Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Drakor ‘Law School’ dan Realita Mahasiswa Korea yang Ambis Pol

Noor Annisa Falachul Firdausi oleh Noor Annisa Falachul Firdausi
5 Mei 2021
A A
Drakor 'Law School' dan Realita Mahasiswa Korea yang Ambis Pol terminal mojok
Share on FacebookShare on Twitter

Bulan ini mulai tayang drama-drama baru yang sangat menarik yang didominasi dengan genre yang dark. Salah satu drakor yang baru-baru ini tayang dan langsung mencuri perhatian khalayak adalah Law School. Saya sebenarnya sudah menantikan drakor ini sejak rilis pembacaan naskah pertama. Selain Vincenzo yang sudah tamat, Law School jadi drama yang saya tonton karena satu alasan saja sebenarnya. Saya kepingin paham simulasi sidang karena saya—yang bukan mahasiswa Fakultas Hukum ini—keblasuk ikut mata kuliah lintas fakultas yang UAS-nya itu pakai simulasi sidang. Tobat tenan.

Episode pertama Law School sangat menarik, tapi juga cepat. Pada menit-menit awal, penonton sudah disuguhkan dengan kasus pembunuhan profesor Fakultas Hukum Universitas Hankuk yang tewas selagi simulasi sidang tengah berlangsung. Investigasi kemudian dilakukan. Alur maju mundur bolak-balik ditampilkan guna membuat penonton jadi punya bayangan (baca: suuzan) siapa pelaku pembunuhan Profesor Seo Byung-ju.

ADVERTISEMENT

Karena namanya Law School, maka drakor ini juga nggak jauh-jauh dari kehidupan para mahasiswa Fakultas Hukum. Ada beberapa adegan mengenai kebiasaan mahasiswa di kampus Hankuk yang mungkin asing bagi orang Indonesia. Atas asas kekepoan, saya akhirnya mencari tahu apakah adegan-adegan tersebut memang realistis atau hanya hiperbola semata.

Setelah kasus kematian Profesor Seo, mahasiswa Fakultas Hukum Hankuk tetep harus belajar buat ujian. Sebenarnya Wakil Dekan sudah menyarankan untuk mengundur waktu ujian biar mahasiswa nggak pada stres. Tetapi Yang Joong-hoon a.k.a Yangcrates, seorang dosen killer dan strict, bersikukuh untuk tetap mengadakan ujian sesuai waktu yang sudah ditentukan.

Beberapa mahasiswa belajar secara berkelompok guna membahas kasus yang mungkin keluar di tes. Han Joon-hwi, mahasiswa berprestasi dan ambis di angkatannya, sukarela membantu teman-temannya memilih kasus. Salah satu orang yang ada di kelompok belajar itu, Jeon Ye-seul, meminta buat menunda sebentar belajarnya karena Kang Sol A, temannya, belum datang. Tapi mahasiswa ambis lainnya, Seo Ji-ho, berkata, “Jangan buang waktu untuk orang yang telat.”

Seo Ji-ho adalah representasi mayoritas orang Korea yang sangat menghargai waktu. Di sana ada “ppalli ppalli munhwa” atau kalau diterjemahkan berarti “budaya cepat-cepat”. Ini adalah budaya mengerjakan suatu hal dengan lebih produktif atau cepat karena orang Korea cenderung nggak mau membuang waktu dengan percuma ketika melakukan suatu pekerjaan. Apalagi buat nungguin orang yang telat macam Kang Sol A yang justru merugikan orang-orang yang sudah datang tepat waktu. Time is money, atau kalau kata Suga BTS sih waktu jauh lebih berharga daripada uang.

Masih soal persiapan ujian setelah kasus pembunuhan Profesor Seo. Kang Sol A dan Kang Sol B belajar bersebelahan di perpustakaan. Hari itu perpustakaan sunyi banget. Semua mahasiswa nunduk memperhatikan buku atau pasang mata ke layar laptop. Bahkan, ada mbak-mbak ber-hoodie biru yang waktu meletakkan buku di atas meja saja super hati-hati biar nggak menimbulkan suara.

Lalu datanglah Kang Sol A yang sambat dengan suara keras ke Kang Sol B karena semua mahasiswa bisa-bisanya belajar dengan tenang padahal baru saja ada hal yang menimpa dosen mereka. Langsung deh semua mahasiswa yang lagi belajar di perpustakaan itu menatap sinis Kang Sol A. Mata mereka kayak mengisyaratkan dia untuk diam. Waktu Kang Sol A mau pergi dan mundurin kursinya—yang kemudian menciptakan suara gesekan—satu perpustakaan lagi-lagi melirik sambil berdecak sebal. Waktu balik lagi, Kang Sol A dapat sticky notes yang isinya sambat karena kerusuhannya, yang bahkan embusan napasnya pun dinilai berisik.

Baca Juga:

Gagal Paham dengan Warlok Solo yang Ngebet Kuliah ke Luar Kota Demi Kejar Gengsi

4 Rekomendasi Motor Second yang Cocok untuk Mahasiswa Pertama Kali Merantau

Saya jadi teringat kisah kenalan yang sekarang kuliah di Korea University. Ia juga pernah dirasani gara-gara mundurin kursi dan menghela napas waktu lagi belajar di study cafe. Walaupun namanya study cafe yang memperbolehkan pengunjungnya makan, ada peraturan yang kudu ditaati biar nggak memicu keributan. Ngetik di laptop, membuka bungkus makanan, dan mindahin kursi nggak boleh berisik. Untuk yang pakai clicker pen juga harus hati-hati karena suaranya bisa ganggu banget.

