Menanggapi salah satu tulisan saya mengenai kondisi Malang berubah menjadi “sumuk” yang sempat memicu rasa kesal terutama para perantau yang merasakan menetap di kedua wilayah tersebut. Saya sependapat dengan artikel yang ditulis oleh Mbak Ferika Sandra, memang cukup berlebihan apabila menyebut Malang kota yang “sumuk” jika dibandingkan dengan Surabaya.
Di sini kita tau secara karakteristik kedua wilayah tersebut jelas berbeda. Surabaya merupakan wilayah yang berada di dataran rendah, serta lebih dekat dengan pesisir pantai. Namun, Malang sendiri merupakan wilayah yang letaknya berada di dataran tinggi. Oleh karena itu membandingkan kedua wilayah ini tidak akan ada habisnya.
Jangan terlena dengan kalimat “mendingan Malang daripada Surabaya”
Kita semua tentunya menyadari bahwa Malang berada di dataran tinggi, dan sudah seharusnya suhu di kota tersebut merupakan suhu dingin. Namun, jika kita terus-terusan berlindung di balik kata “mendingan”, berarti kita sedang normalisasikan kerusakan yang ada didepan mata.
Tolok ukur kenyamanan Malang seharusnya masa lalu, bukan Surabaya masa kini. Ketika kita terus merasa aman karena suhu di Kota Malang tidak seekstrem wilayah pesisir, sama saja kita terus membiarkan kualitas hidup di Kota Malang perlahan lahan menurun.
Surabaya menjadi panas karena karakteristik wilayahnya berada di pesisir pantai. Namun, Surabaya kini berjuang menanam ratusan pepohonan untuk mengatasi permasalahan tersebut. Hal ini berbeda dengan Malang, ia merupakan kota dengan karakteristik bersuhu dingin.
Jika kini Malang menjadi kota yang “sumuk” bukan karena posisi wilayahnya, akan tetapi karena sumbangan dari betonisasi yang semakin agresif. Banyak bukit hijau serta daerah resapan air yang berubah menjadi kawasan wisata, ruko, perhotelan, dan perumahan.
Para pelaku usaha berbondong-bondong menjual jargon “hawa sejuk Malang” untuk menarik konsumen. Namun, bangunan beton yang mereka dirikan justru menjadi pembunuh utama dari kesejukan tersebut.
Pergeseran gaya hidup dan semakin memudarnya identitas kota
Dampak dari Malang yang kian “sumuk” ini bukan sekadar angka yang tertera di termometer, melainkan pergeseran budaya dan gaya hidup masyarakat. Dulu, pendingin ruangan (AC) adalah barang langka yang tidak terlalu dibutuhkan di kamar kos atau rumah-rumah di Malang. Kini, AC dan kipas angin telah bergeser menjadi kebutuhan primer.
Banyak pemilik kos yang berbondong-bondong untuk menyediakan AC atau kipas angin untuk memberikan fasilitas yang nyaman. Tapi, hal ini justru memicu lingkaran setan baru. Semakin banyak AC yang digunakan, semakin besar pula pembuangan emisi panas ke udara luar, yang membuat lingkungan sekitar semakin gerah.
Kenyamanan menikmati ruang publik secara gratis di Malang kini perlahan sirna. Budaya masyarakat dan mahasiswa yang dulu gemar berjalan kaki atau sekadar duduk-duduk menikmati angin sore yang menusuk tulang, kini mulai bergeser.
Kota yang memiliki karakteristik bersuhu dingin, akan tetapi di berbagai tempat justru berbondong-bondong menyediakan pendingin ruangan. Hal ini seharusnya menjadi pertanyaan serius, mengapa bisa terjadi?
Berhenti membandingkan, dan mulai membenahi
Membandingkan kedua kota dengan karakteristik wilayah yang jauh berbeda tidak akan ada habisnya. Perdebatan “mending” Malang dibandingkan Surabaya merupakan hal yang tidak produktif. Kita tidak bisa selamanya berlindung di balik kata “mending”, jika tidak ingin kota yang menjadi kebanggaan karena hawa sejuknya dan ragam pemandangan ini perlahan sirna. Semua kejadian ini seharusnya menjadi alarm untuk tidak menormalisasi kerusakan lingkungan.
Menyelamatkan Malang dari kepungan hawa “sumuk” tidak bisa dilakukan dengan cara menjadikan kota pesisir sebagai tameng pembenaran atas buruknya tata ruang. Surabaya tidak bisa dipaksa menjadi dingin karena takdir geografisnya, tetapi Malang juga dilarang keras menjadi panas karena akibat keserakahan manusia.
Penulis: Abdur Rohman
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Malang Bukan Lagi Kota yang Dingin dan Asri, Kini Ia Menjelma Jadi Kota Panas dan Tak Menyenangkan
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













