Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Biarkan Rafi Azzamy Bicara, dan Kalian Orang Tua Sok Sinis Sebaiknya Diam

Prabu Yudianto oleh Prabu Yudianto
12 Juli 2022
A A
Biarkan Rafi Azzamy Bicara, dan Kalian Orang Tua Sok Sinis Sebaiknya Diam

Biarkan Rafi Azzamy Bicara, dan Kalian Orang Tua Sok Sinis Sebaiknya Diam (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Rafi Azzamy sebaiknya bicara makin lantang, dan kalian orang tua sok sinis sebaiknya diam saja

 Stigma SMK yang dianggap sekolah buangan pernah diselamatkan oleh dua presiden. Pertama adalah SBY dengan jargon “SMK bisa!” berikut ajakan untuk bersekolah di SMK. Kedua adalah Jokowi dengan mimpi mobil Esemka. Tapi saya tidak ingin membahas keduanya. Lha wong semua berakhir menyedihkan!

Yang ingin saya bahas adalah bangkitnya SMK sebagai perlawanan terhadap sistem. Lebih tepatnya, siswa SMK. Terdengar ndakik-ndakik, dan memang sengaja saya hiperbola-kan. Tapi sungguh, ekosistem pendidikan kejuruan ini mulai melihatkan taringnya. Bukan taring saat liga futsal, tapi taring untuk melawan hierarki sosial.

Salah satu yang paling baru adalah kritik seorang siswa SMK terhadap model kedisiplinan sekolah. Dalam video dari akun Twitter @omongomongcom, seorang siswa SMK, Rafi Azzamy, berdiskusi bersama pengarang Okky Madasari. Dalam video yang viral ini, Mas Rafi mempertanyakan mengapa kedisiplinan dalam sekolah menjadi dogma utama. Menurutnya, kedisiplinan ini hanyalah ilusi relasi sosial.

Anda bisa menonton langsung video ini untuk detailnya. Karena saya tidak akan membahas isi kritik Mas Rafi. Minimal, saya sepakat 100% dengan argumennya. Yang ingin saya bicarakan adalah bagaimana antitesis dari tesis Mas Rafi ini. Sayangnya, kebanyakan ad hominem.

Banyak yang mengkritik Mas Rafi Azzamy sebagai pemuda keblinger. Para penghujat ini memandang Mas Rafi hanyalah siswa pemalas yang tidak mau diatur. Beberapa juga menilai Mas Rafi terpapar ide filsafat kiri. Sisanya sih setuju, tapi dengan berbagai syarat & ketentuan. Entah mengingatkan Mas Rafi untuk lebih giat sekolah, atau menggunakan cara bersuara yang lebih sopan.

Bentar. Apa-apa yang kritis kok dianggap terpapar kiri. Apa-apa kok kiri, situ belokan?

Dari dulu, ketika ada pemuda mengeluarkan kritik, para “orang dewasa” kerap menganggap kritikan mereka seolah pepesan kosong. Cara pandang “orang dewasa” dipakai, tanpa memberi ruang bagaimana pemuda berpikir.

Baca Juga:

Dilema Pemuda Sragen: Bertahan Nggak Berkembang, Ditinggal Dikira Nggak Sayang Kampung Halaman 

Organisasi Karang Taruna Nyatanya Tak Lebih dari Pelengkap Acara Hajatan dan Ladang Cari Suara Politik

Padahal, mereka sendiri pernah muda, beda, dan berbahaya. Mereka tahu bahwa di umuran tersebut, mereka pernah menantang dunia. Idealisme yang (pernah) ada, entah kenapa, terkikis begitu mudah dan meminta yang lain ikut berkompromi.

Padahal, pemuda macam Mas Rafi Azzamy lebih relevan terhadap situasi dunia hari ini. Kelompok ini lebih lentur untuk mengikuti tren, isu, dan interaksi sosial terkini. Sedangkan kelompok yang lebih tua sering terbentur kebiasaan masa lampau mereka. Yah contoh saja, masih memandang main game hanya membuat bodoh. Padahal generasi senior sering dibodohi judi online dan burung kicauan.

