Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup

Mengapa Perlu Memperkenalkan Kesetaraan Gender pada Anak?

Fatimatuz Zahra oleh Fatimatuz Zahra
27 Mei 2019
A A
kesetaraan gender

kesetaraan gender

Share on FacebookShare on Twitter

Pernah dengar “anak laki-laki nggak boleh cengeng” atau “anak perempuan kok main bola?.” Dan pernyataan sebangsanya yang seolah memisahkan dua jurang antara laki-laki dan perempuan—sejak kanak-kanak.

Dulu saya juga merupakan korban bias gender semacam itu—karena terbiasa jadi saya pikir lumrah. Tapi setelah dewasa baru saya sadari kalau kita dibiasakan untuk tidak setara dari kecil. Apa urusannya anak perempuan nggak boleh main bola? Padahal itu baik untuk melatih motorik kasar. Dan apa alasan anak laki-laki nggak boleh nangis padahal itu adalah ekspresi yang sangat wajar? Tanpa sadar kita sudah dimasuki nilai bahwa laki-laki itu superior—nggak boleh nangis, boleh main bola dan banyak aktivitas lainnya. Sementara perempuan itu inferior—yang cocoknya main boneka, main masak-masakan, dll yang tidak banyak memerlukan energi).

Apakah ini wajar? Nggak. Karena pada masa selanjutnya ia akan menganggap nilai-nilai itu sebagai sebuah kebenaran, bahkan ketika dewasa dan mulai jatuh cinta nggak jarang laki-laki ingin mendominasi seperti saat ia kecil diajarakan dan perempuan merasa wajar kalau dirinya didominasi karena ya memang dari kecil ia tahu bahwa dirinya adalah makhluk “kelas dua” yang lemah dan butuh dilindungi. Kalau mata rantai ini tidak diputus maka seterusnya pendidikan tentang gender pada anak akan tetap menjadi mimpi.

Lalu kenapa pendidikan gender harus dimulai dari masa kanank-kanak? Toh mereka juga belum mengerti untuk apa itu nantinya. Ya, kita tidak pernah mengerti kenapa sedari kecil kita diajarkan berjalan hingga pada suatu saat kita menyadari manfaatnya dan sampai saat ini kita gunakan skill itu, bukan?. Bagaimana jika seandainya kita diajarkan berjalan saat sudah dewasa dengan asumsi supaya mengerti dahulu untuk apa berjalan. Mungkin selamanya kita tidak akan bisa berjalan.

Demikian pula dengan pendidikan gender. Mengapa harus dimulai saat masih anak-anak? Karena pada masa itulah segala sesuatu bisa diserap dengan cepat dan tepat oleh manusia, sehingga akan tertanam dalam dirinya segala sesuatu yang telah diajarkan itu hingga dewasa. Apabila kita memperkenalkan kesetaraan gender sejak dini, maka akan sangat mungkin hal tersebut dapat mengurangi sikap diskriminatif, judgement, dan sebagainya—atau bias gender pada masa dewasanya nanti.

Lalu harus seperti apa memperkenalkannya? UNICEF merilis sebuah panduan tentang penerapan pendidikan gender pada anak sesuai usianya panduan ini diberi judul International Guidance Sexuality Education. Didalamnya kita bisa tahu, apa saja yang sudah waktunya diajarkan pada anak. Misal anak-anak berusia 4-5 tahun kita bisa mulai mengajarkan mengenai seksualitasnya dengan memperkenalkan kepadanya alat vital di tubunya dan oleh siapa saja boleh disentuh, sehingga ia dapat menyadari bagaimana cara menjaga diri dari perlakuan yang tidak semstinya ia dapatkan. Memperkenalkan seksusalitas juga dapat dilakukan dengan mengajak anak mandi dengan orangtua yang berbeda jenis kelamin dengannya, sehingga ia menyadari bahwa laki-laki dan perempuan memang berbeda dari segi biologis, yang pada tahap selanjutnya nanti juga akan diperkenalkan perbedaan lainnya seperti posisi dalam peribadatan dan lain sebagainya. Hal ini perlu karena kesetaraan bukan pendidikan tentang kesamaan, tetapi memahami perbedaan sebagai sebagai sesuatu yang normal dan tidak hirarkis.

