Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Apa yang Salah Dengan Logat—Aksen dan Dialek?

Rode Sidauruk oleh Rode Sidauruk
14 Agustus 2019
A A
dialek nganjuk

dialek

Share on FacebookShare on Twitter

Seperti yang sudah kita ketahui bersama-sama, Indonesia memang dikenal dengan keberagamannya, seperti misalnya suku yang jumlahnya kira-kira 1.340 berdasarkan hasil sensus BPS pada tahun 2010. Wah, banyak juga yah? Iya, tentu saja ini bukan angka yang bisa disebut kaleng-kaleng. Saya sangat mengagumi keberagaman Indonesia ini, namun hal ini masih saja menjadi alasan untuk kita, warga negara Indonesia, mempermasalahkan keberagaman tersebut yang bahkan, lebih parahnya, dijadikan bahan tawa lepas.

Bisa dibayangkan, ada ribuan perbedaan yang dimiliki oleh ribuan suku di Indonesia yang seharusnya menciptakan keunikan tersendiri. Salah satu perbedaannya adalah logat. Logat sendiri, menurut KBBI, memiliki arti dialek dan aksen, di mana dialek adalah variasi bahasa dan aksen adalah cara pelafalan seseorang. Sederhananya, setiap variasi bahasa (Jawa, Batak, Sunda, Ambon, dan sebagainya) memiliki  pelafalan yang khas—gimana kita ‘menggoyang’ bahasa melalui suara. Menggoyang? Dangdut kali ah digoyang.

ADVERTISEMENT

Nah, yang sering menjadi mas-alah (bukan mbak-alah) adalah seringkali kita ditertawakan hanya karena kita membawa logat alamiah kita ketika sedang berada di tempat yang jauh… jauh… jauh… dari tempat asal kita melahirkan logat itu. Biasanya, ini terjadi pada anak rantau—seperti saya.

Saya—pemilik darah Batak yang memang lahir di Medan—hampir beberapa kali kena ‘tembak’ karena logat saya yang—menurut saya, sih—sebenarnya tak terlalu Batak atau Medan. Tapi, itu kan yang terdengar di telinga saya yang juga berperan sebagai encoder dan tentu saja berbeda di telinga mereka yang mendengar pesan saya—para decoder.

Tapi—lagi-lagi tapi—emang apa salahnya kalau saya melafalkan McD (mekdi) dengan ‘k’ yang seperti nyangkut atau lemper dengan kedua ‘e’ ditekan seperti mengucapkan ember? Oh, oh sama satu lagi, kali yang bagi kalian artinya adalah sungai namun bagi kami sebagai bentuk untuk menunjukkan sesuatu yang berlebihan, seperti “Dia cantik kali kayak bidadari.” Bukankah kali dan bidadari memiliki rima yang lebih enak didengar ketimbang banget dan bidadari?

Lagian, yang saya tahu mereka juga mengerti maksud saya. Ya emang terdengar aneh saja di telinga para decoder, tapi selagi pesan dapat dipahami, bukankah artinya komunikasi berhasil? Pada akhirnya, tujuan utama dua atau lebih orang berkomunikasi adalah pesan dapat dipahami, bukan?

Hm, tapi hidup tak semudah pada akhirnya. Saya kerap kali ditertawakan karena masih mempertahankan logat—apalagi aksen—Batak yang mendarah daging dan sepertinya menjadi masalah bagi mereka. Kalau gitu, apa ada logat Indonesia yang general yang bisa saya pakai agar tiada tawa di antara kita?

Saya pikir tak hanya saya, namun teman-teman saya juga yang memang juga seorang perantau merasakan nyeri yang serupa. Pernah dengar logat Ambon yang seperti mengayun-ayun? Atau Jawa yang tegas sekali? Atau mungkin logat Bali yang juga sering mengundang tawa? Atau atau atau logat Sunda yang susah melafalkan huruf ‘f’ dan ‘v’? Mereka—dan saya—dianggap seperti sedang beratraksi ketika bersuara. Lalu, mengapa logat lokal tidak ditertawakan saja—padahal bisa jadi logat tersebut sangat asing di telinga pendatang?

Baca Juga:

12 Istilah Hujan yang Terdengar Aneh dalam Bahasa Jawa, Ada “Tlenik-Tlenik” hingga “Kethek Ngilo”

13 Kosakata Bahasa Madura Paling “Menjebak” dan Perlu Diperhatikan Pendatang yang Baru Belajar

Ah, saya tahu. Untuk mencapai level sempurna adalah ketika kita mau menyesuaikan diri dengan tempat di mana kita berada bukan? Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung mungkin menjadi peribahasa yang sering disalahartikan. Menggunakan logat asal bukan berarti tak menghargai adat istiadat setempat, malah bisa jadi sebagai bentuk kebanggaan akan keberagaman yang menjadi emas bangsa Indonesia. Atau bagaimana kita bisa memaksa seseorang menggunakan adat istiadat yang dibawa sejak kecil untuk menyamakan logat tempat di mana dia berdiam sekarang? Kan semua juga butuh proses.

