Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus

Dosen Seenaknya Nyuruh Mahasiswa untuk Publikasi Jurnal, padahal Uang Mahasiswa Cuma Dikit dan Nggak Dikasih Subsidi Sama Sekali

Intan Permata Putri oleh Intan Permata Putri
17 Januari 2026
A A
Jujur, Saya sebagai Mahasiswa Kaget Lihat Biaya Publikasi Jurnal Bisa Tembus 500 Ribu, Ditanggung Sendiri Lagi

Jujur, Saya sebagai Mahasiswa Kaget Lihat Biaya Publikasi Jurnal Bisa Tembus 500 Ribu, Ditanggung Sendiri Lagi

Share on FacebookShare on Twitter

Waktu masih semester awal, tepatnya sekitar semester tiga, saya pernah mengalami satu pengalaman akademik yang sampai sekarang masih membekas. Ada seorang dosen yang sangat antusias bahkan cenderung ambisius dalam mendorong mahasiswanya untuk melakukan publikasi jurnal.

Secara konsep, dorongan ini terdengar sangat ideal. Publikasi identik dengan kualitas akademik, reputasi ilmiah, dan prestise institusi. Namun di balik narasi besar itu, ada satu realita yang sering luput dibicarakan secara terbuka tentang biaya dan kesiapan mahasiswa.

Sebagai mahasiswa semester tiga, saya berada pada fase transisi. Kami baru mulai mengenal metodologi penelitian, belajar menulis akademik dengan struktur yang benar, serta memahami etika ilmiah secara mendasar. Menulis artikel ilmiah saja masih terasa berat, apalagi harus memahami proses publikasi yang panjang dan kompleks mulai dari submit, review, revisi berulang, hingga akhirnya artikel dinyatakan layak terbit.

Namun pada saat yang sama, kami sudah diminta untuk melakukan publikasi jurnal dengan alasan “untuk kebutuhan nilai”.

Publikasi jurnal itu tidak murah, sama sekali tidak

Saya mulai mempertanyakan arah kebijakan tersebut. Publikasi jurnal terutama di jurnal berbayar bukanlah sesuatu yang murah. Biayanya bisa mencapai ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Bagi mahasiswa, nominal ini bukan sekadar angka. Itu adalah uang makan satu bulan, biaya kos, ongkos transportasi, atau bahkan kiriman orang tua yang jumlahnya terbatas. Idealisme akademik yang seharusnya murni justru berbenturan langsung dengan kondisi ekonomi mahasiswa.

Situasi menjadi semakin ganjil ketika dosen tersebut juga meminta namanya untuk menjadi penulis pertama. Di atas kertas, ini terlihat menguntungkan bagi dosen tersebut karena mahasiswa yang harus mengeluarkan biaya serta secara substansi, harusnya menjadi penulis pertama berarti bertanggung jawab penuh atas isi artikel, metodologi, validitas data, hingga etika publikasi. Sedangkan dosen tersebut hanya menyuruh mahasiswanya tanpa adanya kontribusi.

Untuk mahasiswa semester awal, tuntutan ini jelas tidak sebanding dengan kapasitas dan pengalaman yang dimiliki.

BACA JUGA: Jujur, Saya sebagai Mahasiswa Kaget Lihat Biaya Publikasi Jurnal Bisa Tembus 500 Ribu, Ditanggung Sendiri Lagi

Baca Juga:

Kritik untuk Kampus: Menulis Jurnal Itu Harusnya Pilihan, Bukan Paksaan!

Publikasi Jurnal Kadang Jadi Perbudakan Gaya Baru: Mahasiswa yang Nulis, tapi Dosen yang Dapat Nama, Logikanya di Mana?

Sebagai mahasiswa, saya berada dalam posisi yang serba sulit. Menolak berarti ada rasa takut nilai akan terpengaruh atau dianggap tidak kooperatif. Mengikuti berarti harus siap menanggung beban biaya, tekanan akademik, dan tanggung jawab ilmiah yang belum sepenuhnya dipahami. Akhirnya, banyak mahasiswa yang memilih ikut bukan karena siap, tetapi karena terpaksa. Publikasi pun berubah menjadi target administratif, bukan lagi sarana pembelajaran ilmiah yang sehat.

