Tukang Pangkas Rambut Berpenghasilan 45 Juta Tiap Bulan: Makanya Jangan Suka Menyepelekan Pekerjaan Orang

Dia akhirnya merantau dari kampung halaman dan hanya bermodalkan ketrampilan memangkas rambut yang ia pelajari dari tukang pangkas rambut di dekat rumahnya.

Artikel

Avatar

Setiap sebulan sekali saya selalu rutin mengantar pasangan saya ke tukang pangkas rambut di dekat rumah. Jika melihat rambutnya panjang sedikit saja, saya langsung buru-buru mengajaknya potong rambut. Tak ada alasan khusus sih, cuma risih aja melihat rambutnya yang jadi tak beraturan. Bukan berarti saya tak suka melihat lelaki berambut gondrong ya, tapi bagi sebagian orang memang ada beberapa lelaki yang ditakdirkan tidak cocok dengan rambut gondrong. Nah, dia salah satunya. Wagu~

Berhubung saya rutin berkunjung. Si bapak tukang pangkas rambut langganan kami itu sangat hafal dengan saya. Umurnya sekitar 45-an kayaknya. Orangnya ramah dan gemar tersenyum. Biasanya si bapak akan segera mengajak saya mengobrol sambil tangannya bergerak gesit potong sana potong sini. Dia pernah bilang pada saya, bahwa dia sangat iri setengah mati ketika melihat saya yang suka mengantar pasangan ke tukang pangkas rambut.

“Saya sudah menikah hampir 25 tahun, tapi istri saya itu sama sekali belum pernah mengantarkan saya buat potong rambut, Mbak! Bahkan pas zaman pacaran pun, dia enggan buat mengantar saya,” keluh si bapak.

Mendengar keluhan si bapak ini, saya sebenarnya antara simpati dan sekaligus pengen ngakak. Ternyata tukang pangkas rambut, juga masih punya keinginan buat ditemani kekasih hatinya saat potong rambut. Saya sampai lupa, tukang pangkas rambut kan juga manusia ya. Punya rasa punya hati, jangan samakan dengan belati. wkwkwk

Ruangan kerja si bapak ini tak terlalu besar. Hanya sebuah kios kecil berukuran 4 x 4 meter saja. Namun fasilitas di sini cukup mumpuni. Disediakan kipas angin super dingin, soundsystem super kencang, dan ada TV tabung ukuran 14 inc yang selalu menyiarkan siaran dangdut tiap kali saya datang ke sana.

“Tahu nggak, Mbak, saya itu paling sebal kalau liat anak muda lontang-lantung cari kerja. Ke sana ke mari bawa map coklat,” ucap si bapak suatu hari.

“Mungkin belum ketemu pekerjaan yang sreg kali, Pak. Lagi pula lapangan kerja kan emang semakin susah sekarang ini,” sahut saya sambil manggut-manggut mendengarkan lagu Pamer Bojo yang tengah dibawakan oleh seorang kontestan dangdut.

“Orang itu ya, Mbak, kalau niat mau kerja semuanya bisa sih Mbak. Asal mau apa nggak, tapi kebanyakan anak muda itu pada gengsinya gede sih!”

Baca Juga:  Divisi Danus Memang Harus Pelit

Si bapak ini kemudian memaparkan teorinya, bahwa kehidupan ini terus berlangsung. Sambil menunggu panggilan kerja itu, kita juga butuh makan, minum, rokok kalau yang ngerokok, dan juga bensin buat wira-wiri. Menurutnya, dibanding wira-wiri nggak jelas, sambil menunggu panggilan kerja mending sambil ngojek biar dapat duit buat makan.

Si bapak ini menyayangkan kalau banyak anak muda memilih untuk enggan bekerja karena pekerjaan tersebut dipandang rendah. Masak sarjana kok jadi tukang ojek? Masak lulusan UI kok gajinya 8 juta? Masak sekolah tinggi-tinggi cuma jadi tukang pangkas rambut! Kan nggak lucu dan nggak bisa pamer sama orang-orang kan ya.

“Saya dulu pas muda juga gitu Mbak, suka diolok-olok gara-gara jadi tukang pangkas rambut,” kenang si bapak.

Dia bercerita bahwa dulunya teman-teman si bapak ini kebanyakan meneruskan kuliah, sedangkan si bapak yang miskin ini tak punya biaya untuk kuliah. Dia akhirnya merantau dari kampung halaman dan hanya bermodalkan ketrampilan memangkas rambut yang ia pelajari dari tukang pangkas rambut di dekat rumahnya.

