Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Katanya Turis Indonesia Malu-maluin, Apa Benar Gitu?

Siti Nur Widayati oleh Siti Nur Widayati
17 Desember 2020
A A
Apa Benar Turis Indonesia Malu-Maluin Terminal Mojok
Share on FacebookShare on Twitter

Dua minggu yang lalu, dalam perjalanan dinas ke luar kota, salah seorang teman saya menceritakan pengalamannya liburan ala backpacker ke Jepang. Yang menggelitik jiwa nasionalisme saya kala itu adalah saat dia mengatakan malu mengaku sebagai orang Indonesia. Bahkan dia sengaja akting ngobrol menggunakan bahasa Inggris supaya tidak dicap sebagai orang Indonesia. Hahaha. Memangnya kenapa sih dengan turis Indonesia di sana?

“Pokoknya malu-maluin deh!” kata teman saya sambil nyengir. Saya berusaha meresapi kalimatnya. Malu? Ini bagus sesuai dengan anjuran Rasulullah. Tapi kalau sudah malu kuadrat plus akhiran -in, artinya berubah seratus delapan puluh lima derajat.

ADVERTISEMENT

Oke, siapa sih yang nggak kenal Jepang? Negerinya anime dan manga. Wibu mana nih suaranya? Ups, kok jadi ngelantur ya…

Saya yakin nggak ada orang yang nggak kenal Jepang. Bahkan kakek saya yang pernah merasakan era penjajahan Jepang juga mengatakan betapa kuat budaya disiplin dan kerja keras mereka. Negara yang masyarakatnya nggak bisa berbahasa Inggris itu juga terkenal sangat menghargai waktu. Sampai di sini pasti sudah paham kan kenapa teman saya menanggalkan wajah orang Indonesia di sana? Beda budaya, Lur…

Pertama, saat naik Shinkansen atau kereta cepat di Jepang, dia mendengar bisik-bisik dua gadis Indonesia di seberang tempat duduknya. Padahal, ada aturan yang menyebutkan bahwa penumpang dilarang berbicara atau menelepon saat berada di dalam kereta. Bahkan mendengarkan musik dengan headset pun nggak boleh sampai didengar oleh orang yang duduk di sebelahnya lho. Takutnya suara itu akan mengganggu orang lain dalam kereta.

Kemudian, teman saya juga melihat dua gadis Indonesia (yang berbeda dari dua gadis sebelumnya) berfoto dengan latar belakang Shinkansen. Akibatnya, kereta dengan kecepatan 300 km/jam itu terlambat berangkat.

Setelah itu, dia melihat lagi warga +62 lainnya menggunakan eskalator yang khusus diperuntukkan bagi manula dan penyandang disabilitas. Kata teman saya, warga +62 itu malah marah-marah lantaran ada seorang kakek yang menegur dengan cara menyorongkan tongkatnya ke arah mereka. Duh!

Jadi, wajar saja ya kalau teman saya memilih menyembunyikan jiwa Indonesianya. Saya ingat dia tertawa kencang saat berkata bahwa dua gadis Indonesia di kereta mengira teman saya ini berasal dari Filipina. Dia itu contoh orang-orang langka yang benar-benar mengingat, menghayati, dan menerapkan dengan sukses peribahasa: di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.

Baca Juga:

4 Kuliner Khas Tulungagung yang Disukai Warlok, tapi Kurang Cocok di Lidah Pendatang

4 Soto Khas Semarang yang Wajib Dicicipi Wisatawan Minimal Sekali Seumur Hidup

Benar sih kita harus bisa menyesuaikan diri di mana pun berada. Tapi yang namanya kebiasaan dan watak, apakah bisa hilang dalam sekejap? Nggak kan? Wong kita bukan pemain watak kok.

