Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus

5 Penderitaan Mahasiswa di Kampus Negeri Medioker yang Nggak Diketahui Orang Banyak

Muhamad Iqbal Haqiqi oleh Muhamad Iqbal Haqiqi
20 September 2025
A A
5 Penderitaan Mahasiswa di Kampus Negeri Medioker yang Nggak Diketahui Orang Banyak

5 Penderitaan Mahasiswa di Kampus Negeri Medioker yang Nggak Diketahui Orang Banyak (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Menjadi kebanggan tersendiri apabila seorang mahasiswa berkuliah di kampus negeri top tier nasional macam IPB, UGM, Unair, Undip, atau ITB. Bahkan untuk kampus top tier tingkat provinsi pun sebenarnya masih jadi kebanggan. Tapi bagaimana jika seseorang menjadi mahasiswa di kampus negeri, tapi statusnya medioker. Yah, kampus negeri tapi di tingkat provinsi termasuk tier B atau C lah. Bukan tier S.

Tentu ada nasib berbeda. Bukan kebanggan, tapi justru terkesan penderitaan ketika seseorang harus menjalani kehidupan mahasiswanya di kampus yang medioker.

Tapi begini, biar tidak bias penafsiran, kita coba lihat indikator kebagusan sebuah kampus. Pertama tentu dilihat dari akreditasinya yang sudah mendapat predikat A atau bahkan Unggul.

Kedua adalah reputasi akademiknya, baik itu secara resmi melalui prestasi di bidang tertentu, riset, atau citra dari tiap tenaga pendidiknya. Ketiga, ranking skala nasional dan internasional. Keempat adalah fasilitas pendukung mengenai kegiatan perkuliahan dan risetnya, Dan kelima adalah dampak sosialnya melalui penyebaran diaspora alumninya di berbagai sektor-sektor yang vital.

Nah, kampus medioker biasanya punya torehan yang biasa-biasa aja atau justru nggak kelihatan dari beberapa aspek di atas. Contohnya salah satu kampus PTKIN di Jawa yang reputasi akademiknya sedikit terganggu karena persoalan rektor periode sebelumnya.

Hal tersebut sedikit banyak membuat kampus ini terlempar dari daftar 10 besar kampus PTKIN di Indonesia. Atau mengenai dampak sosialnya yang yah biasa-biasa aja karena alumninya kebanyakan yang paling dianggap prestisius adalah menjadi PNS di Kementerian Agama. Terlepas dari itu, kampus tersebut hanyalah contoh dari banyaknya kampus medioker lainnya di Indonesia.

Kembali lagi soal nasib mahasiswa yang berkuliah di kampus negeri medioker. Kira-kira apa saja penderitaan yang dihadapi? Kita bedah satu per satu.

#1 Muncul perasaan minder kuliah di kampus negeri medioker

Saya sendiri dan beberapa teman lain yang meski kampusnya berbeda tapi berstatus medioker, sering merasa minder dan dianggap sepele. Kisah nyatanya ya ketika ikut olimpiade.

Baca Juga:

Derita Mahasiswa Jurusan Manajemen, Kena Label Nggak Masuk Akal, Mulai dari Sultan hingga Dicap Murahan

Dear Mahasiswa Baru, Tidak Semua Organisasi Layak untuk Diikuti, Banyak yang Akhirnya Cuma Bikin Kalian Depresi

Saat itu, yang kami hadapi adalah kampus-kampus negeri yang mentereng. Sehingga ada sindrom inferiority complex yang bikin mental mahasiswa jadi lesu sehingga nggak maksimal ketika mengikuti perlombaan.

Tambah lagi, mental makin down ketika ada alumni sendiri yang dengan sengaja melempar pernyataan bernada meremehkan dan membanggakan kampus lain (misalnya tempatnya mengajar atau kuliah S2). Padahal secara kepintaran, keaktifan, dan kreativitas, ya mahasiswa kampus negeri medioker tidak kalah. Kalah nama besar aja.

