Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Bertobatlah wahai Orang Tua yang Tidak Suka Baca Buku tapi Menuntut Anaknya Suka Baca

Reni Soengkunie oleh Reni Soengkunie
14 Oktober 2020
A A
baca buku orang tua anak minat baca mojok

baca buku orang tua anak minat baca mojok

Share on FacebookShare on Twitter

Saya sering sekali mendapat curhatan dari teman atau kerabat tentang keluhan mereka akan anaknya yang susah banget kalau disuruh baca buku. Biasanya keluhan seperti ini akan diikuti dengan keluhan selanjutnya akan anaknya yang kecanduan gadget. Secara sederhananya, banyak sekali orang di sekitar saya yang sangat suka menjadikan gadget sebagai penyebab anak-anaknya tidak suka membaca buku. Seolah penggunaan gadget dan kegemaran membaca buku ini memiliki hubungan sebab-akibat.

Mereka berpikirnya seperti ini: bermain gadget bikin tidak gemar membaca atau orang yang gemar membaca itu pasti tidak suka bermain gadget. Padahal sih nggak gitu juga rumus dan teorinya. Toh, sekarang semua apa pun bisa dilakukan di gadget. Seperti halnya perpustakaan digital, kita tetap bisa membaca buku via gadget. Membaca kitab suci juga bisa via gadget. Menonton video pembelajaran, juga bisa via gadget. Sehingga gadget ini bukan sesuatu yang sifatnya negatif karena banyak hal positif yang bisa kita dapatkan dari gadget. Sehingga korelasi hubungan antara kecanduan gadget dengan minat membaca itu sebenarnya masih ambigu.

“Padahal aku sudah membelikan anakku buku mahal-mahal, eh, malah nggak dibaca!”

“Aku tuh sampai capek ngomelin anakku buat baca buku, susah banget dibilanginnya.”

Kurang lebih semacam inilah kalimat-kalimat yang sering diutarakan oleh teman-teman saya. Biasanya sebelum menanggapi keluhan tersebut, saya menarik napas dalam-dalam terlebih dahulu, lalu dengan senyuman ringan saya mengajukan pertanyaan sepele, “Kamu suka baca buku nggak?”

Dan hampir sepuluh dari sepuluh orang yang mengeluh itu semuanya memiliki jawaban yang sama, “Nggak!”Ada yang bilang kalau dia nggak suka baca buku, ada yang bilang kalau dia sibuk, dan ada yang bilang buat apa baca buku di usianya yang sudah tak lagi muda.

Dia sendiri nggak suka membaca buku, tapi nyuruh atau bahkan menuntut anaknya untuk gemar membaca buku. Ini kan lucu. Katanya, “Like parent like child”. Yah, wajar dong kalau anaknya nggak suka baca buku, toh orang tuanya juga nggak suka membaca buku ini. Mana ada sih, buah jatuh, jauh dari pohonnya. Kecuali kalau pohonnya itu di tepi sungai, lalu si buah hanyut ke sungai dan terbawa arus.

Sebenarnya saat anak sudah memiliki rasa senang atau gemar dengan membaca, tanpa adanya buku pun dia pasti bakal nyari bacaan sendiri. Berbeda halnya jika si anak belum memiliki ketertarikan terhadap minat baca, mau di rumahnya ada ribuan buku sekali pun nggak bakal mau si anak ini menyentuh buku.

Baca Juga:

4 Hal Menyebalkan yang Membuat Ibu-ibu Kapok Pergi ke Posyandu

Alasan Banyak Nama Anak Zaman Sekarang Semakin Rumit

Makanya PR para orang tua yang terpenting itu adalah membuat anak memiliki rasa senang dengan kegiatan membaca dulu. Tentu saja ini bukan hal mudah dan nggak bisa dilakukan secara instan. Mustahil ada tips membuat anak gemar membaca dalam waktu singkat. Semuanya butuh proses.

