Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Featured

Daripada Coach Kira, Tsubasa Cocoknya Dilatih oleh Sajuri Sahid Saja!

Gusti Aditya oleh Gusti Aditya
18 Februari 2020
A A
Daripada Coach Kira, Tsubasa Cocoknya Dilatih oleh Sajuri Sahid Saja!
Share on FacebookShare on Twitter

Pendukung Timnas Jepang senewen ketika Morisaki memasuki lapangan dalam keadaan genting. Kiper yang hebatnya hampir setara dengan Loris Karius ini menggantikan Wakabayashi yang ditabrak dengan brutal oleh Schneider. Hal ini terjadi dalam manga Captain Tsubasa arc Rising Sun babak delapan besar Olimpiade Madrid yang mempertemukan Timnas Jepang dengan Jerman.

Benar saja, dari tiga shot, Morisaki tidak satu pun menyelamatkan gawang Timnas Jepang dari gempuran der panzer. Terlebih, Mario Goethe yang masuk di babak kedua benar-benar mengobok-obok lini ke lini Jepang. Ia menemukan celah, yakni bapuknya lini bertahan setelah Jito cidera dan digantikan oleh “kanjeng” Ishizaki. Permainan Jepang distir oleh Chester dan ayam-ayami oleh Schneider.

Jika dirunut dari akar permasalahan Timnas Jepang, kendornya mereka di babak kedua bukanlah kesalahan Morisaki atau Ishizaki semata. Bukan juga tidak padunya lini tengah yang dijaga kedalamannya oleh Misugi dan Tsubasa. Melainkan akumulatif kesalahan yang dilakukan oleh sang pelatih, yakni Coach Kira. Ia adalah pelatih yang pernah mendidik Hyuga secara bar-bar. Membuat bola dari batu dan menendangnya melawan terpaan ombak adalah contoh kecilnya.

Pelatih bapuk yang satu ini tidak cocok melatih Jepang. Bukan tanpa alasan, melainkan Coach Kira yang tidak cerdas dalam melihat rapuhnya squad Timnas Jepang kali ini. Bolehlah ia memenangkan beberapa piala sebelumnya, tapi ini adalah olimpiade, yang konsisten adalah pemenangnya. Entah apa lisensi kepelatihan yang dimiliki oleh Kira, yang jelas pola pikirnya tidak lebih baik dari pelatih PS. Kerto, tim tarkam di kampung saya.

Kesalahan pertama Coach Kira sangatlah mendasar. Yakni tidak memahami komposisi pemain. Ia terbiasa melatih Toho dalam keadaan mabuk, muka memerah, dan hidung membengkak. Ia memang sudah taubat. Takutnya, kebiasaan itu kembali muncul dan bukannya melatih dengan baik, ia malah sibuk dengan amer di tangan kanannya.

Jepang sebelum berangkat ke Spanyol kehilangan sosok gelandang kreatif yang bisa menjadi salah satu opsi penyerangan ketika buntu. Yakni Tachibana Bersaudara, Kazuo dan Masao. Si kembar cidera ketika melawan Australia U-23 lantaran masih saja ngeyel menggunakan jurus Skylab Hurricane. Alih-alih memilih tipe pemain yang serupa untuk menambal, Coach Kira malah memilih Igawa dan Soga yang notabene seorang pemain bertahan.

Tidak ada yang meragukan Igawa maupun Soga. Mereka dipilih untuk memenuhi kuota pemain senior. Igawa yang merupakan pemain Urawa Reds sekaligus pemilik caps Timnas Jepang Senior, dalam keadaan tertentu suaranya kalah vokal dari Tsubasa. Jika peran Igawa hanyalah sebagai pelengkap, bukan sebagai pemacu mental pemain yang lebih junior, mendingan juga Takasugi yang lebih muda dan bugar.

Mungkin hadirnya Igawa dan Soga untuk menambal kepergian Tomeya Akai. Ia menepi lantaran cidera yang dialami ketika berjuang mati-matian untuk Sampdoria agar promosi ke Serie A. Namun, posisi Akai sebelas duabelas dengan Jordan Henderson di Liverpool, yakni sebagai seorang stopper, bukan bek tengah sebagai tower control macam Jito atau Misugi.

