Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Upah Layak, Tanah Murah, atau Lapangan Pekerjaan: Mana yang Lebih Worth It bagi Pekerja Jogja?

Prabu Yudianto oleh Prabu Yudianto
1 Desember 2020
A A
Upah Layak, Tanah Murah, atau Lapangan Pekerjaan: Mana yang Lebih Worth It bagi Pekerja Jogja? Terminal Mojok
Share on FacebookShare on Twitter

“Nggak papa upah rendah asal harga tanah juga turun.” Kira-kira demikian salah satu komentar di media sosial perkara upah minimum Jogja. Wah, ada yang menarik dalam komentar tersebut. Saya jadi bertanya-tanya, ‘mana yang lebih penting’ bagi pekerja Jogja?

Selain komentar tadi, ada juga yang berkomentar, “Upah rendah bisa mendatangkan investor. Nanti banyak lapangan pekerjaan.” Komentar ini juga menarik. Sama seperti komentar sebelumnya, saya makin penasaran. Apa sih yang lebih dibutuhkan oleh pekerja Jogja?

ADVERTISEMENT

Saya tertarik menelaah perkara ‘mana yang lebih penting’ ini. Tentu telaah saya ini sangat dipengaruhi sudut pandang dan pemikiran pribadi. Hasil telaah saya yang berujung pada artikel ini juga bukan way to life Anda semua. Jadi, ndak perlu marah-marah pada isi artikel ini. Lagi pula ada gelombang bahasan ‘mana yang terbaik’ di Terminal Mojok. Dari botol bekas sampai keripik kentang saja bisa diperdebatkan. Jadi, apa salahnya menentukan apa yang lebih dibutuhkan pekerja Jogja saat ini? Hehehe.

Lapangan pekerjaan

Saya mulai perbandingan ini dari opsi yang menurut saya paling tidak bermanfaat. Apakah penambahan lapangan pekerjaan adalah kebutuhan utama para pekerja khususnya di Jogja?

Banyak yang mengamini upah rendah Jogja demi kepentingan investasi. Dan itu adalah logika paling menyebalkan. Pertama, upah minimum tidak hanya bertumpu pada urusan investasi dan mimpi-mimpi kemajuan setelahnya. Upah minimum diputuskan berdasar kriteria hidup layak. Paham?

Cukup ngenes jika kita memandang diri harus nrimo ing pandum hanya demi lapangan pekerjaan. Jogja bukan daerah yang jalan di tempat. Selain kota wisata, Jogja adalah jujugan muda-mudi yang ingin berkuliah. Maka, tidak perlu mimpi perkara lapangan pekerjaan. Kecuali ada perang dunia atau terdengar terompet sangkakala, barulah Jogja menuju krisis lapangan pekerjaan. Memang bukan berarti pekerja Jogja tidak butuh lapangan pekerjaan lebih. Namanya pekerja pasti membutuhkan lapangan pekerjaan. Tapi saya memandang bahwa lapangan pekerjaan bukanlah kebutuhan utama. Tetap ada yang lebih dibutuhkan selain kerja, kerja, kerja, dan tifus. Eh.

Tanah murah

Wah, siapa yang tidak nyinyir melihat harga tanah Jogja yang meroket? Apalagi dengan pembangunan hotel dan apartemen yang ngadi-ngadi. Banyak pihak yang menuntut adanya regulasi “istimewa” perihal kepemilikan tanah ini. Saya juga pernah membaca keluh kesah pekerja, “Nggak papa gaji kecil asal tanahnya murah.”

Saya tidak memandang perkara kepemilikan tanah sebagai hal sepele. Kebutuhan dasar manusia tetaplah sandang, pangan, dan papan. Tapi, tanah murah tetap bukan solusi brilian karena bisa menimbulkan masalah baru.

Baca Juga:

Jangan Salahkan Orang Jakarta kalau Harga Makanan di Jogja Tak Ramah Warlok: Sebuah Pembelaan untuk Kaum Plat B

Sebagai Anak Madura, Saya Cemburu dengan Anak Sumatera yang Tak Perlu Susah Payah Menyembunyikan Identitas

Dengan regulasi macam apa pun, tanah murah akan menjadi buruan kawanan investor. Terbukti dengan regulasi di Jogja perkara pelarangan tanah basah alias tanah pertanian menjadi tanah pemukiman. Tetap saja banyak sawah yang beralih fungsi menjadi perumahan. Tiwas nandur pari, tukule investasi. Yang terjadi tidak akan berbeda dengan hari ini: akses pekerja untuk mendapat hunian layak akan terjegal permainan kapitalis. Oleh karena itu, menurut saya apa yang lebih dibutuhkan pekerja Jogja adalah:

Upah layak

Mohon dibaca saksama. Upah layak, bukan upah tinggi. Upah layak berarti cukup untuk memenuhi kebutuhan sampai taraf kebutuhan hidup layak. Dan menurut saya ini lebih penting daripada dua mimpi ndakik-ndakik di atas.

