Aku Masuk Ruang BK, Maka Aku Nakal

“Anak saya nggak nakal di sekolah, dia nggak pernah masuk BK.” Hmm, saya jadi tersindir mendengar curhatan ibu-ibu yang setengah meroketkan anaknya itu.

Artikel

Avatar

“Alhamdulillah, mbak. Anak saya nggak nakal di sekolah, dia nggak pernah masuk BK.” Hmm, saya jadi tersindir mendengar curhatan ibu-ibu yang setengah meroketkan anaknya itu. Pasalnya, saya pada masa SMP berkali-kali keluar masuk BK. ehehe

Di masa saya sekolah, mungkin sampai sekarang, persepsi terhadap guru Bimbingan Konseling (BK) ibarat malaikat penjaga neraka. Hampir semua orang beranggapan bahwa aku masuk ruang BK, maka aku nakal. Sebagai anak yang pernah memiliki pengalaman pahit dengan guru BK, saya tergugah untuk menyuarakan kesalahan presepsi yang tak kunjung direvisi ini.

Coba saya berikan gambaran tentang guru BK lewat kisah masa sekolah saya yang sungguh manis biarpun berakhir tragis. Dulu atas kekonyolan masa SMP, saya bersama enam teman saya membuat sebuah geng yang bernama Galaksi dengan kepanjangan galak tapi seksi. Personilnya cantik-cantik yang tentunya membuat nama galaksi semakin tersohor ke seantaro negeri ini. Lebaaaay~

Mungkin jika ada teman SMP saya mendengar nama galaksi, dia pasti tahu kisah pelik dari nama cantik geng itu.

Pada suatu hari, genk kami mengalami kesialan yang luar biasa hebat. Sebut saja Santi, salah satu personil kami yang pacarnya habis direbut oleh cewek di sekolah tetangga. Sebagai teman yang peduli, kami berenam pun memutuskan datang ke sekolah tetangga untuk sekedar melihat wajah cewek yang sudah merebut pacar Santi.

Eh, ujug-ujug si Raine, cewek perebut itu membawa teman satu sekolahnya keluar dan memukul mundur kami. Sontak saya dan keenam teman saya kembali ke sekolah, mencoba meminta bantuan, panik tak karuan. Alih-alih ada anak yang melaporkan kami dengan kasus tawuran ke guru BK. Padahal kebetulan, salah seorang teman baik saya dari sekolah tetangga itu ikut menghampiri geng saya.

Baca Juga:  Kita Semua Suka Pelajaran Olahraga

“Ada apa sih, Ling?” saya memekik sambil memberanikan diri bertanya

“Nggak apa-apa, Bibah. Kami cuma lihat-lihat,” katanya tanpa ada nada ingin mengajak kami tawuran. Buah durian terlanjur jatuh—akhirnya kami pun dipanggil oleh guru. Seluruh murid menyaksikan kami berjalan menuju ruang konseling.

Sesuatu yang masih sangat membekas di inner child saya, kami dipanggil paksa, dituduh, dihukum dan dihakimi tanpa mereka mau mendengarkan cerita kami yang sesungguhnya. Saya masih kecil dengan pengetahuan yang terbatas pada saat itu, tidak tahu bagaimana caranya melawan. Shit!

Lain waktu ketika Tuhan menjatuhkan takdir saya menjadi seorang guru, saya menyadari miskonsepsi-miskonsepsi yang ada di sana. Salah satunya adalah ketika guru BK bertindak seperti polisi sekolah. Bukan hanya murid, guru-guru, bahkan orang tua pun masih memiliki pandangan bahwa ruang BK adalah tempat anak bermasalah.

Saya menyadari atas miskonsepsi tersebut, beberapa guru BK yang paham tugas dan fungsinya pun pada akhirnya menanggung tugas yang tak semestinya mereka lakukan. Idealnya tugas dan fungsi guru BK memang teramat sulit. Ketika ada masalah pada anak, mereka harus melakukan riset mendalam tentang kondisi yang sebenarnya, memikirkan bagaimana caranya memadamkan api, serta memberikan solusi terbaik. Bukannya malah menjadi polisi sekolah yang kerjanya menghukum dan menghakimi anak.

Bahkan setelah saya berpindah dari tiga sekolah, saya masih saja menjumpai tumpang tindih tugas dan fungsi guru BK. Di sekolah pertama, saya mendapati guru BK bertindak sebagai pemberi hukuman untuk murid-murid yang terlambat. Ada juga guru BK yang dibebani tugas administrasi dan presensi siswa.

Di sekolah selanjutnya, guru BK bahkan dipasang sebagai penanggung jawab tata tertib sekolah. Padahal tugas guru tata tertib sekolah adalah menegakkan peraturan dan menjatuhkan hukuman kepada siswa yang melanggar peraturan. Sungguh bertolak belakang dengan tugas dan fungsi konseling yang sesungguhnya.

Baca Juga:  Perjumpaan Terakhir: Pada Akhirnya Kita akan Menyusul Mereka

Jika wajah guru BK sudah semenyeramkan itu, tak heran banyak siswa yang tidak berani melakukan konseling. Setiap anak yang mendapat panggilan guru BK merasa telah dicap bermasalah. Padahal menyadari ada masalah di dalam diri ini juga salah satu jalan mengembangkan potensi.

Selain itu, masyarakat secara utuh harus memahami tujuan konseling tidak hanya sebatas menangani siswa yang bermasalah dan menerapkan kedisiplinan. Tugas dan fungsi konselor jauh lebih luas yaitu membantu anak mengenali diri dan lingkungan sekitarnya.

Seharusnya guru BK bisa membantu memecahkan kebingungan akademik, mengarahkan tujuan hidup, menangani berbagai krisis yang terjadi kepada anak. Sehingga anak bisa mengenali diri dan mengembangkan potensinya dengan baik.

Miskonsepsi yang mengakar telah membatasi tugas dan fungsi guru BK hanya sebatas sebagai polisi sekolah. Sungguh kabut tebal yang menyelimuti pendidikan di Indonesia harus segera dilibas dari hal yang sederhana namun paling krusial ini. (*)

 

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) yang dibikin untuk mewadahi sobat julid dan (((insan kreatif))) untuk menulis tentang apa pun. Jadi, kalau kamu punya ide yang mengendap di kepala, cerita unik yang ingin disampaikan kepada publik, nyinyiran yang menuntut untuk dighibahkan bersama khalayak, segera kirim naskah tulisanmu pakai cara ini.

---
852 kali dilihat

43

Komentar

Comments are closed.