“Dulu saya suka dihina, Mbak, masak merantau jauh-jauh cuma jadi tukang pangkas rambut. Mereka selalu memberikan saran pada saya bahwa saya mending kerja jadi buruh pabrik yang gajinya tetap.”

Kata si bapak, dia tak perlu modal banyak. Hanya butuh modal pertama buat beli kursi, kaca, handuk, sisir, dan gunting. Setelah itu, dia cuma modal keahlian saja. Kerja mau pakai kaus sama kolor bisa. Mau buka jam berapa pun bisa tanpa takut keburu-buru. Kalau ada urusan tinggal tutup nggak perlu mengajukan cuti. Terus di sini dia bosnya, nggak ada yang nyuruh-nyuruh atau merintah dia kayak babu.

Si bapak mengaku bahwa ia tak bisa meneruskan pendidikannya hingga bangku kuliah, namun dari penghasilan pangkas rambutnya ini, dia sudah membawa tiga anaknya menjadi sarjana. Dia juga berkata, teman-temannya yang dulu justru sibuk mencari pekerjaan ke sana ke mari. Mereka ingin di zona aman, bekerja di pemerintahan dengan gaji yang bisa menghidupi dirinya hingga masa tua.

“Lihat teman-teman saya yang bekerja dengan pakaian necis, mereka sampai sekarang beli rumah kredit, motor kredit, dan beli mobil juga kredit!”

Baca Juga:  Alasan Mengapa Mahasiswa Sebaiknya Kerja Paruh Waktu di Starbucks

Bener juga sih kata si bapak ini, kebanyakan pekerja yang gajinya bulanan itu justru sangat hobi kredit mengkredit. Ya kredit rumah, kredit motor, kredit mobil, bahkan mak emak itu sangat hobi kredit “taperwer”. Hmmm Kalau kata orang zaman dulu, nggak kredit yah nggak bakalan punya.

Sedangkan dari hasil pangkas rambut ini si bapak justru bisa membeli rumah, serta kendaraan secara cas tanpa utang. Katanya, pegawai itu mendapat duit besara tapi cuma sekali dalam sebulan, sedangkan dia meski mengumpulkan duit recehan tapi dia selalu mendapat duit setiap harinya.

Dalam satu hari, si bapak ini bisa memotong rambut sebanyak enam puluh sampai tujuh puluh lima kepala. Jadi, tinggal kalikan saja kalau ongkos potong rambut di sini itu sekitar 20 ribu. Belum lagi kalau ada yang cukur kumis, 10 ribu. Menurut grafik si bapak, katanya setiap satu bulan sekali orang akan balik lagi ke kiosnya untuk potong rambut. Bahkan ada juga yang satu minggu sekali datang ke si bapak untuk mencukur rambut dan kumis. Pangkas rambut itu sudah seperti kebutuhan pokok manusia. Pekerjaan ini nggak bakal sepi peminat selama manusis masih memiliki rambut.

Lewat cerita tersebut si bapak ingin menujukan bahwa jangan menganggap remeh pekerjaan sepele. Banyak anak muda yang tak kunjung berhasil, karena mereka selalu pilih-pilih pekerjaan. Mereka selalu mencari alasan untuk memulai sebuah usaha dengan dalih modal. Jadi, kalau mau memulai sesuatu itu tak mesti butuh modal yang banyak kok. Yang penting cuma niat dan kesungguhan.

“Lebih baik bekerja secara merdeka, daripada gaji besar tapi penuh tekanan! Iya kan?” ucap si bapak setelah saya membayar ongkos potong rambutnya.

Lalu bulan depannya lagi, si bapak akan menceritakan kisah lainnya lagi. Entah itu cerita saat masa pacarannya dulu, anak-anaknya, atau isu politik dan selebriti yang lagi hot. Hmm~ (*)

 

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) yang dibikin untuk mewadahi sobat julid dan (((insan kreatif))) untuk menulis tentang apa pun. Jadi, kalau kamu punya ide yang mengendap di kepala, cerita unik yang ingin disampaikan kepada publik, nyinyiran yang menuntut untuk dighibahkan bersama khalayak, segera kirim naskah tulisanmu pakai cara ini.

---
1.646 kali dilihat

6

Komentar

Comments are closed.