Apabila yang melarang pemuda untuk bersuara adalah usia, ini jelas goblok. Usia mereka telah cukup matang untuk berpikir kritis. Dan mereka telah menerima dogma serta menghidupi moral masyarakat. Mereka tidak lebih bodoh hanya karena belum merasakan hidup generasi yang lebih tua. Lagipula, kalau adu nasib dengan baby boomer tentang sekolah, siapa juga yang mau hidup susah?

Selama landasan argumen mereka jelas, justru anak SMA dan SMK lebih pantas berargumen. Setidaknya, mereka tidak membawa argumen “kalau zamanku dulu” seperti para boomer tadi. Justru dengan mengedepankan usia serta pengalaman hidup, para generasi tua ini lebih mengedepankan emosional daripada logika.

Lagipula, apakah salah seorang pemuda mengkritik sistem pendidikan yang dijalani? Justru orang seperti Mas Rafi Azzamy adalah sosok paling tepat untuk mengkritik. Ia, dan siswa-siswi lain, berada dan terjebak dalam sistem pendidikan. Mereka yang menjadi end user dari suntikan dogma serta ide yang tertulis di kurikulum. Kalau orang tua mau menyalahkan siswa yang kritis, lha wong mereka saja sudah lupa aljabar dan algoritma.

Selama ini anak muda, apalagi di bawah 20 tahun, selalu disetir kelompok boomer. Dari cara berpakaian, potongan rambut, sampai cara berpikir. Ketika anak muda melawan, mereka dicerca dengan senjata usia. Pokoknya anak muda itu goblok dan harus nurut boomer agar memahami dunia. Ini bukan pendidikan. Ini adalah pemaksaan dogma.

Dalam sastra anak, hal yang kerap kali dibicarakan adalah bagaimana orang tua, kerap memandang anak tak memiliki kemampuan berpikir sendiri, dan begitu bergantung pada orang tua. Dan ini jelas keliru. Anak kecil dan pemuda punya cara pandang sendiri yang sesuai dengan zaman. Mas Rafi Azzamy adalah contoh: ia melihat, ia mengalami, ia jadi saksi. Kita-kita yang sudah terlanjur dihajar KPR, cicilan, dan token listrik yang berbunyi menyerahkan harapan pada Mas Rafi dkk.

Sudah waktunya generasi muda membawa nafas baru: komunikasi kritis tanpa paksaan dogma yang tak penting. Jika urusannya adalah saling menghargai dalam argumen, ini perlu ditularkan antargenerasi. Tapi, kalau membanggakan umur sebagai kekuatan argumen, silahkan anda mengubur kepala sambil berkata, “Anak kecil jangan bacot!”

Silakan teman-teman membenci pemikiran kolot. Silahkan teman-teman demo menolak usulan hukum para boomer di pemerintahan. Teman-teman bukan makhluk kelas dua yang harus patuh 100% pada yang lebih tua. Kalau mereka memang luput dan pekok, ya teman-teman berhak menegur. Berdirilah sejajar dengan Rafi Azzamy dkk.

Tapi perlu diingat, landasan berpikir juga harus jelas. Kalau tujuan kritik hanya demi viral, akan sama saja dengan para boomer. Mending kalau cuma mau viral, silahkan pargoy atau bikin konten gaming. Aman dan ra resiko. Tapi kalau anda muak dengan model relasi sosial tua-muda, Anda berhak dan bebas bersuara membangkang.

Kita-kita yang sudah tua ini, sudahlah nggak usah pesimis dan sok sinis. Kalau Anda merasa idealis bikin nggak bisa hidup di realitas, ya monggo. Situ yang kehilangan semangat, kok ngajak-ngajak lainnya.

“Kalau sudah lulus kuliah/masuk dunia kerja, nanti idealismemu juga bakal luntur.”

Eit, situ yang kehilangan integritas, kenapa bawa-bawa orang lain?

— Bagus Panuntun (@aribgspanuntun) July 10, 2022

Penulis: Prabu Yudianto
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Tidak Ada Batman di Babarsari Gotham City

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 12 Juli 2022 oleh

Tags: ad hominemkritikOrang TuaPemudarafi azzamysinis
Prabu Yudianto

Prabu Yudianto

Penulis kelahiran Yogyakarta. Bekerja sebagai manajer marketing. Founder Academy of BUG. Co-Founder Kelas Menulis Bahagia. Fans PSIM dan West Ham United!