Saya sendiri memiliki ketertarikan dalam dunia membaca pun juga melalui proses panjang. Masa kecil saya itu kebetulan tidak pernah dikenalkan dengan majalah Bobo ataupun buku anak, kala itu hidup serba susah. Jangankan buat beli buku, buat makan saja susahnya minta ampun. Waktu kecil saya itu kalau disuruh baca buku malasnya nggak ketulungan. Kalau nggak salah, saya bisa baca aja baru kelas tiga SD di saat teman yang lain kelas dua sudah lancar membaca.

Beruntung saya memiliki dua orang tua yang gemar membaca. Bapak dan ibu saya itu bukan orang terpelajar, mereka hanya petani biasa yang sehari-harinya bekerja di sawah. Dulu kami sering beri majalah bekas oleh pakde saya yang tinggal di kota. Majalahnya itu Panjebar Semangat, Intisari, dan Femina. Saya sering melihat bapak saya membaca majalah itu setiap pagi sambil minum teh, lalu sesudah salat zuhur sambil istirahat bapak kembali membaca majalah itu sampai ketiduran. Kadang sore hari atau malam akan lanjut meneruskan membaca majalah itu. Ibu saya juga gitu, tapi kalau ibu membacanya cuma siang hari dan malam sebelum tidur.

Keduanya tak pernah memaksa saya membaca buku, walaupun kakak pertama saya sangat suka membaca buku. Untungnya mereka paham, bahwa tiap anak itu punya potensi masing-masing, sehingga mereka tidak membandingkan anak satu dengan anak lainnya. Meski tanpa paksaan, nyatanya lambat laun saya jadi tergoda membaca majalah-majalah orang dewasa tersebut karena setiap hari melihat orang tua saya membaca. Hingga akhirnya saya kecanduan membaca juga. Saya yang di rumah nggak punya buku, pada akhirnya bergerilya dari satu perpustakaan ke perpustakaan lain untuk meminjam buku.

Kita semua tentu sudah tidak asing dengan istilah “Don’t judge a book by its cover”. Kita mungkin saja bisa tertarik dengan cover buku yang gambar warna-warni yang menarik. Hanya saja, untuk jatuh cinta kita masih butuh waktu untuk mengenalnya bukan? Terkadang juga kita butuh mak comblang agar kita bisa mengenal orang tersebut dengan lebih detail lagi. Di sinilah peran orang tua sebagai mak comblang untuk men-jatuh-cinta-kan anaknya pada buku. Mereka butuh dikenalkan dan butuh contoh agar bisa tahu bagaimana orang dewasa itu bisa jatuh cinta pada buku.

Jadi, bagi orang tua yang suka mengeluh akan anaknya yang susah membaca buku, semoga bisa introspeksi diri lagi. Memang harapan semua orang tua itu agar anaknya bisa lebih baik dari orang tuanya, tapi menuntut anak untuk melakukan sesuatu sedangkan kita sendiri tidak suka, bukankah itu terlalu egois?

BACA JUGA Kenapa Kita Selalu Dituntut Harus Terlihat Produktif sih? dan tulisan Reni Soengkunie lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 13 Oktober 2020 oleh

Tags: AnakBaca Bukuminat bacaOrang Tua
Reni Soengkunie

Reni Soengkunie

Bakul sembako yang hobi mendengar keluh kesah emak-emak di warung tentang tumbuh kembang dan pendidikan anak, kehidupan lansia setelah pensiun, serta kebijakan pemerintah yang mempengaruhi kenaikan harga sembako.