Selanjutnya pada usia 5 tahun keatas, anak bisa diberikan mainan-mainan yang seimbang dalam mengolah motorik kasar, halus, emosi setra psikomotoriknya. Serta tidak lupa memberinya penjelasan tentang manfaat permainan itu tanpa membedakan yang mana untuk laki-laki dan mana untuk perempuan tetapi fokus pada substansi pesan dalam permainannya.

Kalau memang menginginkan anaknya berkepribadian kuat—tidak mudah menangis misalnya—jangan sesekali dikatakan “anak laki-laki kok nangis” tapi justru ditenangkan dengan pelukan, supaya dia tahu dan paham bahwa segalanya baik-baik saja dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Karena kalau dibiasakan dengan “anak laki-laki kok nangis” sampai masa dewasnya bukan tidak mungkin ia menjadi seseorang yang melihat bahwa air mata dalah sesuatu yang lemah dan hanya dilakukan oleh orang yang lemah.

Baca Juga:

Mengakhiri Langgengnya Ideologi Kejantanan

Surat untuk Gus Yahya: Kesetaraan Gender Itu Nggak Cuma Ngurusin “Kapasitas”, Gus

Apabila perempuan lebih sering menangis, maka ia akan melihat bahwa perempuan adalah makhluk yang lemah. Padahal kita bisa memilih untuk memberikan kepadanya pemahaman bahwa menangis ialah sesuatu yang wajar—namun tidak untuk terlalu sering karena akan mengakibatkan aktivitas terganggu dan mata bengkak. Dengan demikian ia akan paham bagaimana mengekspresikan emosi, tanpa harus merasa gengsi karena predikatnya sebagai “anak laki-laki.”

Begitupula dengan anak perempuan. Berikan ruang untuk aktivitas fisiknya, jangan sampai hanya dibatasi pada permainan “khas perempuan” seperti main boneka, memasak, dan sebagainya. Hal ini akan mengakibatkan kelak ia merasa bahwa menjadi perempuan ialah tentang bagaimana menjadi ahli di dapur karena skill memasak hendaknya menjadi skill dasar untuk bertahan hidup—tidak hanya pada perempuan. Berikan kesadaran bahwa perempuan juga makhluk yang sama dengan laki-laki, bisa melakukan aktivitas fisik, bisa juga menangis kalau merasa takut sedih atau sakit dan sebagainya. Kunci utama untuk menanamkan kesetaraan gender pada anak ialah tidak membeda-bedakan aktivitas, karena aktivitas tidak pernah berjenis kelamin tertentu sampai kita yang datang melabel-i nya.

Dalam jangka panjang, Memperkenalkan kesetaraan gender sejak dini tidak hanya menumbuhkan rasa percaya diri, tetapi juga kemampuan untuk berbagi peran dengan pasangannya kelak. Misal anak laki-laki yang kelak akan menjadi suami, tidak ragu juga berbagi peran untuk memasak, mencuci, dan sebagainya ataupun sebaliknya anak perempuan yang akan menjadi istri tidak keberatan jika harus mengecat tembok, memperbaiki atap, karena tidak saling memberi stigma bahwa pekerjaan tertentu terkait dengan gender tertentu.

Terakhir diperbarui pada 5 Oktober 2021 oleh

Tags: Kesetaraan GenderOrang Tua dan AnakPendidikan Anak
Fatimatuz Zahra

Fatimatuz Zahra

Sedang belajar tentang manusia dan cara menjadi manusia.

