Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Politik

Tiga Jalan Menuju Revolusi: Tan Malaka, Soekarno, dan D.N. Aidit

Ahmad Irfani oleh Ahmad Irfani
27 Februari 2026
A A
Tiga Jalan Menuju Revolusi: Tan Malaka, Soekarno, dan D.N. Aidit

Ilustrasi ini merupakan hasil generate dari aplikasi AI.

Share on FacebookShare on Twitter

“Pergerakan nasional lahir karena penderitaan rakyat.” – Soekarno dalam Indonesia Menggugat

Sejarah Indonesia tidak hanya dibentuk oleh pertempuran, diplomasi, atau proklamasi. Ia juga lahir dari teks. Sebelum Indonesia menjadi negara, Indonesia terlebih dahulu hadir sebagai gagasan. Gagasan itu dipikirkan, diperdebatkan, dan diperjuangkan melalui tulisan.

Tiga naskah politik penting meliputi “Naar de Republiek Indonesia” karya Tan Malaka, “Indonesia Menggugat” karya Soekarno, dan “Masyarakat Indonesia dan Revolusi Indonesia” karya Dipa Nusantara Aidit, dapat dibaca sebagai tiga tahap perkembangan kesadaran politik Indonesia.

ADVERTISEMENT

Ketiganya bukan sekadar karya individu, melainkan refleksi langsung dari zaman sejarah yang melahirkannya.

Republik sebagai Imajinasi: Tan Malaka (1925)

Ketika Tan Malaka menulis Naar de Republiek Indonesia pada 1925, Indonesia sebenarnya belum ada sebagai kenyataan politik. Hindia Belanda masih tampak stabil di bawah kekuasaan kolonial, dan sebagian besar penduduk belum membayangkan dirinya sebagai satu bangsa. Identitas lokal masih lebih kuat dibanding identitas nasional.

Namun, dunia sedang berubah. Pasca Perang Dunia I dan Revolusi Rusia, gagasan anti-kolonial menyebar ke Asia. Imperium Eropa mulai menunjukkan keretakan. Tan Malaka membaca perubahan ini dalam kerangka sejarah global: kolonialisme bukan sistem abadi.

Radikalnya tulisan itu bukan pada seruan pemberontakan, melainkan pada keberanian intelektualnya. Ia berbicara tentang Republik Indonesia dua dekade sebelum republik itu berdiri.

Gaya Tan Malaka analitis. Ia tidak mengobarkan emosi massa, tetapi menyusun argumen rasional bahwa kemerdekaan Indonesia merupakan konsekuensi perubahan struktur dunia. Revolusi baginya adalah hukum sejarah.

Pada tahap ini, Indonesia masih berupa ide—sebuah kemungkinan yang hidup di kepala para minoritas kecil kaum terdidik.

Baca Juga:

Tiga Tahun Menjadi Fungsionaris Organisasi Mahasiswa, Saya Menyadari bahwa Organisasi Mahasiswa Tak Ada Bedanya dengan Tempat Penitipan Balita

Personal Branding Itu Tidak Penting

Revolusi sebagai Seruan Moral: Soekarno (1930)

Lima tahun kemudian situasi berubah. Nasionalisme berkembang, organisasi politik tumbuh, dan pemerintah kolonial mulai merasa terancam. Ketika Soekarno diadili di Bandung pada 1930, dunia sedang memasuki krisis ekonomi global. Otoritas kolonial tidak lagi tampak sepenuhnya kokoh.

Pledoi Indonesia Menggugat lahir dalam suasana konfrontasi langsung dengan kekuasaan kolonial. Berbeda dengan Tan Malaka yang berbicara sebagai analis sejarah, Soekarno tampil sebagai orator revolusi.

Ia tidak sekadar membela diri di pengadilan. Ia menuduh kolonialisme sebagai sumber penderitaan rakyat dan menjadikan ruang sidang sebagai panggung politik nasional.