Dengan upah layak, maka masalah mendasar pekerja Jogja bisa diselesaikan. Upah layak menjamin pekerja makan cukup, tidur nyaman, dan berpakaian pantas. Belum lagi tersokongnya kebutuhan penunjang lainnya. Selain itu, upah layak akan meningkatkan perputaran ekonomi. Dengan upah layak, tentu menjadi peluang bisnis. Peluang bisnis membuka lapangan pekerjaan baru. Lebih dari itu, bisnis hari ini tidak akan terpaku pada wisatawan dan mahasiswa pendatang.

Terasa tho saat pandemi, banyak bisnis yang kehilangan konsumen. Sedangkan masyarakat Jogja juga harus berpikir ulang untuk membelanjakan upah yang bisa dibilang humble ini. Jika warga Jogja mendapat upah layak, perputaran uang di Jogja tidak melulu dari dompet wisatawan menuju dompet endorsement.

Konklusi

Menurut saya, upah layak tetap lebih worth it dari dua opsi lain. Selama upah minimum masih belum layak, menggenjot wacana tanah murah dan lapangan pekerjaan bertambah hanya menambah keruwetan.

“Tapi bukankah upah minimum sudah sesuai KHL?”

“Buruh kok banyak nuntut?”

“Nanti dikasih gaji gede juga kurang!”

Terus-terusno komen seperti itu, cah bagus!

BACA JUGA Filsuf Kedai Kopi, Berdebat Filsafat Layaknya Dinosaurus Peradaban yang Harusnya Punah dan artikel Prabu Yudianto lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 2 Desember 2020 oleh

Tags: Jogjapekerjaupah
Prabu Yudianto

Prabu Yudianto

Penulis kelahiran Yogyakarta. Bekerja sebagai manajer marketing. Founder Academy of BUG. Co-Founder Kelas Menulis Bahagia. Fans PSIM dan West Ham United!

ArtikelTerkait

Gejayan Jogja dan Gejayan Magelang: Namanya Sama, tapi Nasibnya Jauh Berbeda  Mojok.co

Gejayan Jogja dan Gejayan Magelang: Namanya Sama, tapi Nasibnya Jauh Berbeda 

4 November 2025
Ramainya Jogja Sudah Nggak Masuk Akal, bahkan bagi Orang Luar Kota Sekalipun kota jogja

Jogja Itu Emang Romantis, tapi buat Pendatang dan Turis Aja

5 Agustus 2025
Pertigaan UIN, Lampu Merah Paling Berbahaya di Jogja (Unspash)

Pertigaan UIN Jogja, Lampu Merah Paling Berbahaya Ketika Malam Tiba

30 September 2024
Enaknya Jadi Fresh Graduate di Jogja: Nggak Takut Dicap Pengangguran karena Sibuk Ikut Forum Diskusi

Enaknya Jadi Fresh Graduate di Jogja: Nggak Takut Dicap Pengangguran karena Sibuk Ikut Forum Diskusi

11 September 2025
9 Kuliner Khas Bantul yang Perlu Dicoba terminal mojok.co

9 Kuliner Khas Bantul yang Perlu Dicoba

8 Februari 2022
Kabupaten Lamongan Bikin Warganya Cuma Bisa Gibah (Unsplash)

Susahnya Menjadi Anak Kabupaten Lamongan: Bikin Iri sama Anak Surabaya, Malang, dan Jogja

9 September 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Alasan Saya Senang Nonton Film di Bioskop Sendirian, Lebih Fokus dan Bebas Pilih Film Sesuai Selera Mojok.co

Alasan Saya Senang Nonton Film di Bioskop Sendirian, Lebih Fokus dan Bebas Pilih Film Sesuai Selera

28 Juni 2026
Gagal Paham dengan Warlok Solo yang Ngebet Kuliah di Luar Kota Demi Kejar Gengsi Mojok.co

Gagal Paham dengan Warlok Solo yang Ngebet Kuliah ke Luar Kota Demi Kejar Gengsi

27 Juni 2026
Panduan Bertahan Hidup Warga Lokal Jogja agar Tetap Waras dari Invasi 7 Juta Wisatawan jakarta

Jangan Salahkan Orang Jakarta kalau Harga Makanan di Jogja Tak Ramah Warlok: Sebuah Pembelaan untuk Kaum Plat B

26 Juni 2026
5 UMKM Klaten yang Sukses Berdampak dan Menginspirasi Anak Muda

5 UMKM Klaten yang Sukses Berdampak dan Menginspirasi Anak Muda

24 Juni 2026
Como 1907 Memang Tempat yang Pas untuk Nico Paz  

Como 1907 Memang Tempat yang Pas untuk Nico Paz  

27 Juni 2026
Pengalaman Pahit Punya Usaha Laundry, Karyawan Banyak Drama hingga Pelanggan Tak Tahu Diri Terminal

Pengalaman Pahit Punya Usaha Laundry, Karyawan Banyak Drama hingga Pelanggan Tak Tahu Diri

24 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.