Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Ngobrolin Feminisme di Tengah Gelombang Penolakannya

Fatimatuz Zahra oleh Fatimatuz Zahra
25 Juli 2019
A A
feminisme

feminisme

Share on FacebookShare on Twitter

Dunia mengenal istilah feminisme sejak kurang lebih 3 abad silam, spirit ini mulai digaungkan pasca pecahnya Revolusi Prancis. Lalu, buat apa sih ada feminisme? Sejak kapan adanya? Masih relevan nggak untuk saat ini?

Istilah feminisme mulai disuarakan oleh seorang filsuf bernama Charles Fourier pada tahun 1808 untuk menggambarkan kedaan di mana sekat antara laki-laki dan perempuan lenyap dari kelas sosial. Namun, jauh sebelum itu seorang perempuan Inggris bernama Mary Wollstonecraft menulis buku berjudul “A Vindication of the Rights of Woman” pada tahun 1792 sebagai respon pasca Revolusi Prancis yang menurutnya dapat menjadi momentum bagi perempuan untuk menyuarakan haknya dalam pengambilan keputusan.

Kalau ditelusur lebih jauh lagi, bahkan beberapa literatur agama seperti hadist juga menceritakan tentang bagaimana berlaku adil pada manusia tanpa mendiskriminasi gender. Masih ingat bagaimana proses pernikahan Nabi Muhammad dan Khadijah? Khadijahlah yang justru menyampaikan terlebih dahulu niatannya untuk menikah dengan Muhammad, hal ini dapat diinterpretasikan sebagai bentuk perlawanan terhadap kultur Arab pra-Islam yang memposisikan perempuan sebagai makhluk kelas dua sehingga tidak pantas untuk dimuliakan dan bahkan dianggap sebagai aib. Meskipun pada zaman Khadijah melamar Muhammad belum dikenal istilah femininsme.

Terus emang apa pentingnya feminisme? Seperti kebanyakan sudut pandang yang mewarnai era modern—marxisme, sosialisme, dan sebagainya—tujuan paham ini ialah untuk mencapai keadilan yang lebih khusus diinterpretasikan dalam kesetaraan pembagian peran antara laki-laki dan perempuan. Meski tujuan akhirnya ialah mewujudkan keadilan, hal ini tak lantas membuat paham ini menjadi sebuah sudut pandang yang seragam.

Feminisme memiliki banyak cabang aliran seperti feminisme liberal, radikal, eco-feminisme, marxis, anarkis, kultural, separatis, dan masih banyak lagi. Maksudnya apa? Ya maksudnya meskipun tujuannya sama-sama menyuarakan keadilan tapi bentuknya bisa beda-beda—kayak feminisme radikal dan separatis misalnya, mereka adalah dua kubu yang berlawanan dalam tubuh paham ini. Feminisme radikal mempunyai argumen utama bahwa laki-laki sebagai sumber masalah sehingga perlu dikerdilkan kemampuannya karena semua ketimpangan di dunia ini salah laki-laki, sebaliknya dengan feminisme separatis yang menganggap bahwa masalah ketimpangan ini tidak akan selesai hanya dengan menyalahkan laki-laki. Dengan intensitas yang berbeda-beda, masing-masing cabang feminisme berusaha untuk melawan ketimpangan gender.

Jadi feminisme ini cuma soal keadilan terhadap perempuan ya? Feminisme memang sebuah gerakan yang terinspirasi dari diskrimanasi terhadap perempuan. Namun bicara feminisme sebenarnya ialah menyoal ketimpangan perspektif terhadap gender—misalnya stereotip bahwa laki-laki pantang menangis atau menunjukkan emosi alamiah yang lain ataupun perempuan yang seringkali digambarkan sebagai makhluk lemah yang perlu berlindung dibalik kekuatan laki-laki. Paham ini berusaha untuk memandang manusia ya seutuhnya manusia, yang bisa menangis, marah, dan lain sebagainya. Juga upaya melawan stereotip bahwa kegiatan tertentu terkait dengan gender tertentu seperti perempuan mengurus anak, masak, beres-beres rumah atau laki-laki yang harus benerin genteng, ngecat rumah, cari nafkah. Kenapa perlu dilawan? Karena semua skill tersebut dapat dimiliki oleh siapapun, tanpa memandang jenis kelamin. Paham ini berusaha membuka pemahaman bahwa manusia memiliki nature—kondisi alamiah—dan nurture—struktur sosial. Yang disebut nature seperti perempuan haid, melahirkan karena memang tubuh perempuan settingannya demikian sedangkan nurture seperti merawat anak, beberes rumah dan lain-lain sebenarnya bisa berbagi peran dengan pasangannya.

Masihkah feminisme relevan? Selagi perempuan masih tersubordinasi, selagi laki-laki masih dianggap makhluk kelas satu sehingga tidak boleh menangis dan menunjukkan kelemahan, selagi masih sering diolok “perempuan kok …” “laki-laki kok …” feminisme masih relevan. Suatu saat jika manusia sudah mampu memposisikan manusia laiknya manusia tanpa ketimpangan gender, tugas feminisme berakhir.

