Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Meluruskan Salah Kaprah Kebanyakan Orang Islam di Indonesia Soal Tradisi Perayaan Natal

Witianatalatas oleh Witianatalatas
22 Desember 2022
A A
Meluruskan Salah Kaprah Kebanyakan Orang Islam di Indonesia Soal Tradisi Perayaan Natal Terminal Mojok

Meluruskan Salah Kaprah Kebanyakan Orang Islam di Indonesia Soal Tradisi Perayaan Natal (Unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

“Jangan lupa bawain kue tart Natalan ke kantor, ya!” kata seorang teman saya yang beragama Islam tiap jelang Natal.

Sebagai non-muslim yang tinggal di Indonesia, saya sedikit tahu fungsi mukena, kewajiban salat Jumat, dan hal permukaan lainnya dalam ibadah orang Islam. Apalagi soal perayaan. Saya cukup familier dengan tradisi hari raya Idulfitri seperti hidangan opor dan ketupat hingga saling berjabat tangan sambil berucap minal aidin wal faizin.

Akan tetapi saya nggak yakin teman-teman muslim memiliki pengetahuan yang sama mengenai kami yang beragama Kristen dan Katolik, dua dari agama minoritas di Indonesia. Bukan karena nggak peduli atau nggak menganggap kami ada, namun mungkin karena kami jarang terekspos.

Misalnya saja soal tradisi perayaan Natal kaum kristiani di Indonesia. Teman-teman saya yang beragama Islam justru mengatakan bahwa mereka tahu tradisi perayaan Natal dari media arus utama yang ditampilkan orang-orang non-Indonesia. Sayangnya, tradisi Natal di luar negeri kadang nggak sesuai dengan tradisi Natal di Indonesia. Ya maklum, kan beda latar belakang. Unsur budaya dan kebiasaan tak jarang menempel pada kekhasan perayaan agama.

Makanya kebanyakan orang Islam di Indonesia yang saya temui salah kaprah dengan tradisi perayaan Natal orang Kristen di Indonesia. Bukannya apa-apa sih, cuma lucunya orang lain sering kali beranggapan saya merayakan Natal seperti keluarga Kevin McCallister Home Alone dan keluarga-keluarga Hollywood lainnya. Nyatanya ya nggak gitu juga.

#1 Merayakan Natal dengan makan kue tart

Setiap Natal tiba, ada saja teman yang menagih minta dibawakan kue tart cokelat. Memang sih kebanyakan film barat memang menggambarkan perayaan Natal dengan kumpul bareng keluarga sambil menikmati hidangan kue tart cantik. Di Indonesia, kue semacam itu kan biasanya nangkring di etalase kafe atau toko roti mahal, ya.

Eh, tapi itu kan di dalam film. Nyatanya, perayaan Natal di Indonesia nggak selalu dilengkapi kue tart menawan. Misalnya saja di rumah saya, yang disajikan ke para tamu ya kue yang mirip kayak Lebaran tiba. Ada nastar, putri salju, kacang goreng, wafer, dan camilan bocil lainnya sebagai antisipasi tamu yang datang bawa anak-anak. Pokoknya sajian yang gampang ditemukan dan pastinya lebih terjangkau dari kue tart cantik ala kafe yang harga satu slice-nya puluhan ribu itu.

Beda keluarga bisa beda pula sajiannya. Di wilayah tertentu di Indonesia, mungkin kalau kalian bertamu ke rumah teman yang merayakan Natal, kalian bakal disuguhi lemang, klappertaart, atau kue bagea. Pokoknya nggak melulu kue tart, deh.