ArtikelTerkait

Bapak, Cinta Pertama yang Tidak Sempat Terucap terminal mojok

Bapak, Cinta Pertama yang Tak Sempat Terucap

28 Agustus 2021
melissa siska juminto coo tokopedia najwa shihab founder narasi tv kesetaraan gender teknologi hari perempuan sedunia 2021 mojok.co

Kesetaraan Gender Bukan Mimpi Lagi di Hadapan Teknologi

8 Maret 2021
Split the Bill Bisa Jadi Cara Bentuk Kesetaraan dalam Hubungan

Split the Bill Bisa Jadi Cara Bentuk Kesetaraan dalam Hubungan

4 Januari 2020
Catatan Program KB di Perayaan Hari Kartini Sebagai Bentuk Ketidaksetaraan Gender terminal mojok

Catatan Program KB di Perayaan Hari Kartini sebagai Bentuk Ketidaksetaraan Gender

21 April 2021
Aku Tidak Pakai Baju Seksi Tapi Aku Tetap Seksi

Aku Tidak Pakai Baju Seksi tapi Aku Tetap Seksi

12 Maret 2020
Kesetaraan gender

Argumen Kuli dalam Obrolan Kesetaraan Gender Itu Basi

19 November 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jadi MUA di Desa Sulit Cuan karena Selalu Dimintai “Harga Tetangga” kalau Menolak Dicap Pelit Mojok.co

Jadi MUA di Desa Sulit Cuan karena Selalu Dimintai “Harga Tetangga” kalau Menolak Dicap Pelit

18 Mei 2026
4 Kelebihan Kuliah di Samarinda yang Bikin Kuliah di Jogja Jadi Kelihatan Biasa Saja

Samarinda Tidak Ramah buat Mahasiswa yang Tidak Bisa Naik Motor karena Tidak Ada Transportasi Umum yang Bisa Diandalkan!

21 Mei 2026
4 Aturan Tidak Tertulis Saat Menulis Kata Pengantar Skripsi agar Nggak Jadi Bom Waktu di Kemudian Hari

4 Tips untuk Bikin Mahasiswa Cepat Paham dan Tidak Kebingungan Mengerjakan Skripsi

19 Mei 2026
Unpopular Opinion: Kajian Ustaz Hanan Attaki Itu Bukanlah Pengajian Agama pengajian berbayar

Maaf Saya Berubah Pikiran, Konsep Pengajian Berbayar Memang Lebih Masuk Akal dan Layak untuk Diikuti

16 Mei 2026
8 Tipe Pengguna Toilet Mal Paling Red Flag di Mata Cleaning Service, Semoga Kalian Bukan Salah Satunya Mojok.co

8 Tipe Pengguna Toilet Mal Paling Red Flag di Mata Cleaning Service, Semoga Kalian Bukan Salah Satunya

19 Mei 2026
Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus: Teriak Melawan Penindasan di Luar, tapi Seniornya Jadi Aktor Penindas Paling Kejam organisasi mahasiswa eksternal organisasi kampus

Organisasi Mahasiswa Itu Candu, dan Jabatan di Kampus Itu Jebakan yang Pelan-pelan Mematikan

18 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

    Konten Promosi



    Google News
    Ikuti mojok.co di Google News
    WhatsApp
    Ikuti WA Channel Mojok.co
    WhatsApp
    Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
    Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
    Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

    Tentang
    Kru
    Kirim Tulisan
    Ketentuan Artikel Terminal
    Kontak

    Kerjasama
    F.A.Q.
    Pedoman Media Siber
    Kebijakan Privasi
    Laporan Transparansi

    PT NARASI AKAL JENAKA
    Perum Sukoharjo Indah A8,
    Desa Sukoharjo, Ngaglik,
    Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

    [email protected]
    +62-851-6282-0147

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

    Tidak Ada Hasil
    Lihat Semua Hasil
    • Nusantara
    • Kuliner
    • Kampus
      • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Hiburan
      • Anime
      • Film
      • Musik
      • Serial
      • Sinetron
    • Gaya Hidup
      • Fesyen
      • Gadget
      • Game
      • Kecantikan
    • Kunjungi MOJOK.CO

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.