Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kuliner

Bika Ambon, si Manis Legit yang Ternyata Berasal dari Medan

Dyan Arfiana Ayu Puspita oleh Dyan Arfiana Ayu Puspita
30 Agustus 2022
A A
Bika Ambon, si Manis Legit yang Ternyata Berasal dari Medan

Bika Ambon, si Manis Legit yang Ternyata Berasal dari Medan (Midori via Wikimedia Commons)

Share on FacebookShare on Twitter

Bika ambon: namanya Ambon, asalnya dari Medan. Dah lah.

Kalian tahu hal menarik apa yang ada pada makanan? Yaitu fakta bahwa kehadirannya tak sekadar pengusir rasa lapar, tapi juga menjadi perpanjangan dari sejarah. Nggak usah jauh-jauh mengaitkan cikal bakal suatu makanan dengan peristiwa yang terjadi di zaman nenek moyang. Di dekat kita saja, pasti banyak hal-hal yang berkaitan dengan makanan dan sejarah. Contohnya, kawanmu yang tiba-tiba membatu setiap kali melintas Olive Chicken. Setelah diusut, ternyata Olive Chicken pernah jadi saksi bisu dua hati yang pernah bersama. Begitulah. Selalu ada cerita menarik di balik makanan.

ADVERTISEMENT

Nah, berbicara soal sejarah atau cerita di balik makanan, saya jadi ingat pernah kegocek dengan salah satu kue, yang saya yakin namanya sudah tidak asing di telinga kita semua. Kue itu bernama bika ambon. Si manis legit bertekstur lembut ini, ternyata menghianati namanya sendiri. Jelas-jelas namanya “bika ambon”, elah jebul bukan berasal dari Ambon sebagaimana yang saya yakini, malah berasal dari Medan.

Penamaan makanan yang diikuti nama daerah asal memang jamak terjadi di dunia kuliner. Contohnya, sate kambing Tegal, gudeg Jogja, empek-empek Palembang, coto Makassar, dll. Penamaan ini, umumnya dimaksudkan supaya orang awam bisa langsung ngeh dari daerah manakah kuliner tersebut berasal. Namun, pada kasus bika ambon, identitas daerah yang menyertai bukan lagi sebagai penanda dari daerah mana makanan tersebut berasal.

Lantas, bagaimana sebenarnya kisah di balik bika Ambon yang jebul berasal dari Medan ini bermula?

Soal itu, ada banyak versi yang berkembang di masyarakat. Pertama, ada yang menyebut bahwa nama bika Ambon berasal dari dua kata, yakni “bika” atau “bingka” dan “ambon”. Bika atau bingka, adalah kue khas Melayu yang menginspirasi terciptanya bika ambon. Bedanya dengan bika khas Melayu, bika ambon telah mengalami modifikasi sedemikian rupa. Yakni, dengan menambahkan bahan pengembang berupa nira/tuak enau, sehingga menghasilkan kue bika yang berongga. Sedangkan kata “ambon”, berasal dari nama tempat pertama kali bika dijual dan populer, yaitu di simpang jalan Ambon-Sei Kera, Medan.

Versi kedua, nama bika Ambon mencuat kali pertama di masa kedatangan Belanda. Kala itu, ada seorang Tionghoa sedang membuat kue yang akan dijual kepada orang-orang Belanda di Medan. Kemudian, oleh orang Tionghoa tadi, kue tersebut ditawarkan kepada pendatang (Ada pula yang menyebut bahwa orang yang dimaksud adalah pembantu orang Tionghoa), yaitu seorang lelaki yang berasal dari Ambon. Sejak saat itulah muncul nama bika ambon.

Baca Juga:

Sebagai Orang Surabaya, Saya Pikir Jalanan Medan Sudah Paling Barbar, Ternyata Jalan Jamin Ginting Jalur Karo Lebih Tidak Beradab

4 Salah Kaprah Jurusan Sejarah yang Terlanjur Melekat dan Dipercaya Banyak Orang

Versi ketiga, yaitu yang menyebut bahwa ada peran perantau dari Ambon di balik penamaannya. Dikisahkan, ada seorang warga Ambon hendak merantau ke Malaysia. Namun sebelumnya, si perantau ini singgah terlebih dahulu ke Medan. Selama di Medan, ia membuat dan memasarkan kue bika. Ndilalah, kue bika buatannya mencuri perhatian masyarakat hingga membuatnya populer dengan sebutan bika ambon.

Versi keempat, menyebut bahwa nama ini berkaitan dengan penggunaan bahasa Medan. Jadi, istilah “ambon” dalam bahasa Medan memiliki arti lembut. Sesuai kan dengan tekstur kuenya yang lembut dan empuk? Meskipun, yah, ada referensi yang menyebut bahwa kata “ambon” untuk menggambarkan sesuatu yang lembut sudah lama tidak dipergunakan lagi dalam bahasa Medan.  

