Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Pantai Watu Bale, Tempat Wisata Kebumen yang Cukup Sekali Saja Dikunjungi 

Alifia Putri Nur Rochmah oleh Alifia Putri Nur Rochmah
5 Februari 2026
A A
Pantai Watu Bale, Tempat Wisata Kebumen yang Cukup Sekali Saja Dikunjungi Mojok.co

Pantai Watu Bale, Tempat Wisata Kebumen yang Cukup Sekali Saja Dikunjungi  (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Liburan kemarin saya baru saja ke Pantai Watu Bale di Kebumen. Awalnya saya excited banget. Sebab, di TikTok, pantai ini punya air yang biru, pemandangannya eksotis, dan punya ayunan yang Instagram-able banget. “Wah, ini mah surga tersembunyi!” pikir saya waktu itu. Sayangnya, ekspektasi dan realita itu seperti jarak antara rumah saya dan pantai ini, jauh banget.

Jadi begini ceritanya. Pantai Watu Bale ini letaknya di Desa Pasir, Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen. Dinamai Watu Bale karena di sana memang ada watu atau batu karang besar yang bentuknya menyerupai bale atau pendopo. 

ADVERTISEMENT

Batu ini jadi ikon utama pantai. Batu karang ini berdiri kokoh di tengah laut atau dekat pantai, dan sering difoto wisatawan sebagai spot andalan. Legenda lokal bahkan menyebutnya sebagai singgasana Raden Mas Panduruan, tokoh mistis yang istirahat di situ waktu perjalanan jauh.

Pantainya sendiri punya pasir berwarna hitam kecoklatan yang kata video-video TikTok lembut banget. Tebing karangnya tampak makin indah ketika disapu ombak Samudra Hindia yang ganas. Kedengarannya tempat wisata Kebumen yang sempurna untuk healing kan? Tapi, tunggu dulu.

#1 Perjalanan ke Pantai Watu Bale Kebumen seperti uji nyali

Melansir berbagai sumber, perjalanan ke pantai ini katanya cuma memakan waktu 45 menit sampai 1 jam. Tapi, itu kalau kamu pakai mobil terbang kali ya. Soalnya jalanan menuju Pantai Watu Bale itu benar-benar menguji mental dan skill berkendara kalian. Jalan nanjak banget, berkelok-kelok seperti usus, dan di kanan kiri jurang yang bikin jantung kamu loncat-loncat. Saya nggak lebay, ini serius. Kalau kamu nggak hati-hati atau rem kendaraan kamu bermasalah dikit saja, siap-siap deh nyemplung ke jurang. Selamat datang di rollercoaster gratisan versi Kebumen!

Selama perjalanan, saya memang disuguhkan pemandangan perbukitan karst yang indah. Tapi, susah untuk menikmati pemandangan kalau tangan dan kaki kamu udah kram dan mata melotot fokus supaya nggak nyasar atau malah nyemplung. 

Baca juga 7 Kebiasaan Orang Kebumen yang Terlihat Aneh bagi Pendatang, tapi Normal bagi Warga Lokal.

#2 Tiket masuk yang tiba–tiba melonjak

Nah, sampai di lokasi, saya langsung disambut sama loket tiket masuk. Awalnya saya santai aja, soalnya baca-baca di internet harga tiketnya cuma Rp5.000-Rp10.000 per orang. Murah kan? Tapi, pas saya sampai sana buat masuk berdua aja saya kena charge Rp27.000!

Baca Juga:

Kebumen yang Dahulu Bukanlah yang Sekarang, Kini Diam-Diam “Naik Kelas” Jadi Makin Diperhitungkan

6 Alasan Kebumen Lebih Menarik daripada yang Terlihat di Brosur dan Dibayangkan Banyak Orang

Saya sampai mikir, “Eh, ini inflasi atau gimana sih?” Di artikel-artikel yang saya baca, harga tiket masuk maksimal Rp10.000 per orang, parkir motor Rp3.000, mobil Rp5.000. Tapi, entah kenapa waktu saya kesana jadi mahal gitu. Mungkin lagi high season kali ya atau mungkin karena hari libur? Yang jelas, budget saya yang tadinya sudah diperhitungkan matang-matang langsung berantakan.

