Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Filsuf Kedai Kopi, Berdebat Filsafat Layaknya Dinosaurus Peradaban yang Harusnya Punah

Prabu Yudianto oleh Prabu Yudianto
29 November 2020
A A
Filsuf Kedai Kopi, Hobi Berdebat Filsafat Layaknya Dinosaurus Peradaban yang Harusnya Punah terminal mojok.co

Filsuf Kedai Kopi, Hobi Berdebat Filsafat Layaknya Dinosaurus Peradaban yang Harusnya Punah terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Sekelompok pemuda di seberang meja menarik perhatian saya. Sekitar lima orang pemuda riuh berbicara, yang hampir membuat saya tidak fokus menikmati kopi susu favorit saya. Keberadaan mereka seperti mengamini istilah “penny university” ala kedai kopi Inggris. Merekalah filsuf kedai kopi.

Pembicaraan seputar bagaimana memaknai dan menjalani hidup ini memunculkan perdebatan tentang filsafat siapa yang paling unggul. Mereka menyebut nama-nama seperti Stirner, Karl Marx, Voltaire, sampai Nietzsche yang susah dieja itu.

Makin dalam memperhatikan argumen mereka yang ndakik-ndakik itu, saya malah khawatir dan jatuh iba. Saya khawatir mereka sedang terjebak Genjutsu Izanami dari klan Uchiha. Dan saya iba karena mereka terlihat seperti dinosaurus yang sudah tidak relevan di kehidupan hari ini.

Jika Anda merasa seperti para filsuf kedai kopi ini, saya maklum Anda tersinggung. Tapi, menurut saya memang itulah kenyataannya. Berdebat perihal filsafat klasik dan memaksakannya di kehidupan hari ini hanyalah bukti bahwa mereka dan Anda adalah dinosaurus peradaban yang semestinya sudah punah.

Saya memaklumi jika filsafat menjadi tema pembicaraan utama di kedai kopi. Seperti yang saya sampaikan di atas, kedai kopi memang seperti universitas. Sejarah mencatat, kedai kopi adalah tempat berbagi ilmu dan berdebat yang abadi. Sejak abad ke-16 sampai hari ini, ia memang nyaman bagi pertukaran ide.

Masalahnya, pertukaran ide yang terjadi sering kali “so yesterday” dan tidak relevan. Bahkan, ide-ide filsuf klasik ini diperdebatkan dan dibahas tanpa menapak bumi hari ini. Ngalor-ngidulnya hanya berputar-putar dalam ranah idealisme masa lalu.

Kritik pertama kepada para dinosaurus peradaban ini adalah perkara relevansi. Saya menghormati pemikiran para filsuf ketika mengkaji semesta ini pada masa itu. Sekali lagi, PADA MASA ITU!

Stirner hidup di Jerman pada 1800-an. Nietzsche menerbitkan Sprach Zarathustra pada 1885. Karl Marx menulis Das Kapital pada era dicmana lima hari kerja adalah mimpi. Apalagi bicara Diogenes, dia hidup sebelum ada BLT dan BPJS.

Baca Juga:

Apakah Menjadi Atlet Adalah Investasi Terburuk dalam Hidup Saya?

4 Alasan Saya Lebih Memilih Ice Americano Buatan Minimarket ketimbang Racikan Barista Coffee Shop

Belum lagi melihat latar belakang sosial dan budaya para filsuf ini. Perbedaan signifikan antara kondisi masa itu dan hari ini punya andil dalam batasan relevansi pemikiran mereka. Toh, jika Nietzsche lahir pada tahun 90-an, pasti blio lebih memilih menulis di esai Mojok daripada repot-repot menerbitkan Tuhan Telah Mati.

Apa yang menjadi dasar pemikiran mereka adalah kondisi sosial, budaya, dan ekonomi pada masa mereka hidup. Kristalisasi pemikiran mereka berfondasi pada apa yang mereka lihat dan rasakan pada masa mereka hidup.

