Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Jogja Kini Sudah Menjadi Kota Pendidikan Premium: Manis di Depan, Pahit di Tagihan

Karunia Kalifah Wijaya oleh Karunia Kalifah Wijaya
16 Desember 2024
A A
Jogja Kini Sudah Menjadi Kota Pendidikan Premium (Unsplash)

Jogja Kini Sudah Menjadi Kota Pendidikan Premium (Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Jogja, si manis berlabel “Kota Pelajar”. Barangkali saat ini sudah naik kasta menjadi Kota Pendidikan Premium. Mimpinya adalah pendidikan untuk semua. Realitanya, semua yang punya uang. 

Ibarat angkringan yang tiba-tiba berubah menjadi restoran bintang lima. Rakyat kecil kini cuma bisa berdiri di luar sambil melihat menu. Bedanya? Kalau di restoran, kita bisa pulang sambil nahan malu kalau nggak jadi beli. Di pendidikan? Pulang sambil nahan harapan yang mati.

ADVERTISEMENT

UMR Jogja vs UKT: Duel yang tidak adil

Apa artinya Kota Pelajar jika penduduknya sendiri tak bisa ikut menikmati pendidikan? Mahasiswa pendatang dari kota-kota besar berdatangan membawa koper besar berisi pakaian, gadget, dan akses ke rekening orang tua mereka. 

Mereka mengisi bangku-bangku kampus, memadati kos eksklusif di daerah Seturan, memesan kopi mahal di kafe instagramable, dan sibuk membicarakan “tujuan hidup” sambil mem-posting foto dengan tagar #kuliahdimana.

Sementara itu, anak-anak muda lokal memandang dari jauh. Mereka punya mimpi, tentu saja. Tapi, bagi sebagian besar warga Jogja, kampus hanya bisa dinikmati melalui poster, bukan dari dalam kelas. 

Biaya UKT yang “dihitung adil” malah jadi jebakan. “Pendapatan rendah, tapi kok golongan UKT tetap tinggi?” Ya, entahlah, mungkin algoritma perhitungan UKT lebih pintar dari manusia.

Di sini, pendidikan itu bukan lagi hak saja, tapi hak istimewa. Mau jadi pelajar? Syarat pertama, punya rekening tebal. Mau pintar tapi miskin? Sabar, pendidikan bukan soal kemampuan, tapi “Bisa bayar atau nggak?”

Mari bicara angka. UMR Jogja? Sekitar Rp2 juta per bulan. Biaya kuliah? Rp7-Rp20 juta per semester. Kalau pendidikan adalah jembatan menuju kesuksesan, jembatan ini terbuat dari emas murni, dan tiket masuknya jelas bukan untuk rakyat jelata. 

Baca Juga:

Krisis Identitas wingko babat: jajanan asli Lamongan, dijajah Semarang, dicaplok Jogja

Kenapa orang Jogja malas wisata naik gunung ke Gunung Merapi?

Mau kerja sambil kuliah? Silakan, tapi siap-siap badan remuk, otak kosong, dan dosen bilang, “Kamu kurang fokus, Nak.”

Di kota ini, para orang tua bukan lagi nabung buat beli tanah atau sawah, tapi buat bayar UKT. Kalau tidak sanggup? Nah, pendidikan berubah jadi hiburan. Cukup lihat gedung kampus dari jauh sambil berkata, “Nanti kalau kaya, aku kuliah di situ.”

Kampus besar memang keren. Gedungnya tinggi, AC dingin, dosennya nge-Zoom dari luar negeri. Tapi uang kuliah? Lebih dingin dari sikap gebetan yang nggak pernah bales chat. Mahal, Bung! UMR aja cuma Rp2 juta. Di mana logikanya UMR vs UKT? Ini duel yang bahkan wasitnya sudah tahu siapa pemenangnya.

Ironi berkelas internasional, warga Jogja yang tertinggal

Di balik gedung-gedung tinggi ber-AC, diisi pelajar dengan sepatu bermerek, ada warga lokal yang sibuk menghitung receh di parkiran. Anak petani? Anak tukang becak? Kuliah di sini? Ah, jangan terlalu muluk. 

Kampus sudah jadi pusat bisnis dengan tagline: “Mencetak pemimpin bangsa.” Tapi, mereka lupa bilang, bangsa mana? Soalnya yang lulus kebanyakan datang dari luar kota, pulang membawa ijazah dan kenangan indah di kafe estetik.