#3 Pantai Watu Bale bagus, tapi …

Saya akui, Pantai Watu Bale itu memang cantik. Batu karang besarnya yang ikonik bener-bener unik, pasir hitamnya lembut, dan spot-spot fotonya lumayan kece. Ada replika kapal Titanic yang bikin kamu bisa gaya ala Jack dan Rose, ada jembatan segitiga yang menjorok ke laut bikin jantung deg-degan, dan rumah pohon yang lumayan aesthetic dengan background Samudera Hindia. Gazebo-gazebo juga sudah disediakan, musala ada, toilet juga tersedia. Fasilitasnya okelah.

Akan tetapi, masalahnya bukan cuma di pantainya aja. Masalahnya ada di banyak hal.

#4 Sampah berserakan di mana-mana

Ini nih yang bikin saya mikir dua kali buat balik lagi ke sini: sampah di mana-mana. Jadi gini, pantainya sendiri masih lumayan bersih. Tapi, begitu kamu jalan-jalan ke area sekitarnya, di pinggir jalan, di area parkir, di spot-spot lain, sampah bertebaran. Plastik-plastik kemasan makanan, botol minuman, sampah organik, dedaunan yang gugur, pokoknya lengkap deh.

Saya paham, mungkin ini masalah kesadaran wisatawan yang masih rendah. Atau mungkin tempat sampahnya kurang. Mungkin juga pengelolaannya yang belum maksimal. Tapi tetap saja, ini bikin pemandangan yang seharusnya indah jadi rusak. Kamu mau foto-foto cantik, tapi background-nya sampah berserakan. Bagaimana mau hasilnya bagus coba?

Yang lebih bikin sedih lagi, ini pantai kan katanya masih tergolong baru dikembangkan sebagai destinasi wisata sejak sekitar 2015-2016. Harusnya masih fresh dan bersih dong. Tapi, kenyataannya sudah mulai berantakan. Saya takutnya nanti dalam beberapa tahun ke depan, Pantai Watu Bale bakal jadi seperti tempat wisata lain. Wisata yang terlalu mainstream dan berakhir kumuh gara-gara minimnya kesadaran menjaga kebersihan.

Baca juga 5 Stereotip Kebumen yang Sebenarnya Nggak Masuk Akal, tapi Terlanjur Dipercaya Banyak Orang.

#5 Ombaknya berbahaya

Iya, Pantai Watu Bale ini punya ombak yang ganas dan berbahaya banget. Ini bukan pantai yang ramah buat berenang atau bermain air. Ombak Samudra Hindia yang gede banget langsung menghantam batu karang, bikin area pantai ini cukup berbahaya untuk aktivitas air.

Meskipun sesekali ombaknya tenang, tapi tetep aja ada batasan dan tanda peringatan buat pengunjung supaya nggak berenang terlalu jauh. Itu mengapa, kalau kamu berwisata dengan anak-anak di tempat ini, pemantaunya harus ekstra. Jadi, kalau kamu ke pantai pengen berenang dan main air sepuasnya, lupain deh Pantai Watu Bale. Di sini cuma bisa liat ombak dari jauh sambil deg-degan takut keseret.

#6 Keamanan yang kurang memadai

Nah ini yang paling bikin saya khawatir. Pagar pengaman di beberapa spot foto, terutama yang dekat tebing, itu lubangnya terlalu besar. Kalau kamu bawa anak kecil, butuh pengawasan karena mereka bisa dengan mudahnya nyelip lewat pagar itu. Tebing-tebingnya curam dan langsung menghadap laut, jadi kalau sampai ada yang jatuh… ya nggak kebayang deh.

Saya lihat beberapa pengunjung tetap nekat banget foto di pinggir tebing tanpa pengaman yang proper. Memang bagus sih buat foto, tapi kalau keselamatan dipertaruhkan gitu, worth it nggak sih? Buat saya sih nggak.

Apakah Pantai Watu Bale itu indah? Iya, indah banget. Apakah worth it untuk dikunjungi? Hmm, tergantung kamu sih. Kalau kamu suka tantangan nyetir di jalanan ekstrim, nggak masalah sama harga tiket yang tiba-tiba naik entah kenapa, rela nggak bisa berenang, oke-oke aja sama fasilitas terbatas, dan bisa merem mata kalau melihat sampah berserakan, ya silakan saja. Tapi buat saya pribadi? Cukup sekali saja deh.

