Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Berhenti membandingkan Malang dan Surabaya: karakteristiknya beda, kenapa berusaha (terlalu) keras untuk membandingkannya?

Dhivia Felsy Tsabitah Nugrahwati oleh Dhivia Felsy Tsabitah Nugrahwati
10 Juli 2026
A A
Culture Shock Warga Cepu Pindah ke Malang, Banyak Orang Ngomong Kebolak-balik dan “Kasar” Mojok.co Surabaya

Culture Shock Warga Cepu Pindah ke Malang, Banyak Orang Ngomong Kebolak-balik dan “Kasar” (uns

Share on FacebookShare on Twitter

Menanggapi salah satu tulisan saya mengenai kondisi Malang berubah menjadi “sumuk” yang sempat memicu rasa kesal terutama para perantau yang merasakan menetap di kedua wilayah tersebut. Saya sependapat dengan artikel yang ditulis oleh Mbak Ferika Sandra, memang cukup berlebihan apabila menyebut Malang kota yang “sumuk” jika dibandingkan dengan Surabaya.

Di sini kita tau secara karakteristik kedua wilayah tersebut jelas berbeda. Surabaya merupakan wilayah yang berada di dataran rendah, serta lebih dekat dengan pesisir pantai. Namun, Malang sendiri merupakan wilayah yang letaknya berada di dataran tinggi. Oleh karena itu membandingkan kedua wilayah ini tidak akan ada habisnya.

Jangan terlena dengan kalimat “mendingan Malang daripada Surabaya” 

Kita semua tentunya menyadari bahwa Malang berada di dataran tinggi, dan sudah seharusnya suhu di kota tersebut merupakan suhu dingin. Namun, jika kita terus-terusan berlindung di balik kata “mendingan”, berarti kita sedang normalisasikan kerusakan yang ada didepan mata.

Tolok ukur kenyamanan Malang seharusnya masa lalu, bukan Surabaya masa kini. Ketika kita terus merasa aman karena suhu di Kota Malang tidak seekstrem wilayah pesisir, sama saja kita terus membiarkan kualitas hidup di Kota Malang perlahan lahan menurun.

Surabaya menjadi panas karena karakteristik wilayahnya berada di pesisir pantai. Namun, Surabaya kini berjuang menanam ratusan pepohonan untuk mengatasi permasalahan tersebut. Hal ini berbeda dengan Malang, ia merupakan kota dengan karakteristik bersuhu dingin.

Jika kini Malang menjadi kota yang “sumuk” bukan karena posisi wilayahnya, akan tetapi karena sumbangan dari betonisasi yang semakin agresif. Banyak bukit hijau serta daerah resapan air yang berubah menjadi kawasan wisata, ruko, perhotelan, dan perumahan.

Para pelaku usaha berbondong-bondong menjual jargon “hawa sejuk Malang” untuk menarik konsumen. Namun, bangunan beton yang mereka dirikan justru menjadi pembunuh utama dari kesejukan tersebut.

Pergeseran gaya hidup dan semakin memudarnya identitas kota

Dampak dari Malang yang kian “sumuk” ini bukan sekadar angka yang tertera di termometer, melainkan pergeseran budaya dan gaya hidup masyarakat. Dulu, pendingin ruangan (AC) adalah barang langka yang tidak terlalu dibutuhkan di kamar kos atau rumah-rumah di Malang. Kini, AC dan kipas angin telah bergeser menjadi kebutuhan primer.

Baca Juga:

Bakso Malang minggir dulu, status makanan khas Malang mending kasihin ke tempe mendol yang endul itu

Simpang Tuwowo Surabaya pantas dijuluki lampu merah paling semrawut, kalahkan lampu merah Pegirian 

Banyak pemilik kos yang berbondong-bondong untuk menyediakan AC atau kipas angin untuk memberikan fasilitas yang nyaman. Tapi, hal ini justru memicu lingkaran setan baru. Semakin banyak AC yang digunakan, semakin besar pula pembuangan emisi panas ke udara luar, yang membuat lingkungan sekitar semakin gerah.

​Kenyamanan menikmati ruang publik secara gratis di Malang kini perlahan sirna. Budaya masyarakat dan mahasiswa yang dulu gemar berjalan kaki atau sekadar duduk-duduk menikmati angin sore yang menusuk tulang, kini mulai bergeser.

Kota yang memiliki karakteristik bersuhu dingin, akan tetapi di berbagai tempat justru berbondong-bondong menyediakan pendingin ruangan. Hal ini seharusnya menjadi pertanyaan serius, mengapa bisa terjadi?