Itu pun berlanjut ke lingkungan pertemanan, keluarga, atau masyarakat luas. Misalnya ketika temu alumni SMA, kemudian ditanya, kuliah di kampus apa, kampus negeri X. Aduh, ada rasa berat untuk menjawab, tapi ya harus tetap bangga karena masih lebih baik daripada kuliah di kampus ruko.

#2 Keterbatasan fasilitas dan akses

Derita jadi mahasiswa di kampus negeri medioker yang sangat terasa juga adalah terbatasnya fasilitas dan akses. Khususnya mengenai literatur-riset internasional terindeks Scopus dan program internasional seperti student exchange, visiting scholarship, atau student outbond.

Mahasiswa kampus negeri medioker sangat asing dengan namanya Scopus. Kalaupun tahu, yah sekadar tahu tanpa bisa mengaksesnya. Sebab, kampus nggak berlangganan atau nggak punya akses sehingga mahasiswa bisa membaca berbagai artikel berkualitas dari jurnal bereputasi internasional. Akibatnya ya ketika membuat makalah, paling mentok mahasiswa mencari referensinya di Google Scholar yang mana banyak artikel dari jurnal “sampah” yang kurang kredibilitasnya.

Selain itu, keinginan mahasiswa yang ingin ke luar negeri melalui program-program internasional yang saya sebutkan di atas pun sebatas mimpi. Kalaupun bisa, ya paling melalui pihak eksternal dengan usaha sendiri. Padahal ketika bisa pergi keluar negeri, misalnya menggunakan program student outbound, mahasiswa tentu jadi punya nilai tambah tersendiri dan kampus pun jadi punya branding baik di mata kampus luar negeri.

Kedua kondisi tersebut pada akhirnya membuat mahasiswanya menderita. Sebab statusnya jadi kayak katak dalam tempurung. Nggak tahu apa-apa.

#3 Mahasiswa di kampus negeri medioker minim pilihan beasiswa

Kalau menjadi mahasiswa di kampus negeri medioker, pilihan mengikuti program beasiswa sangat terbatas. Paling beasiswanya hanya bidikmisi (dulu), beasiswa internal kampus, atau beasiswa BI. Beasiswa prestisius dari pihak eksternal macam Djarum Foundation, Paragon, Tanoto Foundation, BCA Finance Peduli, Bright Scholarship, dan sejenisnya, sangat sulit diakses. Sebab kampus nggak punya daya tawar dan kurang dikenal.

Biasanya, beasiswa sejenis memberikan ke mahasiswa di kampus tier S. Khususnya kampus yang punya reputasi akademik bagus dan dampak sosial yang nyata melalui alumni-alumninya.

#4 Sulit dapat sponsor acara

Derita selanjutnya datang ketika mahasiswa di kampus negeri medioker harus menyelenggarakan acara besar. Misalnya seminar nasional, tapi membutuhkan dana yang nggak sedikit. Biasanya selain dari dana fakultas, ada opsi sponsorship, baik dari lembaga komersial dan swasta atau lembaga pemerintahan.

Nah, mereka ini seringnya kesulitan mendapatkannya. Sebab selain program yang bagus, biasanya kemudahan memperoleh akses dana pihak luar dilihat juga dari beberapa hal. Pertama tentu saja nama kampus. Kedua, nama organisasi mahasiswanya. Ketiga ya bantuan orang dalam. Apesnya, mahasiswa di kampus negeri medioker seringnya nggak punya ketiga hal tersebut sehingga mereka sering ditolak ketika mengajukan sponsorship.

#5 Networking yang nggak luas

Networking nggak luas di sini menitikberatkan pada derita mahasiswa kampus negeri medioker yang akses kariernya sangat kecil. Hal itu dikarenakan relasi alumni di dunia profesional nggak seluas dan sekuat jaringan di kampus top tier. Akibatnya tentu membuat mereka nantinya susah mencari kerja ke sektor atau industri yang menjanjikan.

Efek lainnya sebelum lulus, mahasiswa jadi harus lebih kerja keras dan kreatif mencari kesempatan karier dengan melakukan magang mandiri. Biasanya ya jaringannya bukan dari kampus, tapi dari sesama mahasiswa atau organisasi dalam kampus yang tergabung dengan organisasi nasional.

