Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Lampu Pocong Medan Itu Nggak Nakutin Warga, yang Nakutin Itu Anggaran dan Kegagalannya

Muhammad Adib oleh Muhammad Adib
26 Mei 2023
A A
Lampu Pocong Medan Itu Nggak Nakutin Warga, yang Nakutin Itu Anggaran dan Kegagalannya

Lampu Pocong Medan Itu Nggak Nakutin Warga, yang Nakutin Itu Anggaran dan Kegagalannya (Unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Cocok kali memang warga Medan memberi julukan lampu pocong. Lampu penerangan jalan yang berwarna putih tinggi ini memang layaknya pocong yang sedang berdiri. Bagian bawah dan atas tiang lampunya langsing, tapi bagian tengahnya gembrot, persis kayak pocong yang berdiri sambil melipat kedua tangannya.

Saking uniknya, lampu yang mengandung banyak kejanggalan ini sukses bikin zonk Pemko Medan. Mulai dari sistem pengawasannya yang hancur lebur, pengerjaan proyek yang kilat dan asal tebas, spesifikasi bahan yang amburadul, hingga jarak antara lampu satu dengan lampu lainnya yang sangat berdekatan mirip kayak dua sejoli yang sedang kasmaran. Entahlah, saya rasa masih banyak lagi kejanggalan lain yang belum terungkap. Untung aja netizen di Medan ni cerdas dan keras.

Semuanya berawal dari proyek Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Kota Medan untuk 1.700 lampu jalan pada bulan September tahun 2022 lalu. Ada 8 paket penataan lanskap untuk 8 ruas jalan di Medan mulai dari Jalan Gatot Subroto, Jalan Sudirman, Jalan Imam Bonjol, Jalan Putri Hijau, Jalan Brigjen Katamso, Jalan Ir. H. Juanda, Jalan Suprapto, dan Jalan Diponegoro.

Total anggaran proyek lampu pocong Medan ini menelan ongkos Rp25,7 miliar. Pemenang tender berjumlah 6 perusahaan, yaitu CV. Asram, CV. Sentra Niaga Mandiri, CV. Sinar Sukses Sempurna, CV. Biro Teknik Bangunan, PT. Triva Mangun Mandiri, dan CV. Eka Difa Putera.

Akan tetapi yang membagongkan, dari 6 pemenang tender, 3 perusahaan di antaranya nggak punya kantor. Yang ada hanyalah alamat rumah warga, sementara yang satunya lagi sekadar pinjam alamat. Waduh, kena prank mode Ayu Ting Ting nih Pemko Medan: “Alamat Palsu”! Masa nggak ada pegawai Pemko Medan yang turun ke lapangan untuk memverifikasi data profil para kontraktor? Dari sini aja udah kacau.

Ditambah lagi PLN yang nggak tahu apa-apa soal pemasangan 1.700 lampu pocong Medan ini. Nggak ada koordinasi dari Pemko atau dinas terkait dengan PLN. Asal gas aja bah.

Proyek hancur lebur, uang rakyat sekalian rakyatnya ikut babak belur

Gimana nggak babak belur coba? Pemimpin di Medan ni udah hattrick korupsi mulai dari Pak Abdillah, Rahudman, hingga Dzulmi Eldin. Harusnya Pemko Medan makin bijak dan berhati-hati. Ekonomi rakyat saat ini dalam kondisi tercabik, tercekik, dan malahan hampir modar. Seharusnya Pemko bisa mendahulukan program yang lebih urgent seperti ekonomi, pendidikan, atau kesehatan warga.

Proyek lampu pocong Medan ini kan sebenarnya nggak penting-penting amat. Kenapa saya bilang begitu? Karena ruas jalan yang dijadikan proyek lampu pocong tersebut statusnya jalan utama kota, bahkan jalan nasional yang kondisi jalannya terang benderang. Kalau mau main cantik, jalan-jalan di pinggiran Kota Medan yang masih gelap dulu diterangi, bukan jalan kota yang memang udah silau dari sononya.