Memang nggak semua mahasiswa di Korea Selatan seambisius itu buat dapat nilai A dan lulus cumlaude. Namun kalau mengingat perjuangan buat masuk kampus prestisius yang susahnya minta ampun, sementara waktu sudah berstatus mahasiswa langsung putar balik dan jadi orang yang malas rasanya eman-eman. Istilahnya wis kebacut teles, sisan wae kelelep, atau sudah terlanjur belajar keras jadi sekalian saja belajar lagi.

Untungnya ambisnya mahasiswa Korea ini didukung oleh fasilitas yang memadai. Perpustakaan dan tempat belajar di sana nyaman banget, Mylov. Seoul National University bahkan punya kolam yang membantu menciptakan suasana damai dan tenteram. Ada pula bilik belajar buat para pejuang skripsi yang butuh konsentrasi lebih. Sementara di Korea University, perpustakaannya buka selama 24 jam. Selama musim ujian, perpustakaan bakal penuh banget sampai nggak ada kursi kosong. Bahkan jam 3 pagi pun mahasiswanya masih tahan belajar demi nilai ujian yang memuaskan. Soal hantu? Mereka nggak takut karena mahasiswa yang belajar tengah malam sampai subuh pun banyak. Kalau sialnya ketemu hantu, ya tinggal merapal doa berjamaah.

Mahasiswa di Korea Selatan memang pada sadar kalau nilai bagus dan citra universitas nggak bikin mereka langsung dapat kerja. Apalagi setelah adanya pandemi Covid-19 yang bikin kesempatan kerja makin terbatas. Wawancara kanal YouTube Asian Boss dengan mahasiswa Seoul National University juga mengungkapkan kalau mahasiswa juga cari lowongan magang biar punya pengalaman. Persaingan yang ketat di universitas dan di pasar tenaga kerja kelak akhirnya membuat mereka punya prinsip “pengalaman + nilai bagus = wis mantep tenan”.

Sumber Gambar: YouTube The Swoon

BACA JUGA 10 OST Drakor Paling Menyayat Hati Sepanjang Masa dan tulisan Noor Annisa Falachul Firdausi lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 5 Mei 2021 oleh

Tags: drakordrama korea favoritKorea SelatanMahasiswa
Noor Annisa Falachul Firdausi

Noor Annisa Falachul Firdausi

Alumnus UGM asal Yogyakarta yang lagi belajar S2 Sosiologi di Turki

ArtikelTerkait

Menerka Pekerjaan Upin Ipin dan Anak-anak Tadika Mesra di Industri Hiburan Korea

Menerka Pekerjaan Upin Ipin dan Anak-anak Tadika Mesra di Industri Hiburan Korea

11 Juli 2023
fakultas filsafat ugm lulusan sukses di segala bidang mojok.co

Mengapa Lulusan Fakultas Filsafat UGM Bisa Sukses Nyaris di Segala Bidang?

22 Juli 2020
ngontrak rumah

5 Hal yang Harus Diperhatikan Mahasiswa Sebelum Ngontrak Rumah

4 Mei 2020
satpol PP, polisi

Anak Lelaki Perwira Polisi

26 September 2019
Starbucks

Alasan Mengapa Mahasiswa Sebaiknya Kerja Paruh Waktu di Starbucks

22 Oktober 2019
Transformasi Gongjin Hometown Cha-cha-cha dalam Kacamata Sosiologi Pedesaan terminal mojok

Transformasi Gongjin Hometown Cha-cha-cha dalam Kacamata Sosiologi Pedesaan

9 Oktober 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pengalaman Berdagang Selama Kuliah di Unila Lampung, Sering Dikira Anak Kos hingga Seolah Punya Utang Budi kepada Pembeli

Pengalaman Berdagang Selama Kuliah di Unila Lampung, Sering Dikira Anak Kos hingga Seolah Punya Utang Budi kepada Pembeli

27 Juni 2026
Sebagai Warga Jember, Saya Sudah (Amat) Muak dengan Warna Pink!

Sebagai Warga Jember, Saya Sudah (Amat) Muak dengan Warna Pink!

24 Juni 2026
Dianggap Nggak Kompeten, Pengalaman Pahit Ibu Rumah Tangga yang Career Gap dan Ingin Kembali ke Dunia Kerja Mojok.co

Dianggap Nggak Kompeten, Pengalaman Pahit Ibu Rumah Tangga yang Career Gap dan Ingin Kembali ke Dunia Kerja

25 Juni 2026
Pertamax di Pertashop Memang Lebih Murah, tapi Tetap Saja Orang pada Beli Pertalite, Harga Pertamax Nggak Ngotak! pertamina pertamax oplosan

Cerita Mereka yang Masih Tetap Membeli Pertamax: Jualan Pertamax Eceran Makin Nggak Laku hingga Seorang Kurir yang Terpaksa Menekan Pengeluaran

21 Juni 2026
Jangan Samakan Bubur Ayam Jakarta dan Cirebon, Mereka Beda! Mojok.co

Jangan Samakan Bubur Ayam Jakarta dan Cirebon, Mereka Beda!

22 Juni 2026
Perjalanan Pulang Kerja Naik Bus Bekasi-Cikupa, Pahit yang Harus Dijalani Tiap Hari

Perjalanan Pulang Kerja Naik Bus Bekasi-Cikupa, Pahit yang Harus Dijalani Tiap Hari

23 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.