Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Sebagai Orang Surabaya, Saya Pikir Jalanan Medan Sudah Paling Barbar, Ternyata Jalan Jamin Ginting Jalur Karo Lebih Tidak Beradab

Arief Rahman Nur Fadhilah oleh Arief Rahman Nur Fadhilah
22 November 2025
A A
Sebagai Orang Surabaya, Saya Pikir Jalanan Medan Sudah Paling Barbar, Ternyata Jalan Jamin Ginting Jalur Karo Lebih Tidak Beradab

Sebagai Orang Surabaya, Saya Pikir Jalanan Medan Sudah Paling Barbar, Ternyata Jalan Jamin Ginting Jalur Karo Lebih Tidak Beradab (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Ternyata nggak hanya jalanan Medan yang bikin saya jadi korban, Jalan Jamin Ginting lebih seram.

Lalu lintas di Kota Medan terkenal sangat kacau dan tidak karuan. Sebagai orang Surabaya yang merantau ke Medan, hampir setiap hari saya misuh-misuh karena sering menjadi korban kejamnya kehidupan berkendara di sini. Kalau ada penghargaan nasional untuk kota dengan lalu lintas paling barbar, saya seratus persen yakin Kota Medan akan jadi pemenangnya. Namun, keyakinan itu ternyata tidak bertahan lama.

Semenjak menulis Lalu Lintas Medan Terlalu Barbar untuk Perantau Asal Surabaya seperti Saya beberapa waktu lalu di Terminal Mojok, kawan-kawan Saya dari Medan banyak berpendapat kalau lalu lintas Jalan Jamin Ginting di Kabupaten Karo jauh lebih parah daripada Kota Medan. Bahkan ada seorang kawan yang bilang, “Kalau sudah pernah namatin Jalan Jamin Ginting sampai Kecamatan Berastagi dan balik lagi ke Medan naik motor, tandanya sudah bisa disebut pengendara sejati. Jalan lain mah enteng.” 

Klaim tadi tentu tidak langsung saya telan bulat-bulat. Saya tidak percaya ada yang bisa mengalahkan kesembronoan angkot hingga kenekatan para pengendara di Medan. Dengan sedikit rasa sombong karena merasa telah menguasai skill berkendara orang Medan, saya menghiraukan peringatan itu.

Sayangnya, arogansi itu runtuh seketika saat saya memacu motor melewati rute tersebut menuju Gunung Sibayak. Setelah merasakan sendiri sensasi senam jantung selama berkendara, harus saya akui kalau kawan saya seratus persen benar. Rasanya peradaban yang beradab belum sampai ke aspal rute ini.

Jalan Jamin Ginting ibarat hutan rimba

Jalan Jamin Ginting tidak sekadar jalan nasional yang menghubungkan Medan dan Tanah Karo. Bagi saya, jalan ini ibarat hutan rimba. Hukum manusia tidak berlaku di jalan ini. Adanya hanya hukum rimba. Jalan sempit menanjak berkelok-kelok yang seharusnya dilalui dengan sabar dan hati-hati malah jadi tempat salip-menyalip. 

Cara menyalip di sana sangat tidak beretika. Setahu saya, lazimnya ketika kendaraan menyalip, akan diawali dengan menyalakan lampu sein atau membunyikan klakson. Memberi tanda pada pengendara di depan bahwa ada yang mau lewat sehingga bisa mengatur kecepatan dan memberikan ruang. Begitu juga dengan kendaraan dari arah sebaliknya. Kenyataannya, aturan ini sama sekali tidak berlaku di sana. 

Baik motor maupun mobil, semua asal nyelonong tanpa permisi. Tidak peduli tikungan tajam, tikungan buta, atau jurang di sisi kiri, semuanya memacu kendaraan seakan malaikat izrail sedang cuti kerja. Rasanya tidak hanya dibutuhkan skill tingkat dewa untuk survive di Jalan Jamin Ginting, melainkan juga doa ibu.

Baca Juga:

Pengalaman Saya Berkunjung ke Medan Nggak Sesuai dengan Ekspektasi, Benar-benar Bikin Kaget!