Baca Juga:

Sebagai Orang Surabaya, Saya Pikir Jalanan Medan Sudah Paling Barbar, Ternyata Jalan Jamin Ginting Jalur Karo Lebih Tidak Beradab

Pengalaman Saya Berkunjung ke Medan Nggak Sesuai dengan Ekspektasi, Benar-benar Bikin Kaget!

Saya sendiri setiap hari melintasi salah satu ruas jalan tersebut. Saya saja sudah nggak sreg sejak proyek tersebut dimulai. Lampu jalannya lebih banyak mengarah ke trotoar sementara ada beberapa trotoar yang rusak dan bahkan ada jalan yang nggak ada trotoarnya sama sekali seperti Jalan Ir. H. Juanda. Beberapa lampu pocong di Medan ini malah mengarah ke parit. Belum lagi kondisi lampu yang kadang mati segan hidup tak mau. Udahlah proyeknya hancur lebur, uang rakyat yang dipakai buat proyek sama rakyatnya sekalian ikut babak belur.

Kinerja Pemko Medan terlihat amatiran

Mohon maaf sebelumnya, bukannya saya men-downgrade pemko sendiri, namun saya hanya ingin menyampaikan kritik sebagai rakyat jelata yang gajinya masih di bawah UMK. Pertanyaannya, kenapa setelah lampu pocong ini viral, Pemko Medan baru bereaksi? Lha, sebelumnya ke mana aja? Masa Pemko Medan nggak mengecek gimana asal-asalannya pemasangan awal lampu pocong ini?

Nggak ada quality control baik dari Pemko, kontraktor, atau pihak terkait. Seolah-olah proyek ini hanya proyek ecek-ecek yang berasal dari uang pribadi kelen. Ingat wahai pemerintah, semuanya dari keringat, darah, dan air mata rakyat, dari pajak yang kami bayarkan dengan susah payah.

Cobalah pikir, gimana mungkin proyek yang masih berlangsung setengah jalan tapi udah dibayarkan 90%? Dari total Rp25,7 miliar udah dibayarkan Rp21 miliar, lho. Benar-benar di luar nalar. Siapa la yang buat kontrak kerjanya ni?

Segera Taubatan Nasuha

Sekarang Pemko Medan sedang menuntut ganti rugi pada pihak kontraktor. Syukur kontraktornya mau bayar, lha kalau nggak? Apes tenan nasib rakyat.

Saya punya beberapa saran untuk Pemko Medan. Pertama, segera taubatan nasuha sekalian mandi taubat. Semoga unsur kelalaian di dalamnya nggak mengantarkan pejabatnya kesulitan menghadapi malaikat munkar dan nakir. Kedua, segera ganti rugi entah dari uang kontraktor atau uang pribadi pejabat Pemko Medan terserahlah. Konversikan dengan proyek yang lebih bermanfaat langsung untuk masyarakat seperti menggelar pasar murah di setiap kantor kelurahan atau subsidi BBM dengan harga khusus, seperti yang dilakukan Pemko Medan saat pandemi kemarin. Ketiga, perbanyak berdoa semoga KPK nggak sampai turun tangan. Terakhir, semoga di kemudian hari saya nggak mendengar kota Medan meraih rekor “quattrick” korupsi.

Penulis: Muhammad Adib
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA 5 Aturan Berbicara jika Kamu Berada di Kota Medan.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 29 Mei 2023 oleh

Tags: Korupsilampu pocongMedan
Muhammad Adib

Muhammad Adib

Profesional yang mendedikasikan waktu luangnya untuk dunia kata. Percaya bahwa kemajuan bangsa dimulai dari perbaikan literas

ArtikelTerkait

Kampus Bermasalah Kalau (Masih) Ada Budaya Mahasiswa Memberi Makanan ke Dosen Penguji

Kampus Bermasalah Kalau (Masih) Ada Budaya Mahasiswa Memberi Makanan ke Dosen Penguji

29 Desember 2023
Nasib Pasar Cinde Palembang, Pusat Perdagangan Selama Puluhan Tahun yang Berakhir Mengenaskan Mojok.co

Nasib Pasar Cinde Palembang, Pusat Perdagangan Selama Puluhan Tahun yang Berakhir Mengenaskan