Sementara anak-anak Jogja sendiri? Mereka sibuk ngangkut cucian mahasiswa kos atau jaga warung kopi sambil pasang manis muka: “Monggo, Mas. Ini diskon spesial.” Jogja jadi semacam hotel eksklusif. Pendatang disambut, tuan rumah jadi pelayan.

Ironi Jogja yang mengubur pemiliknya

Ki Hadjar Dewantara, sang Bapak Pendidikan, pasti menangis di pojokan melihat apa yang terjadi. Semangat “Lawan Sastra Ngesti Mulya” membawa manusia menuju kemuliaan melalui pengetahuan, kini sudah menjelma jadi slogan kosong yang penuh debu. 

Pendidikan bukan lagi tentang memanusiakan manusia. Ia adalah bisnis elite yang menjual masa depan dalam paket cicilan mahal. Jangan harap jadi pintu kemerdekaan, jika melewatinya saja rakyat kecil pasti terengah-engah.

Kampus-kampus di Jogja hari ini bagaikan toko-toko eksklusif. Warga lokal hanya jadi penonton. Mereka hadir sebagai pelayan kantin, tukang parkir, atau penjaga kos pelajar pendatang. 

Bahkan di tanah kelahiran mereka sendiri, mereka tidak menyukai tamu yang diundang. Lucunya, mahasiswa dari luar daerah, yang datang dengan koper penuh rupiah, justru mendominasi ruang-ruang diskusi, laboratorium, dan seminar ber-AC. Adil? Tidak. Tapi siapa yang peduli?

Pendidikan: Alat pembebasan atau penindasan?

Paulo Freire pernah mengatakan bahwa pendidikan harus memerdekakan, bukan menindas. Di Jogja, konsep ini justru jungkir balik. 

Pendidikan tinggi menjadi mekanisme “perbudakan modern”, jika tidak bisa membayar, silakan minggir. Mahasiswa-mahasiswa memproduksi bak barang pabrik, siap saji untuk pasar kerja, tapi kosong dari kesadaran kritis. 

Tidak ada lagi ruang bagi pendidikan sebagai alat pemberdayaan. Slogan kampus mungkin berbicara soal moral, masa depan bangsa, atau keadilan, tapi lembar tagihan bicara lebih jujur: “Bayar dulu, baru boleh mimpi.”

Kampus: Tempat berilmu atau pabrik gelar?

Ironisnya, meski mahal, kualitas pendidikan terkadang-kadang lebih zonk daripada diskon toko online. Kuliah lima tahun, hafal powerpoint dosen, menyampaikan cuma jago ngetik “Mohon maaf saya belum mendapat pekerjaan.” 

Kampus-kampus berlomba-lomba menanam slogan indah di gerbangnya: “Unggul, Berkualitas, dan Berdaya Saing Global.” Tapi kenyataannya? Lulusan mereka sering kalah saing sama anak TikTok yang membuat konten tiga menit.

Kalau begini terus, jangan salahkan anak muda kalau lebih milih jadi influencer daripada pelajar. Setidaknya, jadi influencer bayarannya jelas, nggak perlu nyicil 10 tahun buat lunasin biaya kuliah.

Jogja, kota pelajar yang gagal jadi rumah sendiri

Kita harus jujur, Jogja hari ini lebih ramah pada turis daripada warganya sendiri. Anak-anak lokal melihat kampus-kampus besar seperti gedung Disneyland menarik, megah, tapi tiket masuknya bikin nangis. Kota ini bangga jadi pusat pendidikan, tapi menjadikannya gagal aksesibel. Gagal memahami bahwa ilmu bukan hak kaum elite.

Tamansiswa berdiri di kota ini hampir seabad lalu dengan idealisme sederhana, pendidikan untuk semua, tanpa memandang status ekonomi. Namun kini, gedung-gedung mewah berdiri gagah, tapi idealisme itu terkapar. Jika pendidikan adalah hak semua rakyat, maka di Jogja hak itu sudah menjadi barang langka. Hanya ada di etalase mahal yang dijaga ketat oleh penjaga bernama “kemampuan ekonomi”.

Ki Hadjar Dewantara pernah berkata: “Pendidikan itu memerdekakan.” Tapi hari ini, pendidikan di Jogja lebih suka memperbudak, menindas, dan menutup pintu rapat bagi rakyat kecil. Ki Hadjar, maafkan kami, sebab di kotamu sendiri, ajaranmu kami ludahi tanpa malu.