Kesawan, Malioboro Medan yang Penuh Sejarah dan Bikin Jatuh Cinta

Bus-bus yang kelewat barbar

Musuh utama dari Jalan Jamin Ginting tidak lain dan tidak bukan adalah monster-monster beroda empat yang dikenal dengan Bus AKDP (Angkutan Antar Kota Dalam Provinsi) atau yang biasa disebut warga lokal sebagai “Bus Hantu”. Coba saja sebut nama-nama PO seperti Murni, Sinabung Jaya, dan Sumatera Transport di depan warga Sumut. Mereka yang mendengar kalau tidak mengernyitkan dahi, palingan bakal geleng-geleng kepala.

Nama-nama PO ini sudah sudah sangat melegenda, bukan karena layanan prima, namun karena reputasi sopir yang seolah memiliki seribu nyawa. Walaupun jalannya ekstrem, sopir-sopir bus hantu ini dikenal sangat berani memacu bus dengan kecepatan tinggi. 

Melihat bus-bus hantu menyalip di tikungan buta Jalan Jamin Ginting adalah pemandangan paling horor. Tidak jarang pengendara dari arah sebaliknya menyaksikan bus ini muncul tiba-tiba dari tikungan layaknya hantu yang datang tak diundang. Pada akhirnya memaksa pengendara yang berpapasan untuk menyingkir sampai mencium rumput. 

Untungnya bus ini sangat mudah dikenali karena modifikasinya jarang ditemukan di daerah lain dan lebih mirip ala-ala bus di Thailand. Saran saya kalau melihat bus ini dari kejauhan, bijaknya segera menyingkir atau memberi jalan.

Para sopir bus hantu ini, kalau istilah orang Surabaya, dikenal “wani ngeyel” dan “bondo nekat”. Sama sekali tidak ragu untuk melawan kendaraan lain. Sekalipun terjadi kecelakaan akibat aksi ugal-ugalannya, mereka sama sekali tidak mau disalahkan. 

Minimnya infrastruktur pendukung

Selain ancaman dari bus hantu, jalannya pun cukup mendukung terjadinya kecelakaan. Sesaat setelah matahari terbenam, Jalan Jamin Ginting seketika berubah menjadi wahana rumah hantu. Penerangan jalan di sana sangat minim bahkan sama sekali tidak ada di beberapa titik. Otomatis hanya bisa bergantung pada lampu kendaraan pribadi yang akan kalah terang ketika melawan lampu sorot jauh dari bus dan truk besar yang membutakan mata sesaat. 

Marka jalan yang sudah pudar bahkan tidak ada sama sekali memperburuk keadaan. Hampir tidak terlihat juga deretan mata kucing yang biasa menghiasi besi pembatas jalan. Pengendara jadi tidak bisa melihat kemana jalan mengarah. Salah belok sedikit bisa langsung meluncur terjun ke jurang. Sungguh sangat berbahaya.

Saya sendiri pernah hampir terkecoh. Saat itu kondisi sedang hujan dan gelap gulita. Tidak ada lampu jalan ataupun lampu dari kendaraan lain. Jarak pandang yang sangat minim membuat saya tidak bisa melihat kemana jalan di depan mengarah.

Parahnya lagi, saya tidak bisa membedakan mana jalur saya dan mana jalur arah sebaliknya. Saat itu saya tidak sadar akan memasuki tikungan jepit rambut. Kalau bukan karena diberitahu kawan yang saya bonceng, sepertinya motor akan terus mengarah lurus dan jatuh ke jurang. 

Jalan Jamin Ginting menguji ketebalan iman pengendara

Jalan Jamin Ginting di Kabupaten Karo memang benar-benar diluar nalar. Tidak hanya menguji skill, melainkan juga menguji ketebalan iman dan kekhusyukan doa. Saya menarik kembali keluhan mengenai Kota Medan. Karena dibandingkan Jamin Ginting, jalanan kota itu jadi tampak lebih “manusiawi”.

Bagi kalian yang merasa jago nyetir, cobalah sekali-kali jajal rute ini saat malam minggu. Kalau berhasil pulang tanpa lecet dan tanpa misuh-misuh, selamat! Kalian secara sah lulus dari ujian kehidupan yang sesungguhnya.

Penulis: Arief Rahman Nur Fadhilah
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Pengalaman Saya Berkunjung ke Medan Nggak Sesuai dengan Ekspektasi, Benar-benar Bikin Kaget!

