Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Otomotif

Honda Win Memang Bikin Repot, tapi Sejak Kapan Motor Tua Punya Kewajiban Memanjakan Pemiliknya?

Riko Prihandoyo oleh Riko Prihandoyo
6 Juli 2026
A A
Pengalaman Naik Honda Win 100 di Tanah Rantau Adalah Mimpi Buruk, Hidup Tambah Repot Mojok.co

Pengalaman Naik Honda Win 100 di Tanah Rantau Adalah Mimpi Buruk, Hidup Tambah Repot (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Semakin banyak saya membaca cerita tentang motor Honda Win yang rewel, semakin besar pula keinginan saya untuk memilikinya. Puncaknya, setelah membaca artikel berjudul “Bergantung pada Honda Win 100 di Tanah Rantau Adalah Mimpi Buruk, Hidup Tambah Repot” karya Irfan Maulana Azizy, saya justru semakin yakin kalau motor ini memang layak diperjuangkan.

Jangan salah paham dulu. Saya paham betul keresahan yang ditulis Mas Irfan. Kalau sebuah motor dipakai setiap hari untuk bekerja atau kuliah, lalu tiba-tiba mogok karena sparepart sulit dicari atau ada komponen yang bermasalah, tentu itu menyebalkan. Pengalaman itu nyata dan sangat mungkin dialami siapa saja yang bergantung pada motor tua.

ADVERTISEMENT

Hanya saja, setelah selesai membaca artikelnya, saya malah bertanya dalam hati, memangnya sejak awal ada yang membeli Honda Win dengan harapan perawatannya semudah motor yang baru keluar dari dealer?

Menurut saya, di situlah letak persoalannya. Kita terlalu terbiasa dengan kendaraan yang serba praktis. Tinggal tekan tombol starter, isi bensin, servis berkala, lalu dipakai lagi. Ketika bertemu motor yang meminta perhatian lebih, kita buru-buru menyebutnya merepotkan.

Padahal, orang yang memang mengincar Honda Win biasanya sudah tahu betul konsekuensinya.

Motor Honda Win memang tak lagi muda

Justru pertanyaan utamanya adalah, apa yang kamu harapkan dari motor Honda Win? Umurnya sudah lebih dari tiga dekade. Wajar jika ada komponen yang aus, beberapa onderdil asli mulai sulit ditemukan, dan tidak semua bengkel memahami karakter mesinnya. Justru kalau ada yang mengira Honda Win bisa diperlakukan persis seperti motor keluaran terbaru, itu aneh, pake banget.

Lagi pula, Honda Win yang masih wara-wiri di jalan sekarang kebanyakan juga sudah tidak benar-benar standar pabrik. Banyak pemilik melakukan penyesuaian agar motornya tetap nyaman dipakai harian. Jeroannya sudah hampir mustahil orisinil. Bukan berarti motor tersebut gagal, tapi ya, lagi-lagi, berharap apa dengan motor berusia lebih dari tiga dekade?

Bagi saya, justru di situlah letak menariknya memelihara motor tua.

Baca Juga:

Kenapa banyak pemilik motor Honda nggak mau servis motor di bengkel resmi atau AHASS?

Bergantung pada Honda Win 100 di Tanah Rantau Adalah Mimpi Buruk, Hidup Tambah Repot

Motor seperti Honda Win tidak hanya mengajak kita berkendara, tetapi juga mengajak kita mengenal kendaraannya. Pemiliknya perlahan belajar memahami suara mesin, mengetahui komponen mana yang mulai minta perhatian, sampai akhirnya akrab dengan sesama pemilik karena sama-sama berburu onderdil. Hubungan seperti ini mungkin terdengar merepotkan bagi sebagian orang, tetapi justru itulah yang dicari oleh sebagian lainnya.

Saya juga melihat komunitas Honda Win di Indonesia masih cukup aktif. Mereka saling bertukar informasi soal sparepart, berbagi pengalaman modifikasi yang tetap mempertahankan karakter motor, hingga membantu sesama anggota yang kesulitan mencari komponen tertentu. Menurut saya, kalau motor Honda Win memang seburuk itu untuk dipelihara, mungkin komunitasnya tidak akan tetap hidup sampai sekarang.

Bukan motor sempurna, jelas bukan

Saya tidak sedang mengatakan motor Honda Win adalah motor yang sempurna. Jelas tidak. Motor ini bukan pilihan paling praktis, bukan yang paling murah dirawat, dan bukan pula yang paling mudah dipelihara. Kalau tujuan seseorang adalah mencari kendaraan yang tinggal dipakai tanpa banyak berpikir, masih banyak pilihan yang lebih masuk akal.

Tapi kurang adil jika mengukur Honda Win dengan memakai standar motor modern. Toh sejak awal, pesona motor ini memang bukan terletak pada kepraktisannya. Orang jatuh hati pada bentuknya yang khas, sejarahnya, kesederhanaannya, dan pengalaman yang ditawarkan ketika merawatnya.