Baca Juga:

Normalisasi Tanya Kebutuhan Pengantin sebelum Memberi Kado Pernikahan daripada Mubazir

6 Rekomendasi Tontonan Netflix untuk Kamu yang Mager Keluar Rumah Saat Liburan Tahun Baru

#2 Tukar kado

Dalam film-film barat, kebahagiaan Natal dibagikan dalam bentuk memberikan kado ke orang-orang spesial, entah itu anggota keluarga ataupun teman. Akhirnya kebanyakan teman-teman saya yang beragama Islam mengidentikkan perayaan Natal dengan tukar kado. Padahal di Indonesia, kebiasaan tukar kado ini nggak melulu jadi kewajiban. Ada sih keluarga Nasrani yang merayakan Natal dengan saling memberi kado, tapi saya yakin banyak juga yang nggak punya tradisi serupa.

Keluarga saya termasuk yang nggak mengenal budaya tukar kado saat Natal. Setelah kebaktian malam Natal, biasanya kami sekeluarga hanya makan bersama. Besoknya di hari Natal, sanak saudara berkumpul di rumah anggota keluarga yang dituakan. Lagi-lagi mirip dengan tradisi Lebaran. Nggak ada yang menyiapkan dan saling tukar kado, yang sering dibawa malahan makanan.

#3 Sinterklas

Sejak saya kecil, orang tua saya nggak pernah membuat cerita rekaan soal Sinterklas yang datang membawa kado Natal. Beberapa teman yang saya jumpai di kantor justru mengira cerita soal Sinterklas ini diceritakan turun-temurun ke anak-anak Nasrani.

Mungkin karena bapak saya yang berasal dari Nias dan ibu saya yang asli Jawa nggak relate dengan yang namanya Sinterklas, makanya nggak ada cerita soal Sinterklas ini. Melihat pakaian Sinterklas saja sudah gerah. Sudah gitu blio mau masuk rumah lewat mana? Kan rumah-rumah di Indonesia nggak punya cerobong asap. Alhasil saya sendiri hanya melihat Sinterklas sebagai karakter fiksi belaka.

#4 Orang Kristen (kebanyakan) kaya

Khusus poin terakhir ini sebenarnya nggak ada hubungannya dengan gambaran tradisi perayaan Natal di film-film barat yang bikin orang salah kaprah. Tapi, saya masukkan saja di sini biar sekalian diluruskan.

Beberapa orang teman saya yang beragama Islam pernah bilang bahwa mereka mengira orang Kristen rata-rata tajir karena berpakaian bagus saat ke gereja. Sesungguhnya, ini berakar dari aturan nggak tertulis yang sudah ada turun-menurun. Jadi gini, mayoritas keluarga Kristen, mulai dari yang ekonominya pas-pasan sampai yang hartawan, membudayakan berpakaian rapi jika pergi ke gereja. Contohnya saja orang tua saya yang sering mengatakan begini pada anak-anaknya, “Masa ke sekolah atau mau ke mal aja pakaiannya bisa rapi, tapi menghadap Tuhan nggak rapi?”

Maka tak heran apabila saat ibadah Minggu, kami hadir di gereja dengan berpakaian rapi, pakai dress lah, pakai kemeja lah, pakai batik lah, pakai rok lah, dsb. Kalau datang ibadah mingguan saja terbiasa berpakaian rapi, apalagi kalau malam Natal tiba, pakaian kami bisa lebih rapi lagi. Hehehe. Bahkan ada juga beberapa keluarga yang punya tradisi pakai baju baru di hari Natal, tak terkecuali keluarga saya. Memang benar kata Dhea Ananda, “Baju baru alhamdulillah, ‘tuk dipakai di hari raya (Idulfitri, Natal, dan hari raya lainnya…)”

Saya paham beberapa hal di atas memang bikin salah paham sebagian orang Islam di Indonesia karena mungkin mereka nggak memiliki kenalan atau saudara yang merayakan Natal, makanya nggak punya kesempatan untuk menyaksikan langsung tradisi Natal orang Kristen di Indonesia tuh sebenarnya seperti apa. Selain itu, tradisi Natal yang ditunjukkan dalam film membentuk persepsi orang mengenai perayaan Natal yang sama di setiap keluarga di seluruh dunia.

