Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Dear Pemerintah Banyuwangi, Membatasi Jam Operasional Ritel Modern Itu Justru Mematikan Wisata Banyuwangi

Ferika Sandra oleh Ferika Sandra
22 April 2026
A A
Dear Pemerintah Banyuwangi, Membatasi Jam Operasional Ritel Modern Itu Justru Mematikan Wisata Banyuwangi

Dear Pemerintah Banyuwangi, Membatasi Jam Operasional Ritel Modern Itu Justru Mematikan Wisata Banyuwangi

Share on FacebookShare on Twitter

Pemkab Banyuwangi resmi mengeluarkan aturan mengenai pembatasan jam operasional toko swalayan serta ritel modern yang berlaku sejak awal bulan ini. Konon aturan itu dibuat guna memperluas akses pasar bagi warung-warung rakyat dan pelaku UMKM. Sayangnya, aturan tersebut justru bikin Banyuwangi jadi kota mati, alih-alih bikin usaha kecil makin berjaya.

Sebab, pembatasan yang diatur oleh Surat Edaran Nomor 000.8.3/442/429.107/2026 dan ditandatangani Sekretaris Daerah Banyuwangi jadi semacam anomali. Banyuwangi yang sejak dua dekade terakhir focus membangun branding sebagai kota wisata tiba-tiba berubah haluan dengan memaksa kota ini tidur lebih awal. Coba, kota wisata macam apa yang kayak kota mati?

Padahal, sebenarnya masih banyak hal lain yang bisa diupayakan oleh Pemkab untuk bikin UMKM Banyuwangi makin berjaya, alih-alih membatasi jam operasional ritel modern hingga maksimal jam 9 malam. Lagian, target marketnya aja beda lho.

Proteksi semu dan matinya ekosistem ekonomi wisata Banyuwangi

Argumen utama pemerintah yang selalu digaungkan untuk mengesahkan aturan ini ialah dengan dalih memperluas akses pasar bagi warung rakyat. Namun, kebijakan itu menggunakan logika proteksionisme yang kaku. Di era ekonomi modern, daya saing UMKM tidak akan meningkat hanya dengan membatasi jam operasional kompetitor. Toh banyak juga jika ritel modern tidak kuat bersaing mereka akan kalah dengan pasar yang ada. Masalahnya Banyuwangi sudah dikenal sebagai jujugan wisata.

Asumsi saya, ritel modern bukan sekadar tempat belanja. Bagi wisatawan yang datang ke Banyuwangi merupakan “jangkar” keramaian. Kehadiran ritel modern yang terang benderang memberikan rasa aman bagi ekosistem di sekitarnya. Ini bisa dilihat di kota-kota besar seperti Jogja, Malang dan Surabaya. Sehingga ketika ritel modern dipaksa tutup pada pukul sembilan malam seperti di Banyuwangi. Justru efek domino terjadi, penerangan jalan berkurang, mobilitas warga menurun dan PKL yang menggantungkan nasib pada keramaian di sekitar swalayan tersebut pun kehilangan pangsa pasarnya.

Alih-alih membantu UMKM, Pemkab justru mematikan ekosistem yang menghidupi mereka.

BACA JUGA: Banyuwangi Kota yang Tak Pernah Ramah bagi Pekerja, Gajinya Rata dengan Tanah!

Pemangku kebijakan gagal mensinkronkan narasi Kota Wisata

Sebagai akamsi yang lahir dan besar di Banyuwangi dan tahu betul daerah ini sudah jadi daerah yang melabeli dirinya sebagai “Kota Wisata”, tentu saja akan ada konsekuensi logis untuk menyediakan layanan yang adaptif terhadap kebutuhan wisatawan yang datang ke Bumi Blambangan. Sebab wisatawan merupakan konsumen yang tidak terikat pada jam kerja regular, sehingga sulit membatasi mereka.

Baca Juga:

Sisi Gelap Jalan Pantura Situbondo: Gelap, Banjir, dan Jalan Berlubang Bikin Jalan Ini Begitu Gawat!

