Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Featured

4 Alasan Orang Malas Naik Transportasi Umum di Jabodetabek

sadad oleh sadad
14 November 2019
A A
4 Alasan Orang Malas Naik Transportasi Umum di Jabodetabek
Share on FacebookShare on Twitter

Tak ada yang bisa membantah bahwa tingkat kemacetan Jakarta dan sekitarnya alias Jabodetabek sungguh luar biasa. Dalam berbagai kajian dan survei, Jakarta bahkan selalu masuk dalam daftar kota termacet di dunia. Bahkan, ia sempat beberapa kali menempati peringkat pertama.

Ngomong-ngomong soal kemacetan Jakarta dan sekitarnya ini, pemerintah sebenarnya sudah sering menyuruh warga Jabodetabek untuk lebih memilih naik transportasi umum. Tujuannya ya jelas, supaya mengurangi kemacetan.

ADVERTISEMENT

Sebab, 30 orang yang ditempatkan dalam satu bus lebih sedikit memakan badan jalan ketimbang jika mereka semua bawa mobilnya masing-masing. Demikian juga 100 orang yang ada di dalam gerbong kereta tentu tidak menyebabkan macet dibanding jika mereka bawa kendaraan pribadinya masing-masing.

Tapi ada beberapa hal yang sering jadi penyebab orang malas naik transportasi umum di Jabodetabek. Di tulisan ini akan dijabarkan satu per satu penyebab berdasarkan pengalaman penulis.

Satu: Nggak Terhubung Satu Sama Lain

Di Jabodetabek ada beberapa layanan transportasi umum yang bisa dibilang sudah nyaman, aman, dan layak. Jelas angkot atau kopaja dan metromini butut nggak masuk hitungan. Yang masuk kategori di sini kayak Transjakarta, KRL Commuterline, atau MRT. Tapi disadari atau tidak, masih banyak rute-rute dari ketiga layanan ini yang nggak terhubung satu sama lain atau bahasa kerennya ter-in-te-gra-si.

Contoh, kalau kamu warga Ciledug yang doyan naik Transjakarta Koridor 13 yang jalannya layang itu, kamu pasti akan sadar bahwa nggak mudah untuk pindah ke MRT. Kalau dilihat di peta transportasi, layanan Transjakarta Koridor 13 bersinggungan dengan MRT di perempatan Kejaksaan Agung.

Tapi nggak ada halte TJ ataupun stasiun MRT yang lokasinya deketan. Kalau kamu mau pindah dari TJ ke MRT, kamu mesti jalan jauh yang lumayan bikin pegel kaki dan bikin basah kemeja kerja. Hal yang sama berlaku sebaliknya.

Denger-denger sih pemerintah lagi bangun jembatan penghubung yang akan mempermudah orang kalau mau pindah dari TJ ke MRT, begitu juga sebaliknya. Tapi nggak tahu juga kapan terealisasi. Mudah-mudahan sih secepatnya.

Baca Juga:

Derita Pejalan Kaki di Surabaya: Sudah Dipanggang Matahari, Masih Tak Punya Ruang untuk Menapak Kaki

Trans Jatim Koridor 7, Seburuk-buruknya Transportasi Publik. Masih Perlu Banyak Belajar dan Berbenah

Dua: Akses Nggak Mikirin Wanita Hamil

Poin kedua masih ada hubungannya dengan yang pertama. Pasalnya, gara-gara kasus di poin pertama, layanan transportasi umum di Jabodetabek masih banyak yang nggak mikirin untuk penggunanya yang wanita hamil. Ataupun para lansia dan orang-orang berkebutuhan khusus.

Contohnya bisa dilihat di layanan KRL ke arah Bogor dengan TJ rute Manggarai-Stasiun UI. Kalau kamu naik TJ dari arah Pasar Minggu mau ke Depok, kamu akan sadar nggak mudah untuk berpindah ke KRL. Apalagi jika kamu adalah perempuan yang lagi dalam posisi hamil (pengalaman penulis saat nemenin istri hamil).