Jogja masih menempelkan julukan “Kota Pelajar” dengan bangga. Tapi kita semua tahu, itu cuma manis untuk menyembunyikan kalimat realita pahit. Kota ini mungkin masih penuh dengan pelajar, tetapi bagi anak-anak lokal, pendidikan adalah mimpi mahal yang hanya bisa diucapkan sambil memandang bintang. Sebuah kota pelajar yang lebih ramah pada isi dompet daripada kecerdasan dan impian anak bangsa.

Selamat datang di Jogja. Kota pelajar bagi yang mampu, kota penonton bagi yang tidak.

Penulis: Karunia Kalifah Wijaya

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Ironi dan Fakta Kota Pelajar: Ketika Remaja Asli Jogja Justru Tidak Bisa Menikmati Bangku Kuliah

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 16 Desember 2024 oleh

Tags: biaya kuliah di jogjaJogjakuliah di jogjaukt jogjaumr jogja
Karunia Kalifah Wijaya

Karunia Kalifah Wijaya

Alumni mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa.Saat ini bekerja sebagai Guru SMP Muhammadiyah 1 Berbah. Memiliki ketertarikan terhadap isu pemerintah

ArtikelTerkait

menggugat pagar alun-alun utara jogja mojok.co

Wawancara Eksklusif dengan Korban Kebakaran Alun-alun Utara Jogja

29 Mei 2021
Alasan Orang-Orang NTT Lebih Memilih Merantau Kuliah ke Jogja daripada Kota Besar Lainnya Mojok.co

Alasan Orang-Orang NTT Lebih Memilih Merantau Kuliah ke Jogja daripada Kota Besar Lainnya

29 Januari 2026
Jatiwaringin Bekasi, Daerah Seribu Galian yang Nggak Tahu Kapan Kelarnya. Warga di Sini Punya Kesabaran Tingkat Tinggi bekasi jogja

Setahun Hidup di Jogja Bikin Saya Rindu Jalan Berlubang di Bekasi

6 Februari 2026
Culture Shock Mahasiswa Solo yang Merantau ke Jogja, Ternyata Biaya Hidupnya Lebih Mahal  Mojok.co politik jogja

Culture Shock Mahasiswa Solo yang Merantau ke Jogja, Ternyata Biaya Hidup Lebih Mahal 

27 Oktober 2023
Jalan Godean Sleman Konsisten Rusak dan Ancam Pengendara (Unsplash)

Jalan Godean Sleman Adalah Kombinasi Jalan Rusak dan Kepadatan yang Semakin Menyebalkan padahal Rute Penting Menuju Kulon Progo

22 Februari 2024
 Terminal Janti: Gerbang untuk Pulang, Rindu, dan Patah Hati di jogja flyover janti

Terminal Janti: Gerbang untuk Pulang, Rindu, dan Patah Hati

12 Mei 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Rezeki memang tak melulu soal uang, tapi senang juga rasanya kalau dapat duit bertubi-tubi Mojok.co

Rezeki memang tak melulu soal uang, tapi senang juga rasanya kalau dapat duit bertubi-tubi

18 Juli 2026
13 Tabiat Mahasiswa KKN yang Dibenci Warga Desa, Jangan Dilakukan atau Kalian Jadi Musuh Bersama Mojok.co

Apa salahnya mahasiswa kkn di kota? Mereka sedang belajar, bukan cuma nyari enak

20 Juli 2026
Pengalaman buruk menggunakan layanan BPJS di RS UNAIR: antre lama, sistem tidak jelas, beda dengan pelayanan swasta

Pengalaman buruk menggunakan layanan BPJS di RS UNAIR: antre lama, sistem tidak jelas, beda dengan pelayanan swasta

20 Juli 2026
Alasan orang Semarang seperti saya menghindari nonton di bioskop XXI, lebih memilih Cinepolis walau kalah populer Mojok.co

Alasan orang Semarang seperti saya menghindari nonton di bioskop XXI, lebih memilih Cinepolis walau kalah populer

19 Juli 2026
Membayangkan Lamongan Punya Mal, Cari Hiburan Nggak Perlu Repot-repot ke Kabupaten Tetangga Mojok.co yusril fahriza

Lamongan butuh dipimpin Yusril Fahriza agar makin maju dan kalcer, dan saya serius!

20 Juli 2026
Soto di Jogja adalah solusi terbaik di tanggal tua (Mojok.co/Aly Reza)

Soto di Jogja adalah solusi terbaik di tanggal tua

17 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.