26 Maret 2024
Ormas Tukang Palak Hambat Investasi, Indonesia Rugi 135 Triliun (Pexels)

Ormas Oportunistik Tukang Palak Adalah Rayap Bagi Iklim Investasi Rugikan Indonesia Sampai 145 Triliun

11 Maret 2025
KPK penilapan duit bansos koruptor jaksa pinangki cinta laura pejabat boros buang-buang anggaran tersangka korupsi korupsi tidak bisa dibenarkan mojok

Pedagang Keliling dan Kenapa Kita Harus Membenci Para Koruptor

30 Juli 2021
Apa Efek Politik Dinasti dan Korupsi? Tentu Saja Warga yang Tak Bahagia. Bukan Begitu, Banten?

Bagaimana Warga Banten Bisa Bahagia kalau Kotanya Dicengkeram Korupsi dan Politik Dinasti?

6 Februari 2024
Derita Tinggal Jalan Sempit Dekat Sekolah Elit di Medan: Pergi Sekolah dan Kerja Harus Pagi Buta biar Nggak Rebutan Jalan!

Derita Tinggal Jalan Sempit Dekat Sekolah Elit di Medan: Pergi Sekolah dan Kerja Harus Pagi Buta biar Nggak Rebutan Jalan!

24 Agustus 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mahasiswa Jurusan Sosiologi Nggak Perlu Iri dengan Jurusan Filsafat yang Kerennya Hanya Sesaat Mojok.co

Meskipun Prodi Sosiologi Tidak Relevan dengan Dunia Industri, Menghapusnya Hanya Akan Menghambat Kemajuan Bangsa Ini

30 April 2026
Dibanding Surabaya dan Semarang, Jogja Masih Jadi Pilihan Terbaik untuk Kuliah Mojok.co

Dibanding Surabaya dan Semarang, Jogja Masih Jadi Pilihan Terbaik untuk Kuliah

28 April 2026
Derita Jadi Lulusan Pesantren di Kampung: Ekspektasi Warga Ketinggian, Dikira Serbabisa Soal Agama Mojok.co

Derita Jadi Lulusan Pesantren di Kampung: Ekspektasi Warga Ketinggian, Dikira Serbabisa Soal Agama

29 April 2026
Tanda-tanda Rumah Jamet Madura, Pasti Bising dan Jadi Titik Kumpul Satria FU

Tanda-tanda Rumah Jamet Madura, Pasti Bising dan Jadi Titik Kumpul Satria FU

27 April 2026
Hal-Hal Aneh Bagi Orang Lamongan Ketika Mengunjungi Jakarta (Unsplash)

Hal-Hal Aneh Bagi Orang Lamongan Ketika Mengunjungi Jakarta

30 April 2026
Kebumen Itu Cantiknya Keterlaluan, tapi Nggak Bisa Jual Diri (Unsplash)

Kebumen, Kabupaten yang Cantiknya Keterlaluan tapi Nggak Bisa Menjual Dirinya Sendiri

27 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Solusi atas Jeritan Hati Para Pelaku UMKM yang Menderita karena Kenaikan Ekstrem Harga Plastik
  • Nikah di Desa Meresahkan, Perkara Undangan Cetak atau Digital Saja Jadi Masalah tapi Kemudian Sadar Nggak Semua Orang Melek Teknologi
  • Latihan Lawan Pria dan Mentalitas Tak Kenal Puas Jadi Resep Rahasia Tim Putri Ubaya Dominasi Campus League 2026 Regional Surabaya
  • Kos Dekat Kampus: Akal-akalan Mahasiswa “Malas” agar Tak Perlu Bangun Pagi dan Bisa Berangkat Mepet
  • Lulusan S2 di Jepang, Pilih Kerja sebagai Koki di Australia daripada Jadi Dosen di Indonesia karena Terlalu Senioritas
  • Basket Campus League 2026: Jadi Pembuktian Kesolidan Tim Timur dan Label Ubaya sebagai “Raja Basket Jawa Timur”

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.