Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Mengenang Hoegeng, Polisi Jujur yang Pernah Disebut Gus Dur

Kurniawan Ivan Prasetyo oleh Kurniawan Ivan Prasetyo
14 Oktober 2020
A A
Pengalaman Saya Saat Hendak Wawancara Polisi di Tengah Aksi terminal mojok.co

Pengalaman Saya Saat Hendak Wawancara Polisi di Tengah Aksi terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Hari ini, tepatnya 14 Oktober 1921, Hoegeng Iman Santoso dilahirkan. Hoegeng dilahirkan di Pekalongan dengan memiliki 4 nama, yakni Abdul Latief, Hoegeng Iman Soedjono, Hoegeng Iman Waskito, dan Hoegeng Iman Santoso.

Masyarakat Indonesia tentu tidak asing dengan nama ini. Dialah mantan Kapolri (istilah Kapolri baru ada pada masa kepemimpinan beliau, sebelumnya istilah untuk kepala kepolisian negara adalah Pangak atau Panglima Angkatan Kepolisian) periode 1968-1971. Kiprahnya sebagai Kapolri dipenuhi dengan serangkaian kasus yang terbilang cukup pelik. Kasus-kasus tersebut yakni, kasus Sum Kuning, kasus penyelundupan mobil oleh Robby Tjahjadi dkk., dan kasus Rene Conrad.

Namun, di tengah kiprahnya sebagai polisi, banyak masyarakat yang belum mengetahui sepak terjang Hoegeng di sejumlah instansi lain. Mulai dari keimigrasian hingga kementerian. Dia tercatat pernah menjadi Kepala Djawatan Imigrasi, Menteri Iuran Negara, dan Menteri Sekretaris Kabinet.

Kepala Djawatan Imigrasi

Hoegeng resmi dilantik sebagai Kepala Djawatan Imigrasi oleh Mayjen A.H. Nasution (Menteri Keamanan Nasional) pada 19 Januari 1961. Pada saat itu, Djawatan Imigrasi mempunyai tugas untuk melakukan pendaftaran orang asing berdasarkan PP no. 32/1954, melakukan pengawasan orang asing berdasarkan PP no. 45/1954, serta melakukan penyelenggaraan administrasi sesuai dengan Peraturan Penguasa Perang no. Prt/PM/09/1957.

Tugas yang kompleks tersebut tentu mampu memunculkan konflik kepentingan hingga praktik penyimpangan korupsi di dalamnya. Mayjen A.H. Nasution, dalam sambutannya ketika pelantikan Hoegeng sebagai Kepala Djawatan Imigrasi, pun menjelaskan apabila terdapat petugas keimigrasian yang main serong harus segera ditindak dengan tegas.

Menanggapi hal tersebut, Hoegeng segera mengambil langkah cepat. Ia selanjutnya mengadakan rapat pimpinan dengan Menteri Kehakiman Sahardjo S.H, Jaksa Agung Gunawan S.H, Menteri/Panglima Angkatan Kepolisian Jenderal Pol. Soekarno Djojonegoro, dan Menteri Keamanan Nasional Mayjen A.H. Nasution. Rapat tersebut membahas sejumlah agenda dalam memperbaiki birokrasi di tubuh Djawatan Imigrasi.

Perbaikan birokrasi yang dilakukan Hoegeng di Jawatan Imigrasi meliputi perbaikan layanan dalam pembuatan visa dan paspor. Hoegeng menolak segala macam bentuk katabelece atau nota khusus. Sebelum masa kepemimpinan Hoegeng di Jawatan Imigrasi, banyak oknum yang mencoba melampirkan nota khusus untuk memperoleh kemudahan dalam mendapatkan visa atau paspor.

Pada saat menjabat Kepala Djawatan Imigrasi, Hoegeng juga sempat berurusan dengan seorang pengusaha Aceh yang meminta diberikan sebuah paspor diplomatik. Menariknya, pengusaha tersebut mengaku sebagai anak emas Presiden Sukarno dan mencoba menyuapnya dengan memberikan uang. Namun, tawaran tersebut langsung ditolak oleh Hoegeng dan pengusaha tersebut segera diusir keluar dari ruang Djawatan Imigrasi.

Baca Juga:

Di Desa, Lari Pagi Sedikit Saja Langsung Dikira Mau Daftar Polisi

4 Salah Kaprah Jurusan Sejarah yang Terlanjur Melekat dan Dipercaya Banyak Orang

Mentalitas serta pelayanan yang masih buruk menjadi fokus perhatian selama Hoegeng menjabat. Sejumlah gebrakan telah berhasil dilakukannya dalam mereformasi kinerja birokrasi. Djawatan Imigrasi pun mampu menekan intervensi dari pihak lain yang kerap menitipkan katabelece atau nota khusus.

