Metamorfosis Mobil Korea: dari Bahan Ejekan hingga Menjadi Dambaan – Terminal Mojok

Metamorfosis Mobil Korea: dari Bahan Ejekan hingga Menjadi Dambaan

Artikel

Avatar

Saya besar di zaman di mana mobil-mobil merk Jepang dan Eropa menguasai jalanan Jakarta. Sampai saya berusia seperempat abad ini, sebenarnya mobil-mobil Jepang dan Eropa juga masih menguasai jalanan sih. Cuma bedanya, sekarang ada tambahan mobil-mobil keluaran Korea yang mulai banyak berseliweran di jalan raya ibu kota.

Saya ingat banget kalau dulu ada anggapan bahwa mobil merk Korea seperti Hyundai atau Kia itu ibarat mobil kelas dua. Ya iyalah. Coba lihat mobil-mobil Korea keluaran sebelum 2011. Sudah desainnya biasa banget dan nggak berciri khas, performa lemas, build quality-nya masih sedikit diragukan pula. Kontras banget dengan mobil Korea zaman sekarang atau yang sering muncul di drama Korea.

Kalau sekarang, mobil Korea sudah improve jauh dibanding sebelumnya lho! Seenggaknya saya bisa mengkonfirmasi klaim tersebut lewat empat kejadian. Yang pertama, ketika saya berkunjung ke negara-negara tetangga.

Di negara-negara tetangga seperti Singapore atau Malaysia, konsumen mobil di sana lebih open minded terhadap berbagai brand, termasuk brand-brand asal Korea. Ini kontras dengan apa yang terjadi di negeri kita. Misalnya, masih banyak orang ogah membeli mobil dari merk-merk tertentu karena khawatir akan harga jual kembalinya.

Singapore dan Malaysia memiliki populasi mobil Hyundai dan Kia yang cukup banyak. Walaupun tetap masih banyakan mobil Jepang, di jalanan kedua negara tersebut kita masih bisa dengan mudah berpapasan dengan kedua merek tadi. Dan, desainnya ganteng-ganteng lho. Pastinya juga, model-modelnya nggak dijual di tanah air.

Sedan seperti Hyundai Sonata, Kia Optima, Hyundai Veloster, Hyundai Elantra, atau Kia Cerato adalah pemandangan umum di kedua negara tersebut. Sebagai car spotter, rasanya saya selalu ingin mengabadikannya lewat kamera ponsel tiap kali berpapasan di jalan, hehehe. Mungkin jika di Indonesia Hyundai atau Kia lebih identik dengan city car, di luar negeri mereka adalah merk menengah ke atas.

Sumber kedua yang mengatakan bahwa kualitas mobil Korea mengalami kemajuan pesat adalah media-media otomotif luar seperti carsguide.au dan lembaga survei JD Power. JD Power pada 2019 merangkum bahwa pemilik brand Korea seperti Genesis, Hyundai, dan Kia mengalami keluhan paling minim terhadap sistem hiburan dan kemudi mobil mereka.

Ketiga, secara desain mobil-mobil Korea mengalami peningkatan signifikan karena mereka berani mempekerjakan desainer-desainer otomotif ternama Eropa, seperti Peter Schreyer untuk Hyundai Motor Group dan Italdesign Giugiaro untuk Ssangyong. Saya bahkan ingat pernah membaca alasan mengapa Peter Schreyer merancang grill tiger nose Kia adalah untuk menciptakan brand identity pada mobil Kia.

Bahkan, Schreyer juga turut merancang mobil-mobil Hyundai Motor Group yang sukses mengubah persepsi publik terhadap produk otomotif Korea, seperti sedan sport Kia Stinger dan luxury brand Genesis yang diposisikan sejajar dengan Lexus. Wow!

Keempat dan yang terakhir, walaupun saya belum pernah mengendarainya seenggaknya saya sudah berani mengambil kesimpulan bahwa kualitas mobil Korea sudah lebih maju lewat “duduk-duduk” di Hyundai Ioniq Electric dan Hyundai Santa Fe lansiran terbaru.

Di kedua mobil tersebut, layout dan desain interiornya sekilas membuat kita lupa itu mobil Korea karena lebih menyerupai BMW atau Audi. Keren banget pokoknya. Selain itu, kualitas plastik dan kulit di dalam interior pun juga bukan yang sembarangan. Beda banget dari Hyundai Avega generasi pertama yang pernah dipakai keluarga saya beberapa waktu lalu.

Begitu juga ketika mesin Ioniq Electric dan Santa Fe dinyalakan. Sebagai mobil listrik, mesin Ioniq terdengar senyap sekali. Sementara itu, mesin diesel yang dimiliki Santa Fe juga halusnya luar biasa. Tak seperti kebanyakan mobil diesel yang saya kenal.

Di tengah peningkatan massal yang dialami oleh produk otomotif Korea, saya semakin optimis ke depannya masyarakat Indonesia akan semakin melirik mobil-mobilnya. Belum lagi, sebagian masyarakat Indonesia sudah mengenali Hyundai atau Kia sebagai mobil yang sering dipakai di drama Korea.

Hyundai yang sedang membangun pabrik di Indonesia kini agresif dalam meningkatkan produk dan pelayanan serta mengkampanyekan mobil listrik massal seiring dengan kebijakan jangka panjang pemerintah yang sangat pro kendaraan listrik. Lineup terbaiknya juga dimasukkan ke Indonesia, seperti Ioniq Electric, Kona Electric, dan SUV bergaya American look bernama Palisade.

Begitu juga dengan Kia yang belum lama ini membuat gempar industri otomotif lokal setelah menghadirkan SUV Seltos dan Sonet karena fitur-fiturnya terbilang mewah untuk kelas harganya.

Andai saya disuruh pilih satu mobil idaman untuk dimiliki, tanpa berpikir panjang, saya pasti menyebut Hyundai Kona Electric atas pertimbangan fungsionalitas, bentuknya yang good looking, dan mesin listrik yang sudah jelas ramah lingkungan.

BACA JUGA Tanpa Pepsi, Memakan Ayam KFC Jadi Serupa Memakan Nasi Goreng Tanpa Kerupuk dan tulisan Wirandra Reyhan Janitra lainnya.

Baca Juga:  Manchester United, Sudah Jatuh Tertimpa De Gea, Kabar Baik Untuk Arsenal yang Cuma Jago di Piala FA
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
---
1


Komentar

Comments are closed.