Akhir kata, selamat menjelang hari raya Natal buat teman-teman Kristen dan Katolik dan selamat berlibur buat semuanya. Semoga setelah ini nggak ada yang heran lagi kalau ada temannya yang merayakan Natal malah bawain nastar atau kue kering yang biasa dijumpai pas Lebaran ke kantor alih-alih kue tart cantik.

Penulis: Witianatalatas
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Pit Hitam, Sosok Kontroversial dalam Tradisi Natal.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 22 Desember 2022 oleh

Tags: film natalkadonatalorang islamsalah kaprahsinterklas
Witianatalatas

Witianatalatas

Baru saja resign dan lanjut magang sebagai budak kucing.

ArtikelTerkait

5 Restoran Keluarga di Semarang untuk Rayakan Natal dan Tahun Baru Terminal Mojok

Rekomendasi 5 Restoran Keluarga di Semarang untuk Rayakan Natal dan Tahun Baru

20 Desember 2022
4 Salah Kaprah Tentang Unpad yang Harus Diluruskan

Kalau Mau Kuliah di Bandung ke Unpad Aja dan Salah Kaprah Lainnya tentang Unpad yang Perlu Diluruskan

14 Juli 2023
Stop Kirim Makanan, Ini 4 Ide Hampers Natal yang Nggak Mainstream dan Berguna Biar Nggak Berakhir Jadi Pajangan Mojok

Stop Kirim Makanan, Ini 4 Ide Hampers Natal yang Nggak Mainstream dan Berguna

6 Desember 2025
Kado Sidang Skripsi: Tradisi atau Sekadar Gengsi?

Buket Balon, Hadiah Sidang Skripsi Paling Nggak Bermanfaat

2 Agustus 2023
Pancen Edan! UM Itu Singkatan dari Universitas Negeri Malang, Seorang Ganjar Pranowo pun Ikut Salah Sebut

Pancen Edan! UM Itu Singkatan dari Universitas Negeri Malang, Seorang Ganjar Pranowo pun Ikut Salah Sebut

28 Oktober 2023
anggap saja rumah sendiri

Jangan Mengartikan Kalimat “Anggap Saja Rumah Sendiri” Secara Harfiah

8 Juli 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Sisi Gelap Sekretariat UKM Kampus: Ketika Ruang Kerja Bergeser Menjadi Ruang Pribadi

Sisi Gelap Sekretariat UKM Kampus: Ketika Ruang Kerja Bergeser Menjadi Ruang Pribadi

7 Juni 2026
Slow Living di Magelang Adalah Keputusan Orang Kota yang Paling Bijak Mojok.co magetan

Magetan dan Magelang: Dua Kota Beda Provinsi yang Sering Bikin Lidah Terpeleset dan Dompet Tersesat

9 Juni 2026
4 Hal yang Bakal Saya Rindukan setelah Lulus dari UM Malang kkn

UM BBM: Program KKN ala UM Malang yang Punya Banyak Celah dan Penuh Masalah!

7 Juni 2026
5 Rahasia yang Perlu Diketahui sebelum Membuka Warung Madura, Eksklusif dari Juragannya Langsung usaha warung

Punya Usaha Warung di Desa Harus Siap dengan Risiko Banyak Orang Ngutang yang Entah Kapan Dibayarnya

9 Juni 2026
Terima Kasih PO Sudiro Tungga Jaya Rute Surabaya Ngawi Sudah Banyak Berjasa di Rumah Tangga Saya Mojok.co

Terima Kasih PO Sudiro Tungga Jaya Rute Surabaya-Ngawi Sudah Banyak Berjasa di Rumah Tangga Saya

4 Juni 2026
Hal-Hal yang Nggak Saya Sukai dari Kebayoran Baru Jaksel, Banyak Kecoak Geprek hingga Pengemis Nodong QRIS

Hal-Hal yang Nggak Saya Sukai dari Kebayoran Baru Jaksel, Banyak Kecoak Geprek hingga Pengemis Nodong QRIS

10 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.