rambut yang meskipun keriting tapi tetap enak dipandang.

Dan efek dari masalah tersebut, saya menjadi bahan ejekan di circle saya karena gaya rambut yang paling berbeda dan paling tertib di antara siswa yang lain. Siswa yang lain bisa potong rambut bermacam-macam gaya ngikutin tren dan tentunya ngikutin bentuk kepala mereka. Sementara saya hanya bisa pasrah dengan gaya rambut “rapi” ini.

Itu baru masalah rambut di yang tumbuh di atas, belum lagi rambut bawah. Di sekitaran rahang atau biasa disebut jenggot, cambang, dan kumis.

Hampir semua guru laki-laki memelihara rambut bawah tersebut. Alasannya sih sunah. Sementara siswa diwajibkan mencukurnya. Memang sepertinya pihak yang berkuasa membuat aturan selalu bebas membuat berbagai macam larangan untuk orang lain di bawah kekuasaannya. Mereka selalu tidak peduli dengan kondisi orang yang diatur. Bukan tidak mungkin, ada siswa yang berbakat menjadi model iklan obat penumbuh rambut karena memiliki rambut yang tumbuh subur di beberapa lokasi. Yang jika difoto akan menghasilkan foto yang Instagram-able. Sungguh kalian telah mematikan peluang ekonomis siswa.

Baca Juga:  Tutorial Putus yang Baik dan Benar Sesuai dengan Kaidah yang Telah Disempurnakan

Saya yakin (baca: cuma khusnuzon), maksud dari aturan gaya rambut adalah untuk menertibkan siswa. Supaya tidak ada perbedaan yang mencolok antara mereka yang mampu beli pomade dengan saya yang jajan di kantin saja jarang. Supaya tidak ada siswa yang mewarnai rambut ala yutuber-yutuber yang sering nge-prank dan pamer harta kekayaan itu.

Last, tolong penindakannya lebih adil. Aku nek potong “rapi” dhewekan, aku yo wegah. Aku yo klenger.

BACA JUGA Tukang Pangkas Rambut Berpenghasilan 45 Juta Tiap Bulan: Makanya Jangan Suka Menyepelekan Pekerjaan Orang atau tulisan Mahmud Khabiebi lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

---
958 kali dilihat

11

Komentar

Comments are closed.