Proses harusnya tetap yang jadi utama

Padahal, jika ditarik ke hakikat pendidikan tinggi, proses belajar seharusnya lebih diutamakan daripada hasil instan. Mahasiswa seharusnya dibimbing untuk memahami logika penelitian, membangun cara berpikir kritis, dan menguasai teknik penulisan ilmiah secara bertahap. Ketika publikasi dijadikan syarat nilai di semester awal, ada risiko besar lahirnya budaya asal jadi, sekadar memenuhi kewajiban tanpa pemahaman yang utuh.

Dorongan publikasi ini sering dibungkus dengan narasi “demi masa depan mahasiswa”. Saya tidak menampik bahwa publikasi jurnal memang penting untuk rekam jejak akademik, terutama bagi mereka yang ingin melanjutkan studi atau berkarier di dunia riset. Namun konteks dan timing tetap menjadi kunci. Mahasiswa semester tiga masih berada pada tahap membangun fondasi, bukan pada tahap menunjukkan output akademik tingkat lanjut.

BACA JUGA: Pengalaman Publikasi Artikel di Jurnal Ilmiah: Ternyata Ada Sisi Gelapnya!

Di sisi lain, saya juga memahami bahwa dosen hidup dalam sistem yang menuntut produktivitas. Publikasi jurnal menjadi salah satu indikator kinerja dosen dan institusi. Tekanan sistemik ini nyata. Namun persoalannya muncul ketika beban tersebut dialihkan kepada mahasiswa tanpa dukungan yang memadai, baik dalam bentuk pendampingan intensif maupun bantuan finansial. Yang terjadi bukan kolaborasi, melainkan ketimpangan relasi akademik.

Setahu saya, kebijakan publikasi ilmiah di banyak perguruan tinggi sejatinya dirancang sebagai alternatif pengganti skripsi, bukan sebagai kewajiban di semester awal atau alat pemenuhan nilai mata kuliah. Publikasi seharusnya menjadi opsi bagi mahasiswa yang sudah siap secara akademik, bukan kewajiban massal yang diterapkan tanpa melihat kesiapan individu.

Harus adil!

Jika kampus memang ingin mendorong budaya publikasi sejak dini, maka tanggung jawabnya juga harus dibagi secara adil. Kampus perlu menyediakan jurnal internal gratis, skema subsidi biaya publikasi, hibah penelitian mahasiswa, serta pendampingan metodologis yang intensif. Tanpa itu semua, dorongan publikasi hanya akan menjadi beban tambahan yang tidak proporsional.

Pengalaman ini membuat saya menyadari bahwa tidak semua kebijakan yang terdengar akademis otomatis berpihak pada mahasiswa. Publikasi jurnal memang penting, tetapi waktu, metode, dan bebannya harus disesuaikan dengan tahap perkembangan akademik mahasiswa. Jangan sampai semangat meningkatkan reputasi institusi justru mengorbankan kesehatan mental dan stabilitas finansial mahasiswa.

Sebagai mahasiswa, saya tidak menolak publikasi. Saya justru melihat publikasi sebagai tujuan akademik yang baik jika ditempatkan pada waktu yang tepat. Namun publikasi seharusnya lahir dari kesiapan, bukan paksaan. Dari pemahaman, bukan ketakutan akan nilai. Dari proses belajar yang matang, bukan dari tekanan sistem.

Penulis: Intan Permata Putri
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Publikasi Artikel: Saya yang Begadang, Dosen yang Dapat Nama

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 17 Januari 2026 oleh

Tags: biaya publikasi jurnaljurnal ilmiahpublikasi jurnaltugas publikasi artikel mahasiswa
Intan Permata Putri

Intan Permata Putri

Mahasiswa semester akhir Institut Teknologi Sumatera yang sedang tertarik dengan isu-isu sosial dan lingkungan. Pernah nulis di Wattpad.

ArtikelTerkait

Publikasi Artikel: Saya yang Begadang, Dosen yang Dapat Nama publikasi jurnal

Publikasi Jurnal Kadang Jadi Perbudakan Gaya Baru: Mahasiswa yang Nulis, tapi Dosen yang Dapat Nama, Logikanya di Mana?

