Gap year atau tahun jeda adalah periode di mana seseorang nggak langsung masuk kuliah setelah lulus SMA. Selalu menarik membahas topik ini. Sebab, ketika membahas gap year, selalu tercipta 2 kutub perbedaan pendapat dengan alasan masing-masing.
Beberapa orang yang nggak sepakat dengan gap year beranggapan periode ini bisa saja melunturkan keinginan untuk kuliah. Apalagi kalau dalam periode gap year dipakai untuk bekerja. “Kalau sudah dapat duit, ya pasti tambah nggak mau daftar kuliah,” begitu kata mereka. Bagi sebagian orang yang nggak mempermasalahkan gap year, tentu nggak ambil pusing soal ini.
Saya termasuk kubu yang nggak ambil pusing soal gap year. Menurut saya, keputusan itu tidak ada salahnya. Ada banyak alasan orang-orang untuk mengambil gap year. Ada yang pengin nabung dulu, ada yang pengin kerja dulu, dan ada juga yang beralasan nggak diterima di jurusan idaman mereka lalu pengin coba lagi tahun depan.
Alasan terakhir akan dibahas dalam tulisan ini, sebab ini alasan yang menarik. Bukan soal uang, pengalaman, melainkan ambisi. Itu terjadi kepada teman saya.
Pengalaman nggak diterima di jurusan idaman dan ogah ambil jurusan lain
Ketika lulus dari SMA pada 2016, salah satu kawan saya memutuskan gap year. Hal yang tidak pernah ada dalam bayanganya. Di benaknya, setelah lulus SMA, dia akan langsung daftar kuliah di jurusan manajemen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) di salah satu kampus negeri di Malang. Dia nggak punya bayangan lain. Hanya jurusan manajemen.
Itu mengapa, ketika tes SBMPTN, teman saya ini menempatkan jurusan manajemen di pilihan pertama. Pilihan kedua dan ketiga dia isi dengan jurusan-jurusan yang nggak ngerti dan nggak inginkan. Pilihan kedua Antropologi, dan pilihan ketiga Sastra Jerman.
Sialnya, ketika pengumuman SBMPTN, dia nggak diterima di jurusan Manajemen. Eh, malah lolos masuk jurusan Antropologi. Dia nggak diterima di jurusan idamannya, tapi malah diterima di jurusan yang dipilih dengan ngawur.
Setelah melalui berbagai pertimbangan, termasuk ngobrol dengan orang tuanya, dia memutuskan untuk tidak mengambil jurusan Antropologi (nggak daftar ulang). Dia juga nggak mau ikut tes jalur mandiri. Ya emang nggak bisa juga sih, soalnya dia sudah nggak ambil SBMPTN-nya. Dia memilih mengambil gap year.
“Ngakak banget waktu itu. Tapi ya bingung juga kudu gimana, hehehe,” katanya pada saya ketika mengingat lagi momen tersebut.
Bekerja di saat gap year
Dia memilih bekerja sembari mempersiapkan SBMPTN tahun depan. Dia yang nggak kepikiran untuk gap year, tentu agak bingung mau ngapain ketika gap year. Apalagi melihat teman-temannya yang sudah berkuliah, dia merasa makin clueless. Tapi, kawan saya ini langsung gerak cepat. Daripada nggak ngapa-ngapain, dia memilih untuk cari kesibukan. Dia memutuskan untuk bekerja menjadi barista di salah satu cafe.
“Sebenarnya ini juga saran dari ibuku. Kata Ibu, daripada nganggur, mending disambi kerja. Kerja apa aja, lah. Akhirnya ya jadi barista ini,” ujar Aldi. “Tapi sambil kerja, aku sambil mempersiapkan buat ikut SBMPTN lagi tahun depan. Aku masih pengin kuliah, masih pengin masuk manajemen.” lanjut Aldi.
Ketika saya tanya apa persiapannya, apakah ikut bimbel atau gimana, dia menggeleng. Dia hanya mempelajari dan mencoba mengerjakan soal-soal tes SBMPTN saja. Selain itu, ketika mengisi kolom jurusan, dia nggak mau ngawur. Katanya, dia nanti ia tetap bakal mengisi jurusan manajemen sebagai pilihan pertama, lalu jurusan ekonomi pembangunan di pilihan kedua, lalu jurusan manajemen yang ada di kampus negeri lain, yang tentunya masih di Malang.
Benar saja, pada SBMPTN 2017, dia ikut tes lagi. Tentu dengan persiapan yang lebih matang, ambisi dan strategi yang lebih elegan, serta dengan doa yang lebih kencang. Hasilnya kawan saya ini berhasil masuk jurusan idamannya. Dia diterima masuk di jurusan Manajemen salah satu kampus negeri di Malang.
Baca juga Betapa Lelahnya Kuliah S2 Bareng Fresh Graduate: Nggak Dewasa, Semua Dianggap Saingan.
Kuliah lancar, lulus tepat waktu, hingga dapat kerja layak
Kata orang, kalau kita melakukan hal yang kita cintai, maka semuanya akan berjalan lancar. Mungkin itu terjadi juga pada kawan saya. Setelah gap year dan berhasil masuk jurusan Manajemen, dia kayak nggak pernah menemukan kesulitan berarti selama kuliah. Dia menjalankan kuliah seperti mahasiswa pada umumnya saja.
“Kuliahku lancar banget. Semuanya aman, nggak ada mata kuliah yang harus mengulang, KKN (Kuliah Kerja Nyata) juga lancar. Aku juga nyaman di lingkungan kampus. Ada beberapa yang halangan, sih, tapi masih bisa diatasi, lah. Paling yang agak aneh ya waktu ketemu teman-teman sekelas di SMA yang sekampus, tapi sekarang mereka jadi kakak tingkat. Aneh, tapi lucu juga,” kata dia.
Karena kuliahnya lancar, nggak heran dia bisa lulus tepat waktu, tepat 8 semester, dengan IPK yang sangat bagus. Lalu, nggak sampai 6 bulan setelah lulus kuliah, dia diterima kerja di salah satu bank BUMN di Malang. Sekarang, kawan saya masih jadi pegawai di bank tersebut dan sudah punya gaji yang lumayan. Dia bisa hidup layak. Belum lagi, akhir tahun ini ia berencana akan menikah.
Gap year jelas nggak ada salahnya dan nggak sia-sia
Bagi teman saya, keputusan untuk mengambil gap year bisa dibilang adalah keputusan yang krusial dalam hidupnya. Gara-gara mengambil gap year, dia nggak hanya bisa masuk jurusan kuliah idaman, tapi juga bisa menata hidupnya jadi lebih baik. Dia bahkan nggak tahu gimana hidupnya kalau waktu itu ia nggak ambil gap year dan nekat masuk Antropologi.
“Paling ya baru bisa lulus kuliah di semester 14,” ujar dia lagi.
Toh, nggak ada yang salah dan sia-sia dari mengorbankan satu tahun untuk mengambil jeda sebelum masuk kuliah. Apapun itu alasannya. Sebab di luar sana, pasti ada banyak orang yang ambil gap year dan hidupnya masih baik-baik saja. Jadi, aman sajalah.
Penulis: Iqbal AR
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Anak Muda Muak Hidup di Wonogiri, Cari Kerja Susah apalagi yang Memberi Upah Layak.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













