Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus

3 Kali Gagal Tes Sekolah Kedinasan, Akhirnya Malah Lolos Kedokteran UGM yang Terpaksa Direlakan karena Biaya

Dyan Arfiana Ayu Puspita oleh Dyan Arfiana Ayu Puspita
6 Juli 2026
A A
3 Kali Gagal Tes Sekolah Kedinasan, Akhirnya Malah Lolos Kedokteran UGM yang Terpaksa Direlakan karena Biaya Mojok.co

3 Kali Gagal Tes Sekolah Kedinasan, Akhirnya Malah Lolos Kedokteran UGM yang Terpaksa Direlakan karena Biaya (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Tidak mudah membiarkan kesempatan kuliah Kedokteran UGM berlalu begitu saja …

Keberhasilan adalah sebuah perjalanan, bukan tujuan akhir. Kalimat ini mungkin pernah kita baca di belakang truk, bersliweran di video-video inspiratif, ataupun diucapkan oleh seorang motivator di sebuah kegiatan berbayar. Kalian percaya dengan kalimat ini tidak?

Bagi sebagian orang, kalimat tersebut sering kali terdengar seperti penghibur atau… apa ya istilahnya? Coping mechanism. Sebuah kalimat yang digunakan oleh mereka yang baru saja ditumbangkan oleh ekspektasi, supaya tidak terlihat terlalu menyedihkan di mata dunia. Padahal mah aslinya remuk.

Akan tetapi, bagi Susan (tentu saja bukan nama aslinya), kalimat tersebut bukan sekadar coping mechanism, tapi kisah hidupnya.

Berjuang untuk mimpi yang sama

Saya mengenal Susan lewat cerita ibunya. Kebetulan, saya dan ibu Susan bergabung di sebuah organisasi yang sama. Jadi ya, kami sering bertemu dan bertukar cerita. Salah satu topik obrolannya, jelas, seputar anak. Namanya juga emak-emak.

Selepas lulus SMA, Susan sebenarnya sudah mengamankan posisi karena diterima di sebuah politeknik untuk jenjang D3. Namun, hati kecil Susan ingin mencoba peruntungan di jalur sekolah kedinasan. Maka, dengan restu orang tua, dia pun mendaftar di Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (STMKG).

Saat tes masuk di STMKG, Susan berhasil melaju mulus di tes tertulis. Sayangnya, langkah Susan harus terhenti di tes fisik. Namun, Susan tidak mau menyerah pada keadaan. Sambil menjalani rutinitas sebagai mahasiswa aktif di politeknik, Susan kembali mempersiapkan diri untuk ikut tes sekolah kedinasan untuk tahun berikutnya.

Sayang, sama persis seperti tahun sebelumnya, Susan kembali tumbang di tahapan tes fisik.

Baca Juga:

Andai dapat rezeki nomplok Rp100 miliar, saya akan bangun sekolah yang kesejahteraan gurunya terjamin

Rute kucing UGM, spot lari Jogja yang kalcer dan ramah untuk pelari pemula

Ketika mimpi berpindah haluan

Meski dua kali gagal di lubang yang sama, Susan tidak jera. Memasuki tahun ketiganya kuliah di politeknik, yang artinya tinggal setahun lagi dia akan lulus, Susan masih menyimpan ambisi untuk mencoba tes kedinasan sekali lagi. Atas saran dari ibunya, Susan mendaftar ke sekolah kedinasan yang tidak menyertakan tes fisik dalam rangkaian seleksinya. Akhirnya, pilihan Susan jatuh pada Sekolah Tinggi Ilmu Statistika (STIS).

Bukan hanya itu. Di tahun terakhir kesempatannya mengikuti seleksi mahasiswa baru ini, Susan memutuskan untuk all-out attack. Dia mengambil keputusan berani untuk banting setir ikut serta dalam Ujian Mandiri (UM). 

Kampus pilihannya? Nggak tanggung-tanggung: UGM. Pilihan jurusannya pun tidak main-main. Susan memilih fakultas yang menjadi impian tertinggi bagi banyak anak pintar di negeri ini: Fakultas Kedokteran. Susan benar-benar bertaruh dengan seluruh sisa energi dan waktu yang dimilikinya.

Pengumuman demi pengumuman pun tiba. Susan gagal di STIS. Tapi semesta seperti mengajak bercanda ketika pengumuman UM UGM keluar. Susan berhasil lolos!

Berdamai dengan merelakan Kedokteran UGM

Kabar kelulusan Susan di Fakultas Kedokteran UGM itu tentu mendatangkan gelombang kebahagiaan. Meski, tak bisa dimungkiri, kabar bahagia tersebut juga membawa beban. 

Biaya kuliah kedokteran jalur mandiri sangatlah mahal. Di awal perkuliahan, setidaknya harus ada dana segar minimal Rp100 juta. Bagi orang tua Susan, angka itu terasa seperti pungguk merindukan bulan. Bapak Susan hanyalah seorang karyawan pabrik biasa, sedangkan ibunya seorang guru swasta yang penghasilannya di bawah UMR. Itupun, kadang gajian kadang tidak.