Terakhir, yaitu versi kelima adalah versi yang menyebut bahwa kata “ambon” sebenarnya bukan merujuk pada Ambon, ibu kota Provinsi Maluku, melainkan akronim dari Amplas Kebon. Jadi ceritanya, dulu ada sebuah daerah yang bernama Amplas. Amplas ini, terbagi jadi dua wilayah, yaitu barat dan timur. Oleh masyarakat, Amplas sebelah barat sering disebut dengan “pabrik” karena terdapat pabrik pengolahan latex. Sedangkan Amplas sebelah timur dijuluki”kebon” karena terdapat perumahan buruh atau barak dan kebun tembakau serta cacao.

Diceritakan, bika ambon pertama kali diperkenalkan oleh seorang buruh transmigran asal Jawa yang menetap di Amplas kebon. Sehari-harinya, buruh tersebut membuat kue bika dan memasarkannya ke Medan. Cita rasa yang enak di lidah, membuat banyak orang jatuh hati. Alhasil, banyak yang tertarik untuk ikut membantu memasarkan kue tersebut. Dengan kata lain, jadi reseller, gitu. Maka, makin terkenal, deh, kue ini. Selanjutnya, orang-orang pun mulai menyebut kue ini dengan sebutan bika ambon, sesuai dengan akronim daerah tempat buruh transmigran ini tinggal, yaitu Amplas Kebon.

Wah, banyak juga, ya, versi asal muasal bika ambon yang berkembang di masyarakat. Di antara kelimanya, entah versi mana yang benar. Tapi, kebayang nggak, sih, kalau ternyata yang benar adalah versi yang kelima? Maka, jalan ceritanya akan jadi seperti ini: Bika Ambon, dibuat oleh orang Jawa, dan dipasarkan di Medan. Wow. Satu makanan tiga daerah, Bestie~

Sumber gambar: Midori via Wikimedia Commons

Penulis: Dyah Arfiana Ayu Puspita
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Mencicipi Gudeg Jogja di Medan yang Diracik Orang Batak Karo

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 25 November 2025 oleh

Tags: ambonbika ambonMedansejarah
Dyan Arfiana Ayu Puspita

Dyan Arfiana Ayu Puspita

Alumnus Universitas Terbuka yang bekerja sebagai guru SMK di Tegal. Menulis, teater, dan public speaking adalah dunianya.

ArtikelTerkait

Sejarah Drama Korea_ dari Pentas di Media Terbatas hingga Meraih Popularitas  terminal mojok

Sejarah Drama Korea: dari Pentas di Media Terbatas hingga Meraih Popularitas 

18 Juni 2021
Ujungberung

Ujungberung, Daerah yang Punya 4 Versi Sejarah yang Berbeda

20 November 2021
Di Balik Pro Kontra soal Daendels Ada Kita yang Kurang Banyak Baca Buku Sejarah terminal mojok.co

Di Balik Pro Kontra soal Daendels Ada Kita yang Kurang Banyak Baca Buku Sejarah

18 Februari 2021
5 Drama Korea Adaptasi Sejarah yang Berakhir Tragis Terminal Mojok

5 Drama Korea Adaptasi Sejarah yang Berakhir Tragis

6 Agustus 2022
5 Makanan khas Medan yang Wajib Dicicipi selain Bika Ambon dan Nasi Kentut

5 Makanan khas Medan yang Wajib Dicicipi selain Bika Ambon dan Nasi Kentut

18 September 2022
Penyebab Malam Satu Suro Dianggap sebagai Hari Rayanya Demit tanggalan jawa arab muharam sultan agung primbon terminal mojok.co

Penyebab Malam Satu Suro Dianggap sebagai Hari Rayanya Demit

13 September 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kayutangan Adalah Sumber Masalah Baru bagi Warga Kota Malang

Orang Malang nggak ada yang suka main ke Kayutangan. Udah macet dan semrawut, desainnya yang meniru Malioboro bikin ilfil

24 Juli 2026
Liburan idaman orang dewasa itu sederhana, bisa rebahan tanpa diganggu notifikasi kerja Mojok.co

Liburan idaman orang dewasa itu sederhana, bisa rebahan tanpa diganggu notifikasi kerja

21 Juli 2026
4 kesalahan pembeli saat menyantap cuanki yang membuat rasanya kurang nikmat Mojok.co

4 kesalahan pembeli saat menyantap cuanki yang membuat rasanya kurang nikmat 

21 Juli 2026
Warga Semarang Bawah layak dapat gelar warga paling kuat dan tabah di Semarang

Warga Semarang Bawah layak dapat gelar warga paling kuat dan tabah di Semarang

21 Juli 2026
3 Hal di Karawang yang Membuat Pendatang seperti Saya Betah Mojok.co purwakarta

Ironi Karawang: bikin pusat perbelanjaan, tapi pinjem nama Jakarta karena nggak pede

22 Juli 2026
Kenapa orang Jogja malas wisata naik gunung ke Gunung Merapi? (Unsplash)

Kenapa orang Jogja malas wisata naik gunung ke Gunung Merapi?

20 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.