Soal yang menolak paham ini dan memperlawankan dengan agama? Saya menyarankan admin dan jajaran stakeholdernya untuk mencari tahu dulu sebenarnya apa yang kalian tolak dan di mana standing position kalian—apa yang kalian perjuangkan. Karena sependek pembacaan saya terhadap akun @indonesiatanpafeminis dan sejenisnya, saya tidak menemukan arah perlawanan mereka bermuara ke mana, bahkan masih rancu pendefinisian antara kesetaraan dan kesamaan, menganggap bahwa upaya menyetarakan ialah menyamakan. Jika yang sesungguhnya dicari ialah sama-sama keadilan, mungkin yang teman-teman antifeminis tolak sebenarnya hanya istilah “feminisme” yang terdengar kebarat-baratan dan kurang Islami ini. Yhaaa~

Baca Juga:

Surat untuk Gus Yahya: Kesetaraan Gender Itu Nggak Cuma Ngurusin “Kapasitas”, Gus

Iklan Indomilk Gemas 2022: Iklan Cerdas yang Tampar Masyarakat Indonesia

Terakhir diperbarui pada 19 Januari 2022 oleh

Tags: FeminismeKritik SosialpahamRadikal
Fatimatuz Zahra

Fatimatuz Zahra

Sedang belajar tentang manusia dan cara menjadi manusia.

ArtikelTerkait

13 reasons why

Membayangkan Emile Durkheim dan Max Weber Berseteru Memperdebatkan Serial ’13 Reasons Why’

11 Juni 2019
ngamen gratis

Tulisan “Ngamen Gratis” di Beberapa Tempat Makan yang Berpotensi Menyakiti Hati Seorang Pengamen

12 Juli 2019
anggap saja rumah sendiri

Jangan Mengartikan Kalimat “Anggap Saja Rumah Sendiri” Secara Harfiah

8 Juli 2019
kesetaraan gender

Yang Kejam Kapitalisme, yang Ditolak Malah Kesetaraan Gender, Ukhti Sehat?

5 April 2020
Balasan untuk Tulisan tentang Film The Social Dilemma yang Katanya Nihil Solusi terminal mojok.co

Balasan untuk Artikel Film ‘The Social Dilemma’ yang Katanya Nihil Solusi

22 September 2020
ah cuma

Banyak Masalah Dalam Hidup Kita Dimulai Dari Kalimat ‘Ah Cuma’

3 September 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Honda Supra X 125 Motor Terbaik? Ngawur, yang Terbaik Tetap Karisma (Unsplash)

Tak Hanya Supra, Honda Karisma Juga Jadi Tulang Punggung Keluarga Kelas Menengah di Indonesia

16 April 2026
Suzuki Jimny Jangkrik hingga Toyota Yaris Bakpao, 6 Julukan Mobil Paling Unik karena Desainnya yang Aneh Mojok.co

Suzuki Jimny Jangkrik hingga Toyota Yaris Bakpao, 6 Julukan Mobil Paling Aneh Terinspirasi dari Bodi yang Unik

20 April 2026
5 Makanan Khas Semarang yang Nikmat tapi Tersembunyi (Wikimedia Commons)

5 Makanan Khas Semarang yang Nikmat tapi Tersembunyi, Wajib Kamu Coba Saat Berwisata Supaya Lebih Mengenal Sejarah Panjang Kuliner Nikmat Ini

21 April 2026
Purwokerto Dipertimbangkan Orang Kota untuk Slow Living, Warlok: Bisa Jadi Masalah Baru Mojok.co

Purwokerto Jadi Tempat Slow Living Orang Kota, Warlok: Bisa Jadi Masalah Baru

22 April 2026
Potret Mahasiswa Kuliah Sekaligus Bekerja di Banten: Tampak Keren, tapi Aslinya Menderita karena Digaji Tak Layak Mojok.co

Potret Mahasiswa Kuliah Sekaligus Kerja di Banten: Tampak Keren, tapi Aslinya Menderita karena Digaji Tak Layak

20 April 2026
Sawojajar Malang Mengingatkan akan Labirin Pogung Jogja, Sama-sama Membingungkan dan Bikin Tersesat  Mojok.co

Sawojajar Malang Mengingatkan akan Labirin Pogung Jogja, Sama-sama Membingungkan dan Bikin Tersesat 

18 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Hubungan Istimewa di Balik Pohon Gayam sebagai “Tanaman Peneduh” dan Candi Borobudur
  • Pengguna iPhone Ingin “Naik Kelas” Bikin Muak, Gaya Elite padahal Dompet Sulit
  • Nongkrong di Usia 30 Terasa Tak Sama Lagi: Teman Makin Jompo, Obrolan Kian Membosankan, tapi Saya Berusaha Memahami
  • Campus League Musim 1: Kompetisi Olahraga Kampus untuk Fondasi Masa Depan Atlet Mahasiswa, Menempa Soft Skills Krusial
  • Kuatnya Peran Perempuan di Kota Semarang, Sampai Diapresiasi California State University
  • Jadi Anak Pintar di Desa Tanpa Privilege Sia-sia: Ortu Tak Dukung Pendidikan, Lulus Sekolah Dipaksa Nikah dan Bekerja

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.