Meski demikian, beratnya beban finansial ini tidak pernah ditunjukkan atau dikeluhkan orang tua Susan di depan Susan. Bagaimanapun juga, mereka tidak tega mematahkan sayap anaknya yang baru saja terbang. Tanpa sepengetahuan Susan, bapak dan ibu Susan sudah pasrah bersepakat bulat untuk menjual rumah, demi membiayai pendidikan dokter Susan.

Tapi, kalian tahu apa yang selanjutnya terjadi?

Susan yang kedebugan 3 kali gagal ikatan dinas lalu akhirnya berhasil tembus kedokteran UGM ini, dengan rasa legowo memilih untuk mundur. Sepertinya, Susan menangkap kecemasan yang disembunyikan orang tuanya. Sehingga, dia memilih untuk berdamai dengan kenyataan.

“Mamah nggak usah khawatir. Kakak bisa tembus ke UGM saja sudah seneng. Itu artinya, Kakak bisa membuktikan ke diri kakak sendiri, ke mamah, ke papah dan ke adik kalau kakak ini bisa.”

Dan, dinding rumah pun jadi saksi bagaimana pasangan ibu dan anak ini kemudian saling berpelukan dengan penuh derai air mata.

Penulis: Dyan Arfiana Ayupuspita
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Dear Mahasiswa Baru, Tidak Semua Organisasi Layak untuk Diikuti, Banyak yang Akhirnya Cuma Bikin Kalian Depresi.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 6 Juli 2026 oleh

Tags: kedokterankedokteran ugmSekolahsekolah kedinasanUGMujian mandiriujian mandiri ugm
Dyan Arfiana Ayu Puspita

Dyan Arfiana Ayu Puspita

Alumnus Universitas Terbuka yang bekerja sebagai guru SMK di Tegal. Menulis, teater, dan public speaking adalah dunianya.

ArtikelTerkait

Mas Wapres Benar, Sistem Zonasi Memang Sebaiknya Dihapus Saja karena Banyak Masalah

Mas Wapres Benar, Sistem Zonasi Memang Sebaiknya Dihapus Saja karena Banyak Masalah

26 November 2024
4 Hal Jadi Mahasiswa UGM Itu Nggak Enak terminal mojok.co

4 Hal Jadi Mahasiswa UGM Itu Nggak Enak

7 Desember 2021
5 Hal yang Biasa Dilakukan Mahasiswa Baru UGM dan Mustahil bagi Mahasiswa Tua

5 Hal yang Biasa Dilakukan Mahasiswa Baru UGM dan Mustahil bagi Mahasiswa Tua

7 Maret 2024
geografi

Disorientasi Daerah Dan Pendidikan Geografi Kita yang Di Bawah Rerata

2 Juni 2019
Sekolah Bukan Cuma Formalitas. Bimbel Tak Akan Bisa dan Tak Akan Pernah Bisa Menggantikan Sekolah  

Sekolah Bukan Cuma Formalitas, Bimbel Tak Akan Bisa dan Tak Akan Pernah Bisa Menggantikan Sekolah  

25 Mei 2026
Di Sleman, Mahasiswa Bisa Hidup dengan Uang 30 Ribu (Unsplash)

Cara Mahasiswa Bertahan Hidup di Sleman dengan Uang 30 Ribu

23 Juni 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Alasan saya suka curhat ke AI, nyaman karena tidak dihakimi dan tidak menambah beban hidup orang lain Mojok.co

Alasan saya suka curhat ke AI, nyaman karena tidak dihakimi dan tidak menambah beban hidup orang lain

11 Agustus 2026
5 Kuliner Madura selain Sate yang Layak Dikenal Lebih Banyak Orang Mojok.co

Jangan cuma mengingat stereotip negatifnya, nyatanya orang Madura itu jago banget masak

10 Agustus 2026
Kalimat “pekerjaan yang menyenangkan adalah hobi yang dibayar” itu omong kosong, saya sudah membuktikannya Mojok.co

Kalimat “pekerjaan yang menyenangkan adalah hobi yang dibayar” itu omong kosong, saya sudah membuktikannya

15 Agustus 2026
Cerita orang Muhammadiyah di tengah kultur NU Tegal yang kental: awalnya syok, lama-lama bisa ambil hikmahnya Mojok.co

Cerita orang Muhammadiyah di tengah kultur NU Tegal yang kental: awalnya syok, lama-lama bisa ambil hikmahnya

12 Agustus 2026
Kawasan Surabaya Utara: Dijuluki Mexico-nya Surabaya dan Identik dengan Hal Negatif

Sisi lain kehidupan warga Surabaya Utara, orang yang klemar-klemer tidak cocok tinggal di daerah ini

13 Agustus 2026
Gudeg Sagan duta gudeg Jogja untuk lidah-lidah yang skeptis (Wikimedia Commons)

Gudeg Sagan adalah duta gudeg Jogja untuk lidah-lidah yang skeptis

11 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.