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 22 November 2025 oleh

Tags: Jalan Jamin Gintingjalan medankaroKota Medanlalu lintas medanMedansumatera utarasumatra utara
Arief Rahman Nur Fadhilah

Arief Rahman Nur Fadhilah

Sedang menempuh S2 Psikologi Unair sembari merantau di Medan. Penikmat sunyi yang diam-diam takut ditinggal sendiri

ArtikelTerkait

3 Salah Paham terkait Sumatra Utara yang Perlu Diluruskan Terminal Mojok

3 Salah Paham terkait Sumatra Utara yang Perlu Diluruskan

30 Agustus 2022
5 Makanan khas Medan yang Wajib Dicicipi selain Bika Ambon dan Nasi Kentut

GTA Lokal Real Life: Situasi Jalanan Kota Medan Begitu Kacau, Sabar Dikit Kenapa sih?

6 September 2023
Lampu Pocong Medan Itu Nggak Nakutin Warga, yang Nakutin Itu Anggaran dan Kegagalannya

Lampu Pocong Medan Itu Nggak Nakutin Warga, yang Nakutin Itu Anggaran dan Kegagalannya

26 Mei 2023
Pulau Asu, Pulau Terluar Indonesia yang Tak Seburuk Namanya

Pulau Asu, Pulau Terluar Indonesia yang Tak Seburuk Namanya

6 Juni 2023
Lehedalo Nifange: Rendang Daun Talas dari Nias, Cocok untuk Vegetarian

Lehedalo Nifange: Rendang Daun Talas dari Nias, Cocok untuk Vegetarian

1 Juni 2023
bukit gundaling medan perpisahan mitos mojok

Cerita Pedih di Balik Mitos Bukit Gundaling

1 Maret 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Tulungagung Perlu Banyak Belajar dari Pacitan agar Wisata Pantainya Tidak Makin Tertinggal Mojok.co

Tulungagung Perlu Banyak Belajar dari Pacitan agar Wisata Pantainya Tidak Makin Tertinggal

22 April 2026
Potret Mahasiswa Kuliah Sekaligus Bekerja di Banten: Tampak Keren, tapi Aslinya Menderita karena Digaji Tak Layak Mojok.co

Potret Mahasiswa Kuliah Sekaligus Kerja di Banten: Tampak Keren, tapi Aslinya Menderita karena Digaji Tak Layak

20 April 2026
4 Hal Menjengkelkan yang Saya Alami Saat Kuliah di UPN Veteran Jakarta Kampus Pondok Labu

Kuliah di Jakarta: Sebuah Anomali di Tengah Pemujaan Berlebihan terhadap Jogja dan Malang

26 April 2026
5 Makanan Khas Semarang yang Nikmat tapi Tersembunyi (Wikimedia Commons)

5 Makanan Khas Semarang yang Nikmat tapi Tersembunyi, Wajib Kamu Coba Saat Berwisata Supaya Lebih Mengenal Sejarah Panjang Kuliner Nikmat Ini

21 April 2026
Nelangsanya Jadi Warga Jawa Timur, Belum Genap 6 Bulan, Sudah Banyak Pemimpinnya Tertangkap KPK

Nelangsanya Jadi Warga Jawa Timur, Belum Genap 6 Bulan, Sudah Banyak Pemimpinnya Tertangkap KPK

23 April 2026
5 Kuliner Terbaik Demak yang Wajib Dicicipi Setidaknya Sekali Seumur Hidup Mojok.co

5 Kuliner Terbaik Demak yang Wajib Dicicipi Setidaknya Sekali Seumur Hidup

23 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Sweeping Daycare di Kota Yogyakarta, Langkah Emergency yang Harus Dilakukan agar Kasus Serupa Little Aresha Tak Terulang
  • Keresahan Ibu-Ibu Usai Terbongkarnya Kasus Daycare Little Aresha: Gaji Ortu Semungil itu Harus Berhadapan dengan Absennya Negara dan Sesama WNI Jahat
  • Pasar Wiguna Sukaria Edisi 102 Padati Vrata Hotel Kalasan, Usung Semangat “Wellness” dan Produk Lokal
  • Jakarta Tak Cocok bagi Fresh Graduate yang Cuma “Pengen Cari Pengalaman”: Bisa Bikin Finansial dan Mental Layu Sebelum Berkembang
  • Ibu Menitipkan Anak di Daycare Bukan Tak Tanggung Jawab, Mengusahakan “Aman” Malah Diganjar Trauma Kekerasan
  • Hajatan Itu Nggak Penting: Tabungan 50 Juta Melayang Cuma Buat Ngasih Makan Ego Keluarga, Setelah Nikah Hidup Makin Susah

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.