Menteri Iuran Negara

Hoegeng dilantik sebagai Menteri Iuran Negara oleh Presiden Soekarno pada tanggal 27 Agustus 1964. Menteri Iuran Negara sendiri merupakan kompartemen atau bagian dari kementerian keuangan. Tugas dari Menteri Iuran Negara meliputi pengawasan segala iuran negara, menentukan tujuan dari barang-barang yang menjadi milik negara, serta mengumpulkan uang negara berupa bea cukai dan pajak.

Pengangkatannya sebagai Menteri Iuran Negara merupakan saran langsung Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Hoegeng dinilai berhasil dalam mereformasi birokrasi serta menekan konflik kepentingan ketika menjabat sebagai Kepala Djawatan Imigrasi. Berangkat dari hal tersebut, ia diharapkan mampu memperbaiki birokrasi sesuai dengan koridor tugas Menteri Iuran Negara.

Dalam hal pengawasan pajak, ia pernah mengeluarkan Surat Instruksi no. B238/1-12/1966. Surat tersebut mengatur tentang pengawasan serta penertiban dalam pemungutan pajak, tujuannya untuk menekan angka pelanggaran serta penyelundupan pajak yang dapat merugikan negara.

Selama menjabat sebagai Menteri Iuran Negara, Hoegeng juga melakukan koordinasi dengan sejumlah pihak, salah satunya Direktorat Bea dan Cukai yang dikepalai oleh Padang Soedirdjo. Kedua tokoh tersebut dikenal sebagai sosok yang tegas dan anti korupsi. Mereka pernah berkolaborasi dalam menangani kasus penyelundupan tekstil oleh pengusaha berdarah India. Kasus tersebut diduga melibatkan oknum aparat. Pengusaha tersebut akhirnya dibawa ke pengadilan dan dijatuhi hukuman.

Menteri Sekretaris Kabinet

Hoegeng menjabat secara resmi sebagai Menteri Sekretaris Kabinet pada 31 Maret 1966 hingga 25 Juli 1966. Usia yang relatif singkat, mengingat suhu politik saat itu sedang memanas. Secara garis besar, Menteri Sekretaris Kabinet mempunyai tugas untuk menyiapkan bahan-bahan rapat bagi anggota presidium kabinet serta menjadi notulensi selama rapat presidium kabinet.

Selama menjabat sebagai Menteri Sekretaris Kabinet, ia menerapkan sistem keterbukaan dalam menjalankan tugasnya serta Open Door Policy bagi bawahannya. Hal tersebut dipraktikkan langsung dalam ruang kerjanya sebagai menteri yang tidak memiliki sekat atau pembatas dengan staf-stafnya di gedung utama Setneg.

Ruangan terbuka tersebut dijadikan sarana pengawasan antar sesama staf dalam melaksanakan tugasnya. Hal tersebut mampu menekan penyalahgunaan kekuasaan dalam bekerja.

Selama menjabat sebagai Menteri, ia sempat diisukan melakukan upaya pendongkelan Menteri Pangak RI Jenderal Pol. Soetjipto Joedodihardjo. Hal tersebut memaksanya menghadap ke Istana Negara. Ketika memenuhi panggilan Soekarno untuk menjelaskan isu tersebut, Hoegeng mampu membuktikan bahwa ia tidak terlibat dalam upaya pendongkelan tersebut.

Hoegeng dikenal sebagai pribadi yang teliti serta hati-hati, ia selalu mencatat apa yang telah ia lakukan selama sehari dalam buku hariannya. Dalam buku hariannya, ia memang pernah mengadakan pertemuan dengan seseorang yang mencoba mengajaknya untuk bekerjasama mendongkel kekuasaan Jenderal Pol. Soetjipto Joedodihardjo. Namun, dengan tegas Hoegeng menolaknya.

Pertemuan tersebut dicatat secara rinci di buku hariannya dan ketika menghadap Presiden Sukarno, ia menunjukkan buku harian tersebut. Hingga kemudian terbuktilah bahwa orang yang mengajaknya menggulingkan Menteri Pangak RI tengah mencoba menjatuhkan nama baik Hoegeng.

