Andai Fenomena Keranda Terbang Diteliti secara Serius, Bisa Jadi Inspirasi Startup – Terminal Mojok

Andai Fenomena Keranda Terbang Diteliti secara Serius, Bisa Jadi Inspirasi Startup

Artikel

Lampor, atau keranda terbang, tiba-tiba jadi perbincangan para warganet. Tidak lain dan tidak bukan, karena viral di TikTok. Katanya ada yang berhasil merekam penampakan lampor yang merupakan keranda melayang tersebut. Hal ini pun bikin gempar jagat maya Indonesia bahkan sampai nomor satu di Google Trends.

Tapi, kok bisa ya di Indonesia ada keranda terbang? Fenomena ini sepertinya eksklusif ada di negara ini. Di luar negeri pun banyak yang pakai peti atau keranda, kenapa lampor hanya ada di Indonesia. Kenapa di luar negeri tidak pernah ada penampakan peti terbang? Apakah ini sebuah konspirasi?

Konon katanya, jika ada orang yang pernah melihat lampor, itu menandakan akan ada bahaya mendekat. Ya jelas bahaya, mana ada keranda terbang. Peti sekeras itu kalau kena kepala ya mantab rasanya. Meski begitu, kalau kita melihat sisi mitologi yang ada di Indonesia, lampor memang pernah dikisahkan dalam kebudayaan Jawa tradisional. Tentunya hal itu bisa memperkaya kebudayaan kita.

Cuma kalau ada yang melihat keranda terbang beneran, rasanya sulit untuk dipercaya. Bisa saja itu adalah keranda yang beneran diangkat manusia berbusana serba hitam sehingga nggak kelihatan ada yang angkat. Positif thinking aja, tapi masyarakat Indonesia ini terkenal begitu senang dengan hal berbau mistis. Jadi wajar bisa trending.

Tapi, ada hal yang mengganggu saya. Kalau orang Indonesia begitu antusias membahas keranda terbang, kenapa hampir tidak ada bahasan tentang piring terbang atau UFO. Seperti Amerika Serikat yang rajin sekali mengupdate info soal UFO, bahkan percaya bahwa alien itu ada. Berbeda dengan orang Indonesia yang menganggap piring terbang adalah tanda kerusakan rumah tangga karena perkelahian di dapur.

Saya yakin, apabila keranda terbang ada di luar negeri, tepatnya negara maju, mungkin beda cerita. Bisa saja masyarakat di negara maju tersebut malah melakukan penelitian dan menurunkan intelijen untuk mengetahui lebih dalam soal lampor. Setiap ada info terbaru pasti menggelar konferensi pers sebagai bukti keseriusan.

Tidak hanya itu, bisa saja AS menemukan penjelasan fenomena ini melalui teori fisika yang modern soal keranda terbang. Mungkin nantinya akan dibuat teknologi agar bisa mengantarkan jenazah tanpa ambulans. Siapa tahu, hal itu bisa saja terjadi. Sementara Indonesia, masih sibuk dengan ramalan dan juga drama-drama sosial yang berkepanjangan.

Di Indonesia, lampor boleh pernah dijadikan film dan membuat warga takut bukan main, tapi setelah itu tidak menghasilkan apa-apa selain cerita rakyat yang berseliweran. Termasuk UFO, jika ada temuan UFO di Indonesia mungkin dianggapnya adalah fenomena gaib yang sulit diketahui. Bahkan, bisa-bisa masuk ke berita infotainment.

Bahkan tidak lama lagi lampor ini akan muncul di infotainment bak artis yang baru naik daun. Para wartawan infotainment akan menanyakan soal itu ke komedian, musisi, dan pemeran sinetron. Masa bodo dengan ilmuwan, ahli sejarah, dan ahli fisika. Pernyataan artis soal suatu isu lebih menarik perhatian ketimbang ahli.

UFO di Indonesia seolah tidak memiliki harga diri sama sekali. AS, atau tepatnya negara-negara maju, menganggap UFO sebagai objek penelitian, agar bisa mengetahui mengapa selalu ada temuan piring terbang. Di Indonesia, paling dijadikan mitos. Pol pentok diteliti oleh para pemburu togel.

Seharusnya sikap ingin tahu dan diteliti dengan instrumen sains ditiru negara ini. Andai lampor atau keranda terbang diteliti, pasti ada fakta lain daripada menganggap itu adalah sumber malapetaka. Keragaman yang ada bisa memperkaya khazanah ilmu pengetahuan.

Siapa tahu nanti ada jasa ekspedisi barang dengan media peti. Namanya U-Peti. Nggak lucu ya? Maaf.

Sumber gambar: YouTube Creepy Savage

BACA JUGA Cerita-cerita tentang Hantu dan tulisan Muhammad Afsal Fauzan S. lainnya.

Baca Juga:  Pura-pura Menyukai Dangdut Koplo, Salah Satu Cara Bertahan di Pergaulan Masyarakat
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.



Komentar

Comments are closed.