Ironi Pembangunan Banyuwangi: Sukses Meniru Bali dalam Pengelolaan Wisata, tapi Gagal Menangani Banjir di Pusat Kota

Jika pemangku kebijakan mau sedikit belajar, coba lihat saja kota-kota wisata macam Yogyakarta, Malang atau Surabaya. Di sana Pemda memahami bahwa ekonomi pariwisata bersifat nokturnal. Di Surabaya misal, regulasi justru diarahkan untuk mengintegrasikan produk lokal ke dalam rak-rak ritel modern, bukan membatasi jam bukanya. Tentu saja dengan membatasi aktivitas hingga pukul 21.00, Banyuwangi secara tidak langsung mengirimkan sinyal bagi wisatawan jika kota ini “tutup” sebelum malam benar-benar dimulai. Ini bakal jadi kontradiksi bagi sebuah daerah yang sedang gencar mempromosikan wisatanya bagi para pengunjung.

Terjebak romantisme perlindungan UMKM yang membunuh sektor lain

Memang perlindungan UMKM jadi satu hal yang perlu dijadikan atensi pemangku kebijakan. Hanya saja, Pemkab juga perlu sadar untuk tidak terjebak pada romantisme perlindungan UMKM, tapi lupa akan sektor lain yang dikorbankan. Idealnya Pemkab harus bergeser dari kebijakan restriksi menuju kebijakan fasilitasi. Sehingga proteksi terhadap UMKM bisa dilakukan dengan mewajibkan ritel modern menjadi penyalur produk unggulan UMKM setempat dengan skema bagi hasil yang adil.

Selain itu Pemkab juga bisa membantu warung rakyat agar memiliki standar kebersihan dan manajemen stok yang setara dengan ritel modern. Bukan malah mematikan ritel modern dengan dalih perlindungan UMKM. Sebab aturan pembatasan pendirian ritel berjaringan yang ada di Banyuwangi pada 2016 saja sudah membuat perkembangan kota ini melambat jika dibandingkan dengan Jember yang penuh dengan ritel berjaringan sehingga banyak titik keramaian yang tercipta.

Sejauh pengamatan saya, mengatur jarak antar-ritel modern lebih efektif daripada membatasi jam operasionalnya secara kolektif di seluruh wilayah.

Terakhir, Banyuwangi yang sudah on the track dengan atensi sebagai jujugan destinasi wisata. Tidak boleh mundur dengan aturan yang malah merugikan citra Banyuwangi sebagai jujugan wisatawan. Jangan sampai ambisi untuk membela rakyat kecil justru dilakukan dengan cara mematikan denyut ekonomi kota lebih awal. Kota wisata yang maju adalah kota yang mampu mengelola keramaian, bukan yang takut pada keramaian itu sendiri.  Betul apa benar, Bu Ipuk?

Penulis: Ferika Sandra
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Ironi Pembangunan Banyuwangi: Sukses Meniru Bali dalam Pengelolaan Wisata, tapi Gagal Menangani Banjir di Pusat Kota

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 22 April 2026 oleh

Tags: Banyuwangibanyuwangi kota wisatajam operasional ritel banyuwangi
Ferika Sandra

Ferika Sandra

Seorang pustakawan dari Kota Malang yang mencoba menulis untuk menertibkan pikiran. Gemar dengan isu-isu literasi dan kebudayaan.

