Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Profesi

Apa pun Kurikulumnya, Guru Tetaplah Pihak yang Selalu Disalahkan

M. Afiqul Adib oleh M. Afiqul Adib
18 Oktober 2025
A A
Sri Mulyani, Menteri yang Nggak Paham Nasib Guru (Unsplash)

Sri Mulyani, Menteri yang Nggak Paham Nasib Guru (Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Sebagai guru baru, satu hal yang paling sering membuat saya geleng-geleng kepala adalah kenyataan bahwa guru selalu jadi pihak yang disalahkan. Entah apa pun masalahnya, ujung-ujungnya selalu bermuara ke guru.

Misalnya, ketika ada murid tidak naik kelas, nilai jeblok, atau siswa malas belajar, semuanya seolah-olah menjadi tanggung jawab penuh seorang guru. Seakan menjadi jobdes bahwa selain mendidik, profesi ini juga harus siap menanggung semua kesalahan sistem pendidikan.

Coba diingat-ingat, sudah berapa kali kurikulum berubah, tapi yang disorot tetap saja guru. Mau itu Kurikulum 2006, 2013, atau Kurikulum Merdeka, ketika murid tidak mencapai standar yang ingin dicapai, guru disalahkan karena dianggap tidak becus mengajar. Bahkan tidak ada yang menanyakan bagaimana perjuangan mereka mempersiapkan bahan ajar dengan fasilitas terbatas, atau bagaimana mereka menenangkan murid yang hampir menyerah belajar.

Tiap tahun, muncul jargon baru, istilah baru, bahkan pelatihan dan workshop yang katanya bisa “meningkatkan kualitas pendidikan”. Tapi di lapangan, realitasnya tetap sama: ekspektasi makin tinggi, tanggung jawab makin berat, sementara ruang gerak guru tetap sempit. Pada akhirnya, ketika semua teori pendidikan itu gagal diterapkan dengan sempurna, yang pertama dituding publik bukan sistem, bukan kebijakan, tapi guru. Iya, selalu guru.

Kenapa selalu guru?

Saya juga heran, entah sejak kapan apa-apa kok menyalahkan guru. Murid nggak bisa baca? Guru yang disalahkan. Nilai ujian jelek? Mereka juga. Ada siswa malas belajar karena selalu diluluskan? Lagi-lagi guru. Padahal, ada banyak faktor lain yang membentuk situasi ini: lingkungan belajar, peran orang tua, hingga sistem evaluasi yang nggak jelas arah tujuannya.

Sistem pendidikan kita memang suka melempar masalah ke guru, tapi jarang sekali memberi mereka ruang untuk benar-benar berkembang. Padahal, jika mau melihat realitas di lapangan, ada banyak guru yang harus memutar otak untuk membuat kelasnya tetap hidup. Belum lagi menghadapi murid yang ogah-ogahan, atau orang tua yang cuek terhadap perkembangan anaknya.

Bahkan ketika ada siswa SD yang belum bisa membaca, mereka diminta tanggung jawab penuh, tanpa pernah ada refleksi: selama di rumah, apa orang tuanya pernah mendampingi belajar?

Bikin konten salah, nggak bikin konten dianggap nggak mengikuti zaman

Di era media sosial ini, tentu bukan rahasia lagi jika banyak pengajar yang mengepakkan sayapnya di bidang kreator. Mereka membuat konten edukatif di media sosial. Niatnya berbagi metode belajar yang menyenangkan. Atau sekadar release stress. Tapi respons yang didapat adalah cibiran. “Guru kok malah bikin konten, kapan ngajarnya?”

Baca Juga:

Sarjana Keguruan Pilih Jadi TKW di Taiwan, Lebih Menjanjikan daripada Jadi Guru Honorer dengan Gaji “Imut” Selama Bertahun-tahun

Fakta tentang Guru yang Terjadi di Lapangan, tapi Tak Pernah Dibahas oleh Fakultas Pendidikan

Lantas, apakah guru yang jadi konten kreator merusak profesinya? Bagi sebagian orang, jawabannya iya. Mereka menilai bahwa guru yang menjadikan siswa sebagai bahan konten melanggar etika dan hak anak. Ada yang menampilkan wajah siswa, memperlihatkan nilai ujian, bahkan membuat siswa berperan dalam drama untuk kebutuhan video. Padahal, dalam konteks pendidikan, siswa bukan bahan eksperimen apalagi alat produksi konten.

Di sisi lain, ada juga yang melihat fenomena ini secara positif: bahwa guru-guru tersebut sedang mencoba menyesuaikan diri dengan zaman. Mereka ingin menjadikan pembelajaran lebih menyenangkan dan relevan. Tapi ya, seperti kata pepatah, niat baik pun bisa disalahpahami.

Ironisnya, ketika hanya fokus di kelas, mereka tetap disalahkan. Dianggap nggak mengikuti zaman. Dituntut harus bisa bikin ini-itu. Iya, hari-hari ini, guru bukan cuma harus bisa ngajar, tapi juga wajib jago desain di Canva, paham algoritma media sosial, dan fasih bikin konten. Kalau nggak, dibilang “nggak update”. Pun ada juga tuntutan administrasi soal pembuatan media pembelajaran.

Lucunya, kalau sudah jago bikin konten, malah dituduh mencari ketenaran. Jadi serba salah. Ketika berinovasi dibilang cari panggung, ketika pasif dibilang nggak punya semangat mengajar. Serba salah. Ampun.

Antara ideal dan realitas

Di atas kertas, menjadi guru terdengar mulia. Mendidik anak bangsa, mencerdaskan generasi emas, mengubah masa depan lewat ilmu. Edyan. Wapik tenan. Tapi di dunia nyata, profesi ini lebih sering terasa seperti meniti jalan antara idealisme dan realitas.