Stirner akan terkejut dengan gelombang post-modernisme. Nietzsche akan sakit hati ketika konsep ubermensch menjadi salah satu landasan Nazi Jerman. Karl Marx tidak akan menyangka bahwa otomasi industri menyingkirkan peran buruh. Diogenes? Dia akan kaget dengan gerakan pencinta hewan yang tak ragu tidur bersama anjing di dalam kamar.

Tapi, para filsuf kedai kopi mengkaji situasi hari ini dengan pemikiran mereka yang telah mati dua abad lalu. Menjadikan pemikiran para filsuf yang tidak pernah melihat sekelompok pemuda berbaju flanel mengkaji manusia. Bahkan menempatkan ide mereka sebagai sumber pemahaman yang relevansinya dipaksakan.

Maka, tidak berlebihan jika saya menyebut mereka sebagai dinosaurus peradaban. Ketika makhluk lain telah berevolusi dengan beradaptasi dengan lingkungan hari ini, mereka tetap keukeuh menjadi reptil raksasa yang akan kesulitan untuk makan dan berkembang biak.

Tanpa sadar, para dinosaurus ini menjebak diri dalam dinding imajinasi. Terpisah dari realita dan perubahan peradaban. Mengkaji kehidupan masyarakat hari ini menggunakan pemikiran lawas tanpa pengkajian hanya berbuah romantisasi. Dan Anda tahu, sesuatu yang romantis akan terpisah dari realita.

Pemikiran lawas yang dipaksakan ini menjebak mereka dalam situasi teralienasi. Oleh karena jauh dari realita, pembicaraan mereka menjadi berputar-putar pada ideal yang mereka bawa dari filsafat klasik ini. Wajar, kan mereka tidak ikut berevolusi bersama dunia ini.

Berputar-putar pada satu ideal, seperti Ouroboros yang menggigit ekornya. Kondisi seperti ini tidak berbeda dengan terjebak Genjutsu Izanami yang jadi pernah digunakan Itachi Uchiha saat menaklukkan Kabuto. Mereka terjebak dalam pseudo-reality loop, yang tidak lebih hanya ada di pikiran mereka.

Menyebalkan? Memuakkan? Ah, itu hanyalah perspektif pribadi. Saya tidak menghakimi mereka yang berbahagia dalam imajinasi filsafat dan dunia ideal. Tapi, jauhnya mereka dari realita memang patut dikritisi.

Apalagi untuk lima orang yang jadi alasan saya menulis ini. Untuk apa saya muak berlebihan pada mereka. Bagaimanapun juga, mereka teman-teman saya sendiri.

BACA JUGA Kritik kepada Artikel Nikma Al Kafi: Upah Rendah Jogja Adalah Derita Rakyat, Bukan Derita Raja dan tulisan Prabu Yudianto lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 26 November 2020 oleh

Tags: filsafatKedai Kopi
Prabu Yudianto

Prabu Yudianto

Penulis kelahiran Yogyakarta. Bekerja sebagai manajer marketing. Founder Academy of BUG. Co-Founder Kelas Menulis Bahagia. Fans PSIM dan West Ham United!

ArtikelTerkait

Bau Kaki di Kedai Kopi, Akar Masalah Sosial Paling Serius

Bau Kaki di Kedai Kopi, Akar Masalah Sosial Paling Serius

20 September 2023
Minta Es Batu di Kedai Kopi Itu Sesekali Nggak Apa-apa, kalau Tiap Hari Nah Baru Bagusnya Dilempar Batu

Minta Es Batu di Kedai Kopi Itu Sesekali Nggak Apa-apa, kalau Tiap Hari Nah Baru Bagusnya Dilempar Batu