Jika Tan Malaka menjawab pertanyaan apakah Indonesia mungkin, Soekarno menjawab pertanyaan yang lebih mendesak: mengapa Indonesia harus merdeka sekarang.

Bahasa revolusi berubah. Nasionalisme tidak lagi menjadi diskusi intelektual, melainkan emosi kolektif. Ide Indonesia keluar dari ruang buku dan memasuki ruang publik.

Indonesia bergerak dari imajinasi menuju gerakan.

Revolusi sebagai Program Politik: Aidit (1950–1960-an)

Ketika D.N. Aidit menulis Masyarakat Indonesia dan Revolusi Indonesia, situasinya berubah total. Indonesia telah merdeka. Kolonialisme formal berakhir. Pertanyaan utama bukan lagi kemerdekaan, melainkan arah masa depan republik.

Dunia berada dalam ketegangan Perang Dingin. Negara-negara baru merdeka di Asia dan Afrika mencari model pembangunan. Di Indonesia sendiri muncul konflik ideologi, ketidakstabilan demokrasi parlementer, serta lahirnya Demokrasi Terpimpin.

Aidit menulis bukan sebagai teoritikus di pengasingan atau terdakwa politik, melainkan sebagai pemimpin partai besar. Ia menganalisis struktur sosial Indonesia sebagai masyarakat yang masih setengah feodal dan masih berada dalam bayang-bayang imperialisme ekonomi. Karena itu, menurutnya, revolusi Indonesia belum selesai.

Jika Tan Malaka adalah filsuf dan Soekarno mobilisator massa, Aidit adalah organisator politik. Revolusi baginya memiliki tahap, strategi, dan arah ideologis yang konkret.

Indonesia kini bukan lagi sekadar ide atau gerakan, melainkan arena perebutan makna kemerdekaan.

Tiga Bahasa Revolusi

Ketiga teks tersebut memperlihatkan bahwa revolusi Indonesia tidak hanya bergerak dalam peristiwa, tetapi juga dalam bahasa. Setiap tokoh berbicara dengan cara yang berbeda, sesuai dengan zamannya, dan dari perbedaan itu tampak perkembangan kesadaran politik Indonesia.

Pada Tan Malaka, revolusi hadir sebagai argumentasi rasional. Ia menulis ketika bangsa Indonesia bahkan belum sepenuhnya terbayang sebagai kesatuan politik. Karena itu, bahasanya bersifat analitis dan prediktif. Ia membangun republik terlebih dahulu di dalam pikiran—menyusunnya sebagai kemungkinan historis yang logis. Revolusi dalam tangan Tan Malaka adalah kerja intelektual: membuktikan bahwa kemerdekaan bukan mimpi, melainkan konsekuensi perubahan dunia.

Pada Soekarno, revolusi berubah menjadi seruan moral. Ia tidak lagi berbicara tentang kemungkinan, melainkan tentang keharusan. Bahasanya penuh daya retorik, membakar emosi, dan menggerakkan keberanian. Jika Tan Malaka menulis untuk meyakinkan pikiran, Soekarno berbicara untuk menggugah perasaan. Revolusi menjadi energi kolektif yang menuntut tindakan. Indonesia tidak lagi sekadar dipikirkan, tetapi diperjuangkan dengan suara lantang.

Sementara itu, pada Aidit, revolusi mengambil bentuk program politik. Indonesia sudah berdiri sebagai negara, sehingga persoalannya bergeser: bagaimana mengisi kemerdekaan itu? Bahasa Aidit bersifat organisatoris dan ideologis. Ia berbicara tentang struktur sosial, tahap revolusi, strategi, dan aliansi kelas. Revolusi bukan lagi hanya visi atau semangat, melainkan rencana yang harus dijalankan dengan disiplin politik.

Tan Malaka membangun dasar rasionalnya. Soekarno menyalakan api moralnya. Aidit merumuskan arah strategisnya. Dari imajinasi, menjadi gerakan, lalu menjadi perdebatan tentang masa depan—di situlah evolusi bahasa politik Indonesia berlangsung.