Baca Juga:

7 Drama Korea Terkenal yang Sebenarnya Adaptasi Dorama dan Manga Jepang

Kesuksesan One Piece, Manga Terlaris di Jerman dan Prancis

Hilangnya Akai dalam squad Jepang memang sangat terasa. Misugi dan Matsuyama benar-benar bekerja keras untuk menyelaraskan penyerangan dan bertahan. Terbukti dengan statistik yang ada, mereka acap kali kebobolan di babak kedua, yakni ketika Matsuyama melakukan pleasure sedangkan Misugi menyisir sisi kanan beriringan dengan Tsubasa dan Misaki di tengah. Praktis lini bertahan hanya diisi oleh tiga pemain belakang, menengok Soda adalah tipikal pemain belakang sayap dengan tendangan kamisari atau silet.

Kedua, Coach Kira tidak memiliki strategi lain selain Tsubasa sentris. Setelah melakukan ujicoba melawan Timnas Mexico, surat kabar dibuat gempar bahwa Tsubasa pingsan ketika berlatih. Hal ini wajar bahwa Tsubasa yang tenaganya benar-benar diperas bersama Barcelona dalam memperebutkan gelar La Liga. Lucunya, Coach Kira tetap memainkan Tsubasa sebagai reguler mentang-mentang nama Manga-nya adalah Captain Tsubasa.

Padahal, jika Coach Kira membangkucadangkan Tsubasa untuk sementara, Yoichi Takahashi selaku pembuat komik juga tidak akan protes. Fans Timnas Jepang pun tidak akan meradang lantaran masih ada Takeshi Sawada, Mamoru Izawa, dan Kazumasa Oda yang memiliki tipe hampir sama seperti Tsubasa, yakni gelandang stylist. Bedanya, ketiga pemain tersebut bukan tokoh utama.

Ketiga, tidak bisa meredam ego antar pemain. Karena pelatih tidak hanya urusan strategi, lebih dari itu suasana intim di internal. Dan lagi-lagi, Coach Kira gagal melakukan itu.

Entah bagaimana ceritanya, mentang-mentang anak karate, Ken Wakasimatsu didapuk menjadi striker. Ya, namanya juga anak muda, siapa yang mau jadi nomer kedua dalam hal kursi kiper Jepang selain Morisaki? Apalagi Wakabayashi sedang gacor-gacornya di Bundesliga bersama Hamburg SV. Ken pun meradang, menjadi striker adalah pilihannya.

Kemana Coach Kira kala internal memanas? Apalagi posisi striker sangatlah gendut di tubuh Jepang. Terhitung Hyuga, Sorimachi, Nitta, Taki, dan Kisugi. Sedangkan kiper hanya diisi oleh Wakabayashi dan Morisaki. Cideranya Wakabayashi menjadikan Morisaki sebagai pilihan utama menengok kala itu Ken sudah masuk ke lapangan dan posisinya sebagai striker.

Tentu Sajuri Sahid yang pernah membawa Persiba menjuarai Liga Dua pun lebih paham persoalan ini. Dengan komposisi “apa adanya”, Sajuri bisa menahan ego pemain asing dikubu Persiba saat itu. Menarik Ezequiel González agak mundur ke belakang dan memberikan ruang kepada Fortune Udo berdampak besar.

Sedang Coach Kira, entah apa yang ada di kepalanya, kiper berbakat seperti Nakanishi bisa tidak masuk jajaran timnas. Malahan, Morisaki yang selalu memiliki catatan buruk bersama Nankatsu lah yang menjadi pilihannya. Jika boleh berpendapat, barangkali bagusnya Morisaki hanyalah satu hal, yakni pintar mencari orang dalam.

Manga Captain Tsubasa yang kini memasuki arc Rising Sun memang sedang seru-serunya. Jepang yang sedang berjibaku melawan Jerman pun sudah ditunggu oleh tuan rumah Spanyol yang berhasil menundukkan Mexico. Dan dapat diprediksi, lawan yang pas di partai puncak adalah Brazil dengan sejuta pemain berbakat dan ditopang oleh Joan Aragones sebagai pelatih dan the one and only Roberto Hongo sebagai asistennya.

Sedang Jepang, kini diisi oleh pelatih kepala batu dengan komposisi pemain yang pincang. Unpopular opinion: Jepang tidak pantas menang melawan Jerman. Dan Spanyol melawan Brazil lebih pantas tersaji dalam partai final pagelaran Olimpiade Madrid. Sekaligus memberi pelajaran kepada Tsubasa bahwa juara berhak dimiliki oleh siapapun, tanpa harus menjadi tokoh utama terlebih dahulu. Andai saja.

