Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Alun-Alun Klaten, Potret Ruang Publik yang Tak Sekadar Estetik, tapi Juga Menjawab Kebutuhan Warlok

Farahiah Almas Madarina oleh Farahiah Almas Madarina
27 Mei 2026
A A
Alun-Alun Klaten, Potret Ruang Publik yang Tak Sekadar Estetik, tapi Juga Menjawab Kebutuhan Warlok Mojok.co

Alun-Alun Klaten, Potret Ruang Publik yang Tak Sekadar Estetik, tapi Juga Menjawab Kebutuhan Warlok (Dok: Pemda Klaten)

Share on FacebookShare on Twitter

Saya punya memori yang menyenangkan soal Alun-alun Klaten. Saat masih kecil, ayah saya kerap mengajak anak-anaknya membeli jagung bakar dan naik kereta kelinci di sana. Maklum, tempat tinggal kami hanya berjarak satu kilometer saja dari Alun-alun Klaten. 

Di awal 2000-an Alun-alun Klaten memang salah satu ruang publik paling populer dan diminati warga lokal (warlok). Di sana pengunjung bisa menemukan hiburan murah meriah seperti pedagang kaki lima yang menjajakan makanan, mainan, hingga pernak-pernik fesyen. 

Saking kuatnya kenangan itu, kini tiap kali melewati Alun-alun Klaten, rasa-rasanya saya bisa mencium kembali aroma wedang ronde hingga hangatnya uap jagung rebus. Segalanya masih terasa begitu familiar, termasuk saat melihat jogging track yang dulunya penuh tenda hik (angkringan) dan tempat duduk lesehan.

Tampilan dan suasana Alun-alun Klaten sekarang mungkin begitu berbeda dengan masa kecil saya. Namun, satu yang tetap, alun-alun ini tidak pernah berhenti menjadi pusat kehidupan warlok.

Saya menyaksikan sendiri bagaimana kawasan ini hadir dan tumbuh sebagai ruang bertemunya orang-orang dari berbagai macam kalangan. Tidak peduli berapa usianya, apa pekerjaannya dan bagaimana status sosialnya. 

Alun-alun Klaten berubah ruang terbuka hijau yang nyaman dan aman

Belasan tahun berlalu. Alun-alun Klaten sekarang banyak berubah dibanding yang ada dalam ingatan saya. Beberapa warlok mungkin sedih karena tidak ada lagi  pedagang kaki lima di sana. Namun, sebagai gantinya, alun-alun jadi lebih rapi, bersih, dan nyaman. 

Suasana Alun-alun Klaten (Dok: Farahiah)
Suasana Alun-alun Klaten (Dok: Farahiah)

Pemerintah daerah setempat menyulap kawasan ini jadi ruang terbuka hijau yang bermanfaat bagi masyarakat. Alun-alun Klaten jadi zona publik yang steril dan aman. Tidak ada asap rokok yang mengganggu, tidak ada orang-orang aneh yang berpotensi melakukan catcalling, juga tidak ada juga pengamen yang tiba-tiba datang menghampiri.

Saat berkunjung ke alun-alun di hari Selasa (19/5) kemarin misal, saya merasakan suasana yang sangat syahdu. Beberapa remaja tampak duduk santai sambil mengobrol di bawah pohon. Ada sepasang orang tua menunggu anaknya bermain di playground. Terlihat pula sekelompok anak laki-laki bermain bola di lapangan. Semuanya tampak begitu bahagia dengan aktivitas mereka masing-masing.

Baca Juga:

Klaten: Bukan Sekadar Kota untuk Mampir Menikmati Sop Ayam, tapi Tulang Punggung dan “Dapur” Masa Depan Indonesia

Kecamatan Pedan Klaten: Tempat Tinggal Terbaik di Kabupaten Klaten yang Asri, Nyaman, Penuh Toleransi, dan Tidak Jauh dari Kota

Sepanjang mata memandang, saya tidak lagi menemukan arus kendaraan yang semrawut dan melawan arah. Rambu-rambu lalu lintas terpasang dengan jelas. Para petugas parkir juga sangat cekatan merapikan motor-motor yang datang.

Saya senang melihat perubahan ini. Seluruh pihak, mulai dari petugas kebersihan hingga pengunjung, kompak menjaga ketertiban dan kebersihan lingkungan. Fasilitas alun-alun pun cukup lengkap. Ada tempat sampah (organik, non-organik, B3), toilet umum, tempat duduk santai, hingga taman bermain anak.

Tidak heran kalau sekarang ini semakin banyak orang memanfaatkan Alun-alun Klaten untuk mencari udara bersih, berolahraga, atau sekadar melepas penat di tengah-tengah hidup yang melelahkan. Saya salah satunya, di akhir pekan, sesekali saya mampir untuk cari udara segar atau jogging. 

