Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Yogyakarta yang Istimewa Tengah Putus Asa Ditelanjangi Covid-19

Prabu Yudianto oleh Prabu Yudianto
15 Desember 2020
A A
suporter bola bandung dan yogyakarta pilih mana stasiun tugu mojok.co

suporter bola bandung dan yogyakarta pilih mana stasiun tugu mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

“Wisatawan silahkan datang, warga Jogja tetap di rumah saja.” Kira-kira seperti itu tanggapan dari Sekda DIY Kadarmanta Baskara Aji. Ungkapan ini bagaikan julukan Yogyakarta: Istimewa! Tidak hanya istimewa daerahnya, namun istimewa nalar orang-orangnya.

Ungkapan tersebut disampaikan Pak Baskara saat menanggapi gelombang wisatawan yang akan memasuki Jogja saat libur panjang akhir tahun (3/12). Menurut blio, sudah bukan masanya menutup diri dalam menghadapi pandemi yang tak pasti kapan berakhirnya.

ADVERTISEMENT

Mboten salah sih, pak. Jogja memang tidak akan pernah mampu menutup diri. Apa lagi yang bisa diharapkan dari Jogja selain sektor pariwisata. UMP rendah pun tidak serta merta mendatangkan investor, tho?

Tapi, logika Pak Baskara kemarin sangat pincang. Sudah pincang, ra mashok blas. Tapi saya tidak bisa memungkiri, Jogja berada pada situasi serba sulit. Pandemi Covid-19 adalah hantaman keras bagi daerah yang hidup dari pariwisata.

Bukan menakut-nakuti, tapi pandemi nggatheli ini sukses menelanjangi Jogja dari tabir keistimewaanya. Jogja yang dulu gagah dengan mercusuar istimewanya kini seperti pesakitan menanti mati. Jogja telah telanjang, dan kita semua saksinya

Baiklah, kita bedah dulu perkara ungkapan Pak Baskara tadi. Blio menyatakan bahwa sektor kesehatan dan pertumbuhan ekonomi harus bisa berjalan bersama. Lah, kalau sudah tak cocok jangan dipaksakan, Pak! Kedua hal tadi selalu berlawanan. Jika akur, tidak ada ancaman resesi ekonomi dalam skala global.

Pak Baskara juga meminta agar pelaku usaha wisata jangan lengah. Protokol kesehatan harus diutamakan. “Industri pariwisata mengutamakan rasa percaya orang untuk datang ke Yogyakarta,” ujarnya seperti yang dilansir Tempo.co.

Inilah yang saya anggap sebagai nalar pincang. Lha kepercayaan itu tidak tumbuh dari sekadar tempat cuci tangan serta upaya jaga jarak. Jogja telah gagal membangun kepercayaan sejak ditetapkan sebagai zona merah penularan Covid-19.

Baca Juga:

Yang Perlu Kamu Ketahui Tentang Hantavirus: Pertama, Please, Jangan Panik

Kulon Progo, Tempat Terbaik untuk Slow Living di Jogja

Saya tidak bicara skala kecamatan atau kabupaten. Seluruh daerah Jogja telah ditetapkan sebagai zona merah! Tidak ada sisa-sisa hijau di peta pandemi Jogja. Semua merah seperti barisan prajurit lombok abang. Mau membangun kepercayaan dari mana? Lha wong tidak ada ruang aman dari pandemi lagi di Jogja. Mbok sing genah pak.

Makin lanjut, Pak Baskara memandang bahwa peningkatan kasus Covid-19 muncul bukan karena wisatawan yang datang lalu menularkan virus. Sebaliknya, lonjakan kasus Covid-19 dipicu warga Jogja yang bepergian keluar daerah lalu terpapar. “Untuk warga Yogyakarta sebaiknya di Yogyakarta saja,” ujar blio sambil meminta agar pengunjung waspada ketika menerima kunjungan dari luar.

ADVERTISEMENT

Sudah melongonya? Ini adalah puncak logical fallacy dalam penanganan Covid-19. Betapa mulianya para wisatawan sampai dipandang tidak dapat menularkan virus. Dan betapa hinanya warga Jogja yang dianggap sebagai satu-satunya sumber masalah.

Logika ini seperti logika orang tua yang membela anak tetangga. Anak sendiri dibanding-bandingkan terus. Pak, jangan sampai warga Jogja mutung gara-gara pola pendidikan banding membanding ini.

Ealah, kok daerah yang disebut kota pendidikan bisa selucu ini menghadapi Covid-19. Awalnya, saya gemas luar dalam sampai mempertanyakan cara pikir Pemda DIY. Tapi, saya tahan karena memaklumi kondisi Jogja yang selama ini diselimuti tabir keistimewaan.

Jogja tidak hidup dengan kekuatan dari dalam. Ini adalah fakta pahit yang harus ditelan kita semua. Sumber pendapatan utama Jogja adalah dari pendatang. Baik yang berkunjung untuk berwisata, atau bertahan cukup lama karena menempuh pendidikan. Selama ini, Jogja hidup dari dua sektor itu. Pariwisata dan pendidikan adalah alasan banyak dapur warga Jogja tetap mengepul.

Covid-19 menjadi ancaman karena dampak lethal yang diakibatkan. Siapa sih yang tidak gentar melawan objek tak kasat mata yang bisa merenggut nyawa? Bagaimana Covid-19 menyebar? Tentu karena kontak antar manusia. Virus adalah “makhluk” yang tidak punya kemampuan selain mereplikasi diri dan merusak sel sehat. Kontak antar manusia adalah cara utama virus Covid-19.