ArtikelTerkait

Langkah Cerdas Arie Kriting Lindungi Anak dari Komentar Negatif Warganet Terminal Mojok

Langkah Cerdas Arie Kriting Lindungi Anak dari Komentar Negatif Warganet

14 Januari 2023
5 Alasan Kita Nggak Perlu Nyinyirin Anak Citayam yang Nongkrong di SCBD

5 Alasan Kita Nggak Perlu Nyinyirin Anak Citayam yang Nongkrong di SCBD

9 Juli 2022
Nasib Guru Honorer Menjelang Idulfitri: THR Nggak Turun, Upah Bulan Lalu Nanti Dulu orang tua guru korea

Belajar dari Konflik Guru dan Orang Tua Siswa di Korea, Sudah Saatnya Orang Tua Juga Mendidik Dirinya Sendiri

12 September 2023
Sudah Selayaknya The Return of Superman Menjadi Referensi Tontonan Orang Tua yang Sedang dan Akan Mendidik Anaknya

The Return of Superman, Tontonan Terbaik bagi para Orang Tua dalam Mendidik Anak

10 Juli 2023
Risiko Jadi Orang Tua yang Melek Kesehatan Anak

Risiko Jadi Orang Tua yang Melek Kesehatan Anak

12 Desember 2022
aturan lalu lintas 4 orang menyebalkan saat kecelakaan lalu lintas lakalantas mojok

Orang Tua Adalah Penyebab Generasi Penerusnya Melanggar Aturan Lalu Lintas

25 Juli 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Petaka Terbesar Kampus- Dosen Menjadi Joki Skripsi (Pixabay)

Normalisasi Joki Skripsi Adalah Bukti Bahwa Pendidikan Kita Memang Transaksional: Kampus Jual Gelar, Mahasiswa Beli Kelulusan

4 Februari 2026
Batik Air Maskapai Red Flag: Delay Berjam-jam, Kompensasi Tak Layak, dan Informasinya Kacau Mojok.co

Batik Air Maskapai Red Flag: Delay Berjam-jam, Kompensasi Tak Layak, dan Informasinya Kacau

5 Februari 2026
Pro Tips Bikin Sate Taichan Jadi Lebih Enak (Wikimedia Commons)

Pro Tips Bikin Sate Taichan Jadi Lebih Enak: Sebuah Usaha Menghapus Cap Makanan Nggak Jelas dari Jidat Sate Taichan

7 Februari 2026
Pantai Padang Adalah Tempat Wisata yang Sempurna di Kota Padang Seandainya Nggak Ada Parkir Liar Mojok.co

Pantai Padang Tempat Wisata yang Sempurna di Kota Padang Seandainya Nggak Ada Parkir Liar

8 Februari 2026
Jakarta Selatan Isinya Nggak Cuma Blok M, Ada Pasar Minggu yang Asyik Nggak Kalah Asyik Dikulik Mojok.co

Pasar Minggu Harus Ikuti Langkah Pasar Santa dan Blok M Square kalau Tidak Mau Mati!

4 Februari 2026
Dilema Punya Honda Mobilio: Nyaman Dikendarai dan Irit, tapi Kaki-Kaki Mobilnya Sering "Keseleo" Mojok.co

Dilema Punya Honda Mobilio: Nyaman Dikendarai dan Irit, tapi Kaki-Kaki Mobilnya Sering “Keseleo”

7 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Orang Nggak Mau Dijuluki “Sinefil” karena Tahu Itu Ejekan, tapi Tetap Banyak yang Mengaku “Si Paling Film”
  • “Sekolah Bukan Ring Tinju”: Ortu Pukuli Guru Madrasah di Madura adalah Alarm Darurat Pendidikan Indonesia
  • Bagi Pekerja Bergaji Dua Digit “Nanggung” di Jakarta, Menyewa Apartemen di Tengah Kota Lebih Baik Ketimbang Ambil KPR di Pinggiran
  • Wisuda TK Rasa Resepsi Pernikahan: Hentikan Normalisasi Pungutan Jutaan Rupiah Demi Foto Toga, Padahal Anak Masih Sering Ngompol di Celana
  • Salah Kaprah soal Pasar Jangkang yang Katanya Buka Setiap Wage dan Cuma Jual Hewan Ternak
  • BPMP Sumsel Bangun Ekosistem Pendidikan Inklusif Melalui Festival Pendidikan

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.