Playground di salah satu sudut Alun-alun Klaten (Dok: Penulis/Farahiah)
Playground di salah satu sudut Alun-alun Klaten (Dok: Penulis/Farahiah)

Terus berbenah jadi lebih baik

Sulit dimungkiri, sebagai warlok yang terkadang saya rindu hiburan dan pedagang kaki lima yang murah meriah. Namun, saya rasa, upaya Pemda Klaten dalam menata dan mempercantik wajah alun-alun juga perlu diapresiasi. Terlebih, ruang terbuka ini jadi lebih terasa fungsi dan manfaatnya ketika pedagang kaki lima direlokasi ke tempat yang baru.

Saya pun lega mengetahui bahwa para pedagang Alun-alun Klaten ditempatkan di Jalan Bhali yang tidak kalah strategis dan ramai pembeli. Artinya, mereka tetap bisa berjualan, dan pemda bisa terus fokus meningkatkan fasilitas di alun-alun.

Alun-alun Klaten mungkin banyak berubah dari waktu saya masih bocah. Namun, satu yang tetap, alun-alun ini masih saja ikonik dan jadi bagian hidup warlok Klaten yang sulit dipisahkan. Ke depan, ruang publik satu ini mungkin akan berubah wajah lagi. Saya harap perubahannya ke arah yang lebih baik dan mampu menjawab kebutuhan warlok. 

Penulis: Farahiah Almas Madarina
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Klaten: Bukan Sekadar Kota untuk Mampir Menikmati Sop Ayam, tapi Tulang Punggung dan “Dapur” Masa Depan Indonesia,

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 26 Mei 2026 oleh

Tags: alun-alunAlun-Alun Klatenklaten
Farahiah Almas Madarina

Farahiah Almas Madarina

Magister Sosiologi yang banting setir ke dunia digital marketing. Menulis di Terminal Mojok sejak 2021 dan saat ini aktif menjadi remote worker di sebuah business architecture studio.

ArtikelTerkait

Desa Melikan Klaten, Sentra Penghasil Gerabah Putaran Miring Pertama di Dunia  

Desa Melikan Klaten, Sentra Penghasil Gerabah Putaran Miring Pertama di Dunia

29 Juni 2024
Menilik Romantisnya Candi Plaosan Klaten dan Kemeriahan Festival Candi Kembar

Menilik Romantisnya Candi Plaosan Klaten dan Kemeriahan Festival Candi Kembar

12 September 2024
Katanya Klaten Bersinar, kok Jalannya Gelap Gulita?

Katanya Klaten Bersinar, kok Jalannya Gelap Gulita?

13 Januari 2023
5 Pasar di Klaten yang Buka di Hari Pasaran Jawa, Wajib Dikunjungi!

5 Pasar di Klaten yang Buka di Hari Pasaran Jawa, Wajib Dikunjungi!

6 Desember 2024
Kecamatan Kalasan Memang Nanggung, Terlalu Cupu untuk Jogja, tapi Terlalu Modern untuk Klaten  

Kecamatan Kalasan Memang Nanggung, Terlalu Cupu untuk Jogja, tapi Terlalu Modern untuk Klaten  

23 Juli 2024
Soto Garing Klaten, Soto Tanpa Kuah yang Ternyata Rasanya Nggak Seburuk Itu

Soto Garing Klaten, Soto Tanpa Kuah yang Ternyata Rasanya Nggak Seburuk Itu

18 Februari 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Fotografer Wisuda Selalu Dilema antara Jaga Pertemanan atau Harga Teman Terminal

Fotografer Wisuda Selalu Dilema antara Jaga Pertemanan atau Harga Teman

25 Mei 2026
Kebiasaan di Hajatan Pedesaan yang Nggak Masuk Akal kondangan jawa tengah

Seni Bertahan Hidup di Musim Kondangan: Panduan Strategis agar Dompet Tak Sekarat dan Berakhir Melarat

24 Mei 2026
Pantai Menganti Kebumen Jawa Tengah, Pantai Indah tapi Berbahaya (Wikimedia Commons)

Pantai Menganti Kebumen, Pantai Terindah di Jawa Tengah, tapi Perjalanan ke Sana Adalah Simulasi Jantungan yang Dibungkus Liburan

22 Mei 2026
Gempa Jogja Adalah Guru yang Tidak Kita Inginkan, tapi Kita Perlukan

Gempa Jogja Adalah Guru yang Tidak Kita Inginkan, tapi Kita Perlukan

22 Mei 2026
3 Cara Kecamatan Cibiru Membunuh Romantisme Bandung (Unsplash)

3 Alasan Romantisme Bandung Akan Luntur, Ketika Menginjakan Kaki di Kecamatan Cibiru

25 Mei 2026
Jalan Ngluwar Magelang yang Bobrok Adalah Area Paling Cocok untuk Simulasi Ujian SIM  Mojok.co

Jalan Ngluwar Magelang yang Bobrok Adalah Area Paling Cocok untuk Simulasi Ujian SIM 

21 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.