Berhenti membandingkan, dan mulai membenahi

Membandingkan kedua kota dengan karakteristik wilayah yang jauh berbeda tidak akan ada habisnya. Perdebatan “mending” Malang dibandingkan Surabaya merupakan hal yang tidak produktif. Kita tidak bisa selamanya berlindung di balik kata “mending”, jika tidak ingin kota yang menjadi kebanggaan karena hawa sejuknya dan ragam pemandangan ini perlahan sirna. Semua kejadian ini seharusnya menjadi alarm untuk tidak menormalisasi kerusakan lingkungan.

Menyelamatkan Malang dari kepungan hawa “sumuk” tidak bisa dilakukan dengan cara menjadikan kota pesisir sebagai tameng pembenaran atas buruknya tata ruang. Surabaya tidak bisa dipaksa menjadi dingin karena takdir geografisnya, tetapi Malang juga dilarang keras menjadi panas karena akibat keserakahan manusia.

Penulis: Abdur Rohman
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Malang Bukan Lagi Kota yang Dingin dan Asri, Kini Ia Menjelma Jadi Kota Panas dan Tak Menyenangkan

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 10 Juli 2026 oleh

Tags: hawa sejuk malangkenapa surabaya panasMalangsuhu malangSurabaya
Dhivia Felsy Tsabitah Nugrahwati

Dhivia Felsy Tsabitah Nugrahwati

Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi, Universitas Negeri Malang. Menaruh perhatian terhadap keadaan dilingkungan sekitar

ArtikelTerkait

Culture Shock Arek Malang Saat Menikah dengan Orang Kertosono Nganjuk

Culture Shock Arek Malang Saat Menikah dengan Orang Kertosono Nganjuk

27 Juni 2025
IKEA Ciputra World Surabaya, Tempat yang Cocok untuk Melepas Penat Tanpa Takut Melarat mojok.co

IKEA Ciputra World Surabaya, Tempat yang Cocok untuk Melepas Penat Tanpa Takut Melarat

30 April 2026
5 Alasan Orang Kabupaten Bogor Malas Bepergian ke Ibu Kotanya, Cibinong, dam Lebih Memilih ke Kota Bogor Mojok.co surabaya

Kota Bogor Tak Cocok buat Orang Surabaya Liburan, Surabaya Jauh Lebih Rapi ketimbang Bogor!

4 Maret 2026
Surabaya

Panasnya Surabaya Tak Hanya Bikin Gerah, tapi Juga Memberi Hikmah

24 Desember 2021
Kayutangan Adalah Sumber Masalah Baru bagi Warga Kota Malang

Kayutangan Adalah Sumber Masalah Baru bagi Warga Kota Malang

30 Juli 2024
Bus Parikesit Malang Konsisten Butut dan Menyiksa Penumpang, tapi Tetap Jadi Andalan Mojok.co

Bus Parikesit Malang Konsisten Butut dan Menyiksa Penumpang, tapi Tetap Jadi Andalan

20 Mei 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kecewa dengan kebiasaan dagel di Lembata NTT, memang bikin guyub, tapi amat membebani secara tenaga dan materi Mojok.co

Kecewa dengan kebiasaan dagel di Lembata NTT, memang bikin guyub, tapi amat membebani secara tenaga dan materi

27 Juli 2026
Bangkalan nggak butuh seminar dan jargon literasi, butuhnya gerakan nyata dan bukti

Bangkalan nggak butuh seminar dan jargon literasi, butuhnya gerakan nyata dan bukti

31 Juli 2026
Kebodohan pembeli soto ayam yang bikin saya muak dan jijik (Wikimedia Commons)

Akulah pelanggan soto ayam yang marah itu gara-gara konsumen nggak punya hati yang bikin muak, mual, dan jijik

26 Juli 2026
Menguak cara kerja dan cuan jasa war tiket konser yang mencapai jutaan rupiah Mojok.co

Menguak cara kerja dan cuan jasa war tiket konser yang bisa mencapai jutaan rupiah

30 Juli 2026
Saya pernah mengira orang miskin itu kurang berusaha, dan saya salah besar

Saya pernah mengira orang miskin itu kurang berusaha, dan saya salah besar

30 Juli 2026
Warga Semarang Bawah layak dapat gelar warga paling kuat dan tabah di Semarang banjir di semarang

Banjir di Semarang selama ini tak hanya perkara alam, tapi justru gara-gara ulah warganya sendiri,

27 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.