Daripada Beli Buku Bajakan, Beli Buku Bekas Nyatanya Lebih Terhormat dan Keren

Dibanding mengoleksi buku bajakan, mengoleksi buku bekas nyatanya lebih terhormat. Walau dengan kondisi buku yang menguning.

Featured

M. Farid Hermawan

Belakangan ini saya sedang senang berburu buku-buku bekas mulai dari novel hingga buku-buku biografi atau buku-buku sejarah. Selain harganya yang terbilang murah meriah, memegang buku-buku bekas kadang membuat saya merasa memiliki sebuah benda yang legendaris. Saya baru saja mencari buku-buku yang belakangan agak sulit dicari mulai dari buku biografi Albert Einstein, Steve Jobs, dan novel-novel tua seperti The Great Gatsby dan Dr. Jekyll and Mr. Hyde. ketika saya mencari buku-buku tersebut, rata-rata yang tersedia adalah buku-buku bekas. Seperti dua buku biografi Einstein dan Steve Jobs karya Walter Isaacson. Kedua buku itu saya dapatkan dalam kondisi bekas dengan harga yang tidak bisa dibilang murah. Jadi kata siapa buku bekas itu murahan? Salah besar.

Menurut saya buku-buku bekas sebenarnya adalah sebuah solusi yang bisa mengurangi maraknya pembajakan buku. Permasalahan yang sering diungkapkan para penikmat buku bajakan adalah soal harga dan isi buku. Banyak yang mengatakan bahwa harga buku ori terlalu menyiksa dompet. Daripada membuat kantong bolong, banyak orang memilih opsi yang lebih menguntungkan. Beli buku bajakan dengan isi bacaan yang tentunya sama dengan buku ori. Ketika pembajakan semakin merajalela, buku-buku bekas seharusnya bisa dijadikan solusi alternatif. Khususnya untuk memuaskan hasrat mereka-mereka yang tetap ingin memiliki buku ori namun dengan harga miring.

Apa yang saya dapati ketika saya berada di bazar-bazar buku bekas dan ketika berselancar di situs-situs e-commerce? Bahwa buku-buku bekas punya potensi yang baik untuk melawan pembajakan apabila dikelola dengan baik. Banyak buku-buku bekas dengan harga yang sangat miring dan dengan judul-judul yang populer. Saya mendapatkan buku Dr. Jekyll and Mr. Hyde hanya dengan uang 10 ribu saja. Tentu dengan kondisi yang bekas. Tapi saya tidak terlalu peduli, yang terpenting adalah isinya. Buku-buku bekas tidak  selalu buruk untuk dimiliki.

Baca Juga:  Di Toko Buku, Syiah-Sunni dan Komunis-Fasis Tak Pernah Saling Bertengkar

Dibanding mengoleksi buku bajakan, mengoleksi buku-buku bekas nyatanya lebih terhormat dan berharga. Walau dengan kondisi buku yang menguning dan kertas yang mungkin bekas terkena air dan lembab, yang terpenting adalah buku itu tidak bajakan.

Memang ketika bicara buku bekas, masih sulit menemui toko-toko buku yang menjual buku-buku bekas yang menjual buku-buku novel terbaru. Kebanyakan mereka menjual buku-buku yang sudah mulai jarang diterbitkan. Bicara harga, buku bekas kadang menjengkelkan dan bisa juga menyenangkan. Pernah saya membeli buku bekas hingga 200 ribu. Mungkin tidak mahal-mahal amat bagi kalian. Tapi bagi saya, untuk ukuran buku yang tidak baru, itu lumayan bikin jebol kantong. Tapi tetap saya beli, karena saya ingin sekali membacanya dan buku itu memang sulit dicari dalam kondisi baru.

Di daerah saya, Kalimantan Selatan, mungkin pasar buku-buku bekas masih sangat minim. Ada sebenarnya, tapi masih tidak terlalu banyak. Alhasil saya kebanyakan mencari buku-buku bekas di situs-situs e-commerce. Bagi kalian yang tinggal di daerah lain, entah itu di Jakarta, Yogyarkarta, Surabaya dan kota-kota besar lainnya. Jika di daerah kalian mungkin punya banyak toko-toko buku yang menjual buku bekas dengan kualitas ori. Saya sarankan manfaatkan itu. Karena walau kondisi buku bekas tidak bagus-bagus amat. Namun tindakan kita membeli buku bekas yang ori bisa menjadi salah satu kontribusi untuk melawan pembajakan. Sederhana memang, tapi bukankah sesuatu yang hebat sering dimulai dari hal-hal sederhana?

Satu yang mungkin saya soroti menyoal buku-buku bekas ini adalah soal bagaimana terus menjaga daya saingnya melawan buku yang baru itu sendiri serta dengan buku bajakan. Kadang beberapa orang sering mengeluh soal harga-harga buku bekas yang kadang bisa lebih mahal dari buku barunya.

Baca Juga:  Kalau Ada Orang Bilang Wajah Saya Selera Bule, Itu Pujian Apa Hinaan Ya?

Bagi saya sendiri menyoal hal tersebut, itu kembali lagi soal selera dan tingkat kebutuhan. Kadang buku bekas dicari karena buku tersebut sudah sangat langka dan kadang ada juga yang mencari untuk koleksi. Ketika bicara harga, kadang yang jadul-jadul memang punya sesuatu yang tak cukup hanya dibayar dengan harga mahal.

Dan satu yang terpenting, saya harapkan geliat penjualan buku-buku bekas ini terus dijaga oleh kita semua. Sebab, selain toko-toko buku besar yang sudah punya nama. Para penjual dan toko-toko buku bekas ini seperti tentara cadangan guna melawan pembajakan buku yang merajalela. Syukur-syukur jika nanti mereka yang berkecimpung di dunia penjualan buku bekas menghadirkan banyak inovasi ke depannya. Entah nanti banyak buku-buku bekas yang dijual adalah buku-buku bekas penulis populer zaman sekarang atau bisa saja memberikan harga murah meriah dengan kualitas ori kelas mewah.

Buku bekas memang terlihat tidak istmewa, tapi kehadirannya kadang bisa membantu kita semua. Jadi jangan malu beli buku bekas, tetap berharga dan keren, kok.

BACA JUGA Terpujilah Wahai Engkau, Para Pembajak Buku atau tulisan M. Farid Hermawan lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

---
671 kali dilihat

13

Komentar

Comments are closed.