BACA JUGA Menelaah Pesan Moral yang Terselip dari Kartun-Kartun Berikut atau tulisan Gusti Aditya lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 19 Februari 2020 oleh

Tags: Captain TsubasamangaSepakbolatimnas Jepang
Gusti Aditya

Gusti Aditya

Pernah makan belut.

ArtikelTerkait

Jika Era Shinobi Berakhir, Ini 5 Pekerjaan yang Cocok Dilakoni Karakter di Naruto terminal mojok.co

Naruto dan Hinata: Pernikahan Mereka Bikin Saya Iri Saja, Ini 3 Alasannya

18 Agustus 2020
Ketika Pidi Baiq Beralih Profesi Jadi Mangaka

Ketika Pidi Baiq Beralih Profesi Jadi Mangaka

21 Maret 2020
Sepak Bola dan Sihir Adalah Kolaborasi yang Erat Tak Terbantahkan terminal mojok.co

Ada yang Lihat Hilal di Old Trafford?

7 Mei 2019
scanlation one piece chapter 1011 attack On Titan Lebih Baik dari 'One Piece'? Mabuk, Bos?

One Piece, Manga Terbaik di Dunia, Adalah Tempat Terbaik Belajar Diskriminasi

11 Agustus 2020
Tak Perlu Sembunyikan Identitas Sebagai Seorang Wibu, tapi Tak Perlu Juga Dipamerkan!

Tak Perlu Sembunyikan Identitas Sebagai Seorang Wibu, tapi Tak Perlu Juga Dipamerkan!

27 Februari 2020
Dragonball Evolution

Dragonball Evolution dan Argumen Usang Lainnya dalam Membahas Live Action Manga

12 November 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Alun-Alun Jember Nusantara yang Rusak (Lagi) Nggak Melulu Salah Warga, Ada Persoalan Lebih Besar di Baliknya Mojok.co

Jember Gagal Total Jadi Kota Wisata: Pemimpinnya Sibuk Pencitraan, Pengelolaan Wisatanya Amburadul Nggak Karuan 

6 Februari 2026
Universitas Terbuka (UT) Banyak Prestasinya Itu Bukan Kebetulan, tapi Memang Sistemnya yang Keren

Universitas Terbuka (UT) Banyak Prestasinya Itu Bukan Kebetulan, tapi Memang Sistemnya yang Keren

31 Januari 2026
Lawang Sewu, Destinasi Wisata Semarang yang Nggak Perlu Diulang Dua Kali Mojok.co

Lawang Sewu, Destinasi Wisata Semarang yang Nggak Perlu Diulang Dua Kali

1 Februari 2026
Tinggal di Rumah Dekat Gunung Itu Tak Semenyenangkan Narasi Orang Kota, Harus Siap Berhadapan dengan Ular, Monyet, dan Hewan Liar Lainnya

Tinggal di Rumah Dekat Gunung Itu Tak Semenyenangkan Narasi Orang Kota, Harus Siap Berhadapan dengan Ular, Monyet, dan Hewan Liar Lainnya

31 Januari 2026
7 Kebiasaan Orang Kebumen yang Terlihat Aneh bagi Pendatang, tapi Normal bagi Warga Lokal Mojok.co

6 Mitos di Kebumen yang Nggak Bisa Dibilang Hoaks Begitu Saja

3 Februari 2026
Harga Nuthuk di Jogja Saat Liburan Bukan Hanya Milik Wisatawan, Warga Lokal pun Kena Getahnya

Saya Memutuskan Pindah dari Jogja Setelah Belasan Tahun Tinggal, karena Kota Ini Mahalnya Makin Nggak Ngotak

3 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Lasem Lebih Terkenal daripada Rembang tapi Hanya Cocok untuk Wisata, Tidak sebagai Tempat Tinggal
  • Mahasiswa KIP Kuliah Pertama Kali Makan di AYCE: Mabuk Daging tapi Nelangsa, Kenyang Sesaat untuk Lapar Seterusnya
  • Ormas Islam Sepakat Soal Board of Peace: Hilangnya Suara Milenial dan Gen Z oleh Baby Boomers
  • Kemensos “Bersih-Bersih Data” Bikin Nyawa Pasien Cuci Darah Terancam, Tak Bisa Berobat karena Status PBI BPJS Mendadak Nonaktif
  • Blok M, Tempat Pelarian Pekerja Jakarta Gaji Pas-pasan, Tapi Bisa Bantu Menahan Diri dari Resign
  • Derita Punya Pasangan Hidup Sandwich Generation sekaligus Mertua Toxic, Rumah Tangga bak Neraka Dunia

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.