Dear Ibu Riza Hariati, Mari Sama-Sama Mengenal yang Namanya Efek Doppler

Dalam kasus Ibu Riza Hariati sudah sangat jelas itu adalah contoh efek doppler. Bukan sebuah kesengajaan dari pihak mal untuk menyindir umat dengan keyakinan selain kristiani.

Artikel

Avatar

Sedang ramai pembahasan tentang sebuah cuitan dari akun bernama @rizahariati yang bilang bahwa saat beliau ini masuk mal di masa Natal atau Paskah, suara nyanyian umat kristiani itu mendadak menjadi lebih kencang. Ibu ini tersinggung dan merasa tak nyaman dengan suara yang mendadak jadi kencang itu.

Banyak warganet berkomentar bahwa akun ibu ini hanyalah panjat sosial, ingin beken dengan playing victim. Merasa paling menderita dengan mendengar suara lagu-lagu paskah atau natal yang diputar di mal tersebut. Mungkin memang benar. Di satu sisi beliau ini “hanya” mencari sensasi, agar cuitannya menjadi viral mungkin, untuk menjadi terkenal.

IMG_20191223_132643.jpg

Tapi bagi saya, ibu ini malah menegaskan sebuah kenyataan bahwa beliau tidak cukup pintar. Sudah menjadi teori umum bahwa bila kita mendengar suara dari jarak tertentu yang agak jauh, yang frekuensinya tidak tertangkap dengan jelas oleh telinga kita, maka suara tersebut tentu saja akan terdengar lirih, sayup dan samar.

Kebalikannya, saat kita mendekat sampai batas jarak tertentu hingga frekuensi tersebut bisa tertangkap dengan jelas maka tentu pulalah suara itu akan jauh jadi lebih kencang terdengar di telinga. Prinsip ini bisa dijelaskan secara ilmiah dan dikenal dengan nama Efek Doppler.

Apa dan Bagaimana Itu Efek Doppler?

Efek doppler adalah perubahan frekuensi atau panjang suatu gelombang pada seorang penerima yang sedang bergerak relatif terhadap sumber gelombang. Efek doppler dinamakan berdasarkan seorang ilmuwan Austria, Christian Doppler, yang pertama kali menjelaskan fenomena tersebut pada tahun 1842. Efek ini dapat ditemukan pada segala jenis gelombang, seperti gelombang air, gelombang suara, gelombang cahaya, dan lain-lain.

Efek doppler akan terjadi saat sumber suara bergerak terhadap pendengar ataupun sebaliknya. Contohnya adalah ketika kita mendengar mobil bersirine yang sedang melaju ke arah kita, maka kita akan mendengar bunyi sirine yang makin meninggi (pitch atau frekuensi suara makin tinggi); kemudian saat mobil tersebut telah melewati kita dan makin menjauh, bunyi sirine akan makin mengecil (pitch makin rendah). Inilah fenomena efek doppler, yakni perubahan frekuensi suara yang dihasilkan oleh sumber suara yang bergerak.

Baca Juga:  Selain Nggak Punya Warna Hijau, Orang Madura Juga Nggak Kenal Huruf "W” dan “Y”

Dalam kasus Ibu Riza Hariati sudah sangat jelas ya bahwa ini adalah contoh dari efek doppler. Bukan sebuah kesengajaan dari pihak operasional mal untuk menyindir atau menyinggung umat dengan keyakinan selain kristiani.

Pastinya pula ini berlaku bukan hanya saat menjelang Natal atau Paskah di mal. Di masjid dan musala dekat rumah pun berlaku prinsip yang sama. Bila rumah kita berada dalam jarak lebih dari 200 meter dari musala misalnya, tentu saja suara azan yang dilantukan jadi terdengar pelan. Tapi bila kita sudah datang ke musala untuk menunaikan ibadah salat, ya pastilah suara azan itu akan jadi sangat kencang di telinga kita.

Apakah ini berarti orang yang sedang azan (muazin) itu berniat menyindir dan menyinggung umat kristiani atau agama lain selain Islam? Tentu saja tidak.

Begitu pun di mal, saat menjelang Idul Fitri dan sepanjang bulan Ramadan kan pastinya mereka akan sering memutar lagu yang bernada islami. Ini bukan suatu tindakan yang kurang baik. Justru menunjukkan bahwa ini adalah sebuah contoh toleransi di negara kita yang masyarakatnya majemuk dengan beragam agama.

Nah, Bu Riza Hariati yang terhormat, mohon sebelum mengetik dan mengunggah sebuah cuitan pahamilah dulu apa yang akan Anda bicarakan. Jangan asal bercuit. Jangan bertingkah menjadi korban. Jangan berlagak menjadi warga yang paling menderita.

Saya juga bukan seorang yang ahli di bidang fisika, di SMA juga saya adalah anak IPS, bukan anak IPA. Tapi kalau sekadar prinsip dasar seperti efek doppler ini, saya rasa saya masih bisa memahaminya dengan baik. Adik saya yang duduk di bangku SMA mungkin juga bisa menjelaskan dengan lebih detail daripada saya.

Baca Juga:  Saya Mualaf dan Ini yang Saya Rasakan Ketika Natal

Bila Bu Riza tidak percaya, silakan ibu tanyakan pada guru Fisika kenalannya mungkin, atau pada Google. Jangan sampai mempermalukan diri sendiri, Bu. Kalau mau jadi viral, dengan prestasi mungkin akan jauh lebih terhormat jadinya.

BACA JUGA Kok Bisa Sudah Tanggal Segini tapi di Sosmed Masih Sepi Orang Berpolemik soal Natal? atau tulisan Dini N. Rizeki lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

---
18


Komentar

Comments are closed.