Indonesia sebagai Proses Sejarah

Jika dibaca sebagai satu rangkaian, ketiga karya ini menunjukkan bahwa Indonesia tidak lahir sekaligus pada 17 Agustus 1945. Republik merupakan hasil proses yang panjang. Mulanya dibayangkan, kemudian diperjuangkan, dan pada akhirnya diperdebatkan.

Tan Malaka melihat masa depan sebelum orang lain mampu melihatnya. Soekarno mengubah masa depan itu menjadi gerakan rakyat. Aidit mencoba menentukan arah revolusi setelah negara berdiri.

Sejarah Indonesia, dengan demikian, bukan hanya sejarah kemerdekaan, melainkan sejarah pertanyaan yang terus berulang: kemerdekaan untuk apa, bagi siapa, dan menuju masyarakat seperti apa.

Dan mungkin hingga hari ini, percakapan yang dimulai oleh tiga naskah tersebut masih belum benar-benar selesai.

Terakhir diperbarui pada 27 Februari 2026 oleh

Tags: dn aiditgagasan kemerdekaannasionalismerevolusi indonesiaSoekarnotan malaka
Ahmad Irfani

Ahmad Irfani

Penyuka sepakbola dan pengamat perkembangan dunia teknologi informasi.

ArtikelTerkait

Tan Malaka Bakal Misuh Jancuk Kalau Baca Draf Omnibus Law

Tan Malaka Bakal Misuh Jancuk kalau Baca Draf Omnibus Law

13 Maret 2020
nasionalis

Haruskah Menjadi Nasionalis agar Humanis?

22 Agustus 2019
Walau Sempat Berseteru karena Warnanya Sama, Bendera Indonesia dan Monako Beda di Banyak Aspek terminal mojok.co

Walau Sempat Berseteru karena Warnanya Sama, Bendera Indonesia dan Monako Beda di Banyak Aspek

25 Februari 2021
Tan Malaka: Keunikan, Kedaulatan Berpikir, dan Sederet Karya Cemerlang

Tan Malaka: Keunikan, Kedaulatan Berpikir, dan Sederet Karya Cemerlang

26 Februari 2026
puan maharani dpr Pak RT mojok

Puan Maharani atau Tidak Sama Sekali: Kegalauan PDIP yang Rasional

10 Oktober 2022
Metallica

Hanya Orang Bodoh yang Percaya Kalau Metallica Beneran Memainkan Indonesia Raya

23 Agustus 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jemuran, hal sepele yang bisa jadi sumber konflik penghuni kos Mojok.co

Jemuran, hal sepele yang bisa jadi sumber konflik penghuni kos

20 Juli 2026
Review Mie Gacoan Bangkalan Madura, Cabang yang Anomali karena Tidak Perlu Antre Mojok.co

Mie Gacoan Bangkalan Madura bisa tutup kalau 3 hal ini tidak diperbaiki

18 Juli 2026
Di Mata Kurir, Metode Pembayaran COD Lebih Baik Dihapuskan Mojok.co kurir paket

Lika-liku kurir saat mengantar paket COD ke desa, kadang jadi pahlawan, seringnya jadi pesakitan

16 Juli 2026
Tuban, Kota Elite Branding Sulit: Kabupaten yang Takdirnya Memang Sulit Terkenal, Diusahain pun Percuma lamongan legen tuban

Legen Tuban kini serba oplosan, tak layak jadi oleh-oleh khas daerah

22 Juli 2026
Kecewa pada teman yang tidak mengucapkan selamat ulang tahun, saya jadi belajar tidak berekspektasi pada manusia Mojok.co

Kecewa pada teman yang tidak mengucapkan selamat ulang tahun, saya jadi belajar tidak berekspektasi pada manusia 

16 Juli 2026
Drama pembayaran tunai ojol, uang kembalian jadi menguras waktu dan energi saya Mojok.co

Niat beli makanan lewat layanan pesan antar ojol supaya praktis, eh berujung repot karena driver tak punya kembalian

20 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.