ArtikelTerkait

5 Rekomendasi Tempat Wisata di Banyuwangi selain Kawah Ijen Terminal Mojok

5 Rekomendasi Wisata di Banyuwangi selain Kawah Ijen

23 Maret 2022
Derita Tinggal di Banyuwangi, Berebut BBM Bersubsidi dengan Penjual Bensin Eceran

Derita Tinggal di Banyuwangi, Berebut BBM Bersubsidi dengan Penjual Bensin Eceran

12 April 2023
Situbondo, Tempat Tinggal Terbaik dan Kota Sederhana yang Saking Sederhananya, Nggak Ada Apa-apa di Sini

Situbondo, Tempat Tinggal Terbaik dan Kota Sederhana yang Saking Sederhananya, Nggak Ada Apa-apa di Sini

7 Oktober 2023
Banyuwangi dan Sebuah Desa yang Lestari Memelihara Sampah (Unsplash)

Abadinya Masalah Sampah di Desa Kebaman, Banyuwangi

8 Desember 2023
Alun-Alun Jember Nusantara yang Rusak (Lagi) Nggak Melulu Salah Warga, Ada Persoalan Lebih Besar di Baliknya Mojok.co

Jember Gagal Total Jadi Kota Wisata: Pemimpinnya Sibuk Pencitraan, Pengelolaan Wisatanya Amburadul Nggak Karuan 

6 Februari 2026
Pesanggaran, Kecamatan Paling Menyedihkan di Kabupaten Banyuwangi

Pesanggaran, Kecamatan Paling Menyedihkan di Kabupaten Banyuwangi

16 Oktober 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Cisarua Bogor dan Cisarua Bandung Barat: Dua Daerah yang Beda, tapi Nasibnya Sama-Sama Terlupakan  Mojok.co

Cisarua Bogor dan Cisarua Bandung Barat: Dua Daerah yang Beda, tapi Nasibnya Sama-sama Terlupakan 

17 April 2026
UIN Malang dan UIN Jogja, Saudara yang Perbedaannya Kelewat Kentara

Biaya Hidup Murah, Denah Kampus Mudah Adalah Alasan Saya Masuk UIN Malang

19 April 2026
Kursus Setir Mobil yang Dikit-dikit “Pakai Feeling Aja” Itu Pertanda Red Flag, Patut Diwaspadai Mojok.co

Kursus Setir Mobil yang Dikit-dikit “Pakai Feeling Aja” Itu Pertanda Red Flag, Patut Diwaspadai

19 April 2026
Harga Plastik Naik Bikin Kebiasaan Bawa Wadah Sendiri Diapresiasi Pedagang Pasar, padahal Dulu Sempat Dianggap Aneh

Harga Plastik Naik Bikin Kebiasaan Bawa Wadah Sendiri Diapresiasi Pedagang Pasar, padahal Dulu Sempat Dianggap Aneh

21 April 2026
Derita Jadi Satu-satunya Sarjana di Kampung: Ekspektasi Warga Ketinggian, Dikira Serba Bisa dan Sempurna Mojok.co

Derita Jadi Satu-satunya Sarjana di Kampung: Ekspektasi Warga Ketinggian, Dikira Serba Bisa dan Sempurna

18 April 2026
Warga Bantul Iri, Pengin Tinggal Dekat Mandala Krida Jogja (Wikimedia Commons)

Saya Mengaku Iri kepada Mereka yang Tinggal di Dekat Stadion Kridosono dan Stadion Mandala Krida Jogja

16 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Dulu PD Paling Tampan dan Jadi Idaman saat Naik Motor Suzuki Satria FU, Kini Malah Geli dan Malu karena Ternyata Jamet
  • Gagal Paham Pejabat Soal Pantura: Tanggul Laut adalah Proyek Berbahaya yang Memboroskan Anggaran
  • WNI Pilih Jadi Guru di Luar Negeri dengan Gaji 2 Digit daripada Kontrak di Indonesia dan Mengabdi untuk Anak Pekerja Migran di Sana
  • WNA Malaysia Pilih Lanjut S2 di UNJ, Penasaran Ingin Kuliah di PTN karena Dosen Indonesia yang “Unik”
  • Membangun Rumah Megah demi Penuhi Standard Kesuksesan di Desa Malah Bikin Ibu Tersiksa: Terasa Sepi, Cuma “Memuaskan” Mata Tetangga
  • Sesal Dulu Kasar dan Hina Bapak karena Miskin, Kini Sadar Cari Duit Sendiri dan Berkorban untuk Keluarga Ternyata Tak Gampang!

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.