Kenapa Kita Selalu Dituntut Harus Terlihat Produktif sih? – Terminal Mojok

Kenapa Kita Selalu Dituntut Harus Terlihat Produktif sih?

Artikel

Reni Soengkunie

“Hidup di dunia ini harus jadi manusia yang produktif, produktif, dan produktif.”

Saya sering sekali mendengar kalimat motivasi seperti ini dari berbagai macam arah mata angin. Seolah semua orang yang numpang di Bumi ini dituntut untuk selalu produktif dalam hidupnya. Kata produktif sendiri bervariasi penafsirannya. Ada yang beranggapan produktif itu sebuah kegiatan yang menghasilkan pendapatan berupa uang atau harta benda. Ada yang berpikir produktif itu memunculkan banyak karya, ide, atau gagasan. Dan ada juga yang bilang kalau produktif itu sebuah pekerjaan yang bermanfaat bin berfaedah bagi diri sendiri atau orang lain.

Saya sendiri sangat suka melihat teman-teman saya yang produktif sekali hidupnya. Ada yang sehari-harinya bekerja, tapi masih bisa jualan online, baca buku, ngeblog, mengurus suami dan anak, dan masih suka menulis di mana-mana. Ada lagi teman saya yang setiap harinya kerja dan jadi ibu rumah tangga tanpa ART, tapi kok bisa-bisanya dia dalam sebulan dia bisa membaca buku 18 biji. Mana buku yang dia baca itu minimal 300 halaman lagi. Ampun deh. Ada juga teman saya yang kerjaannya sudah mapan, tapi masih melanjutkan studinya dan masih sempat-sempatnya ikut kegiatan sosial.

Kalau di Terminal Mojok, ambil saja contohnya Mas Seto. Dia kurang sibuk apa coba. Setiap harinya sudah pusing ngurusin wawancara dengan para kandidat pekerja, masih harus ngajak main anak lelakinya yang mukanya cakep banget mirip ibunya, belum lagi dia sering merekam video istrinya yang jago banget nyanyi di studio musik. Tapi, kok bisa-bisanya itu orang menulis artikel sebanyak itu coba. Ini kan nggak masuk di akal manusia normal yah. Tapi, kembali lagi, masalah ini, Wallahu a’lam, mungkin hanya Mas Seto dan tuyul-tuyulnya yang tahu.

Baca Juga:  Dilema Liburan dan Keinginan Tetap Produktif

Gara-gara semua orang pada produktif, saya kadang suka merasa bersalah kalau sering nganggur, suka rebahan, malas menulis, dan nggak produktif gitu. Lalu saya mencari-cari cara untuk terlepas dari belenggu ini dan mencoba kayak orang-orang. Saya mulai memotivasi diri sendiri, mulai melawan rasa malas saya yang membandel, dan belajar mengatur waktu sedemikian rupa. Oleh karena ingin kayak orang-orang, saya belajar untuk produktif juga. Ikut acara ini dan itu. Gabung ke komunitas ini dan itu. Mencoba menulis ini dan itu. Menjajal kegiatan ini dan itu. Semua itu saya lakukan semata-mata agar kelihatan produktif di mata orang-orang.

Hingga saya mulai berpikir ulang. Buat apa sih sebenarnya saya harus capek-capek kayak gini? Untuk apa coba? Kenapa saya harus sok sibuk? Kenapa saya nggak boleh malas? Kenapa saya nggak boleh bersantai-santai setiap harinya? Kenapa saya harus terlihat sibuk agar waktu saya tidak terbuang begitu saja?

Lalu saya sadar, selama ini saya hanya fokus akan produktivitas orang lain tapi saya melupakan satu hal penting. Orang-orang yang produktif ini mereka melakukan semua itu tidak serta merta hanya untuk (terlihat) produktif semata. Mereka memiliki sesuatu yang ingin mereka raih, mereka punya target ingin mereka dapatkan, sehingga wajar jika mereka produktif. Saya hanya melihat produktivitas mereka tanpa pernah melihat tujuan mereka, sehingga saya hanya ikut-ikutan produktif tapi saya sendiri nggak tahu apa yang sebenarnya saya inginkan.

Sama seperti halnya anak kuliah yang rajin banget belajarnya. Selalu mengumpulkan tugas tepat waktu. Selalu datang tiap kali ada kelas. Selalu aktif di kelas saat ada diskusi. Itu wajar, soalnya dia menginginkan nilai A. Tapi, kalau target nilai kita C saja sudah cukup, yah, nggak perlu sok-sokan sibuk belajar gitu. Toh, asal presensi kita nggak kebangetan banget, dan masih mau mengerjakan tugas dari dosen, maka nilai C itu tetap bakalan didapat. Nggak usah ngoyo.

Baca Juga:  Tinggal di Dekat Rumah Saudara Justru Ganggu Kebebasan Berumah Tangga

Ada yang rajin menerbitkan tiga sampai lima buku dalam setahun karena memang ingin memiliki karya yang banyak. Namun, ada juga yang hanya menulis satu buku dalam setahun. Ada orang yang suka menulis puluhan artikel di Terminal Mojok, namun ada orang yang lebih suka menulis satu artikel saja tapi langsung tembus di Mojok besar. Semua orang punya targetnya masing-masing.

Jadi, pada kesimpulannya kita harus menentukan target yang kita inginkan. Nggak perlu ikut-ikutan orang lain agar terlihat produktif. Setiap orang punya target masing-masing dalam hidupnya, sehingga tingkat produktivitasnya tentu berbeda-beda satu sama lain. Saat kita sudah menentukan target kita, nantinya kita akan secara otomatis produktif sendiri.

BACA JUGA Pengalaman Berkali-kali Membantu Kucing Melahirkan dan tulisan Reni Soengkunie lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
36


Komentar

Comments are closed.