Inilah yang membuat Jogja kalang kabut menghadapi Covid-19. Sebagai daerah tujuan pariwisata, Jogja selalu haus dengan kunjungan wisatawan. kebutuhan ini menghalangi Jogja untuk menerapkan PSBB. Pelaksanaan protokol kesehatan pun kacau balau karena Jogja hidup dari berkumpulnya manusia. Akibatnya, Jogja merata merahnya. Maksudnya zona merah, bukan bendera partai yang merah itu.

Tapi, tetap saja Jogja terpukul meskipun sudah mencoba luwes menghadapi pandemi. Banyak hotel berhenti operasi. Warung-warung di tempat wisata sepi pengunjung. Penyedia jasa wisata mulai panik dalam mode bertahan. Saya sendiri menyaksikan dampak nyata pandemi. Beberapa kenalan chef yang dulu sibuk memasak dengan seragam putihnya, harus menyerah di hadapan gerobak angkringan. Sisi positifnya, saya bisa mencicipi sate usus ala chef.

Sungguh, Yogyakarta tengah ditelanjangi oleh pandemi. Wajah kota yang berias kota budaya dan bermahkota keistimewaan kini menunjukkan wajah aslinya. Sebuah kota yang kembang kempis bertahan tanpa pendatang. Sebuah kota yang terlalu nyaman dengan potensi pariwisata dan pendidikan, namun dilucuti dari itu semua.

ADVERTISEMENT

Dan pernyataan Pak Baskara saya pandang sebagai upaya putus asa. Putus asa karena harus mempertahankan kepercayaan wisatawan. Namun, usaha itu harus menutupi borok penanganan Covid-19 yang sudah rusak sejak awal. Jogja memang istimewa, karena menjadi kota besar bermodalkan “romantisme”. Jogja juga istimewa, karena suntikan dana keistimewaannya. Tapi, di hadapan Covid-19, Yogyakarta adalah sebuah daerah kecil tanpa potensi berarti.

Seperti cakra manggilingan, kini pertanyaan “KTP mana Bos” berbalik. Dulu, mereka bisa sombong dan merasa superior di tanah tumpah darahnya. Kini, tanah mereka mengemis menanti kedatangan orang dengan KTP luar daerah.

BACA JUGA Upah Layak, Tanah Murah, atau Lapangan Pekerjaan: Mana yang Lebih Worth It bagi Pekerja Jogja? dan artikel Prabu Yudianto lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 15 Desember 2020 oleh

Tags: covid-19Yogyakarta
Prabu Yudianto

Prabu Yudianto

Penulis kelahiran Yogyakarta. Bekerja sebagai manajer marketing. Founder Academy of BUG. Co-Founder Kelas Menulis Bahagia. Fans PSIM dan West Ham United!

ArtikelTerkait

jogja

Ada Apa dengan Jogja?

6 Juli 2019
pedestrian

Sayang, Indonesia Tidak Ramah Pedestrian

5 Juli 2019
Depok Jawa Barat Lebih Terkenal daripada Daerah Bernama Depok Lain karena Hal-hal Ajaibnya Mojok.co

Depok Jawa Barat Lebih Terkenal daripada Daerah Bernama Depok Lain karena Hal-Hal Ajaibnya

28 Januari 2024
Wajah Baru Jalan Mranggen-Ungaran Tiap Menjelang Pemilu, Pengendara Ikut Full Senyum Mojok.co

Wajah Baru Jalan Mranggen-Ungaran Tiap Menjelang Pemilu, Pengendara Ikut Full Senyum

5 Desember 2023
Andai Tempat Pemakaman Itu Pusat Perbelanjaan, Ziarah Kubur Pasti Aman-aman Saja terminal mojok.co

Andai Tempat Pemakaman Itu Pusat Perbelanjaan, Ziarah Kubur Pasti Aman-aman Saja

16 Mei 2021
Jadi Fans JRX yang Percaya Covid-19 Lebih Mudah Daripada Jadi Fans Jokowi terminal mojok

Jadi Fans JRX yang Percaya Covid-19 Lebih Mudah Daripada Jadi Fans Jokowi

28 Juni 2021
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Gubernur Jabar Dedi Mulyadi menyepelekan mahasiswa Administrasi Pemerintahan bukti dia keliru memahami jurusan ini Mojok.co

Gubernur Jabar Dedi Mulyadi menyepelekan mahasiswa Administrasi Pemerintahan bukti dia keliru memahami jurusan ini 

22 Agustus 2026
Kuliah S2 itu cuma lanjutan, kualitas asli seseorang justru terlihat saat kuliah S1 Mojok.co

Kuliah S2 itu cuma lanjutan, kualitas asli seseorang justru terlihat saat kuliah S1

18 Agustus 2026
Setahun merantau di Medan membuat saya bersyukur akhirnya bisa pulang ke Surabaya Mojok.co

Setahun merantau di Medan membuat saya bersyukur akhirnya bisa pulang ke Surabaya

21 Agustus 2026
Stasiun Gubeng Surabaya, stasiun paling membingungkan dan menyebalkan

Stasiun Gubeng Surabaya, stasiun paling membingungkan dan menyebalkan

20 Agustus 2026
Pengalaman pertama kali menginap di hotel kapsul dekat Stasiun Tugu Jogja. Nyaman sih, tapi nggak cocok untuk berlama-lama Mojok.co

Pengalaman pertama kali menginap di hotel kapsul dekat Stasiun Tugu Jogja. Nyaman sih, tapi nggak cocok untuk berlama-lama

22 Agustus 2026
Stop denial, sound horeg adalah diskotik yang dipaksa masuk desa (Unsplash)

Stop denial, sound horeg adalah diskotik yang dipaksa masuk desa hanya demi memuaskan ego merusak milik segelintir orang

17 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=vCYB_q60eug


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.