Bus TJ-nya sebenarnya berhenti di depan Stasiun KRL Tanjung Barat. Tapi buat masuk ke stasiunnya harus naik turun tangga penyeberangan yang tergolong tinggi buat wanita hamil. Bayangin aja masa wanita hamil disuruh naik turun tangga tinggi, bisa-bisa brojol tuh orok di atas jembatan!!!

Situasi yang sama juga terjadi saat bus berhenti di depan Stasiun Lenteng Agung. Sebab akses masuk ke stasiunnya cuma disediakan jembatan tinggi. Memang sih bisa nyelonong nyeberang di jalan, tapi masalahnya nggak ada zebra cross. Ya jelas lah rawan ditabrak. Apalagi wanita hamil kan nggak bisa jalan cepat-cepat.

Stasiun KRL yang ramah ibu hamil sebenarnya adalah Stasiun Universitas Pancasila. Sebab, akses masuknya nggak perlu naik turun jembatan tinggi, tapi cukup lewat zebra cross yang ada lampu merahnya. Tapi ajaibnya, bus TJ-nya yang nggak berhenti di situ. Malah lewat jalan lain~

Tiga: Waktu Tempuh Lama

Memilih naik transportasi umum bisa dibilang butuh pengorbanan dalam hal kenyamanan yang ada di mobil pribadi. Karena sudah rela berkorban kenyamanan, sudah selayaknya pengguna transportasi umum mendapatkan manfaat pengganti, yakni kepastian waktu tempuh yang lebih cepat.

Tapi kenyataannya, waktu tempuh transportasi umum kadang sama aja dengan kendaraan pribadi jenis mobil, bahkan lebih lama kalau pembandingnya motor.

Pengguna KRL dari arah Bogor mungkin sudah familiar dengan kereta yang harus tertahan lama setiap mau masuk Stasiun Manggarai, bahkan kadang-kadang bisa lebih dari 15 menit. Waktu terbuang gitu aja. Sementara kamu nggak punya pilihan selain bersabar karena nggak bisa juga turun dari kereta di situ. Emangnya angkot bisa turun sembarangan?

Kasus lain bisa dilihat di TJ. Kayaknya satu-satunya TJ yang rutenya steril cuma Koridor 1 yang lewat Sudirman-Thamrin. Selain itu, nggak ada sama sekali yang steril, termasuk koridor 9 yang lewat MT Haryono dan Gatot Subroto.

Di TJ koridor 9 ini, jalurnya benar-benar nggak steril. Banyak mobil dan motor yang bebas masuk. Akibatnya, bus TJ jadi ikutan macet. Selain koridor 9, masih banyak rute-rute TJ lain yang tidak steril sehingga bikin waktu tempuh jadi lama.

Buat apa coba, sudah naik transportasi umum masih harus ikutan macet dan lama di jalan? Mending naik mobil pribadi saja sekalian. Jelas adem dan nggak perlu desak-desakan kayak pepes di dalam bus.

Empat: Ongkosnya Mahal

Transportasi umum yang baik adalah yang bisa membuat orang beralih dari kendaraan pribadi. Tapi tujuan itu tentu nggak akan bisa terealisasi kalau ongkos untuk bertransportasi umumnya mahal. KRL sama TJ mungkin tarifnya sudah murah, tapi MRT belum.

Saat ini, tarif maksimal MRT Jakarta untuk sekali jalan adalah Rp 14.000 untuk jarak penuh dari Lebak Bulus ke Bundaran HI. Kalau bolak-balik artinya Rp 28.000. Iya kalau tempat kerja kamu masih di sekitar Bundaran HI dan rumah masih di sekitar Lebak Bulus. Kalau nggak, maka kamu harus merogok biaya tambahan untuk nyambung angkutan lain. Biasanya, sih, pilihan yang paling mudah ya naik ojek online.

Jadi bayangkan saja, sudah harus ngeluarin biaya Rp 28.000, masih harus ada biaya tambahan pula. Mungkin biaya segitu masih lebih murah buat pengguna mobil. Tapi nggak masuk akal buat pengguna motor sejenis Beat dan Mio. Karena dengan biaya segitu, mereka bisa buat ngisi 4 liter premium yang dipakainya bisa buat beberapa hari.