19 Januari 2026
10 Jurnal Ilmiah Gratisan yang Dibutuhkan Mahasiswa Ilmu Komunikasi Terminal Mojok

10 Jurnal Ilmiah Gratisan yang Dibutuhkan Mahasiswa Ilmu Komunikasi

8 Januari 2023
Lulus Kuliah Mudah Tanpa Skripsi Hanya Ilusi, Nyatanya Menerbitkan Artikel Jurnal SINTA 2 sebagai Pengganti Skripsi Sama Ruwetnya

Kritik untuk Kampus: Menulis Jurnal Itu Harusnya Pilihan, Bukan Paksaan!

19 Maret 2026
17 Istilah dalam Jurnal Ilmiah yang Wajib Diketahui Calon Peneliti Terminal Mojok

17 Istilah dalam Jurnal Ilmiah yang Wajib Diketahui Calon Peneliti

16 Oktober 2022
5 Situs Penyedia Jurnal Ilmiah Gratis yang Wajib Diketahui Pejuang Skripsi terminal mojok.co

5 Situs Penyedia Jurnal Ilmiah Gratis yang Wajib Diketahui Pejuang Skripsi

27 Januari 2022
Keresahan yang Saya Rasakan Selama Jadi Mahasiswa S-2 Terminal Mojok

Keresahan yang Saya Rasakan Selama Jadi Mahasiswa S-2

31 Oktober 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Lulus Kuliah Mudah Tanpa Skripsi Hanya Ilusi, Nyatanya Menerbitkan Artikel Jurnal SINTA 2 sebagai Pengganti Skripsi Sama Ruwetnya

Kritik untuk Kampus: Menulis Jurnal Itu Harusnya Pilihan, Bukan Paksaan!

19 Maret 2026
KA Sri Tanjung, Juru Selamat yang Bikin Menderita para Pekerja (Wikimedia Commons)

KA Sri Tanjung Adalah Juru Selamat Bagi Kaum Pekerja: Tiketnya Murah dan Nyaman tapi Bikin Menderita karena Sangat Lambat

18 Maret 2026
Toyota Etios Valco, Mobil Incaran Orang Paham Otomotif yang Nggak Gampang Termakan Isu Produk Gagal Mojok.co

Toyota Etios Valco, Mobil Incaran Orang Paham Otomotif yang Nggak Gampang Termakan Isu Produk Gagal

14 Maret 2026
Jalan Raya Prembun-Wadaslintang, Jalur Penghubung Kebumen-Wonosobo yang Keadaannya Menyedihkan dan Gelap Gulita! wonosobo

Wonosobo, Kota Asri yang Jalanannya Ngeri, kalau Nggak Berlubang, ya Remuk!

13 Maret 2026
Honda Spacy: “Produk Gagal” Honda yang Kini Justru Diburu Anak Muda

13 Tahun Bersama Honda Spacy: Motor yang Tak Pernah Rewel, sekaligus Pengingat Momen Bersama Almarhum Bapak

18 Maret 2026
motor Honda Stylo 160: Motor Matik Baru dari Honda tapi Sudah Disinisin karena Pakai Rangka eSAF, Bagusan Honda Giorno ISS Honda motor honda spacy

Honda Stylo Adalah Motor Paling Tidak Jelas: Mahal, tapi Value Nanggung. Motor Sok Retro, tapi Juga Modern, Maksudnya Gimana?

15 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • Mahasiswa UGM Rela Kejar Mudik di Hari Lebaran demi Kumpul Keluarga, Lewatkan “War” Tiket karena Jadwal Kuliah
  • Lebaran di Keluarga Ibu Lebih Seru Dibanding Keluarga Ayah yang Jaim dan Kaku
  • Pekerja Jakarta, Rumah di Bekasi: Dituntut Kerja dan Pulang ke Rumah sampai Nyaris “Mati” karena Tumbang Mental dan Fisik
  • Program Mudik Gratis Mengobati Rindu Para Perantau yang Merasa “Kalah” dengan Dompet, Kerja Bagai Kuda tapi Nggak Kaya-kaya
  • Anomali Wisata Jogja saat Diserbu 8,2 Juta Wisatawan: Daya Beli Tak Mesti Tinggi, Tapi Masalah Membayangi
  • Jadi Gembel di Perantauan tapi Berlagak Tajir saat Pulang, Bohongi Ortu biar Tak Kepikiran Anaknya Remuk-remukan

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.