Kalau suatu hari nanti motor Honda Win benar-benar terparkir di garasi rumah saya, saya tidak berharap hidup menjadi lebih mudah. Saya juga tidak berharap motor itu bebas dari drama. Justru saya ingin menikmati seluruh prosesnya, termasuk ketika harus meluangkan waktu mencari sparepart atau berdiskusi dengan sesama pemilik tentang komponen yang paling cocok dipakai.

Sebab sejak awal saya tidak sedang mencari motor yang memanjakan pemiliknya. Saya hanya ingin memiliki motor yang karakternya tetap hidup, bahkan setelah puluhan tahun berhenti diproduksi. Dan menurut saya, selama masih ada orang yang rela merawat, memperbaiki, dan mempertahankannya, Honda Win tidak pernah benar-benar merepotkan. Ia hanya meminta satu hal yang mulai langka di zaman sekarang, yakni kesabaran.

Penulis: Riko Prihandoyo
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Honda Win, Motor Paling Berjasa dalam Pembangunan Indonesia

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 6 Juli 2026 oleh

Tags: honda winmotor hondamotor honda winmotor tua
Riko Prihandoyo

Riko Prihandoyo

Bekerja membantu usaha orang lain sambil menempuh pendidikan di Universitas Terbuka. Menulis ketika suasana hati memberi ruang, sembari terus belajar menyemangati diri sendiri.

ArtikelTerkait

Motor Honda Astrea Grand 1991 Second Ori Harganya Rp15 Juta! (Unsplash)

Barang Kolektor Motor Honda Astrea Grand Tahun 1991 Kini Harganya Mencapai Rp15 Juta dan Saya Menyesal Sudah Menjualnya

19 Desember 2023
Vario 125: Kelihatan Lemah tapi Mampu Libas Jalur Pantura (Wikimedia Commons)

Pengalaman Saya Menguji Ketangguhan Vario 125 di Jalur Pantura, Sempat Ragu tapi Malah Bikin Ketagihan Touring

13 Juni 2026
Honda Scoopy Adalah Motor Honda Paling Aneh, tapi Paling Laku (Unsplash)

Honda Scoopy Adalah Bukti Kebobrokan Seni Menjual Motor Kosong dengan Wajah Lucu dari Honda

10 Februari 2026
Motor Honda ADV 160 Memang Keren, tapi Layak Dinobatkan Jadi Musuh Perempuan

Motor Honda ADV 160 Memang Keren, tapi Layak Dinobatkan Jadi Musuh Perempuan

22 Juni 2024
Honda Supra X 125 Motor Terbaik? Ngawur, yang Terbaik Tetap Karisma (Unsplash)

Motor Honda Terbaik Adalah Honda Karisma yang “Pantatnya Bahenol” Itu, Bukan Supra X 125 yang Lebih Modern

16 Oktober 2023
Menghujat Motor Honda ADV 160, apalagi Membandingkannya dengan Honda BeAT, Adalah Blunder yang Harusnya Tak Pernah Terjadi motor honda revo

Motor Honda ADV 160: Bobot Berat, Desain Aneh, Ini Motor Bagusnya di Mana sih?

28 Februari 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

5 Menu Seasonal Indomaret Point Coffee yang Harusnya Jadi Menu Tetap, Bukan Cuma Datang dan Hilang seperti Mantan

In this economy, cuma Point Coffee yang masih masuk akal untuk dibeli karena promonya bejibun

26 Juli 2026
Stasiun KCIC Padalarang: mewah di dalam, semrawut di luar, bukti pembangunan nggak mikirin tata ruang

Stasiun KCIC Padalarang: mewah di dalam, semrawut di luar, bukti pembangunan nggak mikirin tata ruang

26 Juli 2026
Darurat ruang terbuka hijau, warlok Kota Jogja harus mampir daerah tetangga untuk sekadar duduk-duduk di taman Mojok.co

Darurat ruang terbuka hijau, warlok Kota Jogja harus mampir daerah tetangga untuk sekadar duduk-duduk di taman

24 Juli 2026
Yamaha Fazzio, motor matic paling ciamik untuk dimodifikasi. Mau gaya proper matic, japanese cargo, retro, hingga racing, semuanya jadi keren

Yamaha Fazzio, motor matic paling ciamik untuk dimodifikasi. Mau gaya proper matic, japanese cargo, retro, hingga racing, semuanya jadi keren

24 Juli 2026
Untuk Warga Surabaya, Stop Menormalisasi Bayar Parkir kepada Juru Parkir di Toko Atau Minimarket yang Bertuliskan 'Parkir Gratis'!

Jangan cintai Surabaya secara berlebihan, ia juga punya kekurangan yang patut dibicarakan

21 Juli 2026
Dosa pengusaha kuliner, pakai foto hasil AI untuk jualan hingga pembeli merasa tertipu Mojok.co

Dosa pengusaha kuliner, pakai foto makanan hasil AI hingga pembeli merasa tertipu

20 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.