Kiprahnya baik dalam kepolisian, keimigrasian, hingga kementerian, menarik untuk kita kaji di era kini. Saat ini tengah dihadapkan dengan krisis tokoh yang berintegritas serta memiliki komitmen kuat melampaui kebiasaan buruk zamannya. Perjalanan Hoegeng setidaknya mampu kita jadikan teladan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Photo by Pixabay via Pexels.com

BACA JUGA Mengenal Ego-Resiliensi: Melawan Trauma Pasca Demonstrasi Omnibus Law

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 13 Agustus 2021 oleh

Tags: polisisejarah
Kurniawan Ivan Prasetyo

Kurniawan Ivan Prasetyo

Pernah menjadi mahasiswa dan buruh part time di Jogja

ArtikelTerkait

sopir jasa angkut Seumur hidup, saya belum pernah merasakan ngompreng truk di lampu merah. Dan kali ini, momen itu datang dan saya tidak mau melewatkannya.

3 Tahap Belajar Ngompreng Truk di Lampu Merah

14 Oktober 2020
Penyebab Orang Lamongan Pantang Makan Lele Meskipun Jualan Pecel Lele terminal mojok.co

Penyebab Orang Lamongan Pantang Makan Lele meskipun Jualan Pecel Lele

12 September 2020
10 Fakta tentang Kota Suwon, Kota yang Akan Jadi Tempat Pratama Arhan Berkarier

10 Fakta tentang Kota Suwon, Kota yang Akan Jadi Tempat Pratama Arhan Berkarier

29 September 2023
aborsi dan negara yang ikut campur urusan privat

Polisi Larang Aborsi dan Negara yang Hobi Ikut Campur Hal Privat

29 November 2021
Menguak Sekelumit Sejarah Soal Kesultanan Buton yang Nasibnya Jarang Dikenal terminal mojok.co

Menguak Sekelumit Sejarah Soal Kesultanan Buton yang Nasibnya Jarang Dikenal

8 Agustus 2021
4 Kalimat Polisi yang Pasti Bikin Kita Pasrah (Unsplash.com).jpeg

4 Kalimat Polisi yang Pasti Bikin Kita Pasrah

15 September 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Satria FU Sudah Tak Pantas Disebut Motor Jamet, Yamaha Aerox lah Motor Jamet yang Sebenarnya

Alasan Mengapa Satria FU Masih Digandrungi ABG di Madura, Membuat Pria Lebih Tampan dan Bikin Langgeng dalam Pacaran

23 April 2026
Toleransi di Salatiga Sudah Jadi Laku Hidup, Tidak Sekadar Jadi Bahan untuk Dipamerkan Mojok.co

Toleransi di Salatiga Sudah Jadi Laku Hidup, Tidak Sekadar Bahan untuk Dipamerkan

28 April 2026
Nelangsanya Jadi Warga Jawa Timur, Belum Genap 6 Bulan, Sudah Banyak Pemimpinnya Tertangkap KPK

Nelangsanya Jadi Warga Jawa Timur, Belum Genap 6 Bulan, Sudah Banyak Pemimpinnya Tertangkap KPK

23 April 2026
Purwokerto Dipertimbangkan Orang Kota untuk Slow Living, Warlok: Bisa Jadi Masalah Baru Mojok.co

Purwokerto Jadi Tempat Slow Living Orang Kota, Warlok: Bisa Jadi Masalah Baru

22 April 2026
Kabel Bangkalan Madura yang Semrawut Bikin Nggak Nyaman Dipandang Mojok.co

Kabel Bangkalan Madura yang Semrawut Bikin Nggak Nyaman Dipandang

22 April 2026
Sudah Selayaknya Tegal Masuk dalam 10 Besar Kota Paling Toleran, Bukan Jogja Mojok.co

Sudah Selayaknya Tegal Masuk dalam 10 Besar Kota Paling Toleran, Bukan Jogja

26 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • YUHU. Rilis Single Baru “Bertemu Di Sini”: Definisi Rindu Itu Bersifat Universal
  • Magang di Jakarta Terkesima Terima Gaji 2 Kali UMR saat Kerja di Jogja, Hidup Bisa Foya-foya dan Tak Menderita
  • Klaten International Cycling Festival 2026: Gowes Asyik Sepeda Klasik di Klaten bareng Pencinta Sepeda Mancanegara
  • Tidak Diakui, Harga yang Harus Saya Bayar karena Menolak Keinginan Orang Tua untuk Jadi PNS
  • Membiasakan Ngasih Tip Kurir ShopeeFood meski Kita Bukan Orang Mapan: Uang 5 Ribu Nggak Bikin Jatuh Miskin, Tapi Sangat Berarti buat Mereka
  • Kasih Tip Rp5 Ribu ke Driver Ojol Tak Bikin Rugi tapi Bikin Hidup Lebih Bermakna di Tengah Situasi Hidup yang Kacau

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.