Mungkin ada yang bilang, “Kan MRT nyaman, wajar dong. Ada harga ada rupa.” Plis deh, transportasi perkotaan itu bukan transportasi antar kota yang memberi pilihan penggunanya untuk memilih mau ekonomi atau bisnis. Transportasi perkotaan apa pun itu sudah sepatutnya mengedepankan cepat, nyaman, dan murah. Karena memang tujuannya mengurangi macet, ya jadi dia harus punya keunggulan yang nggak didapatkan orang yang naik kendaraan pribadi.

Kalau memang untuk memurahkan biaya MRT butuh tambahan subsidi, ya mungkin ambil saja dari biaya jalan-jalan studi banding pejabat dan anggota dewan. Jadi biarkan mereka yang berkorban demi rakyat, jangan rakyatnya terus yang disuruh berkorban.

BACA JUGA Kasta Penumpang dalam Angkutan Umum atau tulisan Sadad lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 14 November 2019 oleh

Tags: efisienmacetmahaltransportasi umum
sadad

sadad

ArtikelTerkait

4 Hal Menyebalkan yang Sering Saya Rasakan Ketika Naik JakLingko

4 Hal Menyebalkan yang Sering Saya Rasakan Ketika Naik JakLingko

6 Mei 2023
3 Penyebab Kemacetan Paling Menyebalkan yang Bikin Mati Tua di Jalan bunderan cibiru bandung

3 Penyebab Kemacetan Paling Menyebalkan yang Bikin Mati Tua di Jalan

5 September 2023
Orang Surabaya Ramah terhadap Pejalan Kaki, tapi Kotanya Tidak

Derita Pejalan Kaki di Surabaya: Sudah Dipanggang Matahari, Masih Tak Punya Ruang untuk Menapak Kaki

4 November 2025
Jangan Hidup di Lamongan kalau Nggak Punya Kendaraan Pribadi, Transportasi Umum Nggak Bisa Diharapkan Mojok.co

Jangan Hidup di Lamongan kalau Nggak Punya Kendaraan Pribadi, Transportasi Umum Nggak Bisa Diharapkan

24 Mei 2024
Hal yang Biasa di Semarang, tapi Tidak Lumrah di Magelang Mojok.co

Hal yang Biasa di Semarang, tapi Tidak Lumrah di Magelang

7 Oktober 2024
5 Penderitaan Warga Tangerang yang Sehari-hari Naik Transjakarta Koridor T11 Mojok.co

5 Penderitaan Warga Tangerang yang Sehari-hari Naik Transjakarta Koridor T11

27 Agustus 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Burnout bukan hak istimewa dokter. Karyawan toko, buruh, sampai ojol juga bisa mengalaminya

Burnout bukan hak istimewa dokter. Karyawan toko, buruh, sampai ojol juga bisa mengalaminya

6 Agustus 2026
Nasib perempuan usia 20 tahunan di desa, dianggap sudah tua dan dipaksa menikah  Mojok.co

Nasib perempuan usia 20 tahunan di desa, dianggap sudah tua dan dipaksa menikah 

7 Agustus 2026
Jangan Lakukan 4 Hal Ini Saat Kuliah S2, Sudah Bukan Waktunya Lagi S1

Bukan karena jenius, tapi kuliah S2 memang jauh lebih gampang ketimbang S1

8 Agustus 2026
Kawasan Surabaya Utara: Dijuluki Mexico-nya Surabaya dan Identik dengan Hal Negatif

Jangan ke Surabaya Utara saat siang hari, jalannya bikin emosi, panasnya nggak masuk akal!

10 Agustus 2026
Nakes vs pasien BPJS sama-sama korban sistem kesehatan (Unsplash)

Nakes vs pasien BPJS terjadi karena sistem kesehatan yang busuk

9 Agustus 2026
Realitas loker di Jogja: syaratnya begitu banyak, tapi gajinya bikin nangis

Realitas loker di Jogja: syaratnya begitu banyak, tapi gajinya bikin nangis

9 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.