Sejak di dalam kandungan, tanpa sengaja mayoritas dari kita telah dididik dengan budaya orang asli Indonesia. Semakin bertambah usia, semakin matang pula proses budayanisasi kita sebagai warga Indonesia. Dan jreng jreng… Bukan sulap bukan sihir, lahirlah kita, orang Timur yang menjunjung tinggi kebebasan alias sak karepe dewe. Katanya, aturan dibentuk hanya untuk dilanggar. Hmmm…

Nah kalau soal dua gadis Indonesia yang berisik saat naik Shinkansen, agak wajar nggak sih? Hehehe. Sepertinya nggak ada cewek-cewek yang bisa diam kalau sudah menemukan teman sejenisnya, kecuali para introvert yang memang irit berbicara.

Mungkin mereka sudah berniat, sebelum bertolak dari Indonesia, akan mengunci rapat mulut mereka selama berada di dalam kereta. Namun yang namanya kebiasaan, sekuat apa pun kita mencoba, pasti gagal di ronde awal. Bahkan kata Om James Clear, perubahan kecil pun harus dipupuk minimal satu tahun agar menjadi sebuah kebiasaan.

Selain itu, suasana di dalam kereta pun memang mendukung untuk mengadakan “rapat” dadakan. Apa wajar kalau kita mengungkapkan ketakjuban kita akan budaya dan keindahan alam Jepang yang ada di depan mata kita hanya melalui WhatsApp? Kalau disuruh diam, momentumnya sudah basi dong saat keluar dari kereta.

Bagi orang Jepang sendiri, jelas wajar kalau mereka sudah nggak excited dengan perjalanan naik Shinkansen. Blas nggak ada yang menarik lagi dalam perjalanan mereka. Mereka sudah menyaksikan semua seumur hidup mereka. Hingga akhirnya sibuk dengan pikiran mereka sendiri, sibuk memikirkan rencana kegiatan mereka pada hari itu. Hampir sama seperti kita yang berada di negeri sendiri dalam menjalani rutinitas, bukan berwisata.

Selain itu, sudah menjadi kesepakatan tak tertulis bahwa ketika melakukan perjalanan wisata, pasti kita tak ingin luput mengabadikan setiap momennya. Apalagi wisata ke luar negeri yang rata-rata hanya memakan waktu satu minggu. Sudah banyak uang yang keluar demi liburan, apa rela pulang dengan Feed Instagram yang kosong?

Jadi, biarkan saja dikata ndeso, kampungan, asal bisa berfoto bersama Shinkansen. Lha wong memang benar kok kita nggak pernah lihat kereta apik supercepat seperti itu. Sayang sekali kan kalau liburan ke Jepang, tapi gagal berfoto dengan ikon utama mereka hanya gara-gara takut disemprit atau malu? Bodo amat kalau dibilang malu-maluin. Mumpung liburan ke Jepang loh!

Kemarin saya baru membaca artikel tentang keterlambatan Shinkansen akibat ada gerombolan warga +62 yang sedang melakukan swafoto. Akibatnya, kereta mengalami keterlambatan sepuluh menit dari waktu keberangkatan yang sudah terjadwal. Bahkan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Jepang mengeluarkan imbauan agar seluruh wisatawan Indonesia yang sedang liburan hendaknya mengikuti aturan yang berlaku di Jepang

Sepertinya keterlambatan Shinkansen karena menjadi objek foto memang bukan merupakan berita yang langka ya. Alih-alih alasan operasional seperti di negara kita, keterlambatan transportasi publik di Jepang gara-gara hal yang sungguh di luar nalar. Hahaha.

Oke tunggu nanti—entah kapan, pokoknya nanti, kalau negeri kami sudah memiliki copy dari Shinkansen, kami nggak akan membuat kereta kalian terlambat lagi kok. Biarkan saja orang-orang ramai berswafoto, terlambat bukan hal yang aneh di negara kami.

Bagi kakek dan nenek di Jepang, mohon pengertiannya ya. Budaya “membaca” di negeri kami masih rendah, jadi kami nggak melihat peruntukan eskalator tersebut. Setiap hal yang menguntungkan bagi kami, pasti kami akan condong kepadanya. Dan setiap orang yang “mengganggu” kesenangan kami, tentu bakal kami nyinyirin. Tak peduli bahwa kami lah yang melakukan kesalahan. Lah kok keluar jalur?