Giliran abang-abang kulit putih, mata biru, hidung mancung datang ke Indonesia dengan aksen which is kita ikut-ikutin dan kita bangga-banggakan serta kita agung-agungkan. Lah perantau yang tak lain tak bukan adalah warga di negaramu sendiri membawa logat khas daerahnya yang juga bagian dari merah putih kita malah di-hahaha-kan. Di mana letak nasioalisme kita?

Tak semua orang bisa seperti saya—yang bisa dengan cepat menyesuaikan logat, si aksen dan dialek, dengan cepat walaupun masih saja nyangkut logat dasar. Jangan dipaksalah mereka yang tak bisa berlogat sepertimu, mungkin dia sedang belajar atau sudah berusaha keras namun sulit, jangan dipaksakan. Toh, yang penting kau bisa paham apa yang dia sedang ucapkan, bukan? Atau kalaupun tak paham, gimana kalau kita sama-sama saling memahami saja? Percayalah masa iya dia tak mau belajar menyesuaikan kebudayaan setempat atau bahasa Indonesia yang baik dan benar? Dia sedang berusaha, hanya saja jangan paksakan logatnya hilang. Itu harta berharganya. Sekali lagi, tolong jangan salahkan. Dia menyesuaikan, kaupun harus bisa menyesuaikan. (*)

 

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) yang dibikin untuk mewadahi sobat julid dan (((insan kreatif))) untuk menulis tentang apa pun. Jadi, kalau kamu punya ide yang mengendap di kepala, cerita unik yang ingin disampaikan kepada publik, nyinyiran yang menuntut untuk dighibahkan bersama khalayak, segera kirim naskah tulisanmu pakai cara ini.

Terakhir diperbarui pada 4 Februari 2022 oleh

Tags: aksenbahasa daerahdialekKearifan Lokallogat
Rode Sidauruk

Rode Sidauruk

ArtikelTerkait

kecap

Kecap Manis yang Terdiskriminasi

2 Agustus 2019
cerita hantu

Cerita Hantu Adalah Kearifan Lokal yang Harus Dipertahankan

13 Agustus 2019
Metamorfosis Nama Panggilan Orang Bima Abadi sampai Mati. Terminal Mulok #03 mojok.co/terminal

Metamorfosis Nama Panggilan Orang Bima Abadi sampai Mati. Terminal Mulok #03

16 Maret 2021
Prosus Inten: Belajar ala Orang Batak

Prosus Inten: Belajar ala Orang Batak

13 November 2022
Ciri Khas dalam Percakapan Orang Makassar terminal mojok

Ciri Khas dalam Percakapan Orang Makassar

9 Oktober 2021
Ngomong Bahasa Palembang Tak Sekadar Mengganti Akhiran Kata Vokal ‘a’ Jadi ‘o’ terminal mojok

Ngomong Bahasa Palembang Tak Sekadar Mengganti Huruf Vokal ‘a’ Jadi ‘o’

14 Juni 2021
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Saya gagal kerja di Bandung dan Jakarta karena terhalang restu orang tua, kadang sedih, tapi sudah bisa menerima takdir

Saya gagal kerja di Bandung dan Jakarta karena terhalang restu orang tua, kadang sedih, tapi sudah bisa menerima takdir

26 Agustus 2026
Bandung Kulon, kecamatan medioker Kota Bandung yang ternyata punya potensi besar Terminal

Bandung Kulon, kecamatan medioker Kota Bandung yang ternyata punya potensi besar

21 Agustus 2026
Selain rumah makan Padang, usaha fotokopi juga identik dengan orang Minang Mojok.co

Selain rumah makan Padang, usaha fotokopi juga identik dengan orang Minang

23 Agustus 2026
Mahasiswa UIN Nggak Wajib Nyantri, tapi kalau Nggak Nyantri ya Kebangetan lulusan UIN

Keresahan dosen UIN saat melihat mahasiswanya sendiri memvonis kampusnya “tidak Islam-Islam amat”

27 Agustus 2026
Trail run, olahraga lari yang nggak bikin bosen (Unsplash)

Yang perlu kamu ketahui tentang trail run, olahraga lari yang nggak bikin bosen

26 Agustus 2026
Derita mahasiswa Unsoed, sudah kampus dan faslitasnya medioker, kini harus menahan malu karena rektornya korupsi Mojok.co

Derita mahasiswa Unsoed, sudah kampus dan fasilitasnya medioker, kini harus menahan malu karena rektornya korupsi

23 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=vCYB_q60eug


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.