Menjadi guru di Indonesia hari ini adalah pekerjaan yang nyaris mustahil: dituntut profesional tapi digaji seadanya, diminta berinovasi tapi dibatasi birokrasi, dikejar target tapi tetap harus sabar mengerjakan banyak pekerjaan.

Karena itu, apa pun kurikulumnya—entah Merdeka, Darurat, atau apa pun nanti namanya—selama sistemnya masih suka menyalahkan satu pihak atas semua hal, pendidikan kita tidak akan benar-benar maju. Sebab, sebelum murid bisa merdeka belajar, mungkin yang harus lebih dulu merdeka adalah guru itu sendiri.

Penulis: Kevin Nandya Kalawa
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Sebaiknya Kita Berhenti Menganggap Guru Itu Profesi Mulia, agar Mereka Bisa Digaji Jauh Lebih Layak

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 18 Oktober 2025 oleh

Tags: guruguru konten kreatorkurikulum pendidikan
M. Afiqul Adib

M. Afiqul Adib

Seorang tenaga pendidik lulusan UIN Malang dan UIN Jogja. Saat ini tinggal di Lamongan. Mulai suka menulis sejak pandemi, dan entah kenapa lebih mudah menghapal kondisi suatu jalan ketimbang rute perjalanan.

ArtikelTerkait

Guru Merdeka Belajar Itu Hanya Ilusi, Nyatanya Hingga Kini Masih Berkawan Karib dengan Segunung Administrasi

Guru Merdeka Belajar Itu Hanya Ilusi, Nyatanya Hingga Kini Masih Berkawan Karib dengan Segunung Administrasi

4 Desember 2023
Opini Goblok 2024 Sesat Pikir Anak Pasangan Guru Harus Cerdas (Unsplash)

Anak Pasangan Guru Harus Cerdas Adalah Sesat Pikir yang Menyiksa Anak

15 Januari 2024
Tipe Guru di Sekolah Berdasarkan Mata Pelajaran yang Diampunya terminal mojok.co

Tipe Guru di Sekolah Berdasarkan Mata Pelajaran yang Diampunya

3 November 2020
Kantin Sekolah Adalah Penyelamat Guru yang Gajinya Rata dengan Tanah

Kantin Sekolah Adalah Penyelamat Guru yang Gajinya Rata dengan Tanah

24 September 2025
Ironi Mahasiswa Jurusan Pendidikan: Buangan dan Tidak Ingin Menjadi Guru Mojok.co

Orang Pintar Kuliah Jurusan Pendidikan Dianggap Menyia-nyiakan Potensi, Cara Kerja Otakmu Itu Bagaimana?

12 Agustus 2024
guru honorer

Kalau Guru Honorer Digaji Surga, Pancasila Cukup Sila Ketuhanan Saja

18 Oktober 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Film Horor “Songko” Memberi Kesegaran yang Menakutkan (Unsplash)

Film Horor “Songko” Memberi Kesegaran yang Menakutkan dari Cerita Rakyat Minahasa dan Membebaskan Kita dari Kebosanan Horor Jawa

23 April 2026
Kuliah S2 Itu Wajib Caper kalau Tidak, Kalian Cuma Buang-buang Uang dan Melewatkan Banyak Kesempatan Mojok.co

Kuliah S2 Itu Ternyata Mahal: SPP-nya Bisa Jadi Murah, tapi Akan Ada Biaya Tambahan yang Menghantam!

23 April 2026
Menyalahkan Ortu yang Menitipkan Anaknya di Daycare Adalah Komentar Paling Jahat dan Tidak Perlu Mojok.co

Menyalahkan Ortu yang Menitipkan Anaknya di Daycare Itu Jahat dan Nirempati

26 April 2026
5 Kuliner Terbaik Demak yang Wajib Dicicipi Setidaknya Sekali Seumur Hidup Mojok.co

5 Kuliner Terbaik Demak yang Wajib Dicicipi Setidaknya Sekali Seumur Hidup

23 April 2026
4 Menu Janji Jiwa yang Perlu Dihindari biar Nggak Rugi, Saya Aja Kapok Pesan Lagi

Kopi Janji Jiwa Mungkin Sudah Bukan di Posisi Teratas Kopi Kekinian, tapi Menyebutnya Air Comberan Jelas Adalah Penghinaan

24 April 2026
Tanda-tanda Rumah Jamet Madura, Pasti Bising dan Jadi Titik Kumpul Satria FU

Tanda-tanda Rumah Jamet Madura, Pasti Bising dan Jadi Titik Kumpul Satria FU

27 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Kasih Tip Rp5 Ribu ke Driver Ojol Tak Bikin Rugi tapi Bikin Hidup Lebih Bermakna di Tengah Situasi Hidup yang Kacau
  • Tahlilan Ibu-ibu di Desa: Kegiatan Positif tapi Sialnya Jadi Kesempatan buat Flexing Perhiasan, Mengorek Aib, hingga Saling Paido
  • Merawat Nilai Luhur di Dalam Candi Plaosan agar Tak Memudar Seiring Zaman
  • Bagi Pelari Kalcer, Kesehatan Tak Penting: Gengsi dan Diterima Sirkel Elite Jadi Prioritas Mereka
  • 4 Jurusan Kuliah yang Kerap Disepelekan tapi Jangan Dihapus, Masih Relevan dan Dibutuhkan di Bisnis Rezim Manapun
  • UU PPRT Menyelamatkan Manusia dari Perbudakan Modern: Harus Kita Rayakan, Meski Jalan Kemenangan Masih Panjang

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.