ArtikelTerkait

Bobo, Majalah Literasi buat Anak yang Pertama Saya Kenal terminal mojok.co

Bobo, Majalah Literasi buat Anak yang Pertama Saya Kenal

29 Desember 2020
hal lucu yang tak sengaja guru lihat saat kelas daring pjj wabah corona mojok.co

4 Pemandangan yang Tak Sengaja Guru Lihat saat PJJ

2 September 2020
6 Pengalaman Saya Jadi Anak Karyawan Indofood Selama 26 Tahun Terminal Mojok.co

6 Pengalaman Saya 26 Tahun Jadi Anak Karyawan Indofood

25 Februari 2022
Sosok Ayah yang Tak Akan Pudar Jasanya walau Telah Lama Meninggal terminal mojok

Sosok Ayah yang Tak Akan Pudar Jasanya walau Telah Lama Meninggal

15 Agustus 2021
Sebelum Menitipkan Anak, Pahami 3 Hal tentang Daycare Ini Terlebih Dahulu

Sebelum Menitipkan Anak, Pahami 3 Hal tentang Daycare Ini Terlebih Dahulu

17 Agustus 2022
Guru dan Siswa Nggak Sempat Baca Buku: Guru Diburu Berkas, Siswa Diburu Tugas

Guru dan Siswa Nggak Sempat Baca Buku: Guru Diburu Berkas, Siswa Diburu Tugas, Literasi Kandas

16 April 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Hilangnya Estetika Kota Malang Makin Kelam dan Menyedihkan (Unsplash)

Di Balik Wajah Kota yang Modern: Kehidupan Kelam di Labirin Gang Sempit dan Hilangnya Estetika Kota Malang

29 Maret 2026
Kulon Progo Terkesan Santai karena Warlok Tidak Banyak Pilihan Hidup, Bukan karena Menganut Slow Living Mojok.co

Kulon Progo Terkesan Santai karena Warlok Tidak Punya Banyak Pilihan Hidup, Bukan karena Menganut Slow Living

27 Maret 2026
Weleri Kendal Baik-baik Saja Tanpa Mie Gacoan, Waralaba Ini Lebih Baik Incar Daerah Lain Mojok.co

Membayangkan Kendal Maju dan Punya Mall Itu Sulit, sebab Mie Gacoan Aja Baru Ada Setahun

31 Maret 2026
Unpopular Opinion, Mojokerto Adalah Kota Paling Layak untuk Hidup Bahagia Sampai Tua Mojok.co

Mojokerto, Kota yang Tak Pernah Move On dari Masa Lalunya dan Tak Bisa Lepas dari Apa-apa yang Berbau Majapahit

2 April 2026
Gresik yang Dahulu Saya Anggap Biasa Aja, Sekarang Malah Bikin Kangen Mojok.co

Gresik yang Dahulu Saya Anggap Biasa Aja, Sekarang Malah Bikin Kangen

31 Maret 2026
Terima kasih Gresik Sudah Menyadarkan Saya kalau Jogja Memang Bukan Tempat Sempurna untuk Bekerja Mojok.co

Terima kasih Gresik Sudah Menyadarkan Saya kalau Jogja Memang Bukan Tempat Sempurna untuk Bekerja

3 April 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • Mencintai Musik Underground di Madura: Merayakan Distorsi di Tengah Kepungan Dangdut
  • Ambisi Beli Mobil Keluarga sebelum Usia 30, Setelah Kebeli Tetap Gagal Senangkan Ortu dan Jadi Pembelian Sia-sia
  • Gelar Siswa Terpintar Tak Berarti buat Kuliah UB, Terdampar di UIN Malah Jadi Mahasiswa Goblok, Nyaris DO dan Lulus Tak Laku Kerja
  • Vario 160 Adalah Motor Buruk Rupa yang Menyalahi Kodrat Motor Honda, tapi Sejauh Ini Menjadi Matik Terbaik yang Tahan Siksaan
  • Resign dari Perusahaan Bergaji 3 Digit di Luar Negeri karena Tak Merasa Puas, Kini Memilih Kerja “Sesuai Passion” di Kampung Halaman
  • Punya Rumah Besar di Desa: Simbol Kaya tapi Percuma, Terasa Hampa dan Malah Iri sama Kehidupan di Rumah Kecil-Sekadarnya

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.