Penulis: Alifia Putri Nur Rochmah
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Lawang Sewu, Destinasi Wisata Semarang yang Nggak Perlu Diulang Dua Kali.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 5 Februari 2026 oleh

Tags: Kebumenpantai kebumenPantai Watu BalePantai Watu Bale Kebumenwisata kebumenwisatawan
Alifia Putri Nur Rochmah

Alifia Putri Nur Rochmah

Penulis kelahiran Kebumen. Anak Ekonomi Pembangunan UNS yang lebih tertarik pada cerita di balik data. Berpengalaman sebagai content writer dan content creator, gemar berkelana ke tempat-tempat baru, dan menulis tentang apa saja dari yang serius sampai yang receh.

ArtikelTerkait

Derita Rumah Dekat Taman Sari Jogja: Jadi Tontonan Wisatawan hingga Sering Mengalah demi Pariwisata Mojok.co

Rumah Dekat Taman Sari Jogja Itu Menderita, Jadi Tontonan Turis hingga Sering Mengalah demi Pariwisata

23 Juni 2024
Pertigaan Sruni Kebumen Adalah Anomali, Nggak Bikin Pengendara Emosi

Pertigaan Sruni Kebumen Adalah Anomali, Nggak Bikin Pengendara Emosi

23 Agustus 2024
5 Jebakan yang Perlu Dihindari Wisatawan Saat Liburan di Jogja

5 Jebakan yang Perlu Dihindari Wisatawan Saat Liburan di Jogja

14 Juni 2024
Kapal Mendoan Kebumen: Niat Baik Menata Pedagang, tapi Berakhir Bikin Pedagang Gulung Tikar dan Meradang

Kapal Mendoan Kebumen: Niat Baik Menata Pedagang, tapi Berakhir Bikin Pedagang Gulung Tikar dan Meradang

12 Agustus 2025
Sego Penggel, Onigirinya Orang Kebumen yang Seharusnya Bisa Lebih Dikenal

Sego Penggel, Onigirinya Orang Kebumen yang Seharusnya Bisa Lebih Dikenal

24 September 2025
5 Hal yang Wajib Diketahui sebelum Liburan ke Malioboro Jogja Mojok.co

5 Hal yang Perlu Diketahui Wisatawan sebelum Liburan ke Malioboro Jogja

12 Desember 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

4 Alasan yang Membuat Stasiun Purwosari Lebih Unggul daripada Stasiun Solo Balapan di Mata Saya Mojok.co

4 Alasan yang Membuat Stasiun Purwosari Lebih Unggul Dibanding Stasiun Solo Balapan di Mata Saya

22 Juni 2026
TransJatim Dibenci, tapi Ia Penyelamat Mahasiswa Surabaya (Wikimedia Commons)

Ugal-ugalan Sopir TransJatim Menyelamatkan Masa Depan Mahasiswa Mojokerto yang Kuliah di Surabaya

22 Juni 2026
Menelusuri Dosa-Dosa Orde Baru pada Alam Indonesia Lewat Buku “32 Tahun Menjarah Alam” Mojok.co

Menelusuri Dosa-Dosa Orde Baru pada Alam Indonesia Lewat Buku 32 Tahun Menjarah Alam

25 Juni 2026
Sebagai Warga Jember, Saya Sudah (Amat) Muak dengan Warna Pink!

Sebagai Warga Jember, Saya Sudah (Amat) Muak dengan Warna Pink!

24 Juni 2026
Drama Tumbler di XXI: Ketika Membawa Tumbler Dianggap Tindakan Kriminal yang Mengancam Ekonomi Bisnis Bioskop  

Beli Kopi Pakai Tumbler Memang Ramah Lingkungan, tapi Plis, Dicuci Dulu, Jangan Minta Baristanya Nyuci Tumbler Kalian!

22 Juni 2026
Orang Jombang Malas Liburan ke Wonosalam, Lebih Memilih Plesir ke Malang Mojok

Orang Jombang Malas Liburan ke Wonosalam, Lebih Memilih Plesir ke Malang

20 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.