Sisi positifnya, mahasiswa jadi punya mental yang lebih baik, lebih kreatif, dan punya resistansi yang kuat. Sebab mereka sudah berjuang menyiapkan karier yang cemerlang bahkan saat mereka masih berada di semester awal perkuliahan.

Itulah beberapa penderitaan yang dirasakan oleh mahasiswa di kampus negeri medioker. Semua penderitaan itu sebenarnya bisa memberikan hal positif kalau dipandang sebagai sarana untuk seorang mahasiswa belajar untuk tumbuh dan berkembang. Karena sejatinya, yang menentukan masa depan seseorang adalah kerja keras dan cerdas di saat menjadi mahasiswa.

Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA 5 Dosa Kampus Medioker terhadap Alumni yang Lanjut S2 di Kampus Top

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 20 September 2025 oleh

Tags: Kampus mediokerkampus negerikampus PTNMahasiswamediokerperguruan tinggi negeriptn
Muhamad Iqbal Haqiqi

Muhamad Iqbal Haqiqi

Mahasiswa Magister Sains Ekonomi Islam UNAIR, suka ngomongin ekonomi, daerah, dan makanan.

ArtikelTerkait

Testimoni Mahasiswa yang Kerja Part Time di Restoran, Dunia Dapur Itu Keras!

5 November 2023
Universitas Terbaik di Jambi, Bisa Jadi Pilihan bagi Warga Jambi yang Enggan Merantau ke Jawa Mojok.co

Universitas Terbaik di Jambi, Bisa Jadi Pilihan bagi Warga Jambi yang Enggan Merantau ke Jawa

30 Oktober 2023
6 Tips Mengatur Keuangan untuk Mahasiswa Perantauan dengan Uang Saku Pas-pasan Mojok.co

6 Tips Mengatur Keuangan untuk Mahasiswa Perantauan dengan Uang Saku Pas-pasan

11 Juni 2024
menyikapi dosen yang tak pernah praktik kerja berdebat dengan dosen

Dosen Ngewajibin Mahasiswa Beli Bukunya Itu Sebenernya Pantes Nggak sih?

18 Desember 2020
Ormek Adalah Kumpulan Mahasiswa Gila Hormat yang Sebaiknya Diwaspadai Mojok.co

Ormek Lebih Cocok Disebut Kumpulan Mahasiswa Haus Pujian daripada Organisasi Mahasiswa

18 Juni 2025
divisi danus

Divisi Danus Memang Harus Pelit

20 Agustus 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Karyawan Indomaret Pekerja Paling Underrated di Indonesia (Unsplash)

Karyawan Indomaret adalah Pekerja Paling Underrated di Indonesia

2 Juni 2026
Desa Telagamurni Bekasi Punya Semua Hal yang Dibutuhkan Warga kecuali yang Paling Penting, Kenyamanan Mojok.co

Desa Telagamurni Bekasi Punya Semua Hal yang Dibutuhkan Warga kecuali yang Paling Penting, Kenyamanan

5 Juni 2026
Jalan Dr Sutomo, Jalan Satu Arah yang Mencoreng Nama Baik Muntilan Magelang

Jalan Dr Sutomo, Jalan Satu Arah yang Mencoreng Nama Baik Muntilan Magelang

2 Juni 2026
Mahasiswa UIN Nggak Wajib Nyantri, tapi kalau Nggak Nyantri ya Kebangetan lulusan UIN

Lulusan UIN Sulit Cari Kerja Itu Mitos, Kenyataan Membuktikan Sebaliknya!

5 Juni 2026
Mengurai Inflasi IPK: Dosen Makin Dermawan atau Mahasiswa Makin Pintar?  

Mengurai Inflasi IPK: Dosen Makin Dermawan atau Mahasiswa Makin Pintar?  

3 Juni 2026
4 Hal yang Bakal Saya Rindukan setelah Lulus dari UM Malang kkn

UM BBM: Program KKN ala UM Malang yang Punya Banyak Celah dan Penuh Masalah!

7 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.