29 November 2023
5 Rekomendasi Minuman Excelso Coffee yang Enak dan Jarang Ditemukan di Coffee Shop Lain terminal mojok

5 Rekomendasi Minuman Excelso yang Enak dan Jarang Ditemukan di Coffee Shop Lain

6 September 2022
Filsuf Kedai Kopi, Hobi Berdebat Filsafat Layaknya Dinosaurus Peradaban yang Harusnya Punah terminal mojok.co

5 Cara Memberi Tahu Pelanggan Kedai Kopi Mau Tutup

17 Oktober 2020
Eksistensialisme Kierkegaard dalam Album BLACKPINK terminal mojok.co

Eksistensialisme Kierkegaard dalam Album BLACKPINK

2 Februari 2021
Kuliah di Filsafat UGM Bikin Saya Bahagia Seumur Hidup (Unsplash)

Mencibir Wacana Bodoh Menghapus Jurusan Filsafat karena Mereka Nggak Paham kalau Kuliah di Filsafat UGM Bikin Saya Bahagia Seumur Hidup

6 Oktober 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Tanjakan Gombel Semarang: Bukan Kerajaan Wewe, tapi Saksi Bisu Jejak Sejarah dan Nadi Utama Kota Semarang

Tanjakan Gombel Semarang: Bukan Kerajaan Wewe, tapi Saksi Bisu Jejak Sejarah dan Nadi Utama Kota Semarang

17 Mei 2026
Sumbersari Malang yang Overrated Masih Jadi Daerah Paling Masuk Akal bagi Maba yang Baru Pertama Kali Merantau Mojok.co

Sumbersari Malang yang Overrated Masih Jadi Daerah Paling Masuk Akal bagi Maba yang Baru Pertama Kali Merantau

16 Mei 2026
Unpopular Opinion: Kajian Ustaz Hanan Attaki Itu Bukanlah Pengajian Agama pengajian berbayar

Maaf Saya Berubah Pikiran, Konsep Pengajian Berbayar Memang Lebih Masuk Akal dan Layak untuk Diikuti

16 Mei 2026
Nasib Peterongan Semarang: Dulu Pusat Cuan, Sekarang Terancam Jadi Kawasan Kumuh

Nasib Peterongan Semarang: Dulu Pusat Cuan, Sekarang Terancam Jadi Kawasan Kumuh

21 Mei 2026
Kos Murah yang Diidamkan Berujung Penyesalan karena Tabiat Buruk Ibu Kos yang Suka Ngutang Mojok.co

Rasa Syukur Tinggal di Kos Murah Berubah Jadi Penyesalan karena Tabiat Buruk Ibu Kos yang Suka Ngutang

20 Mei 2026
Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus: Teriak Melawan Penindasan di Luar, tapi Seniornya Jadi Aktor Penindas Paling Kejam organisasi mahasiswa eksternal organisasi kampus

Organisasi Mahasiswa Itu Candu, dan Jabatan di Kampus Itu Jebakan yang Pelan-pelan Mematikan

18 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

    Konten Promosi



    Google News
    Ikuti mojok.co di Google News
    WhatsApp
    Ikuti WA Channel Mojok.co
    WhatsApp
    Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
    Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
    Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

    Tentang
    Kru
    Kirim Tulisan
    Ketentuan Artikel Terminal
    Kontak

    Kerjasama
    F.A.Q.
    Pedoman Media Siber
    Kebijakan Privasi
    Laporan Transparansi

    PT NARASI AKAL JENAKA
    Perum Sukoharjo Indah A8,
    Desa Sukoharjo, Ngaglik,
    Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

    [email protected]
    +62-851-6282-0147

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

    Tidak Ada Hasil
    Lihat Semua Hasil
    • Nusantara
    • Kuliner
    • Kampus
      • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Hiburan
      • Anime
      • Film
      • Musik
      • Serial
      • Sinetron
    • Gaya Hidup
      • Fesyen
      • Gadget
      • Game
      • Kecantikan
    • Kunjungi MOJOK.CO

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.