Nah, untuk para backpacker atau yang pernah menikmati keindahan bunga sakura di alam aslinya di Jepang, kalian masuk tim yang mana? Tim Nam Do San atau Han Ji Pyeong? Ups, salah! Tim menjunjung peribahasa layaknya teman saya atau tim yang mendukung seni bersikap bodo amatnya Mark Manson? Saya yakin pilihan itu tergantung dari prinsip hidup masing-masing orang.

BACA JUGA Yogyakarta yang Istimewa Tengah Putus Asa Ditelanjangi Covid-19.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 17 Desember 2020 oleh

Tags: Liburanwisatawan
Siti Nur Widayati

Siti Nur Widayati

Orang yang mencoba mengganti "sudut pandang"

ArtikelTerkait

4 Soto Khas Semarang yang Wajib Dicicipi Wisatawan Minimal Sekali Seumur Hidup Mojok.co

4 Soto Khas Semarang yang Wajib Dicicipi Wisatawan Minimal Sekali Seumur Hidup

12 Mei 2026
Pantai Watu Bale, Tempat Wisata Kebumen yang Cukup Sekali Saja Dikunjungi Mojok.co

Pantai Watu Bale, Tempat Wisata Kebumen yang Cukup Sekali Saja Dikunjungi 

5 Februari 2026
5 Wisata Malang Raya yang Nggak Semua Wisatawan Bisa Cocok Mojok.co

5 Wisata di Malang Raya yang Nggak Semua Wisatawan Bisa Cocok

24 April 2025
5 Aktivitas Wisata Jogja yang Nggak Semua Wisatawan Bakal Cocok Mojok.co

5 Aktivitas Wisata Jogja yang Nggak Semua Wisatawan Bakal Cocok

14 April 2025
kenapa UMP Jogja rendah titik kemacetan di jogja lockdown rekomendasi cilok di Jogja Sebenarnya Tidak Romantis Jika Kamu Cuma Punya Gaji UMR dawuh dalem sabda pandita ratu tugu jogja monarki mojok

Jogja, Destinasi Wisata ‘Terbaik’ di Masa Pandemi

23 Desember 2020
Jangan Salah Kaprah, Liburan ke Jepang Memang Bebas Visa, tapi Bukan Berarti Kalian Cukup Bawa Paspor Saja Mojok.co

Jangan Salah Kaprah, Liburan ke Jepang Memang Bebas Visa, tapi Bukan Berarti Cukup Bawa Paspor Saja

8 Februari 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Geprek Olive Fried Chicken, Pilihan Ayam Geprek yang Tak Kalah Favorit dari Bu Rum Jogja Mojok.co

Geprek Olive Fried Chicken, Pilihan Ayam Geprek yang Tak Kalah Favorit dari Bu Rum Jogja

29 Juni 2026
5 UMKM Klaten yang Sukses Berdampak dan Menginspirasi Anak Muda

5 UMKM Klaten yang Sukses Berdampak dan Menginspirasi Anak Muda

24 Juni 2026
Gagal Paham dengan Warlok Solo yang Ngebet Kuliah di Luar Kota Demi Kejar Gengsi Mojok.co

Gagal Paham dengan Warlok Solo yang Ngebet Kuliah ke Luar Kota Demi Kejar Gengsi

27 Juni 2026
Pejaten Park: Mall yang Kurang Dilirik Anak Jaksel, padahal Paling Nyaman

Pejaten Park: Mall yang Kurang Dilirik Anak Jaksel, padahal Paling Nyaman

30 Juni 2026
Alasan Saya Gemar Berjalan Kaki di Bandar Lampung kendati Rasanya seperti Uji Nyali

Alasan Saya Gemar Berjalan Kaki di Bandar Lampung kendati Rasanya seperti Uji Nyali

24 Juni 2026
Wahai Haters Masakan Jawa, Manis Itu Bukan Dosa, Lidah Kalian Saja yang Rewel

Wahai Haters Masakan Jawa, Manis Itu Bukan Dosa, Lidah Kalian Saja yang Rewel

1 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.